
"Aku tidak mengerti Can, aku juga tidak sadar kalau waktu itu Kak gilang menggendongku, tapi untuk foto yang ini, itu tidak benar Can, Kak Gilang sama sekali tidak ada menciumku," ucapku tidak terima dengan satu foto yang bagi melihatnya seperti melakukan adegan berciuman.
"Lalu yang benar yang mana? ucap Candra menatap mesum pada wajahku.
"Tapi itu bukan kenyataannya Can, itu entah siapa yang ngambil fotonya, dia kan hanya melihat dari belakang" ucapku mencoba menjelaskan kebenarannya.
"Alah alasan, kamu bilang kamu gak mau di sentuh, itu buktinya apa!" ucap Candra menunjuk sebuah foto seakan terbakar emosi.
" Eh, stop jangan diterusi, jangan kamu pikir aku cewek gampangan ya?" ucapku kepada Candra seakan tidak terima.
" Kalau iya bagaimana," ucap Candra dan berjalan ke arahku.
Tanpa ku sadari Candra mendorong tubuhku ke tembok, di cengkramnya kedua tanganku dan semakin lama Wajah Candra semakin mendekat ingin mencium bibirku. Aku berusaha untuk memalingkan wajahku ke kiri dan ke kanan. Cengkraman tangannya sungguh kuat, sulit untuk dilepaskan. Candra geram melihat tingkahku yang terus menolak, dipegangnya kuat daguku dan repleks ku ludahi wajahnya.
Percuma aku bisa karate, kalau tidak bisa menjaga diriku. Kuangkat kakiku lalu ku tendang alat vitalnya, Candra tampak meringis dan berguling-guling kesakitan. Pusaka satu-satunya telah menderita terkena tendangan maut ala Annisa. Cengkraman tangannya terlepas, segera aku berlari ke parkiran ingin menghidupkan sepeda motorku. shitt...kunci motorku telah di ambil Candra.
Aku kembali menjumpai Candra di belakang kelas. Ku lihat dia sudah tegap kembali seperti tidak terjadi apa-apa. Matanya memancarkan kemarahan karena aku sudah berhasil mencari gara-gara dengan dirinya.
Eh, ralat sepertinya bukan aku yang cari-cari gara-gara. Dari awal Candra yang sudah cari masalah. Selingkuh dengan temanku sendiri dan sekarang dia ingin melecehkan diriku. Dengan seringai liciknya. Di masukkan kunci motorku ke dalam celananya. Aku bingung bagaimana cara untuk mengambil kunci dalam celana sekolahnya.
' Oh, oke, engkau mau main-main rupanya dengan aku Candra. Jangan panggil aku Annisa jika aku tidak bisa mengambil kunci dalam celananya. Tidak butuh berbuat mesum melakukan itu Candra ' batinku berkata.
Dengan berani kulangkahkan kakiku ke arah Candra berdiri. Ku tatap wajahnya dengan wajah emosi. Dia tertawa melihatku.
" kamu rindu denganku Nisa dan kamu tidak bisa meninggalkan aku kan..., kalau kamu mau mengambil kuncinya, ambil saja sendiri, aku siap melayanimi" ucap Candra dengan seringai liciknya.
__ADS_1
" Dasar otak mesum, jangan salahkan aku kalau pusakamu patah di tanganku"
" Ha...ha...ha...Ayo buktikan," ucap Candra sambil tertawa mendengar perkataanku.
Ku lihat dirinya tenang melihat diriku yang sudah bersiap ingin menghajar Candra.
Dengan kemahiran bela diri yang ku miliki berhasil menyerang Candra. Ku lihat dimana titik kelemahannya. Candra seakan tidak mau mengalah dan terus membalas seranganku. Dengan beberapa kali tendangan, akhirnya Candra dapat kukalahkan. Walaupun di sudut bibir dan perutku terasa sakit terkena tendangan Candra tapi dia bisa aku lumpuhkan. Candra tumbang ke tanah akibat tendangan deras yang ku berikan.
" Ambilkan kuncinya kalau tidak kuinjak pusakamu, " ucapku memberikan gertakan.
" Jangan..., alamat tidak punya keturunan aku nanti,"
Segera diambilnya kunci motorku dari dalam celananya. Rasa jijik timbul dalam benakku. Dengan gerak cepat langsung ku ambil dan meninggalkan Candra di sana.
Dari jauh sepasang mata melihat perkelahian Kami, ternyata Arif melihat aku dan Candra berkelahi. Arif adalah sepupu Gilang. Arif di beri tugas oleh gilang untuk memata-matai Candra. Karena menurut Gilang ada yang tidak beres pada Candra sejak kejadian di rumah sakit.
Dret...dret...dret...
" Rif, Abang mau minta bantuanmu, tolong kau awasi Annisa . Abang curiga Candra akan mencelakai Annisa.
