
Cahaya matahari masuk dari celah jendela kamarku. Mataku terasa silau terkena cahayanya, dan masih mengantuk enggan untuk di buka. Bunyi alarm berulang -ulang berbunyi tapi tidak ku matikan. Ku lihat jam di dinding seperti samar-samar, ku kucek mataku, apakah jarum jamnya yang berhenti atau aku yang sudah kesiangan, sehingga sampaiku perhatikan dengan jelas.
Yah aku kesiangan, mana gak shalat subuh tadi. Ini gara-gara ngerjain tugas dari Dosen killer ini, ngasih tugas kok banyak banget.
Dengan cepat aku masuk ke kamar mandi membersihkan tubuhku yang bau iler, dan penampilanku yang acak-acakan, sudah tercium wangi sabun mandi, aku segera menyelesaikan mandiku. Ku ambil baju didalam lemari, stelan kaos tangan panjang berwarna biru laut, celana kain berwarna biru black dan jilbab berwarna maroon. Ku pakai bedak tabur Baby dan liptin berwarna bibir.
Terlihat di cermin wajahku yang segar, terasa manis seperti semanis gula. Ku lihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 07.00, aku bergegas membereskan meja belajarku dan melihat jadwal mata kuliah yang akan ku hadapi hari ini. Dengan segera memasukkan tugas dan buku-buku kuliah ke dalam tas.
Yah jumpa dosen killer lagi, ah..mana sering ngasih tugas banyak amat, capek juga ngerjain tugas setiap hari, tahu semalam minta cepat aja hari pernikahannya, biar cepat jadi ibu rumah tangga, gak mikiri jadwal kuliah kayak gini.
Ku ingat-ingat, apakah masih ada yang belum ku bawa atau tidak, segera aku memakai tas ranselku keluar dari kamar, takut terlambat. Di meja makan Ayah, Ibu dan Bang Raga sudah menunggu.
"Selamat Pagi Ayah...," sapaku mencium pipi ayah.
"Selamat pagi Ibu...," menghampiri ibu, sekaligus mencium pipinya.
Bang Raga dengan muka juteknya melihat wajahku yang tidak menyapanya.
" Selamat pagi Bang Raga," sapaku kepadanya yang langsung membuat moodnya membaik.
"Pagi, Kamu ikut Kakak aja Dek, Kakak sekalian mau ke kampus, mau mengajukan proposal." ucap Raga melahap sarapannya.
"Kampus Kakak kan lain arah, apa kakak gak terlambat,".ucapku memikirkan perkataan Bang Raga yang membingungkan bagiku.
"Gak lah, udah kamu sarapan biar kita pergi bareng," ucap Raga sambil mengunyah makanannya.
Aku segera mengambil sarapan dan melahapnya. Makanku yang banyak, membuat tubuhku tinggi tegap kalau jadi polwan dengan postur seperti ini baru cocok.
"Sudah bang, ayo kita berangkat!," ucapku mempercepat gerakan takut di dahului dosen killer masuk ke kelas.
"Nisa pergi dulu ya Yah..., Bu...," ucapku berpamitan kepada ayah dan ibu.
" Iya hati-hati di jalan, jangan ngebut Ga...," ucap Ibu mengingatkan.
"Iya Bu, paling cuma lari 100 Buk," ucap Raga yang menyalami Ibu.
" Ga!!!,ucap Ibu berteriak.
__ADS_1
"Iya buk nanti gasnya di copot aja, biar Motornya di tuntun aja, jadi Raga kan gak bisa ngebut," ucap Raga yang bawel bila di nasehati.
"Bocah edan...," ucap ibu mengatai Putranya.
" Apa BU, Bocah Ganteng, Raga memang ganteng Bu...,tapi...," ucap Bang Raga gantung karena langsung ku sambut.
" Tapi masih jomblo, ha...ha...ha...," ucapku sambil tertawa.
" Sudah Ga..., sana berangkat, nanti terlambat," ucap Ayah menimpali.
"Dek pakai helm," ucap Raga kepadaku.
"Maleslah Bang..., biasanya juga gak ada razia," ucapku dengan santai.
"Terserah loe..., jangan sampai gara-gara, gue di tilang," ucap Raga yang kesal.
Kami berangkat masih pagi, suasana pagi masih terasa segar, hawa dingin pagi berkendara menusuk ke kulit. Jalanan id pagi ini sangat ramai, orang sudah banyak beraktivitas. Bang Raga mahir menyelip-nyelip kendaraan. tiba-tiba..
prittt....
Polisi sudah di depan menghadang kami dan Bang Raga langsung memberhentikan motornya.
"Selamat pagi Bang..., Mbak..., bisa lihat surat-suratnya? ucap Polisi ganteng gak ketulungan.
Wih, gantengnya...., pangeran dari mana ini turun ke bumi. Sadar Nisa...,kamu sudah punya tunangan.
" Ini pak," ucap Bang Raga menunjukkan STNK dan SIM nya.
"Surat-suratnya lengkap tapi Mbaknya kenapa tidak pakai helm? ucap Pak Polisi menatap diriku dan tersenyum manis.
" Ya Allah Dek..., kan udah Abang Bilang tadi pakai helm, kenapa gak jadi di pakai," omel Bang Raga yang terdengar oleh Pak polisi.
