
Mobil melaju kencang menembus jalan raya yang padat merayap, tanpa kusadari Kak Andre menuju jalan ke arah rumahku. Aku merasa bingung karena tas ranselku masih tertinggal di rumah Kak Gilang.
" Kak, tas Nisa masih di rumah Kak Gilang," ucapku memberitahu agar Kak Andre bisa membantu mengambilkannya.
" Besok Kakak minta sama Mang Amir untuk mengantarkan tasnya ke rumah Nisa" ujar Kak Andre membuat hatiku merasa lega.
Arif yang duduk di samping Kak Andre masih asik memainkan game onlinenya dengan permen cucuk di mulutnya, kepalanya ikut bergoyang mendengarkan musik remik yang di putar Kak Andre di mobil. Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di halaman Coffe Shop Tante Devi.
" Lho kok berhenti di sini, kan rumah Nisa di sebelahnya," ucapku yang merasa heran kepada Kak Andre yang memarkirkan mobilnya di depan Coffe Shop Tante Devi.
" Kakak mau minum kopi," ucap Kak Andre dengan wajah semringahnya.
" Ooo..., Ni," ucapku yang belum selesai berbicara sudah di paksa masuk ke dalam.
" Ayo, temani Kakak minum yuk, " ucap Kak Andre menarik tanganku masuk ke dalam kafe.
Pembeli lumayan ramai, Ibu dan Tante Devi saja sampai kerepotan melayani pelanggan. Melihat kerepotan mereka, aku pun turut membantu Ibu untuk melayani pembeli. Ah, besok aku sudah mulai buka toko sendiri, sudah gak sabar ingin segera potong pitanya. Kalau saja Kak Gilang besok ada di sini, pasti seru ceritanya.
Kak Andre memesan secangkir kopi dan sepiring cake. Tidak butuh lama, kopi pesanan Kak Andre tiba dengan di temani sepiring kecil cake yang manis. Kak Andre terlihat menikmati, tiba-tiba datang seorang wanita yang selama ini Kak Andre merasa eneg bila berada di dekatnya.
" Apa kabar Abang Ganteng...," ucap Citra dengan suara lemah lembutnya menirukan suara kewanitaannya.
Kak Andre hanya menunduk sambil mengotak-atik ponselnya, mendengar perkataan yang menyapanya merasa familiar, tanpa ada respon untuk melihat orang yang menyapanya. Dia sudah bisa mengenali kalau orang yang di depannya adalah Citra, si cewek bunglon.
Ih bunglon ngapain juga ganggu, buat aku gak mood aja.
" Sombong ya Bang... ih padahal banyak lho di sini yang lebih ganteng dari abang, tapi gak sombong tuh..., baru ganteng dikit aja udah sombong," ucap Citra masih terpaku di depan Kak Andre memandangi wajahnya.
Kak Andre yang mendengar perkataan Citra merasa emosi dan menegakkan kepalanya. Betapa terkejutnya dia melihat Citra berpakaian wanita dengan Baju kaos lengan pendek dan celana jeans yang sobek-sobek di lututnya. Rambut hitam lurusnya tergerai indah membuat Citra terlihat lebih cantik. Mulutnya Kak Andre menganga membuat diriku tertawa melihat tingkah Kak Andre yang selama ini anti bila berdekatan dengan Citra, eh hari ini malah terpukau akan kecantikannya.
"Ih, gila... cantik bener kamu Cit, Operasi plastik kamu ya...," ucap Arif mencubit pipi cubby Citra.
" Aduh, sakit kak, ini asli lho...,".jerit Citra yang kesakitan karena dicubit Arif pipinya.
__ADS_1
" Ini berkat Kakak Cantik ini yang ngajari aku," ucap Citra menunjuk diriku dan membuatku tertawa melihat wajah Arif kebingungan.
" Ha! Nisa yang ngajari kamu, apa gak salah???Nisa aja gak pernah berdandan," ucap Arif jujur mengatai diriku dan aku yang dikatai santai aja.
" Kak Arif aja yang belum tahu sifat Kak Nisa, katanya dia akan berdandan ketika sudah menikah," ucap Citra yang polos dan mengatakan yang semua di ketahuinya.
" Kak..., Kak Andre, kakak kenapa?" ucapku yang pura-pura tidak tahu akan suasana hatinya yang tidak karuan dan masih memandangi Citra dengan wajah ketidak percayaannya.
" Eng...gak apa-apa," ucap Kak Andre meneguk kopinya sampai tandas untuk menutupi kegugupannya.
"Bang, ayolah katanya kita mau jalan-jalan," ucap Arif yang manja kepada Abangnya.
" Iy...iya... Dek bawa beberapa kue untuk bekal di jalan ya...," ucap Kak Andre kepada diriku.
" Iya Kak, oh iya kak, semalam Mama Kak Gilang ada bawa banyak jajanan, bentar ya Nisa ambil di rumah," ucapku melangkah meninggalkan Coffe shop.
