
Sepeninggal Andre mencari sarapan, ibu membangunkan Diriku yang masih terlelap. Ku tarik selimut menutupi wajahku yang silau terkena pantulan sinar matahari dari kaca jendela. Ibu dengan wajah kesalnya mengomel di depanku. Sudah lama ibu tidak mengomel seperti hari ini. Rindu aku dengar suara omelan ibu yang merdu.
Aku terbangun setelah sudah lima belas menit mendengar omelan Ibu. Wajahku langsung tersenyum melihat ibu yang emosi.
" Ibu...," panggilku dengan tersenyum ceria memperlihatkan gigi putihku yang membuat ibu langsung berhenti mengomel dan terkejut melihat wajah bantalku yang langsung tertawa.
"Bocah edan, diomeli malah ngguyu," omel Ibu yang langsung memberesi ranjang tempat tidurku.
" He.. he..., ibu cantik deh kalau ngomel, lagi Bu," ucapku mencandai Ibu.
"Cah gemblung,"ucap ibu masih marah melihat sikapku yang menguji kesabarannya.
Aku mencoba melangkahkan kakiku, ingin ke kamar mandi, sudah semalaman tidak buang air kecil, rasanya sungguh menyiksa. Terasa mengilu lutut kakiku yang sebelah kanan, lecetnya terlalu dalam dan tendangan di betis kanan oleh pengejar, membuatku harus kuat memegang ranjang agar mampu menompang tubuh tegapku berdiri.
Langkah pertama sukses kulangkahkan, terasa berputar kepalaku, sekali lagi ku coba berpegangan. Ibu terus memperhatikan gerak-gerikku akan ke kamar mandi. Ibu segera melangkah ingin memegangiku, dengan cepat ku naikkan telapak tanganku kearahnya menahan ibu jangan dulu mendekat. Aku ingin melatih kekuatan kakiku setelah di tendang pengejar dengan kuat.
Ku lepas tanganku dari ranjang mencoba melangkahkan kakiku yang sakit, airmataku keluar seketika menahan sakitnya tulang betisku yang masih ngilu.
"Ibu...," jeritku yang hampir tumbang, karena tidak mampu berdiri lama.
Ibu berlari dengan tergesa menahan tubuhku yang sempoyongan dan segera memapah tubuhku ke kamar mandi.
" Bu, kakiku sakit," ucapku kepada Ibu dengan air mataku terus mengalir menahan sakit.
" Kakimu terkilir Nak, nanti kita cari tukang urut biar kamu bisa berjalan" ucap Ibu dengan telaten menemaniku di kamar mandi menutupi kegelisahannya di depanku.
Ceklek!
Suara pintu terbuka dan melangkah Andre ke dalam. Melihat sekeliling tidak ada penghuni ruanganku dirawat. Gemericik air di kamar mandi, membuat Kak Andre berhenti mengkhawatirkan diriku. Tertarik sudut bibirnya di kala mendengar pintu kamar mandi terbuka.
Aku dan Ibu keluar dari kamar mandi, jalanku saja masih dipapah Ibu. Kak Andre yang melihat terkejut dengan keadaan kakiku yang sebelah kanan terluka.
Sebelumnya dia tidak menyadari kalau ada luka di sebelah kanan kakiku. Lukanya tidak terlalu serius, tetapi cukup membuatku kesulitan untuk berjalan, karena ketindihan sepeda motorku dan tendangan pengejar itu.
Penyelidikan terhadap pengejar belum selesai, rupanya pengejar mempunyai komplotan yang bisa mengganggu kenyamanan diriku. Arif baru saja menghubungi ketika Andre keluar bermaksud mencari sarapan malah mendapat berita yang mengejutkan.
Andre segera meminta Arif lebih ekstra lagi menyelidiki Kasus penabrakan diriku dalam waktu 24 jam. Sekarang sudah hampir 12 jam, tetapi penyelidikan belum juga terbongkar. Sampai-sampai Arif belum sempat menjenguk Nisa. Karena abangnya, telah mengancamnya jika tidak menemukan bukti-bukti dari pengejar maka dia akan dikirim ke luar negeri mengikuti orang tua mereka, karena Arif di anggap Andre tidak berguna.
__ADS_1
Kak Andre meletakkan sarapan bubur ayam di meja dan Ibu segera memberikan Satu porsi kepadaku yang di papahnya duduk di sofa. Kak Andre terlihat terus memperhatikanku makan bubur ayam yang sangat lezat di makan saat masih hangat. Tidak butuh lama satu porsi kandas ku lahap, walaupun bibirku terluka, tetapi tidak menyurutkan napsu makanku.
Begitu juga dengan Kak Andre, seperti orang yang tergesa-gesa melahap makannya. Aku juga tidak tahu apakah memang sifatnya makan seperti itu, atau karena memang kak Andre ada urusan penting sehingga harus cepat menghabiskan makanannya.
Selesai Makan, Kak Andre segera permisi.
" Bu, Andre pergi sebentar, nanti kalau ada apa-apa hubungi Andre ya Bu...," ucap Kak Andre berpamitan kepada Ibu dan menyalam tangannya.
" Iya Nak, hati-hati di jalan ya...," ucap Ibu memberi pesan kepada Kak Andre.
" Ya Bu,"jawab Andre yang memandang Nisa sebelum pergi.
" Kak Andre mau kemana?," tanyaku kepada Kak andre, ternyata firasatku benar bahwa Kak Andre mau pergi.
" Kakak ada urusan penting, jangan terlalu lasak, nnti kakimu bisa sakit lagi, anak buah Kakak sudah Kakak suruh diluar mengawasi kamarmu," ucap kakak Andre menjelaskan.
