Teman Palsu

Teman Palsu
Perhatian Gilang kepada Annisa


__ADS_3

Di dalam Mobil, wajah Annisa sudah di stel dengan wajah marah, kakinya yang sakit mengejar langkah Gilang seakan tidak mendapat perhatian. Pandangan Gilang lurus Kedepan melihat jalanan yang hampir malam.


Kruuk


Kruuk


Suara cacing di perutku terus berbunyi.


Aduh, kenapa harus bunyi sih ketahuan deh laparnya. Tapi cocok juga biar orang yang di samping paham situasi. Enggak egoisnya saja yang dipikirkan.


" Lapar Dek," ucap gilang menyapa.


" Iyalah dari siang belum makan," ucapku memasang wajah kesal.


" Ayo kita makan dulu," ucap Gilang melihat tempat makan dipinggir jalan yang bisa di singgahi.


Gilang mencari tempat makan di pinggir jalan yang rasanya tidak kalah dengan makanan restoran. Bukannya Gilang tidak mampu mengajak Annisa ke restoran cuma sekalian ingin membantu yang punya warung untuk menghidupi anak-anaknya yang ada di rumah. Gilang memesan makanan kepada yang punya warung, dua Nasi putih sama Ayam geprek dan dua teh botol.


Beberapa menit kemudian makanan sudah terhidang di atas meja, sambal gila membuat moodku berubah dan menggiurkan lidah. Mau marah juga gak bisa, keringat mengalir di dahiku. Wih mantep tenan...


Tidak ada pembicaraan ketika kami makan, utamakan perut baru bicara.


" Ehmm..." hampir saja aku tersedak, Kak Gilang segera mengambilkan air putih dan segera ku minum.


" Pelan-pelan Dek gak ada juga yang minta," ucap Gilang geleng-geleng kepala melihat makanku terlalu cepat.


"Itu ada, dari tadi gangguin terus" ucapku menunjuk dengan dagu tapi aku masih melahap ayam geprek dan sambal gilanya.


" Siapa? Kak gilang melihat kebelakangnya yang tidak ada siapa-siapa.


" Itu yang dibawah, kucing..." ucapku menunjuk kucing yang di bawah meja dengan jari ku.

__ADS_1


" Dek, Dek...Kakak kira ada hantu yang lagi minta ayam kamu, " ucap Kak Gilang bercanda.


" Masih jam segini sudah cerita hantu, emangnya hantu doyan ayam geprek,"ucapku yang masih melahap Nasiku.


"Ah ngawur kamu, sudah di habisi makanannya, pelan-pelan nanti tersedak lagi" ucap Kak Gilang mengingatkan.


Ku anggukkan kepalaku dan sepertinya dari jauh ada yang terus memperhatikan diriku. Perasaanku tidak tenang . Keperhatikan sekeliling apakah ada orang yang mencurigakan.


Pandanganku terus memperhatikan seseorang yang berada di pojok warung sedang memainkan ponselnya memakai Hoodie dan terus menunduk. Gelagatnya yang aneh dan selalu curi-curi pandang membuatku curiga.


Kalau mau main game kenapa harus di warung dan dari tadi dia duduk tidak ada memesan apa-apa.


Kak Gilang memperhatikan kearah mana pandanganku, dan dia juga menaruh curiga kepada seseorang yang di pojok. Kak Gilang berusaha mendekati pria itu, belum juga dekat tapi buru- buru orang itu langsung Kabur. Gilang kembali duduk dan mulai bicara.


"Dek, mulai sekarang kalau pergi kuliah, Kakak yang antar jeput kamu ya," ucap Gilang menyampaikan maksud kebaikannya.


"Apa tidak merepotkan kakak, bagaimana dengan kuliah Kakak," ucapku yang tidak ingin mengganggu kuliah Kak Gilang teringat dia sedang sibuk di semester akhirnya.


" Kamu jangan takut, kuliah Kakak tidak akan terganggu. Kakak lagi tahap menyusun skripsi Dek, bentar lagi juga selesai, untuk sementara kakak akan tinggal di rumah Ragil," ucap Gilang menjelaskan.


" Sudah jangan dipikirkan, Ayah enggak akan marah Dek, bahkan dia akan bersyukur, kamu terlepas dari maut," ucap Gilang menghiburku agar tidak memikirkan kemarahan Ayah.


" Kasihan Kak, dengan Arif, tapi nanti Arif bisa sembuh kan kak," ucapku sedih akan pengorbanan Arif.


" Iya, kita berdoa saja," ucap Gilang menenangkanku.


" Lukanya terlalu parah, di bagian kepalanya terdapat luka agak dalam Dek, tapi tadi Dokter langsung mengoperasinya, mungkin akan lama sembuhnya. Kamu jangan takut, orang suruhan Papa sudah melacak siapa yang berani mengganggu kamu. Mungkin satu minggu lagi akan terbongkar," ucap Gilang menjelaskan keadaan Arif yang sempat dicari tahunya dari Dokter yang menangani Arif sebelum masuk ke ruangan rawat inap Arif.