" He...he ...iya Bang lupa soalnya keburu-buru," ucapku yang berbohong.
" Jadi bagaimana dong ini," ucap Bang Raga yang kebingungan menghadapi suasana ini.
Pak polisi senyum-senyum melihat aku yang diomeli Bang Raga.
__ADS_1
"Apakah ini pacarnya Bang...," ucap Pak polisi kepada Bang Raga dan melirik ke wajahku.
"Gak, ini adik saya Pak," ucap Raga dengan jujur melihat senyum Pak Polisi kepada diriku.
"Oo..., karena Mbaknya tidak pakai helm, Mbaknya dikenakan denda, besar dendanya Rp 250.000,00," ucap Pak polisi yang selalu menatapku, tapi hati aku gak goyah tuh, sorry Pak..., aku sudah ada yang punya.
" Jangan dong pak, kami gak bawa uang," ucap Raga menjelaskan.
"Tidak Bisa Bang..., atau sepeda motor Abang nanti Saya tilang," ucap Pak Polisi yang ingin memperpanjang masalah agar dia bisa lama menatap diriku.
" Jangan ya Pak Polisi cakep..., keren, tampan, apalagi ya..., semuanya deh tentang Bapak, saya udah terlambat ke kampus Pak...," ucap Annisa yang keceplosan berbicara dan membuat Pak polisi senyum-senyum kepadanya.
" Dek, kamu naik gojek aja Dek..., nanti kamu terlambat, biar ini Abang yang ngurus." ucap Bang Raga yang memasukkan kembali surat-suratnyanke dalam dompetnya.
"Nisa pergi dulu ya Bang...,"ucapku menyalami Bang Raga dan langsung pergi, tanpa menatap wajah Pak polisi ganteng yang seumuran Bang Raga. Sedangkan Pak polisi masih menatapku yang berjalan menjauh dari tempat itu.
Aku pesan gojek tidak jauh dari Bang Raga yang masih berurusan dengan Pak polisi, tidak terlalu lama akhirnya gojeknya pun datang. Aku yang sudah mau naik, tiba-tiba sebuah mobil lamborghini berwarna merah berhenti di depan sepeda motor bang gojek. Bang Gojek merasa was-was karena motornya di hadang mobil mewah.
Aku di kejutkan dengan Kak Gilang yang sangat tampan keluar dari mobil lamborghini. Ya Allah, nikmat Tuhan yang manakah yang kau dustakan? sudah ganteng, kaya dan perhatian lagi.
"Dek, kenapa pakai gojek sih, kenapa gak bareng sama supir Abang aja tadi? ucap Gilang yang melihat Annisa masih bersiri didekat motor abang gojek.
"Maaf Kak, tadi Nisa bareng Bang Raga, tapi di jalan di stop Pak Polisi resek," ucapku asal keluar.
" Bang ,ini ongkosnya, calon istri gak jadi ikut sama Abang, biar sama saya saja ke kampus," ucap Gilang yang langsung menberikan ongkos kepada Bang gojek.
"Terima kasih banyak Mas," ucap Bang gojek langsung melajukan motornya.
" Sekarang Raganya mana?Tanya Gilang kepada diriku.
" Itu, di seberang sana," Tunjukku kepada Kak Gilang dan Kak Gilang memperhatikan keberadaan Bang Raga.
" Ayo kita kesana sebentar," ucap Kak Gilang menarik tanganku.
Aku dan kak Gilang berjalan menyeberang jalan ke tempat Bang Raga berada. Bang Raga terlihat lesu motornya mau ditilang. Kak Gilang menghampiri pak polisi itu. Pak polisi terkejut melihat Gilang di depannya. Siapa yang tidak mengenal dengan Gilang Anak pengusaha terkaya di Kota Bandung.
Gilang menghampiri polisi dan bercerita dan menelepon Orang suruhannya untuk menyelesaikan masalahnya. Akhirnya Daniel, orang suruhan Gilang dalam 10 menit telah sampai dan dapat menuntaskan masalahnya. Pak Polisi berdiri di samping Kak Gilang tidak berani melirikku karena Kak Gilang mengenalkan aku kepadanya, sebagai calon istri Kak Gilang. Aku dan Kak Gilang berangkat ke kampus naik mobil yang Kak Gilang bawa, jantungku terasa berdebar-debar ketika pertama kali naik mobil ini. Tanpa pembicaraan, Kak Gilang terus melakukan mobilnya.
__ADS_1
Gak nyangka mimpi apa aku semalam, naik mobil lamborghini seperti dinovel-novel itu. Enak banget ya jadi orang kaya, 3 tahun lagi aku akan jadi nyonya Gilang Parayuda. Apakah akan tetap naik mobil ini lagi atau sudah ganti model mobil yang lain? Eh...eh.., kenapa jiwaku seperti gadis matre ya..., Astaghfirullah....
Kak Gilang memperhatikan diriku yang hanya terdiam, wajahku malu bila tertangkap wajah Kak Gilang memandangi sekeliling mobil barunya. Jiwa-jiwa orang desaku masih ada, maklumlah kemana-mana masih naik motor, jadi masih kampungan.