Teman Palsu

Teman Palsu
Perasaan Yang Aneh


__ADS_3

Seorang pemuda sudah satu setengah jam menunggu adiknya yang sangat di percaya memberikan berita yang sangat penting, tetapi belum juga menampakkan batang hidungnya. Entah apa yang terjadi pada adiknya, sehingga adiknya tidak dapat hadir tepat waktu.


Ponsel terus-terusan memanggil seseorang yang sangat membuat kesal pemuda itu. Pemuda itu adalah Andre yang senantiasa menunggu berita tentang penyelidikan itu. Tiada hari terus bekerja, buang-buang waktu rasanya jalan-jalan bagi Andre. Tugas yang sudah diamanahkan oleh Gilang sangat di hargainya. Seorang Andre bagi Gilang sangat berharga. Selain sebagai sahabat, sepupu, juga sebagai bawahan, andre juga sebagai orang kepercayaan yang sangat setia kepada Gilang. Walaupun perasaan cintanya terhadap orang yang di lindungi, dianggapnya hanyalah perasaan yang tidak mungkin terjadi dan akan pendamnya sampai mati.


Dari jauh sebuah motor besar melaju ke arah Andre yang lagi menyesap jus di sebuah kafe yang tempatnya sangat strategis. Bila di rumah memang mereka seperti abang beradik sama halnya dengan keluarga lainnya. Tetapi kalau dalam mengerjakan tugas, mereka adalah rekan kerja.


Arif turun dari motor dan membuka helmnya. Wajahnya terlihat memar-memar dan mulutnya membiru. Jalannya sedikit sempoyongan, terlihat sangat kelelahan dari wajahnya.


" Rif, kenapa dengan wajahmu?," ucap Andre yang terkejut melihat wajah adiknya yang lebam-lebam seperti habis berkelahi.


"Gawat Bang, bengkel kita di serang, mereka banyak, kami sampai kewalahan melawan mereka. Mereka membawa senjata tajam dan melukai Ragil. Ragil mengalami luka di bagian perutnya. Syukurnya dalam kejadian itu, ada pelanggan kita yang sudah lama menunggu memperbaiki motornya, adalah salah satu anggota polisi yang memakai pakaian biasa. Dia langsung menelepon anggotanya diam-diam. Lima menit kemudian 10 orang dari kepolisian menangkap komplotan Orang yang kita selidiki itu Bang...," ucap Arif menjelaskan kepada abangnya.


"Jadi bagaimana keadaan Ragil sekarang Rif?," tanya Andre kepada Arif yang bertambah gelisah karena Ragil masih termasuk saudaraan dengan Andre.


" Ragil sudah di bawa ke rumah sakit sama Doni, kabarnya selanjutnya Arif belum tahu," ucap Arif yang duduk di sebelah Andre dengan memakan stik yang masih ada di piring Andre.


"Bang, bengkel perlu perbaikan, karena mereka sempat merusak beberapa barang di bengkel," ucap Arif melapor kepada abangnya.


" Kenapa Kamu gak ngubungi Abang waktu kejadian tadi?" ucap Andre yang merasa bingung dengan Adiknya yang terlihat lambat memberikan informasi.


" Takut Bang, polisi akan curiga, " ucap Arif yang mungkin mempunyai sifat pelupa, tetapi malah di katakan kepada Andre kalau dia merasa takut.


" Kenapa takut, kita gak salah, justru makin bagus, mereka akan segera bergerak membantu menyelesaikan masalah kita," ucap Andre yang menimpali pembicaraan Arif.


"O...iya Bang, Rini satu minggu lagi akan bebas, Apakah kita akan memberi tahu Nisa?," ucap Arif yang merasa ragu memberikan informasi yang penting kepada Nisa dan terlebih dahulu bertukar pendapat dengan abangnya.


"Mengapa terlalu cepat??? apakah dia dapat di percaya tidak melukai Nisa kembali?," tanya Andre kepada Arif.


" Dari ucapannya sepertinya Rini sudah berubah Bang, dan dia telah menyesali perbuatannya," ucap Arif menjelaskan kepada Abangnya.


"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, sekarang ayah nya sudah buat masalah lagi," ucap Andre yang tegas terhadap Arif.


"Benar yang Abang katakan Bang..., Arif sebenarnya juga ragu, pasti orang tuanya Rini akan mempengaruhinya kembali setelah keluar, tetapi Rini sudah berjanji padaku untuk berubah Bang...,"ucap Arif yang


" Kamu bisa jamin dia sudah berubah, kalau dia berbuat nekat lagi bagaimana?," ucap Andre yang masih ragu dengan sifat Rini.


"Bagaimana kalau sesudah bebas, Rini kita tawarkan kerja diluar negeri, supaya dia tidak mengganggu Nisa,"

__ADS_1


"Nanti kakak pikirkan, kakak mau lihat Ragil dan sekalian jenguk Nisa,"


"Eh, iya Kak, Nisa bagaimana kabarnya, aku gak mungkin jenguk dia dalam keadaan wajahku seperti ini, bisa gawat nanti dia mikir yang aneh-aneh, bakal susah sembuh dia bang,"


"Nisa ternyata mengalami Cedera di bagian tulang betisnya, kakinya perlu di urut beberapa kali, supaya Nisa bisa berjalan normal kembali,"jelas Andre kepada Arif.


