
Eh ,tunggu dulu, hantu kok bisa melangkah. Setahuku kan tidak memijak tanah. Perasaanku semakin tidak karuan. Malam ini diriku yang tomboy menjadi seorang yang penakut. Mata ku pejamkan erat, takut jika aku buka, bayangan yang menakutkan akan membuatku semakin takut dan hantunya semakin mendekat.
Seketika terasa perih menjalar di kaki kananku. Aku merasakan Kakiku tertusuk serpihan kaca. Aduh..., bagaimana aku melangkah, hantunya akan segera mencengkikku. Kak Gilang tolong Nisa....
Ctek
Lampu dapur menyala, terlihat Kak Gilang memegang remot TV mengejar diriku. Aku pun merasa lega. Ternyata hantu yang ku pikirkan adalah pangeran tampan dari keluarga Prayuda. Pangeran yang dalam mimpi membawa aku terbang bersamanya menuju taman yang indah.
" Dek..., kamu gak kenapa-kenapa kan..., Maafin Kakak ya. Kamu terkejut Dek, sini biar nanti Bibi yang bersihkan." ucap Kak Gilang yang merasa bersalah sudah mengejutkan diriku ketika akan mengambil air minum. Karena maksud hati dia ingin menjaili, malah menyebabkan keributan.
Aku bingung mau ngomong apa, kalau orang yang didepanku ini si Arif, pasti sudah ke jitak kepalanya. Tapi orang yang di hadapanku ini Calon suamiku dan rumah tempat aku berada ini juga tempat tinggalnya, mana berani aku marah.
Aku terdiam dan ingin duduk di meja makan, seketika kakiku terasa sakit.
"Aw..," suara jeritanku mengganggu pendengaran Kak Gilang dan menoleh melihat kakiku yang terluka yang mengeluarkan darah.
" Sa..., kakimu terluka?? Bibi!!! " jerit Kak Gilang yang membuat seluruh penghuni rumah terbangun.
Pelayan rumah yang sudah mendengar ada suara kegaduhan di dapur segera berlari dan menghadap Gilang.
" Iya Tuan,"ucap Pelayan yang terburu-buru mendekati Tuannya.
"Bibi, tolong bersihkan pecahan kaca ini Saya akan mengobati Nisa dulu, dia terkena pecahan beling Bi ...," Bibi yang masih merasa mengantuk langsung tersadar ketika orang yang di depannya Tuan dan Nona calon majikannya.
" Iya Tuan, apa perlu saya bantu mengobati Nona, Tuan??," ucap Pelayan merasa ikutan panik.
"Tidak perlu, biar saya saja Bi..., tolong ambilkan saya kotak P3K Bi...,"ucap Gilang yang panik melihat Kakiku mengeluarkan darah.
" Baik Tuan," Bibi segera berlari menuju lemari untuk mengambil kotak P3K. Tanpa meminta persetujuanku Kak Gilang menggendongku
"Eh..eh...Kak, aku bisa jalan sendiri Kak," aku gugup ketika di gendong Kak Gilang tiba-tiba.
" Gak, kamu gak boleh jalan, apa kamu gak lihat kakimu terluka!," sedikit teriak Kak Gilang membuat nyaliku menciut. Sakitku terasa dobel. Sakit di hati dan sakit di kaki. Untung tidak sakit gigi.
Mama Gilang yang berada di dalam kamar mendengar suara keributan dari luar segera terbangun.
" Pa..., ada apa di luar kok ribut-ribut," ucap Mama Gilang yang terjaga dan emmbangunkan suaminya.
" Ah perasaan Mama aja, ayo tidur saja Ma.. ," jawab Papa Gilang yang sangat kelelahan dan mengantuk sehabis melakukan kegiatan panas mereka.
" Pa..., bangun Pa," ajak Mama Gilang yang sudah mengguncang tubuh suaminya.
" Papa ngantuk Ma...lelah badan Papa, apa Mama mau minta nambah lagi, Papa udah gak kuat Ma...," ucap Papa Gilang yang menjaili istrinya dan pura-pura tertidur.
" Ogah!, siapa juga yang mau nambah, " ucap Mama Gilang dengan wajah cemberutnya. Sedangkan Papa Gilang kembali memejamkan matanya.
