
Mama Gilang ingin menonton dulu kelanjutan perbuatan pelanggannya yang masih merendahkan dan tega mengusir calon menantunya. Sehingga Calon menantunya sampai menangis. Ternyata masih ada orang di dunia ini yang merendahkan seseorang dengan melihat penampilannya. Mama Gilang merasa bangga mempunyai menantu seperti Nisa yang berpenampilan sederhana tetapi selalu menghargai orang lain. Karena orang dikatakan baik bukan dari penampilan, tetapi dari kelakuan dan hatinya.
" Siapa dirimu berani mengusir calon menantuku," ucap Mama Gilang dengan lantangnya kepada Dirga, suami dari Rini.
Gilang terkejut mendengar suara Mamanya yang menggelegar di ruang tamu. Gilang terpaku menyaksikan Mamanya yang membantah perlakuan sepasang suami istri tersebut. Gilang rasa, dia tidak perlu ikut campur adu mulut dengan mereka. sebaiknya cukup Mamanya saja yang turun tangan. Bila keadaan genting, barulah dia akan turun untuk membantu Mamanya.
Gilang mendekati diriku dan merangkul pundakku. Perasaanku sedikit tenang. Karena sekelilingku masih banyak yang berbaik hati kepadaku. Terutama calon suami yang begitu lembut dan perhatian, begitu juga calon mertua yang dengan senang hati membela diriku saat aku direndahkan oleh sahabatku sendiri. Sakit rasanya bertahun-tahun berteman dengan Rini, tetapi Rini sangat benci kepadaku. Airmataku terua mengalir membadahainpipi. Gilang dengan cwkatan mengambil tisu untu mengelpa air mta dinpipiku.
" Cukup jangan menangis lagi, orang sepet itu tidak patut fi tangisi, kamu harus kuat," ucap Gilang pelan di telingaku, untuk membujuk diriku agar aku jangan bersedih lagi.
Beberapa pasang mata melihat kearah suara yang sangat mengganggu mereka. Mata para pelanggan melotot melihat Seseorang wanita muda menjadi sugar dady Seorang pengusaha sukses di kota itu. Di kota itu Siapa yang tidak kenal dengan Dirga Guntara, pengusaha kaya yang mempunyai kekayaan terbanyak menjadi urutan nomor 2 di kota itu. Sedangkan urutan nomor satu masih di pegang oleh keluarga Prayuda. Keluarga Prayuda walaupun terkenal dengan kekayaannya, namun tidak mau memamerkan kekayaannya kepada orang lain.
" Calon menantu!!!," Dirga dan Rini terkejut mendengar Diriku adalah calon mantu keluarga Prayuda. Rini merasa tidak rela kaalau aku menjadi menantu orang nomor satu dikota itu.
" Iya calon menantu..., calon menantu keluarga Prayuda, kenapa rupanya, kalian kaget!," Ucap Mama Gilang dengan lantangnya seperti ingin mempamerkanku di depan para pelanggan dan karyawannya.
Suara lantang Mama Gilang kembali menjadi pusat perhatian para pelanggan yang sudah ramai di butik siang ini. Mereka sempat bergunjing membicarakan adu mulut itu. Sudah lama mereka mengenal Tante Dewi tapi tidak pernah semarah itu. Setahu mereka Tante Dewi sangat lembut dan ramah. Wanita yang sempat menjadi fans ibu-ibu bila ada acara arisan.
Satu orang iseng melive adu mulut mereka. Seperkian detik saja sudah banyak komentar-kementar pedas yang menghujat Tante Dewi dan sepasang suami istri itu. Mereka tidak tahu awal mula adu mulut itu dimulai, yang ada di live itu adalah sudah setengahnya dari kejadian adu mulut.
" Tante, Pikirkan sekali lagi sebelum tante menyesal. Apa gak salah Tante memilih menantu, Dia belum tentu baik Tante..., dia hanya memanfaatkan harta Tante saja?," ucap Rini kepada Tante Dewi yang mencoba menghasut Tante Dewi dengan muka temboknya.
" Bukankah latar belakang gadis ini dari keluarga yang sangat sederhana Dewi, apakah keluarga Yuda tidak malu mendapatkan menantu yang sederhana seperti ini?" ucap Dirga kepada Dewi mencoba menghasut Dewi juga, agar Dewi melihat dulu sisi lain dari kehidupan calon menantunya.
" Kami tidak memandang statusnya dan lagi pula apa perdulimu. Istrimu juga bukan dari keluarga yang kaya dan kau Rini ngaca terlebih dahulu, apakah dirimu juga wanita baik-baik atau tidak, jelas-jelas dirimulah contoh orang yang memanfaatkan harta orang lain", ucap Tante Dewi menyindir istri Dirga yang membuat Rini sangat kesal.
__ADS_1
" Apa maksud Tante," ucap Rini seakan tidak terima dengan perkataan Tante Dewi.
"Kau Ragu menilai dirimu sendirikan...., di sini banyak mata yang akan menilaimu bahwa dirimulah yang lebih buruk dari Annisa. Kalau kau pikir dirimu lebih baik mana mungkin kau mau dengan si tua bangka ini. Kau mau dengan Dirga hanya karena hartanya juga kan...., dan Lihat cara berpakaianmu, melihatnya saja orang sudah tau kau adalah wanita murahan," ucap Tante Dewi pedas seolah di dalam mulutnya banyak tersimpan lada dan cabai rawit yang sudah menyemburkan uapnya ke wajah orang yang ada di hadapannya.
