
Hari ini adalah hari terakhir ujian praktek. Setelah tiga hari bergelut dengan soal-soal ujian nasional dilanjut dua hari ujian praktek, dan hari ini rasanya lega. Dua jam waktu ujian terasa merdeka dari soal-soal yang membingungkan dan praktek yang melelahkan.
Terlihat kegembiraan di wajah siswa-siswi SMK. Tinggal menunggu hari perpisahan yang akan di adakan seminggu lagi dan pengumuman kelulusan yang belum tahu kapan keluarnya.
Kak Gilang sudah berjanji kepada diriku mengajakku jalan-jalan setelah pulang sekolah nanti. Hari ini kurencanakan tidak membawa sepeda motor ke sekolah. Tapi diantar oleh Bang Raga yang sekalian ingin pergi kuliah.
Pukul 11 siang Kak Gilang sudah menunggu di depan gerbang. Dibukakannya pintu kepadaku, aku merasa tersipu malu. Akhirnya Kak Gilang melajukan mobilnya menuju Hotel Prayuda. sekitar tiga puluh menit, akhirnya mobil yang dikenderai kami sampai.
Dari kejauhan ada yang memperhatikan kami berdua, dengan kamera pengintai. Membidik gambar ketika Kak gilang masuk ke dalam hotel.
"Ada apa kita kemari Kak,"ucapku heran, rencana jalan-jalan kenapa larinya ke hotel.
" Sebentar ya, Kakak ada perlu sama Papa, kamu mau ikut?"ucap Kak Gilang menatap wajahku dan segera keluar dari mobil.
"Gak deh biar Adek di mobil aja"Jawabku dan memilih melihat chat dari Rini.
'Zak, kamu di mana, Jalan-jalan yuk ' chat dari Rini.
' Aku ama Kak Gilang lagi di depan Hotel Prayuda' chat ku balas dan terkirim.
' Oke aku menyusul ya ' chat dari Rini .
Bosan menunggu, ku hidupkan musik di dalam mobil. Tiba-tiba ada seseorang yang bertopeng masuk ke dalam mobil dan membekapku menggunakan sapu tangan. Aku tidak ingat apa-apa dan tertidur. Dua orang pria bertopeng segera memasukkan diriku ke dalam karung dan membawa ke dalam hotel melalui pintu belakang.
Di dalam ruangan rapat, Papa Gilang minum kopi yang telah dibuatkan sekretarisnya. Dengan beberapa kali tegukan, akhirnya kopi di cangkir telah habis, tiba-tiba Papa Gilang merasa mengantuk dan tertidur. Pak Yuda di bawa ke kamar 107A. Acara rapat di tunda, semua staf hotel kembali kerja kebagian masing-masing.
Gilang segera naik ke lantai paling atas menemui sekretaris yang berada di depan ruangan Papanya Gilang. Gilang bertanya kepada sekretaris apakah papanya ada di tempat atau tidak. Sekretaris itu mengatakan kalau Pak Yuda sedang Istirahat di kamar Hotel 107A, kamar hotel yang menjadi kamar spesial Papa Gilang ketika ingin beristirahat.
Gilang melangkah menemui Papanya, sesampai di depan pintu, terlihat pintu tidak dikunci dan langsung didorongnya.
__ADS_1
Gilang terkejut melihat pemandangan didepannya. Papa Gilang dengan gadis pujaannya berada ditempat tidur yang sama dan di bawah selimut yang sama. Hati Gilang terasa sakit melihat mereka tidak berbusana sama sekali.
Gilang menarik Papanya dan Geram akan kelakuan Papanya. Papa Gilang yang sudah tersadar juga tampak terkejut dan shok. Tidak pernah terpikir di hati Pak Yuda akan berselingkuh dan bermain dengan wanita lain kecuali dengan istrinya.
Gilang menangis dan meremas rambutnya di depan mereka berdua, perasaan hatinya yang sakit seakan membuatnya terpuruk. Gilang terlihat frustasi, gadis yang di cintainya sedang tidur dengan Papanya. Gilang berteriak Pada Papanya dan melemparkan pakaian Pak Yuda agar segera memakai pakaiannya.
Gilang hampir saja melampiaskan amarahnya kepada Papanya. Andai orang yang di depannya bukanlah Papanya,mungkin sudah lenyap nyawanya di buat Yuda. Pak Yuda mencoba menjelaskan kepada Gilang bahwa itu adalah jebakan.
Teriakan Gilang membangunkan tidur Annisa, Annisa tampak shok. Melihat kamar yang berbeda dan kebisingan dari ruangan itu membuat Nisa untuk mencoba bangkit, tanpa di sadarinya dia tidak berbusana sehelai pun.