" Nisa masih Takut kak, cepat Kakak antar Nisa pulang, nanti Ayah dan Ibu gelisah kenapa Nisa gak pulang-pulang karena Nisa lupa ngabari ke rumah," ucapku merasa cemas.


" Ha...yang benar Sa, gawat ini, kalau sampai Ayahmu marah, Kakak enggak akan di izini nikah sama kamu," ucap Gilang bercanda.

__ADS_1


" Nikah saja sendiri," ucapku menarik tangan Kak Gilang Agar cepat pulang, Gilang yang di tarik tangannya tersenyum-senyum dan membiarkan saja tangannya ditarik.


" Iya, sabar Dek, Kakak bayar dulu, ngebet banget sih," ucap Gilang dan memberikan dua lembar uang berwarna merah kepada yang punya warung dan tidak menunggu uang kembaliannya.


" Kak sudah deh jangan terus bercanda, nanti Adek cari taksi ini," ucapku kesal karena terus di candai.


" Iya...iya..., ayo pulang" ucap Kak Gilang membukakan pintu mobil untukku dan menutupnya kembali. Dia berpindah membukakan pintu untuk dirinya. Ketika duduk di belakang stir Kak Gilang memperhatikan diriku yang belum memasang seatbelt.


Dengan nekatnya dia memasangkan seatbeltku sehingga wajahku dan wajahnya saling berdekatan dan hawa parfum maskulin dari tubuhnya tercium di penciumanku. Terasa menyegarkan harum parfumnya dan ingin selalu tercium. Tanpa ku sadari mataku terpejam menikmati harum Farfum dari tubuh Kak Gilang.


Deheman Kak Gilang menyadarkan aku kembali dan segera ku buka mataku dan dia melajukan mobilnya segera. Sikap canggung kami berdua di dalam mobil, tidak ada yang berani memulai pembicaraan. Lelah sudah kurasakan hari ini. Lelah sudah aku menangis dan kegelisahanku membuatku takut.


Belum terlalu jauh Kak Gilang melajukan mobilnya, mataku seakan sulit untuk di bukakan dan ingin terpejam. Kupaksakan mataku untuk bertahan melihat jalanan. Tapi tak bisa terbuka. Musik pop slow yang di putar Kak Gilang menambah diriku ingin segera tidur.


Kak Gilang melirikku yang sudah terpejam, dibiarkannya aku tertidur dengan kepala menyandar di kursi mobil.


Gilang mengambil selimut yang ada di kursi belakang dan diselimutkannya ke badan Annisa. AC mobil juga di kecilkan, takut Annisa kedinginan karena harinya sudah malam.


Beberapa menit kemudian


Mobil Gilang masuk ke halaman Rumah Annisa. Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam. Raga yang baru pulang nongkrong dengan teman-temannya langsung mendekati mobil Gilang. Gilang segera membangunkan Annisa. Raga yang melihat Annisa tidak juga bangun, meminta agar Gilang membawa Annisa langsung ke kamarnya. Raga meminta Gilang yang menggendong karena Raga tidak kuat. Badan Annisa besarnya juga sama dengan badan Raga.


Gilang sebenarnya tidak enak Hati kepada Ayah dan Ibu, tapi mau bagaimana lagi. Nisa di bangunin gak bangun-bangun akhirnya mau Tidak mau Annisa harus di gendong. Selesai sudah Gilang mengantarkan Nisa ke kamarnya, suasana Kamar yang manis untuk ditempati seorang gadis yang cantik, susunan buku terlihat rapi dan lantai yang bersih. Banyak Foto-foto Annisa terpampang di dinding kamar. Raga yang menyusul ke kamar segera mengajak Gilang keluar dan berkumpul dengan Ayah dan Ibu.


Ayah, Ibu, Tante, dan Om Yudi sedang berbincang-bincang di ruang tamu. Mereka seolah menginterogasiku tentang kecelakaan si Arif. Ibu yang sudah tahu berita kecelakaan Arif dari Andre merasa tidak terkejut. Gilang yang minta Andre untuk mengabari ibu Annisa, bahwa Annisa menemani Arif di rumah sakit sebelum Andre sampai di ruang rawat inap Arif.


Gilang juga menjelaskan kepada Ibu bahwa Annisa sekarang sedang di awasi oleh orang yang tidak dikenal. Untuk sementara Nisa akan diantar jeput oleh Gilang. Ayah yang mendengar ucapan Gilang merasa bersyukur bahwa masih ada yang mau melindungi puterinya.


" Ayah kalau diizinkan saya akan melamar Annisa," ucap Gilang penuh dengan keseriusan.


"Kamu sudah bicarakan hal ini dengan Annisa," tanya Ayah kepada Gilang.

__ADS_1


" Sudah Ayah, tapi annisa meminta saya untuk sabar menunggu sampai dia lulus kuliah, saya takut tidak bisa menunggu dan tidak bisa melindungi Annisa setiap saat, Ayah..." ucap Gilang yang berterus terang.


" Pulanglah dulu ke rumah. Hari sudah malam kau juga lelah, besok ayah akan membicarakannya kepada Annisa," ucap Ayah menjelaskan.


__ADS_2