" Dewi..., jaga ucapanmu, kamu sudah menghina istriku!," teriak Dirga tidak terima karena istrinya telah di hina di depan umum.
" Memang benarkan...apanya yang salah, makanya kalau tidak mau di hina jangan menghina orang lain, cukup sudah kau membuat Annisa trauma, jangan sampai kau membuatnya trauma lagi," ucap Mama Gilang yang mengeluarkan semua emosinya kepada sepasang suami istri di depannya.
" Tante..., aku tidak ingin kita bertengkar, aku kemari bermaksud ingin memesan gaun pengantin. Lalu bagaimana dengan gaun pengantin saya Tante...," ucap Rini yang memohon agar Tante Dewi bisa membuatkan satu rancangan gaun untuknya.
" Cari saja butik lain yang mau menerima kamu," Tante Dewi berlagak jual mahal karena geram mendengar ucapan Rini kepada calon menantunya.
" Tapi saya maunya rancangan Tante,"ucap Rini memohon kepada Mama Gilang. Gilang yang melihat Rini memohon sangat muak. Ingin rasanya dia meludahi wajah si Rini.
" Tante, apa maksud Tante, Apakah Tante tidak mau menjual gaun itu padaku? tanya Rini merasa Heran karena awal mulanya Tante Dewi mau menerima pesanan rancangan baju untuk Rini.
" Iya benar, Awalnya memang Tante ada niat akan menjualnya padamu, tapi.... itu tadi sebelum tante melihat sifat aslimu..." ucap Mama Gilang dengan santai seperti tidak ada masalah.
" Hanya karena Tante membela gadis itu," tunjuk Rini dengan mengacungkan jari telunjuknya kearahku.
" Iya, Annisa sudah Tante anggap sebagai puteri Tante sendiri, jadi siapa yang menghina puteri Tante, maka anggap saja dia telah menghina Tante," ucap Mama Gilang menekankan Katanya-katanya bahwa dirinya sangat tersinggung akan ucapan Rini kepada calon menantunya.
Rini tercengang mendengarkan Tante Dewi yang sangat di ketahuinya dahulu Mama Gilang tidak pernah berkata kasar. Sekarang bagai serigala betina yang siap menerkam mangsanya.
" Tante, Aku bisa bayar berapa yang Tante minta untuk harga gaun Tante itu dan Tante meminta 5 kali lipat, bisa aku bayar," ucap Rini dengan nada pongahnya seolah dia yang sangat terkaya di kota itu.
__ADS_1
" Jangan pamer kekayaan di depan Saya," ucap Tante Dewi dengan emosi.
"Tante, aku hanya ingin gaun Tante, aku gak mau yang lain, ini kemauan anak dalam kandunganku Tante, aku mohon Tante," ucap Rini memohon berharap Tante Dewi mau berbelas kasih padanya.
" Jangan kamu bawa-bawa calon anak kamu di depan saya. Masih kecil sebesar biji kacang hijau saja sudah kamu bangga-banggakan, itu bukan anak kamu yang pinta, tapi dasar kamu yang mau," ucap Mama Gilang mencoba mengolok Rini.
" Pak Satpam!!!," teriak Mama Gilang memanggil Security.
"Iya Bu...," sahut Pak Satpam yang berlari-lari mencari keberadaan Mama Gilang memanggil.
"Tolong usir mereka, mereka berdua membuat saya pusing, pastikan mereka pergi dari tempat ini," ucap Mama Gilang memijit dahinya. Dirasanya darah tingginya mulai naik.
Pak Satpam mengajak Sepasang suami itu keluar dengan secara paksa.
"Awas kamu keluarga Prayuda, kamu sudah mempermalukan kami berdua, tunggu pembalasan dari kami, keluargamu akan merasakan balasannya," ucap Dirga mengajak istrinya pergi meninggalkan butik.
Seorang wanita paruh baya sedang memegang ponsel cantiknya yang baru saja selesai melive kejadian yang baru saja terjadi. Dengan senang hati dia keluar dari Butik dengan perasaan yang sangat bahagia.
" Rekaman ini bakal jadi bahan gosip di arisan nantinya. Ha...ha... Rasai kamu Dewi, semua ibu-ibu akan menggosipi kamu, Bisa juga ternyata kamu menjadi wanita yang arogan. Dengan berita ini kamu akan di rendahkan orang-orang Dewi..., Makanya jangan berlagak hebat dan anggun di depanku. Cantikan juga aku, kenapa sih para ibu-ibu sangat suka berteman denganmu. Eh, Tapi itukan dulu sewaktu kamu masih bersikap lembut. Ha...ha..,pasti sekarang mereka kecewa kepadamu. Mulai sekarang aku akan menjadi Ibu arisan yang sangat anggun, yang akan menggantikan dirimu ," Ucap Si ibu usil dengan senyum yang licik dan sangat bahagia. Ucapannya terdengar oleh telinga Dirga yang baru saja keluar dari butik bersama istrinya.
****
Ternyata ada juga orang yang iri dengan mama Gilang ya.... Tunggu kelanjutannya....
Jangan lupa Like , komen, Vote dan hadiahnya ya...
__ADS_1