Aku melangkah menuju rumahku yang terlihat sepi karena penghuninya lagi beraktivitas, termasuk diriku. Kumasukkan beberapa Jajanan dan kue lapis legit yang masih tersisa 2 kotak lagi. mengambil tas ransel untuk tempat baju ganti, berjaga-jaga apabila bajuku nantinya basah. Setelah di rasa semuanya sudah lengkap, segera aku keluar dari kamar dan mengunci rumah kembali. Aku menuju Coffe shop Tante Devi untuk menemui mereka kembali.
" Ehemm, kamu tidak sekolah Cit...," tanya Kak Andre kepada Citra.
" Enggak Kak, tadi ada pirasat seperti ada yang mau ngajak Citra jalan-jalan, jadinya Citra berniat libur aja," ucap Citra dengan santainya dan duduk di samping Kak Andre dengan percaya dirinya.
" Alah alasan, bilang aja kamu malas sekolah," ucapku yang sudah tahu tabiat Citra yang masih tukang bolos.
" He..he...tau aja kakak cantik ini," ucap Citra mencium pipiku.
" Ih, jijik...," ucapku merasa geli.
" Gimana Kak, citra boleh ikut gak?," ucapku kepada Kak Andre.
" Bo...boleh," ucap Kak Andre mengiyakan.
" Yes..., aku ada temennya" sorakku merasa bahagia.
__ADS_1
Aku dan Citra berpamitan kepada Ibu dan tante Devi. Citra terlihat antusias ikut kami jalan-jalan. Aku dan Citra saling pandang ketika Kak Andre meminta diriku di depan. Aku mencoba menolak dan langsung menarik si Arif. Kukatakan kepada Kak Andre kalau ada sesuatu yang ingin ku sampaikan kepada Arif.
" Arif, kamu di belakang sama aku ya," ucapku yang mengajak Arif di belakang ingin memberikan kesempatan Kepada Kak Andre bercerita dengan Citra.
" Ah males Sa, kamu kan sudah ada yang punya, nanti Bang Gilang marah sama aku, kalau aku sebangku denganmu," ucap Arif ingin menghindar.
" Ih, ini lagi susah diajak kerjasama, ngalah kenapa sih sama Abangnya, supaya Citra bisa dekat sama Kak Andre," ucapku kepada Arif.
" Kakak yang aneh kamu, Adik masih kecil sudah di jodohkan," ucap Arif terlihat raut wajahnya seperti orang bingung.
" Kecil apaan, dia sudah kelas 1 SMA tau, badannya pun bongsor," ucapku menjelaskan.
" Okelah,"ucap Arif menyetuinya.
Kak Andre yang berada di belakang setir, bingung ketika melihat Citra duduk di disebelahnya. Citra yang sudah duduk manis tersenyum memandang wajah Kak Andre. Kak Andre terlihat grogi di pandangi oleh orang disebelahnya. Dia merasa kikuk, untuk mencairkan suasana, dia menghidupkan musik romantis.
Aku melihat-lihat ponselku, chat yang masuk begitu banyak. Ada sebuah Chat yang membuatku bingung, dari seseorang yang nomornya tidak di kenal. Ku lirik Arif, dia sedang asik main game onlinenya dengan handseat di telinganya. Ku baca chatnya yang isinya menanyakan kabar diriku.
Ah aku coba tidak mengambil pusing dan lebih fokus melihat chat group kuliahku. Mereka menanyakan keberadaan diriku yang tidak masuk hari ini. Pada kepo semuanya, Apa lagi si Lusi yang hebohnya minta ampun. Hanya dialah wanita yang di kelasku yang mau berteman denganku, selebihnya hanya pria.
Terdengar notifikasi kembali dari ponselku, kulihat nomor yang sama seperti chat pertama tadi. Isi chatnya menanyakan sedang apa diriku. Ini manusia kurang kerjaan kali ya. Pusing kepalaku memikirkan siapa gerangan yang kurang kerjaan selalu memberiku pertanyaan, walaupun tahu jawabannya tapi tidak mungkin aku jawab. Kumatikan ponselku yang tidak ada hasilnya. Ku lihat Citra asik melihat keluar jendela dan Kak Andre masih fokus menyetir.
Keheningan terasa di dalam mobil tanpa ada yang bersuara. Sampai kantuk pun menyerang kepalaku, mataku rasanya ingin terpejam. Tiba-tiba...
" Bang, berhenti Bang...," ucap Arif yang mendesak Kak Andre untuk menghentikan mobilnya.
" Ada apa sih Rif???," ucap Kak Andre yang merasa heran.
" Aku mau ke kamar mandi, cepat Kak sudah gak tahan," ucap Arif yang tingkahnya seperti anak kecil.
" Sebentar lagi ya, di depan sana ada Pom Bensin," ucap Kak Andre yang menggerakkan jari telunjuknya ke depan.
Kami sampai di Pom Bensin, Kak Andre segera menepikan mobilnya. Arif langsung keluar dan segera berlari menuju Toilet Pria.
__ADS_1