Gilang yang tidak sengaja melihat, langsung mengejar Annisa dan menarik selimut untuk menutupi tubuh Annisa. Annisa yang melihat tubuhnya tidak berbusana, menangis histeris. Gilang mengutipi pakaian Annisa yang berserakan di lantai dan menyuruh Annisa agar memakai pakaiannya di kamar mandi.
Dengan sempoyongan pengaruh obat bius, Annisa segera masuk ke kamar mandi dan menghidupkan shower. Annisa menangis merutuki dirinya yang sudah kotor.
"Aku sudah kotor, maafkan Nisa Ayah, Ibu. Masa depan Nisa sudah hancur Bu..."
Nisa terus menggosok kulitnya agar dapat menghilangkan kotoran dari tubuhnya. Selama satu jam Nisa di kamar mandi di bawah guyuran shower, Nisa pingsan dengan bajunya yang basah.
Tanpa berpikir panjang Gilang langsung mendobrak pintu kamar mandi dan terlihat Nisa tidak sadarkan diri dengan tubuhnya yang pucat. Gilang langsung memanggil Ambulance dan membawa Annisa turun ke bawah.
Dalam waktu Lima belas menit Ambulance datang, Gilang segera menggendong Annisa memasukkan ke dalam Ambulance. Pak Yuda tampak bersalah dan segera melajukan mobilnya menuju ke rumah.
Gilang ikut mendampingi Annisa menunggu rumah sakit. Gilang merasa bersalah, karena dirinya yang sudah membawa Annisa mampir ke rumah sakit. Beberapa menit kemudian sampailah di rumah sakit dan perawat membawa Annisa langsung ke UGD.
Gilang baru teringat dia harus menghubungi Ayah dan ibunya Annisa. Gilang siap menerima resikonya apa pun yang terjadi. Yang masih jadi pikiran Gilang bagaimana keadaan Annisa, apakah akan terguncang jiwanya dengan kejadian ini.
"Hallo ,Assalamualaikum buk" ucap Gilang kepada Ibu Annisa.
" Wa'alaikum salam, siapa ini," jawab ibu.
__ADS_1
" Ini Gilang Buk, Gilang mau mengabari kalau Annisa dirumah sakit buk," ucap Gilang ragu-ragu.
" Ya Allah Lang ,kenapa Annisa Lang,"ucap ibu lemas terduduk di kursi toko kuenya, ayah yang mendengar segera mendekat dan mencoba mencari tahu apa yang terjadi. kemudian ibu menghubungi Raga agar segera ke rumah sakit.
" Nanti gilang jelaskan buk," ucap gilang segera memaafkan telepon.
Gilang takut ibu Annisa akan shok, mendengar penjelasan yang terjadi. Raga yang mengetahui Nisa masuk rumah sakit segera melajukan motor trailnya ingin menemui adik satu-satunya.
Beberapa menit Ayah, ibu dan Raga sampai di rumah sakit menuju ruangan UGD. Gilang tampak menangis di depan ruangan. Ibu terus menangis di depan ruangan UGD.
Raga menarik tangan Gilang untuk mencari tempat yang jauh dari ayah dan ibu dan ingin mencari tahu apa yang terjadi dari mulut Gilang.
"Apa yang terjadi Lang" ucap Raga kepada Gilang.
Gilang pun menjelaskan dari awal sampai akhir. Raga terlihat emosi dan mengepalkan tangannya di tujukan ke wajah dan perut Gilang berkali-kali. Tampak di sudut mata dan sudut bibir Gilang mengeluarkan darah. Wajah Gilang sudah di penuhi luka. Namun Gilang tidak mau membalas. Biarlah semua amarah Raga dilampiaskan kepada Gilang supaya lega hati Raga. Pak satpam melihat perkelahian mereka.
" Kamu lagi, kamu lagi, Kenapa kamu suka buat onar, ini rumah sakit jangan buat keributan, sana pergi," ucap Pak satpam
" Iya pak satpam suruh dia pergi,kalau besok dia datang, usir saja dia," ucap Raga kepada Pak Satpam.
Pintu ruangan UGD terbuka, keluar seorang dokter, Ibu dan ayah yang melihat segera berdiri dan mendekati Dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan anak saya dokter," ucap Ibu kepada Dokter.
" Apakah Ibu keluarga pasien," jawab Dokter dengan tenang.
" Iya Dokter," ucap Ibu merasa khawatir.
"Anak Ibu sudah melewati masa kritisnya, dan sebentar lagi kami pindahkan ke ruangan VIP, saya permisi ya," ucap Dokter dan melangkah pergi.
__ADS_1
Hati ibu pun sudah tenang kembali setelah mendengar perkataan Dokter dan mengucap syukur kepada Allah. Tanpa sepengetahuan mereka, Gilang sudah membayar Administrasi melalui orang suruhannya.