" Emang ada apa Kak?," tanyaku yang masih penasaran karena masih terlalu pagi malah sudah pergi.
" Kemungkinan Peneror yang mengejarmu waktu itu kembali lagi beraksi, Kakak gak tahu sekarang motifnya apa," ucap Andre me
" Beneran Kak!,"ucapku yang terkejut mendengar perkataan Kak Andre.
" Iya kak, hati-hati kak," ucapku kepada Andre
" Iya, Assalamu'alaikum," ucap Andre saat membuka pintu.
"Wa'alaikum Salam," jawab aku dan ibu bersamaan.
Andre melangkah keluar menutup pintu kembali, anak buahnya dua orang sudah menunggu di luar dan berjaga di depan pintu. Andre langsung melajukan motornya.
****
Di ruang kerja seorang pria paruh baya terlihat kesal karena Perusahaannya yang di bangunnya dari nol harus susah payah membangunnya kembali dari awal. Gilang sang putera selalu memberikan Ide agar Perusahaan papanya tetap bertahan demi kelangsungan karyawan banyak.
Ternyata perusahaan mereka di dalangi oleh orang luar dan seorang penghianat yang sudah mengaotak-atik keuangan perusahaan. Dalang di balik itu adalah Seorang pengusaha yang sangat iri kepada Pak Yuda. Pengusaha itu teman kuliah Pak Yuda sewaktu di luar negeri yang selalu merasa Iri akan prestasi yang di peroleh Pak Yuda semasa kuliah.
Pengusaha itu bernama Dirga Guntara, keluarga kaya yang mempunyai perusahaan di bidang yang sama dengan Pak Yuda. Cuma kalau soal kekayaan, masih jauh di bawah di bandingkan dengan kekayaan Pak Yuda. Dirga di bantu dua orang pria yang bernama Rudi Nugraha dan Deni setiawan.
__ADS_1
Rudi Nugraha mempunyai dendam kepada keluarga Yuda karena telah memenjarakan Puterinya yang bernama Rini Sakira Nugraha. Yang sekarang masih mendekam di balik jeruji. Kemudian Deni Setiawan adalah manajer di bagian keuangan yang sudah memanipulasi keuangan Di perusahaan Pak Yuda.
Perusahaan yang beberapa tahun ini Dipercayakan kepada Deni, membuat Deni mencari kesempatan untuk menghancurkannya perusahaan Pak Yuda.
Dirga dan kedua rekannya telah bekerja sama untuk menghancurkan Yuda dan keluarganya termasuk calon istri Gilang sendiri. Surat kaleng selalu di kirimkan ke perusahaan Yuda berisi tentang ancaman dan diminta untuk segera membebaskan puteri Rudi Nugraha secepatnya.
Gilang dan Papanya sepakat demi kesejahteraan karyawannya, agar perusahaan tetap berjalan. Kasus Rini akan di tarik kembali dan Rini akan segera di bebaskan. Gilang sempat pusing memikirkan keselamatan calon istrinya. Tetapi Toni sudah mengirimkan anak buahnya untuk mengawal annisa selama Ayah Rini berkeliaran.
Pembebasan Rini membuat Arif terkejut. Antara senang dan khawatir ketika dia mendengar Rini akan segera bebas. Arif yang sangat mencintai Rini, tentu saja sangat senang karena Pujaan hatinya akan segera bebas. Dan khawatirnya, Arif takut dia akan menyakiti Nisa kembali.
Andre mendapat telpon dari Gilang, dengan panjang lebar Gilang menceritakan Mengapa perusahaannya itu sampai bermasalah, terakhir yang paling mengejutkan Andre adalah Rini akan di bebaskan. Jika tidak, Mereka akan terus mengancam keselamatan Annisa.
Gilang berbesan agar Andre selalu di samping Nisa, jangan sampai Nisa sendiri keluar tanpa ada pengawalan.
***
Di Halaman rumah sakit terjadi kehebohan pemuda yang ingin menjenguk Annisa. Mereka yang diizini ayah Uge untuk melihat calon mantunya di rumah sakit dengan senang hati membiarkan Uge membawa mobilnya. Ifan, Dodi, Rudi, bayu dan Uge dengan stelan kerennya masuk ke rumah sakit. Seperti dandanan anak band yang lagi mau konser.
Ruangan yang telah di beritahukan resepsionis memudahkan mereka untuk menemukan ruanganku. Tiba di depan pintu, anak buah Andre yang melihat ada pemuda lima orang yang tidak mereka kenali segera menahan para pemuda itu untuk tidak masuk ke dalam.
" Maaf Pak kami mau jumpa teman Kami "ucap Ifan yang berjalan paling depan.
"Tidak bisa, kami takut Majikan kami akan marah jika sembarangan kami memberi izin orang asing masuk," ucap anak buah Andre dengan tubuh tegapnya menghalangi rombongan Uge masuk.
" Kami bukan orang asing pak," ucap Bayu yang juga tidak terima di tahan.
Anak buah andre memperhatikan penampilan mereka seperti anak band dengan setelan rocker, mereka melihat dari atas sampai bawah.
"Tolonglah pak, kami jauh-jauh datang dari desa Pak, masa di suruh pulang lagi," ucap Uge yang sudah geram menghadapi pengawas di depan pintu kamar Annisa.
" Iya, tapi kami juga takut kena marah," ucap pengawal lagi kepada Uge.
Uge mempunyai ide, dia mengambil Ponselnya dan menghubungi ponselku.
"Hallo...,"
"Nisa!, tolong kami, kami mau masuk tapi di tahan sama abang-abang berotot,"
__ADS_1
Suara Uge yang kuat langsung mendapat pelototan tajam dari dua orang pria di depan pintu.