
Maaf ya readers, authornya baru bisa lanjuti ceritanya, authornya lagi sakit. Ini saja di paksai nulis. Padahal kepala lagi cenat cenut.
Jangan lupa Like, Komen, Vote dan hadiahnya ya....., biar authornya makin semangat ....
* * * * * * *
Ih..., resek banget sih, bukan mikiri tidur barengnya. Tapi aku mikiri malam pertamanya. Ada yang bilang, katanya sakit banget, katanya nanti robeklah, katanya perihlah, ah semua kata mereka menjelaskan malam pertama. Membuatku merinding.
Andai saja ada jual celana yang ada alarmnya. Ketika malam ingin di senggol Kak Gilang, kan langsung berbunyi. Seru banget kalau terdengar, pasti langsung ribut, bisa membangunkan orang sekampung. Terus gak jadi deh Kak Gilang dekat-dekat, takut ketahuan orang. Kalau ada yang jual, pasti Nisa akan beli buat jaga-jaga, agar gawangnya jangan di jebol.
" Apakah kakinya masih sakit?," tanya Gilang sebelum meninggalkan kamar yang ku tempati dan duduk di sebelahku dengan melingkarkan tangannya di pundakku.
" Aku menggelengkan kepalaku. Dan itu sedikit membuat wajahnya tersenyum.
" Kalau masih sakit, biar kakak panggilkan Dokter, supaya besok pagi kaki Adek udah gak sakit lagi," ucap Gilang yang sangat perhatian.
" Gak usah Kak..., Nisa takut disuntik," ucapku tersipu malu, tetapi sedikit mengganggu dalam pikiranku bagaimana perjalanan besok kalau kakiku tidak segera di tangani medis.
Gilang menautkan alisnya. Dia heran melihat sikapku yang tomboi yang suka memegang alat berbahaya. Tetapi sama benda yang bernama jarum suntik saja malah takut. Ternyata bukan sama hantu saja yang takut, sama jarum suntik juga takut.
" He..he..., kamu lucu ya Dek..., sama jarum suntik aja takut. Itu masih kecil Dek..., belum lihat yang besar lho...," ucap Gilang sambil mengusak kepalaku yang masih dilapisi jilbab dengan tawanya yang renyah.
" Emang ada yang besar??," tanyaku penasaran dengan jiwaku yang masih polos tidak tahu arah ceritanya kemana. Sedangkan yang kecil aja aku takut banget, bagaimana kalau ketemu yang besar.
"Ya Adalah..., Kakak juga punya," ucap Gilang asal dan tersenyum licik.
" Gak percaya, mana ada suntik yang besar. Kalau ada coba kasih lihat ke Nisa," ucapku yang sok berani padahal yang ku yakini jarum suntik besar itu adalah jarum suntik benaran.
" Beneran mau lihat," tanya Gilang yang masih jail.
Aku seakan dilema dari gayanya Kak Gilang seperti mengerjaiku.
" Mana Kak??," tanyaku yang penasaran.
" Belum boleh, nanti kalau kita sudah halal baru boleh lihat," ucap Gilang menjelaskan dan dia masih terkekeh memandangi wajahku yang bingung.
Apa hubungannya suntik dengan nikah. Ih, apakah yang di maksud Kak Gilang jarum suntiknya itu otongnya??? Oh My God. Kak Gilang semakin dekat hari pernikahan semakin mesum. Tahu gini tadi tidak ku ladeni. Sebel
Aku bergidik membayangkan jarum suntik yang besar dan berwarna hitam.
Pletak
Satu sentilan mengenai keningku.
" Aw, Sakit tahu, ini kening masih dipakai," ucapku yang sebel dan mengerucutkan bibirku.
" Habisnya kamu pasti udah mikir yang jorok kan??? ucap Gilang menebak dan membuatku sedikit gugup. Tahu saja isi pikiran orang.
" Kak, besok bagaimana dengan Nisa? apakah Nisa jadi ikut???," aku sedikit galau karena kakiku sedikit tidak nyaman. Gak mungkin ke Luar negeri kaki harus di bungkus perban.
" Sebaiknya Kakak minta Dokter kemari, supaya lukamu cepat kering dan Adek bisa ikut besok," ucap Gilang yang lebih memikirkan keadaan calon istrinya.