" Tahu dari mana Abang,"
"Kemarin abang berkelahi dengan Candra di rumah sakit, Candra dan Annisa sudah putus, tapi Candra tidak terima,"
" Eh, tunggu dulu, kok bisa berkelahi dengan Abang, jangan-jangan...
__ADS_1
" Sudah jangan dibahas, Rif bantu Abang, kalau ada hal yang penting kabari Abang ya. Untuk sekarang kau awasi dulu mereka,"
" Sip, Baik Bang, jangan lupa ya ampaunya,"
"Aman".
* * * * *
Sementara di sebuah ruangan terlihat seseorang gadis frustasi karena orang suruhan yang di bayarnya untuk mengintai gerak gerik Annisa ternyata tidak dapat mencelakai Annisa. Seringai licik terlihat dari wajahnya. Seorang gadis rela membayar seseorang agar keinginannya segera terpenuhi. Sudah dua hari sejak kejadian di rumah sakit sikap Candra berubah kepada Rini. Candra yang biasanya takut dengan ancaman Rini sekarang merasa masa bodoh.
Rini merasa ancamannya sudah tidak mempan lagi. Candra sudah tidak perduli apabila usaha ayahnya bangkrut. Yang ada dipikiran Candra hanya ingin merebut kekasihnya kembali. Beribu cara di pikirkan Rini untuk melenyapkan Annisa. Semenjak perkelahian Candra dengan Gilang. Candra terus menyalahkan Rini. Rini yang mengakibatkan hubungan mereka putus.
Orang suruhan Rini berhasil mengumpulkan foto Annisa dengan Gilang, dan foto itu akan di edit dan dikirim ke ponsel Candra. Sebuah ide muncul di otak Rini, walaupun hanya foto tapi untuk sementara waktu bisa memisahkan Annisa dengan Candra. Tinggal menunggu rencana lainnya yang akan dilaksanakan setelah ujian Nasional nanti.
\* \* \* \* \* \*
Annisa melajukan sepeda motornya menuju rumah sakit, ternyata diparkiran terlihat mobil Kak Gilang sudah terparkir di sana. ku langkahkan kakiku menuju ruangan ayah dan masuk ke dalam tidak lupa mengucapkan salam dan mencium tangan ayah dan ibu. Mata tajam melihatku di ruangan ayah seakan bertanya sesuatu tentang bekas di wajahku. Ibu terkejut melihat wajahku yang terdapat bekas pukulan.
Aku pun berusaha mengelak tentang apa yang terjadi pada diriku. Kukatakan bahwa aku tadi kejedut pintu sekolah bukan habis berkelahi. Ku lihat Kak Gilang sehabis mendengar keterangan yang kuutarakan segera keluar. Dari jauh terlihat Kak Gilang menelepon seseorang di seberang sana, wajahnya serius dengan mengepalkan tangannya kemudian segera mematikan telepon.
Beberapa menit kemudian ibu sudah selesai mengemasi semua barang-barangnya. Ayah naik kursi roda untuk sampai ke mobil, dengan hati-hati akhirnya ayah bisa juga naik ke mobil, karena kaki sebelah kanan ayah terdapat luka jahitan yang belum terlalu kering.
Ibuk dan ayah duduk di belakang sedangkan yang menyetir mobilnya Kak Gilang. Bang Raga rindu naik sepeda motor trailnya. Sedangkan aku rindu naik sepeda motorku sendiri. Kak gilang duluan melajukan mobilnya menuju rumah. Aku sengaja pelan-pelan di jalan karena ingin mampir ke bengkel Kak Andre lagi.
Sebenarnya bengkel Motor yang di kelola Kak Andre adalah milik Kak Gilang. Kak Andre masih sepupuan dengan Kak Gilang. Andre juga teman sekelas SMA dengan Raga syahputra. Tanpa sepengetahuanku Kak gilang merahasiakan kepemilikannya, agar aku bebas leluasa untuk belajar di bengkel tersebut. Kak Andre mempunyai satu orang adik yang bernama Arif, temanku di TSM.
__ADS_1
Ku jumpai Kak Andre di bengkel, ingin menyervice sepeda motorku. Akan kubuat gasnya semakin kencang supaya ketika di kejar orang yang tidak di kenal akan dengan mudah melarikan diri dari kejaran. Ku lihat Arif juga di sana, melalui penselnya dia menghubungi seseorang. Aku santai saja tidak mau ikut campur urusan mereka.
Kak Andre merasa terkejut melihat sudut bibirku yang membiru, didekatnya aku membengkel motorku lalu dengan keakrabannya dengan diriku, dia mencoba mengorek informasi dariku apa yang terjadi. Tapi aku tetap bungkam tidak mau memperpanjang masalah. Yang jadi pertanyaan ku dua hari ini, siapakah orang yang selalu mengintai rumahku.