" Ih,...sebel, ada maunya aja semangat, kalau sudah selesai, loyo," ucap Mama Gilang kembali ngambek dan menyandarkan tubuhnya bergelung selimut di headboard tempat tidur.
__ADS_1
" Ya udah kalau gak mau nemani, biar aja Mama bangun sendiri, jangan harap nanti dapat jatah lagi," ucap Mama Gilang yang sudah ngambek dan sedikit memberi ancaman.
" Ha, i...iya Ma..., Iya, ayo Ma...Papa temani, apa perlu Papa gendong," Papa Gilang gugup ketika mendengar ancaman dari istrinya. Karena setahunya, istrinya kalau sudah ngambek seperti singa betina yang siap mencabik-cabik lawannya.
Papa Gilang menarik selimut dan terlihat tubuh Mama Gilang yang masih polos seperti bayi. Pak Yuda segera memungut baju tidur istrinya yang berserakan di lantai karena ulahnya dan mengambilkan sweater untuk menutupi tubuh sek si istrinya.
.
Mama Gilang sudah tahu kelemahan suaminya. Kena gertak sekali langsung tunduk. Dasar suami takut istri.
Aku terdiam melihat Kak Gilang yang begitu panik. Di letakkan diriku di sofa dan di telitinya luka di kakiku yang lumayan dalam.
Terlihat serpihan kaca yang tertancap.
" Ini Tuan Kotak P3K nya," ucap Pelayan yang menyerahkan kotak obat.
" Letakkan di meja Bi...," ucap Gilang yang sudah tidak sabar ingin mengobati luka di kakiku.
" Tahan ya Dek..., ini mungkin sedikit sakit," ucap Gilang yang sudah ingin mencabut serpihan kaca dan menyediakan kain kasa.
" Ahh...Kak," jeritku karena merasakan sakit.
Mama dan Papa Gilang yang kamarnya terletak di lantai dua, segera menggandeng istrinya untuk turun. Sampai di tangga mereka mendengar suara samar-sabar seperti suara orang mendesah. Langkah kaki Papa Gilang semakin cepat. Wajahnya sudah merah menahan marah. Sedangkan Mama Gilang ketika mendengar suara itu, sudah merasa ketakutan. Pirasatnya mengatakan bahwa puteranya telah memperkosa calon menantunya.
" Ahh...Kak, sakit," jeritku kala lukaku dibersihkan dan di beri obat merah. Terasa pedih. Luka tersebut langsung di berperban
Gilang yang duduk di sofa tidak memakai atasan dan hanya memakai celana jeans saja terlihat duduk membelakangi, membuat orang yang melihatnya menilai kedua orang ini salah paham. Papa Gilang menebak puteranya sedang berbuat mesum. Dan suara teriakan Annisa seakan sedang melakukan sesuatu yang di luar batas.
" Lang, tahan dulu ya..., satu minggu lagi pernikahan kalian, tahan dulu ya nak, ingat sama Allah" ucap Mama Gilang yang sedikit bijak menghadapi anaknya tanpa dengan emosi.
Gilang menautkan alisnya, dia paham apa yang di maksud Mamanya dan matanya langsung melihat tubuhnya yang tidak memakai atasan, langsung membuatnya menepuk jidat. Pasti mereka salah paham.
"Memang apa yang Gilang lakukan Ma...," ucap Gilang santai merasa tidak berbuat apa-apa.
" Jangan bohong kamu Lang..., kamu mau melakukan sesuatu pada Nisa kan," Papa Gilang memberikan tuduhan kepada puteranya.
"Astaghfirullah Pa..., otak Gilang masih sehat Pa..., kayak kurang kerjaan aja. Kalau Gilang mau, ngapai juga harus di dapur, kayak tidak ada tempat yang lain. Noh, kamar banyak Pa.... Mau Gilang kunci, juga gak ada yang dengar," Gilang sedikit memberi penjelasan agar orang tuanya tidak mencurigainya berbuat yang tidak-tidak.
Aku baru paham mendengar adu mulut mereka.
" Lihat Ma..., Nisa juga masih lengkap pakaiannya," ucap Gilang yang tidak senang bisa dipersalahkan.
