Teman Palsu

Teman Palsu
Bubur Ayam Untuk Calon Mertua 2


__ADS_3

Kulangkahkan kakiku menuju ruangan VIP Anggrek tempat ayah dirawat. Langsung membuka pintu dan mengucapkan salam diikuti Kak Gilang dari belakang. Sopan santunnya kepada yang lebih tua membuat semua orang jatuh cinta akan sifatnya.


Pelukan erat pada ayah dan ciuman pada di pipinya, merasakan rindu yang berat saat tidak berjumpa walau hanya satu malam. Biasa ayah selalu memanjakan anak perempuannya ketika di rumah. Ibu melirik tajam kepadaku agar tidak bertingkah laku seperti anak kecil. Aku tidak perduli, lebih erat lagi dekapan tangan ini memeluk ayah.


Gilang menyerahkan bungkusan bubur ayam kepada Ibu. Belum juga sampai ke tangan ibu tapi langsung disambar bungkusannya oleh Bang Raga. Katanya sudah kelaparan, terlalu lama mereka menunggu sehingga perut ibu dan Bang Raga sampai keroncongan. Syukurnya ayah sudah makan bubur dari rumah sakit.


Mulut ibu tersenyum melihat anak-anaknya yang manja . Bang Raga lebih dekat dengan ibu. sedangkan sang putri lebih dekat dengan sosok ayah. Kulepas pelukan ayah dan mendekati ibu, mengajak ibu duduk dan membukakan bubur untuknya.


Ibu tersenyum kepadaku, baru kali ini putrinya perduli dan mau menyuapi sang ibu. Biasanya selalu cuek, jarang dekat atau hangat kepada keluarga. Ku suapi ibu dan ayah bergantian sampai buburpun habis, mereka pun tersenyum melihat tingkah lakuku.Ibu mengatakan kalau aku sudah mulai berubah, tidak seperti dulu lagi, ternyata aku sudah dewasa bisa membedakan mana yang harus diperbaiki dan mana yang harus ditinggalkan.


Tok...tok...tok ...


Ku dengar ketukan pintu, dan kami berempat saling memandang, aku berdiri dan langsung membukakan pintu, siapa gerangan tamu yang datang di pagi hari minggu ini. Ternyata seseorang yang telah membuatku menangis malam tadi, pemuda brengsek yang mempermainkan hatiku. Kini dia datang menjenguk ayah dan membawa bingkisan parsel buah-buahan. Aku tidak tahu apa maksud dia datang menjenguk ayah di rumah sakit.


Ku remas kedua tangan dan menatap Kak Gilang yang juga menatap tajam ke arah Candra. Candra seolah bersikap ramah kepada ayah dan ibu. Tanpa aku sadari Candra terlalu percaya diri mengatakan kalau dia adalah pacarku sekarang.


Kukepalkan tangan ini, ingin rasanya merobek mulutnya dan meninju wajahnya. Dasar bajingan, tidak sadarkah dia apa yang telah dilakukannya malam tadi. Iblis jantan bermulut manis.

__ADS_1


Kucoba berpaling membuang pandangan melihat ponselku, terdapat satu chat dari Rini. Pasangan yang tepat untuk di beri penghargaan pasangan termesum. Yang laki-laki bermulut manis, menebar pesona kepada semua gadis dan yang wanita seperti ulat bulu yang kegatelan.


Isi chat Rini mengungkapkan rasa bersalahnya dan meminta maaf dengan menyesali perbuatannya. Dan menyalahkan Candra yang telah duluan melampiaskan ***** birahinya kepada Rini. Aku malas membalas chat dari Rini, aku tidak tahu antara Rini dan Candra mana yang harus ku benarkan.


Candra memohon izin kepada ibu untuk mengajakku keluar sebentar karena ada yang ingin disampaikannya. Aku enggan untuk keluar bersamanya, tapi ibu mencubit pinggangku untuk segera ikut kepada Candra. pinggang yang di cubit terasa sakit. Kalau tidak merasa malu dengan pihak rumah sakit sudah ku tendang Candra keluar dari kamar. Hati yang sudah membaik dari sakit, kenapa Candra menunjukkan wajahnya lagi sehingga sakitnya kambuh kembali.


Ku coba melangkahkan kaki mengikuti Candra keluar mengikuti ke taman rumah sakit. Candra menarik tanganku namun secepatnya langsung ku hempaskan tangannya. Aku muak melihat Wajah dan sifatnya.