__ADS_1
Gilang mengambil ponselnya dan memanggil Dokter keluarga mereka. Setelah panggilan berakhir dia memainkan ponselnya, membalas chat dari teman Grup wisudanya. Begitu juga dengan diriku yang masih asik menonton drakor kesukaanku.
30 menit kemudian, Dokter tersebut tiba dirumah Kak Gilang yang megah. Dokter tersebut di sambut pelayan dan di bawa masuk menuju kamarku.
Tok
Tok
Ceklek
Gilang membuka pintu kamar, terlihat Dokter Nuri berdiri di depan pintu dengan wajah tersenyum.
" Apa kabar Lang...," tanya Dokter cantik yang masih menyandang status belum menikah. Bukan tidak laku tetapi masih asik menekuni pekerjaannya sampai lupa mikiri menikah.
" Kabar aku sehat Kak, Maaf mengganggu Kesibukan Kakak," ucap Gilang yang memanggil Dokter keluarganya dengan sebutan Kakak, karena memang usianya dengan Dokter Nuri terpaut 5 tahun dan lebih muda Gilang.
Mendapat tatapan tajam dari Dokter Nuri, Gilang sampai lupa mempersilahkan Dokter Nuri masuk.
" Siapa yang sakit Lang???," ucap Dokter Nuri yang merasa heran, karena setahu dirinya orang yang di hadapannya pada saat ini dalam keadaan baik-baik saja.
" Ayo ikut saya Kak, biar tahu siapa yang sakit," ucap Gilang mengajak Dokter dan membiarkan pintu kamar terbuka. Terlihat olehnya, diriku yang sedang duduk di ranjang bersandar pada sandaran tempat tidur.
Dokter Nuri terlihat sedikit terkejut ketika bertemu pandang dengan diriku. Dokter Nuri yang sudah kenal dengan diriku karena dulu aku sering check up bila maagku kambuh.
" Kenapa dengan Annisa Lang....," tanya Dokter Nuri yang penasaran.
"Kakinya terkena serpihan beling, tolong obati Kak, agar dia besok bisa menemani Gilang wisuda,". Gilang menjelaskan tapi membuat Dokter Nuri penasaran ingin menginterogasi anak dari keluarga Prayuda ini.
" Ha!, kau ini terlalu memaksakan kehendak," Dokter Nuri sedikit tahu sifat Gilang yang sedikit keras. kemauannya harus di turuti.
" Terus..., sudah dekat lagi waktunya kok masih kamu bawa anak orang, jangan sampai kebablasan, dan ponakan Kakak malah jadi duluan," Dokter Nuri sedikit menjaili untuk mencairkan Gilang yang dingin.
"Sembarangan," Gilang menajamkan matanya menatap Dokter Nuri yang sengaja menjailinya.
Aku tersipu malu mendengar ucapan Dokter yang ucapannya gak ada anggun-anggunnya. Somplak, mungkin itu ciri khasnya yang selalu mengajak bercanda pada pasiennya.
" Lang..., Lang..., Kecil-kecil udah mau jadi manten,"
" Biarin, pasti Situ ngirikan...,"
" Bukan iri justru Kakak mau ngucapi selamat. Selamat ya..., ternyata aku tertinggal jauh, aku aja sampai sekarang belum menikah," ucap Dokter Nuri yang menyadari usianya yang mulai lanjut, tetapi belum berpikiran untuk menikah. Bagaimana mau menikah, pacar saja belum punya.
" Itu Karena Kakak tidak memikirkannya," Gilang sangat tahu sifat Nuri yang malas mencari pasangan.
" Siapa yang mau sama Kakak?," tanya Nuri yang sedikit tertawa ketika mengucapkannya.
" Emang kalau ada pemudanya, kakak bakal mau? tanya Gilang yang blak-blakan dan membuat Nuri tidak berpikir panjang untuk menjawabnya.
" Siapa sih yang yang nolak? apalagi tampan dan mempunyai pekerjaan tetap," ucap Nuri yang masih mementingkan karir seseorang untuk di jadikan pasangannya.
" Tunggu sampai hari pernikahan kami, maka Kakak akan aku pertemukan dengan pemuda itu," Gilang sedikit merahasiakan pemuda yang ingin dipertemukannya. Karena dia ingin Memberitahu pemuda itu dahulu, apakah pemuda itu bersedia bertemu dengan Dokter Nuri atau tidak.
