
Terdengar suara deringan di ponsel Gilang.
" Assalamu'alaikum Bang," ucap Arif di seberang sana.
" Wa'alaikum salam, Iya Rif, ada apa... gak biasanya kamu nelpon Abang duluan, biasanya Abang duluan yang nelpon kamu,"
ucap Gilang penasaran.
" Iya Bang, ada info penting yang Arif dapat,'' ucap Arif serius dan berbicara seperti berbisik takut kedengaran orang lain.
" Apa itu, katakan," ucap gilang antusias.
" Arif baru ketemu Annisa di Bandung Bang, nanti Arif Share alamatnya, tadi Bang Andre sudah melacak dimana tempat tinggal Annisa yang sekarang," ucap Arif menjelaskan.
" Yakin kamu tidak bohong!" ucap Gilang seakan meminta kejujuran Arif.
" Iya bang, beneran... berani sumpah," ucap Arif menyakinkan.
"Ya sudah buruan kirim alamatnya," ucap Gilang seakan tidak sabar.
" Bang, hallo... , hallo bang...,
kebiasaan suka matikan telpon seenaknya," ucap Arif kesal dan Kembali memasukkan ponselnya ke dalam sakunya. Ketika berbalik badan, Ragil sudah di belakangnya.
* * * * *
Di sebuah rumah mewah duduk seorang pemuda di ruang keluarga yang baru saja mendapat berita baik dari orang kepercayaannya disana. Dia merasa bahagia dan segera memandangi foto yang ada di ponselnya. Raut wajahnya terlihat ceria dan senyum-senyum sendiri. Papa dan Mama Gilang yang baru keluar dari kamar memandang putera si mata wayangnya dengan perasaan curiga. Mama Gilang merasa was-was kenapa anaknya senyum-senyum sendiri seperti orang yang tidak waras.
Padahal beberapa hari yang lalu puteranya terlihat murung dan jarang keluar dari kamar. Mama dan Papanya sering membujuk puteranya untuk liburan, supaya pikirannya tenang tapi Gilang tidak mau.
Diruangan keluarga, Papa dan Mama Gilang saling bertukar pandangan. Kemudian Mama Gilang menghampiri dan duduk di sebelah Gilang. Mama Gilang spontan meletakkan punggung tangannya di dahi Gilang.
Gilang yang mengetahui apa yang di lakukan Mamanya, langsung memegang tangannya dan diletakkannya di dadanya. Papa Gilang geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya. Puteranya seperti orang yang lagi jatuh cinta. Dibilang ABG, eh sudah dewasa. Dibilang dewasa tingkahnya seperti anak-anak. Kalau ketahuan sifat Gilang hari ini oleh murid karatenya pasti Gilang akan malu.
" Lang Papa dan Mama akan pergi, kamu mau ikut tidak,"ucap Mama Gilang yang merangkul anaknya.
"Kemana ma," Tanya Gilang kepada Mamanya
__ADS_1
" Ke tempat teman SMA Papa dulu, kamu mau ikut...," jawab Papa yang duduk di sebelah Mamanya.
"Males ah, enakan juga dirumah,"ucap Gilang sambil memainkan game onlinenya.
"Betul nih, gak mau ikut..., nanti nyesal lho..." ucap Mamanya yang berharap puteranya akan ikut.
" Enggak lah, Gilang mau perawatan, Mama apa gak lihat wajah Gilang, sudah subur begini penuh bulu, Gilang lagi males keluar, " ucap Gilang menunjukkan bulu di wajahnya dan kembali memainkan game onlinenya.
"Kamu kenapa Si Lang, seperti gak ada semangatnya, bagaimana mau dapat pacar keluar aja males. Ya sudah, Mama dan papa pergi ya..." ucap Mama kesal
" Ayo Pa udah siang ini nanti keburu kesorean sampe di sana," ucap Mama segera keluar dan berlalu duluan masuk kemobil.
" Papa pergi ya Lang," ucap Papa kepada Gilang dan beranjak dari tempat duduknya.
" Iya Pa, hati-hati ya Pa...," ucap Gilang kepada Papanya dan masih fokus memainkan game onlinenya.
" Pa, emang Papa mau pergi kemana Pa," ucap Gilang berjalan dibelakang ayahnya yang sudah mendekati pintu depan.
" Ke Bandung, ke rumah Pak Iwan. Jaga rumah ya, Assalamu'alaikum," ucap Papa membuka pintu rumahnya dan menuju mobilnya.
" Wa'alaikum salam," ucap Gilang berjalan memasuki rumah dan serius dengan game onlinenya kembali.
" Assalamalaikum Cucu Nenek, dimana Papamu," ucap nenek di telepon.
"Wa'alaikum Salam Nek, Papa ke
Bandung ke rumah Pak I...," ucap Gilang yang baru menyadari.
Bandung kan alamat yang di bilang Arif tadi ,Pak Iwan kan Ayahnya Raga dan Annisa, Ya Allah aku kok bisa lupa, Astaghfirullahaladzim...,
" Hallo...Hallo...Lang," ucap Nenek di telepon karena Gilang tidak juga menjawab.
" Sudah ya Nek, Assalamualaikum," ucap Gilang terburu-buru.