"Memangnya Nisa gak bisa jalan Bang," tanya Arif yang penasaran


"Sulit di gerakkan Kakinya,"ucap Adre denga tersenyum.


"Bang, jaga Nisa ya Bang," Arif berpesan kepada Abangnya sebelum pergi.


"Tentu," ucap Andre dingin dan berbalik melangkahkan kakinya.


Andre meninggalkan Tempat Kafe dengan langkah cepat dan meninggalkan Arif yang masih menyesap jus yang belum habis di minum abangnya.


Datang seorang pelayan, yang berpakaian hitam putih, menegur Arif.


"Bang, Ini yang harus di bayar," ucap pelayan menyerahkan bon menu di kafe itu


"Emang semua ini belum di bayar," ucap Arif terkejut .


"Aduh, Bang..., sungguh tega dirimu padaku, aku dapat sisanya tapi harus bayar semua, apes aku hari ini, awas kamu Bang," ucap Arif yang mau tidak mau harus mengeluarkan uangnya membayar minuman dan makanan yang dipesan Andre.


Arif keluar ingin ke bengkel, mengecek barang-barang yang di bengkel yang telah mengalami kerusakan. Menyalakan motornya dan melaju membelah jalanan yang padat bila di siang hari.


******


Di rumah sakit, Nisa sedang menonton televisi yang menayangkan Film india. Nisa yang serius menonton, mengkhayalkan hal yang mustahil. Dia mengkhayal telah berlari di lapangan bersama Gilang, berlari di tanah lapang, lalu berganti pakaian, kemudian berlari di bandara dan pindah ke laut, tidak pandai berenang eh malah tenggelam.


Dret...dret....dret...


Terdengar getaran ponselku di atas meja membuyarkan khayalanku yang pecah menjadi berkeping-keping terbang tertiup kipas angin menjadi butiran debu. Terlihat di layar ponsel atas nama Ayah yang menelepon.


" Hallo Assalamu'alaikum Dek,"


" Wa'alaikum Salam Ayah,"

__ADS_1


" Adek udah makan apa belum?,"


" Belum Yah...,"


"Kamu mau minta dibelikan apa?,"


"Em..., Bakso samaJus Alpokat bisa yah, Adek pengen...sekali yang seger siang hari kayak gini,"


" Bibir kamu apa gak sakit Dek",


"Sakit sih, tapi lebih sakit, kalau Nisa sudah ditanya tapi tidak jadi di belikan,"


" He.. he..anak ayah pandai merayu ya...,"


" Anak siapa dulu, Yah bawa Citra kemari ya..., Nisa kangen ama Citra,"


" Iya, Nanti ayahnJak sekalian Sama Tantemu, udah ya..., Assalamu'alaikum,"


" Wa'alaikum Salam, Ayah...,"


Panggilan pun berakhir dan terlihat di depan Pintu Kak Andre masuk tanpa mengucapkan salam dan langsung duduk di samping ranjangku. Dengan linacah tanganya merapikan Hijabku yang sedikit miring dan menyapu kepalaku yang tanpa sadar membuatku langsung baper.


Suasana hening tiada salah satu dari kami memulai pembicaraan sedangkan Ibu sudah molor duluan di sofa.


Ibu tidur melulu, ini mah terbalik, bukan aku yang banyak istirahat, malah ibu yang bolak balik istirahat. Bisa naik gula darah ibu kalau keseringan tidur.


Kak Andre terpaku menatapku yang sedang memperhatikan ibu tidur.


Aku merasa malu, terus ditatap begitu, jantungku terus berdebar. Sudah lama tidak di tatap seperti ini oleh seorang pria.


Aduh Kak, jangan lama-lama natapnya, aku bisa meleleh.


Aku tertunduk untuk menutupi kegugupanku dan meremas jari-jariku. Mencoba kembali mengangkat kepalaku, tetapi ketika kuangkat, kepergok Kak Andre yang masih menatap wajahku. Mata kami saling beradu pandang.


Perasaan apa Ini..., tidak pernah hatiku seperti ini keterampilan Kak Gilang. Jantungku terus bertalu-talu mendapat tatapan lembut dari Kak Andre. Ada apa dengan Kak Andre, kesambet atau bagaimana ini orang, rada Aneh, kesambet hantu mesum kali ya....


Apakah rasa Cintaku dengan Kak Gilang mulai berkurang atau aku seorang gadis yang tidak teguh pendirian. Kenapa di pandang saja terus salah tingkah begini?

__ADS_1


Azan Zuhur berkumandang, ibu terjaga dari tidurnya. Menguap panjang dan menggeliat merupakan kode ibu untuk segera membuka matanya.


Kak Andre mendengar ibu terbangun, langsung memutuskan pandangan matanya dan cepat-cepat berpindah tempat duduk di sofa yang sama dengan Ibu. Aku yang melihat Keseganan Kak Andre kepada Ibu, merasa terhibur. Ternyata punya juga dia rasa takut. Kecil juga ternyata nyalinya. Baru dengar ibu terbangun, sudah langsung kabur.


__ADS_2