__ADS_1
" Oke, Kakak Tunggu,"
Dokter Nuri melangkah mendekatiku dan dilihatnya Kakiku yang di balut perban. Aku sedikit takut, padahal tangannya sangat halus dan lembut menyentuh kulitku.
Setelah di buka, dia memeriksa dan di lihatnya luka di kakiku yang tidak terlalu dalam. Tapi perbannya begitu tebal. Dokter Rianti sampai geleng kepala ketika membuka balutan perban yang terakhir kalinya.
" Siapa yang membalut ini Nisa?,"
" Kak Gilang, Kak...,"
" Gilang...,Gilang.., luka sedikit saja balutannya segini banyak. Kamu membalut luka seperti mau memeram pisang. Kalau pisang dibalut begini, mungkin beberapa hari akan masak. Tetapi kalau luka, akan membusuk.
" Bicara lagi, ku potong 3 bulan gajimu,"
" Is, kejam banget, ini lihat perbannya satu gulung habis kamu balutkan semua, pakai hansaplast juga bisa Lang...," ucap Dokter Nuri yang mengejek Gilang dan dengan cekatan membersihkan luka dengan cairan NaCl, mengelapnya dan menempelkan hansaplast pada lukanya.
" Lukanya tidak terlalu serius dan beberapa hari juga akan sembuh," Dokter Rianti memasukkan alat-alatnya dan bersiap ingin keluar.
" Ini obatnya di minum 3 kali sehari. Nanti sebelum tidur tolong di minum dulu, Agar lukamu besok mulai kering," terlihat 3 jenis obat yang sedikit berukuran besar.
" Jaga calon pengantinnya Lang, jangan sampai terluka lagi,"
" Iya Kak,"
" Ya udah Kakak Pulang, hari sudah sangat malam," Nuri melihat jam yang hampir menunjukkan dini hari.
" Baiklah, biar supir yang mengantar Kakak,"
Dokter Nuri menganggukkan kepalanya. Dan melangkah menghampiri diriku.
" Kakak pulang Ya Sa..., hati-hati ingat dara manis,"
"Iya kak,"
"Kakak ngantar Kak Nuri dulu ya Dek...,"
Aku menganggukan kepalaku. Dan masih melihat ke tiga jenis obat tadi. Bingung bagaimana cara menelannya. Tidak mungkin harus menggunakan pisang.
Dokter Nuri diantar ke depan dan siap diantar oleh Supir Gilang. Gilang kembali ke kamar Nisa dan Di lihat Nisa masih bersandar di tempat tidur.
"Adek minum obat dulu ya....,"
"Pahit gak Kak???,"
"Gak,"
Terlihat 3 butir obat yang lumayan besar dan aku sangat merinding meminumnya. Ku perhatikan obat yang akan ku minum. Terasa sulit jika aku menelannya. Detik ke detik, menit ke menit aku juga belum meminumnya. Kak Gilang yang melihat diriku tidak juga meminumnya segera mengambil obat dan di masukkan ke mulutnya .
Aku sungguh terkejut , kenapa obat ku dia yang minum. Mulutku sampai menganga melihat kelakuannya. Tetapi sungguh di luar jangkauan. wajahnya mendekat dan memegang tengkukku, menciumku dan memasukkan obat yang ada di mulutnya kemulutku melalui bibirnya. Mulutku langsung di bungkam dan tanpa ku sadari obat masuk ke tenggorokanku.
Rasanya sangat pahit dan aku sangat tidak suka. Aku ingin muntah. Napasku engos-engosan. Udara terasa habis. Kak Gilang melepaskan ciumannya dan menyambar air minum. Di teguknya air minum dan kembali di bungkamnya kembali mulutku. Mataku melotot mendapat serangan darinya. Air yang di mulutnya pindah ke mulutku dan melewati tenggorokanku. Lama kelamaan ciumannya semakin dalam dan menghanyutkan.
__ADS_1
Tangannya sudah meremas pinggangku dan aku mengikuti kegiatan bibirnya. Hilang rasa pahit menjadi manis. Sungguh manis dan sangat manis, semanis gula jawa.
" Kak, aku gak tahan,"