Teman Palsu

Teman Palsu
Arif Kecelakaan


__ADS_3

" Arif cepat buka Jaketmu, kita tukaran Rif," ucapku kepada Arif.


" Iya sabar," ucap Arif.


" Sa, perasaanku kok gak enak ya? tanya Arif. "Kamu gak apa- apa Sa, kalau aku lepas sendirian pulang," ucap Arif yang merasa khawatir.


" Gak apa-apa Rif, udah ayo buruan mana Jaketmu sekalian kunci motornya " ucapku memaksa Arif agar melepaskan segera jaketnya.


" Iya bawel..," ucap Arif yang melepas jaketnya dan mengambil kunci motor dari sakunya.


Sesampainya di parkiran, Annisa merasa ada yang tidak beres dengan sepeda motornya.


Kenapa banyak tumpahan oli, seingatku tadi sebelum pergi, ini motor bagus gak ada yang bocor. Tapi ini kok banyak oli berceceran, ku cek aja dulu sebelum di bawa Arif.


Aku segera mendekati sepeda motor yang ku rasa ini motor ada yang tidak beres. Tapi ketika ingin kuperiksa mesinnya, Arif segera menggeser badanku dan Arif langsung naik ke motor dan menghidupkannya.


" Kenapa Sa, kamu seperti gak rela aku bawa motormu," ucap arif bercanda.


" Enggak gitu Rif, ada yang gak beres sepertinya, coba kau lihat kok bisa banyak oli berceceran," ucapku curiga.


" Udah gak apa-apa," ucap Arif dengan santainya.


" Perasaanku gak enak Rif, aku takut kamu akan jadi sasaran kejaran mereka," ucapku mengingatkan.


" Santai aja Sa, duluan ya," ucap Arif menjelaskan dan melajukan motornya keluar gerbang kampus.


Perasaanku yang tidak tenang segera ku ambil motor Ragil dan segera melaju mengejar Arif. Dari jauhku lihat Arif di ikuti dua motor dengan pengejar yang sama seperti tadi siang. Aku merasa ini adalah suruhan orang-orang yang ingin mencelakaiku, mereka yang mengincar diriku dan tidak mengenali ketika aku menyamar.


Arif yang mengetahui dia dikejar segera melajukan motornya, dia ingin membuktikan siapa sih sebenarnya yang selalu mengejar Annisa. Arif juga jago menyelip kendaraan roda empat yang banyak lalu lalang dijalan raya. Tapi dua pengendara yang mengejar Arif sudah senior dalam mengendarai motor, mungkin mereka pengendara profesional, sehingga mudah mengejar Arif.

__ADS_1


Jalan yang ramai seperti sore hari ini merupakan rutinitas ketika para pekerja pulang dari kerja atau kantor yang memenuhi jalan raya sehingga jalan padat merayap. Kemacetan yang panjang membuat pengendara lain harus rela menunggu lama sampai jalan lengang.


Arif menyelip-nyelip kendaraan yang dilaluinya. Ketika melewati perempatan, seorang ibu-ibu tiba-tiba saja ingin menyeberang. Arif yang membawa motor dengan kecepatan penuh, dengan cepat menarik Rem tangannya, seketika Arif gugup karena rem motorku tidak ada yang berfungsi, ternyata Rem motorku blong.


Mungkin ini yang membuatku tidak tenang, ternyata ada orang yang sudah menyabotase motorku.


Arif yang khawatir ibu itu akan tertabrak, melakukan aksi nekatnya yang berbahaya. Arif melakukan jalan pintas demi menyelamatkan seseorang, dia menabrakkan dirinya ke badan Truk yang terparkir dipinggir jalan. Dua pengendara yang mengejar Arif langsung kabur.


Semua saksi mata yang melihat, menjerit menyaksikan aksi nekat Arif. Tabrakan pun terjadi.


Duar...


Tubuh Arif terlempar lima meter dari motornya. Darah pun bercucuran dari kepalanya, badannya penuh luka dan motorku juga hancur.


Aku yang melihat kejadian itu mengejar tubuh Arif yang penuh luka. Aku membayangkan jika yang mengenderai motor ini adalah aku bukanlah Arif, bagaimana sekiranya keadaanku mungkin aku tidak akan tertolong lagi. Ya Allah dua kali kau menyelamatkan nyawaku dari orang-orang yang ingin mencelakaiku.


Seorang pemuda yang melintas melihatku menangis tersedu-sedu. Dari jauh segera mendekatiku dan membantu membawa Arif ke rumah sakit.


Kejadian yang terlihat di depan mataku seakan seperti mimpi. Arif rela mengorbankan dirinya demi menolong ibu-ibu sehingga terluka parah dan sekarang tidak sadarkan diri. Aku menyesal ide yang ku buat agar Arif menggantikan diriku dari target incaran mereka, malah Arif yang menjadi korban.