Gilang mematikan ponselnya tanpa mendengarkan dahulu Nenek menjawab salamnya. Dengan tergesa-gesa Gilang segera ke kamar mandi dan langsung mengambil alat cukurnya untuk membersihkan bulu-bulu di wajahnya yang membuat semak seperti hutan belantara.
Gilang melihat wajahnya di cermin ternyata bersih. Gilang melihat jam di dinding dan segera mengambil ponselnya. Gilang pun menelepon Mamanya guna menanyakan bahwa Gilang akan menyusul kesana menggunakan sepeda motor.
__ADS_1
Mamanya yang mendengar telepon dari anaknya merasa terkejut, angin apa yang membuat anaknya berubah pikiran.
* * * * *
Annisa telah sampai di rumah, dilihatnya di halaman rumah terparkir sebuah mobil yang tidak asing di mata Annisa.
kayak pernah lihat mobilnya tapi dimana ya...
Annisa masuk dari pintu belakang dan mengendap-endap seperti maling. Ketika akan menuju kamar, Ibu Nina memanggil Annisa. Annisa spontan berhenti dan membalikkan badannya. Ibu Annisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku dan stelan baju Annisa. Nisa cengengesan dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Tamu yang datang adalah keluarga Gilang, mereka datang meminta maaf atas peristiwa tempo hari dan sekalian bersilaturrahmi karena sudah lama tidak bertemu. Papa Gilang yang mengetahui tempat tinggal Pak Iwan dari anak buahnya, langsung melacak alamat yang dituju bersama dengan isteri dan supirnya.
Mata Annisa tertuju kepada Tante Dewi yang masih cantik seperti awal bertemu. Tante Dewi memeluk Annisa. Tante Dewi mencurahkan rindu yang sudah lama di nantinya ingin bertemu.
Annisa merasa ada yang kurang dilihatnya, pandangannya berkeliling seperti mencari seseorang tapi belum terlihat juga orang yang di carinya. Tante Dewi memperhatikan tingkah laku Annisa, dia hanya tersenyum. Akhirnya Annisa pamit undur diri untuk ke kamar sebentar, karena ingin membersihkan dirinya yang sudah lengket.
Azan maghrib pun tiba, mereka sholat berjamaah di ruang. sholat yang di sediakan di rumah itu. Pak Iwan yang menjadi Imam sholatnya.
Selesai shalat keluarga Gilang diajak makan bersama oleh keluarga Pak Iwan, Tapi Annisa tidak mau juga keluar dari kamarnya. Annisa di kamar membuka diary kesayangan sebagai teman curhatnya di kala sedih dan rindu kepada seseorang tapi yang di tunggu tidak pernah menampakkan wajahnya.
Seperti di hari ini di saat papa dan mamanya datang, annisa ingin lebih dari senyuman yang di berikan oleh keluarga Gilang. Apakah tidak ada kirim salam seorang putera dari tamu yang datang di hari ini yang dititipkan kepada Mamanya?
Sementara yang di meja makan menunggu kedatangan salah satu tamu yang juga belum kunjung datang, Pak Yuda menunggu kehadiran putra mereka yang katanya akan menyusul dan ingin memberikan surprise kepada Annisa.
Beberapa menit kemudian orang yang di tunggu telah datang dengan menaiki sepeda motor terbarunya, dia datang dengan gagahnya membawa sebuket bunga mawar putih yang indah.
Ibu kaget melihat Gilang yang sangat gagah dengan memakai baju kemeja dan celana kain. mengucapkan salam ketika ingin masuk kedalam rumah. Ibu menyambut dengan antusias. dan mengajak duduk di meja makan. Hidangan di meja makan pun telah selesai di tata ini, tinggal menunggu satu orang-orang yang belum juga keluar dari kamar.
Kemudian ibu segera mengetuk pintu kamar Annisa agar Annisa segera keluar untuk makan bersama.
Annisa baru selesai mengerjakan shalat di kamarnya dan mendengar ketukan pintu. Annisa yang mendengar ketukan segera membuka pintu dan melihat ibu yang berdiri di depan dan mengajaknya makan.
Annisa pun keluar mengikuti ibu pergi ke meja makan untuk makan bersama. Dengan pandangan menunduk dan wajah yang cemberut Annisa tidak memperhatikan ada seseorang yang melihatnya dari kursi di depannya sejak Annisa masuk ke ruang makan.
Ibu pun mempersilahkan semua makan. Orang yang di depan Annisa mengambil Nasi dan masih sesekali melirik Annisa.
Annisa cuek dan terus melahap makanan yang ada di piringnya. Tanpa Sengaja Annisa tercedak dan memerlukan air putih, dengan cekatan orang yang didepannya langsung memberikan air putih miliknya. Papa dan Mama Gilang tersenyum melihat perhatian Gilang kepada Annisa.
__ADS_1
Annisa yang sakit tenggorokannya merasa malu dan menegakkan kepalanya. Ketika memandang ke depan Annisa terkejut dan menganga mulutnya melihat orang yang di harapkan ternyata ada di depannya. Di tepuk pipinya ingin membuktikan ini mimpi atau nyata.