" Nisa, maafkan aku, aku salah, aku terpaksa melakukannya. Ayahku berhutang budi dengan keluarga Rini, Papanya Rini telah menolong usaha ayahku. Untuk membalas pertolongannya, Papa Rini menjodohkan anaknya dengan ku. Aku tidak mencintainya, aku hanya mencintaimu Nisa? Rini yang sudah tahu kalau aku dan dia di jodohkan, lantas mengambil kesempatan dengan membuat kesepakatan. Rini mengajukan kesepakatan yang tidak masuk diakal. Dia meminta kepadaku kalau bersamanya harus melakukan adegan bermesraan, bahkan dia juga meminta lebih dari itu. aku menolaknya Nisa, tapi dia terus merayuku,"


Candra terdiam tidak mengeluarkan satu kata pun.


" Malam tadi jika tidak kubuka topi penutup kepalaku mungkin kamu akan menghajarku karena sudah mengganggu kemesraan kalian. Kamu terus diam tidak bisa menjawab, Diammu itu menandakan kalau kamu memang menikmatinya. Kamu dan Rini sama-sama membuatku sakit hati, brengsek kalian,"


" Nisa, aku minta maaf, aku ingin kita balikan lagi Nisa, aku rindu kebersamaan kita seperti kemarin, aku masih mencintaimu Nisa," ucap Candra sambil berlutut di depanku.


Dari jauh sepasang mata menatap tajam ke arah Annisa dan Candra. Rahangnya mengeras seakan tidak rela Melihat candra memohon kepada gadisnya dengan berlutut mengharap balikan kembali.

__ADS_1


Langkah kaki Gilang Prayuda mendekati aku dan Candra. Ditariknya tanganku menjauh dari Candra. Tapi Candra segera mengejar dan juga menarik tanganku. Kedua tanganku terasa sakit di genggam kedua laki-laki ini.


Ku lepaskan ke dua tanganku dari genggaman tangan mereka yang menarik tanganku dan berlari menuju ruangan ayah. Bang Raga melihatku menangis segera mencari tahu apa yang terjadi. Ibu memeluk dan mengelus pundakku, curahan air mata mengalir membuat baju ibu menjadi basah.


Dua pemuda yang saling bersitegang menahan emosi saling berhadapan di taman rumah sakit. Candra seakan tidak terima karena seorang Gilang prayuda mendekati kekasihnya. Gilang yang menemani annisa malam tadi mengetahui bahwa hari ini Candra terbakar cemburu. Di dekatinya pelatih karatenya dan mencoba menujukan kepalan tangannya kearah Gilang. Candra yang ingin melukai tubuh Gilang dapat di tangkis dan akhirnya mereka berkelahi di taman .


Raga Syahputra yang melihat kejadian itu mencoba melerai perkelahian tapi malah Raga yang menjadi sasaran dari tinju Candra dan Gilang. Raga pun meminta bantuan Pak satpam. Akhirnya kedua pemuda itu dapat di pisahkan.


Wajah Candra tampak lebam-lebam dibagian mata dan pipinya. Di sudut bibirny agak robek dan mengeluarkan darah sedangkan Gilang Prayuda hanya di bagian hidungnya yang sedikit membiru. Pelatih karate Kok di lawan.


Rini si ulat bulu datang menemui Candra dan menatap sinis ke wajah Gilang. Di bawanya Candra menjumpai perawat untuk mengobati luka-lukanya. Entah dapat kabar dari mana Rini tiba dirumah sakit ini pada saat pak satpam sudah dapat memisahkan Candra dan Gilang.


Raga menelepon Annisa kalau Candra dan Gilang berkelahi di taman. Segera ku kejar berlari ke taman. Kulihat Pak satpam sudah memisahkan mereka berdua. Ku bawa Kak Gilang dan membawanya ke ruangan ayah. Syukur ayah masih istirahat sehingga tidak terjadi kehebohan ketika melihat Gilang sedikit terluka. Ku kompres lukanya dengan air hangat supaya darahnya tidak membeku yang bisa membuat warna kulit kebiruan.


Gilang diam dan membuang muka ketika kain kompres mengenai lukanya. Mungkin masih marah karena aku sempat menjumpai candra pagi ini. Tapi hati ini hanya aku yang tahu, Aku tidak akan kembali lagi kepadanya.


Belum juga selesai mengkompres luka Gilang, ternyata di luar terdengar orang mengucapkan salam. Papa dan Mamanya Kak Gilang menyempatkan datang ke rumah sakit untuk menjenguk ayah. Ayah yang tertidur terbangun menyadari ada tamu, seorang teman lamanya sewaktu SMA dulu. Papa Gilang melirik diriku yang perhatian dengan putranya. Mamanya mencoba berkenalan denganku dengan senyum di wajahnya mencerminkan kalau Mama Kak Gilang adalah wanita yang baik.

__ADS_1


__ADS_2