Aku segera menghubungi Kak Gilang dan Kak Andre, mereka terkejut mendengar berita yang kuceritakan dan segera mematikan telepon.


Arif yang terluka parah segera di bawa ke UGD. Aku dan Kak Bima menunggu di luar dengan keadaan gelisah. Sudah satu jam kami menunggu di depan pintu tapi Dokter belum juga keluar.


Bima sejak tadi memperhatikanku dari jauh, pandangan yang penuh arti seakan meminta penjelasan dariku. Langkah gagahnya mendekat menebar pesona kepada para suster yang melihat seragamnya. Aku yang melihat dia melangkah seakan ingin pergi tapi terlebih dahulu dia menarik tanganku dan memintaku duduk kembali.


" Jadi yang tadi siang, yang mengejek aku dijalan itu dia," ucap Bima yang mengacungkan telunjuknya ke arah ruang UGD.


" Maksud Kak Bima," ucapku pura-pura tak mengerti akan perkataannya.

__ADS_1


"Tadi siang ada yang mempermainkan Kakak di tengah jalan, cuma tasnya kok beda ya, Tas yang pakainya tas seperti ini," ucap Bima menunjuk Tasku.


Wih...wih... teliti betul perwira ini, tas saja bisa segitu telitinya. Bodoh juga dua motor yang mengejar tadi ya, mereka aja tidak memperhatikan tasku. Eh kak Bima kok bisa seteliti itu memperhatikannya. Jenius juga otaknya.


" Emangnya yang punya tas seperti ini Nisa doang Kak, di luaran juga banyak " ucapku mencoba mengelak.


" Iya juga ya, tapi itu sepatu yang mengejek kakak tadi siang juga sepatunya seperti ini," ucap Bima memperhatikankan sepatuku.


" Ha..."aku terperangah mendengar ucapannya yang sedetail itu menelitiku dan ingin kabur dari tatapan Kak Bima. Aku pun beranjak berdiri ingin meninggalkan Kak Bima tapi Bima menarik tanganku kembali.


" Eh, mau kemana Sa, Kamu Jujur aja sama Kakak, Sa...tadi siang itu kamu kan? Kamu yang sudah mempermainkan kakak sampai bawa motor ngebut-ngebut, kamu kalau bawa motor jangan ngebut kali Sa, syukurnya yang kecelakaan itu bukan kamu ," ucap Bima yang sudah merah mukanya menahan marah.


" Ehmm...Ka...kakak kok bisa tau," ucapku gugup dan terkejut mendengar tuduhan Kak Bima yang memang benar pelakunya adalah aku.


"Ya tahu lah, ini motor kan sering parkir di Toko kue Tante Devi, Kakak kan sering nongkrong di sana," ucap Bima dengan jujurnya.


Mendengar ucapan Kak Bima membuat diriku mati kutu, ketahuan deh belangnya. Aku cengengesan melihat wajahku dan menggaruk kepalaku yang tidak gatal untuk mengurangi kegugupan.


" Awalnya ketika pertama kali kita bertemu Kakak melihatmu ugal-ugalan, mengira kamu adalah seorang pria. Di kepala kakak waktu itu ingin menghajarmu kalau kita berjumpa kembali. Eh gak tahunya malah si gadis cantik," ucap Bima yang membuat wajahku merah dan malu karena ketahuan kelakuanku.


" Maafi Nisa kak, tapi jangan sampai Tante ama ibu tahu ya kak, Nisa janji deh ,Nisa gak akan ngebut lagi," ucapku berusaha menjadi anak yang baik. Aku takut Kak Bima mulutnya ember.


" Iya, kakak maafi. Sa, kakak mau tanya tadi siang yang terus mengejar kamu siapa? Kakak juga ngikuti kamu tapi terhalang Truk yang lewat jadi kakak putar balik kembali karena kakak lanjut mau ke kantor," ucap Bima penasaran.


" Nisa juga gak tahu kak, sore ini yang mengejar Arif juga orang yang sama. Nisa yang punya ide supaya kita tukaran motor karena Nisa ingin melihat siapa mereka tapi laju motor Arif susah untuk Nisa imbangi, Naasnya Arif mengelakkan ketika ibu-ibu ada yang mau menyeberang , Arif malah kecelakaan, tapi heran deh Kak, Arif kok gak bisa ngerem," ucapku merasa heran akan kecelakaan Arif.


" Jangan-jangan kecurigaan Nisa benar Kak, ada yang sudah menyabotase motor Nisa,"


ucapku kepada Bima. Kak Bima yang mendengarkan merasa menemukan sebuah kasus.

__ADS_1


" Bisa jadi, kalau gitu besok Kakak bantu kamu menyelidikinya, mana tahu ada CCTV di parkiran kampus kamu," ucap Bima menemukan cara untuk menyelidiki kecelakaan itu.


__ADS_2