" Gilang ngobati Nisa Ma.., Kakinya terkena beling," ucap Gilang menjelaskan.
" Kok bisa???, tanya Mama Gilang penasaran.
" Panjang ceritanya Ma...," ucap Gilang yang tidak menceritakan malam ini.
__ADS_1
" Kamu gak macam-macam kan sama Nisa," tanya Mama Gilang balik yang masih ragu akan jawaban puteranya.
" Emangnya apa yang Gilang lakukan???," tanya Gilang balik.
" Kak Gilang gak ngapai-ngapai Nisa Ma..., malah Nisa bersyukur Kak Gilang mau ngobati luka Nisa,"ucapku menjelaskan.
" Emangnya kenapa kakimu Nisa...," ucap Mama Gilang yang mendekati calon menantunya yang sedikit panik.
" Tidak apa-apa Ma...," jawabku singkat.
" Oh..Syukurlah mendengar suaramu menjerit, Mama Pikir kalian...," Papa Gilang mencubit pipi istrinya.
" Sakit Pa...," ringis Mama Gilang merasakan pipinya dicubit.
" Jangan diteruskan Ma..., malu..., sebaiknya ayo kita masuk ke kamar lagi, lanjutkan yang tadi Ma...," ucap Papa Gilang yang sedikit genit mengedipkan matanya kepada sang istri.
" Ah, Papa ini, malu ah dengar anak-anak," ucap Mama Gilang yang tersipu malu.
" Biarin, bentar lagi juga mereka akan melakukannya," ucap Papa Gilang yang bicar tidak memikirkan ada orang lain.
Aku dan Kak Gilang saling pandang dan aku mengerti ke arah mana pembicaraan mama dan Papa Gilang.
" Ya sudah Lang..., Kamu antar Nisa lagi ke kamarnya, dan jangan kamu tinggalkan sebelum dia tidur, "ucap Mama Gilang yang sedikit memberi penekanan agar Puteranya bertanggung jawab.
Aku tertunduk malu, emang apa yang kami lakukan. Berciuman saja membuatku jantungan. Apalagi yang Mama dan Paa Gilang tuduhkan. Oh, malam pertama, memikirkannya saja sudah membuatku panas dingin. Takut....
Gilang menggendong diriku ke kamar. Dan di letakkannya diriku di atas ranjang
" Kak Nisa haus...," ucapku yang masih ingat niat pertama ke dapur untuk apa.
" Tunggu sebentar," ucap Gilang dan keluar ingin mengambilkan air minum.
Tidak berapa lama Kak Gilang kembali membawa segelas susu.
" Kok susu Kak, kan Nisa mintanya air putih," ucapku yang merasa tidak enak karena sedikit merepotkan.
" Iya, biar kamu semakin sehat, sebentar lagi kan kita akan menikah. Enggak sabar Kakak ingin menikahimu, kalau bisa besok, secepatnya saja kakak akan nikahi kamu, biar bisa meluk kamu setiap hari," ucap Gilang dengan senyumnya semanis buah.
" Ih... ini," aku mencubit tangan Kak Gilang.
" Aw..., sakit sayang, belum apa-apa sudah kejam, emang kenapa rupanya, kamu gak mau nikah cepat," ucap Gilang yang merasa heran melihat tingkahku yang malu-malu.
" Bukan gak mau, tapi takut," jawabku yang sedikit parno.
" Kenapa harus takut??? kan nanti tidurnya Kakak temani," ucap Gilang yabg sedikit jail dan mengedipkan sebelah matanya.
Ih resek banget sih, bukan mikiri tidur barengnya. Tapi mikiri malam pertamanya. Katanya sakit banget. Andai saja ada jual celana yang ada alarmnya. Ketika malam ingin di senggol Kak Gilang, kan langsung berbunyi. Seru banget kalau terdengar, pasti langsung ribut, bisa membangunkan orang sekampung. Terus gak jadi deh Kak Gilang dekat-dekat, takut ketahuan orang. Kalau ada yang jual, pasti Nisa akan beli buat jaga-jaga, agar gawangnya jangan di jebol.
__ADS_1
*******
Jangan lupa Like, komentar, Vote dan Hadiahnya ya..