Teman Palsu

Teman Palsu
Kedekatan Andre dan Nisa


__ADS_3

" Sa, kamu baik-baik saja,"


" Iya,"


" Apa lukamu parah,"


" Enggak, hanya beberapa jahitan di keningku,"


" Kirim lokasinya, kami akan datang besok menjengukmu,"


"Aku gak apa-apa Ge? gak usah pala di jenguk?


"Nisa, please,"


"Iya, bentar aku mantiin telponnya dulu, biar aku kirim lokasinya,"


Nisa segera mengirimkan lokasi tempat dia dirawat. dan terkirim chat kepada orang di seberang sana.


Semenit kemudian ponsel Uge berbunyi. Satu chat dari Nisa yang mengirimkan lokasi sekarang dia di rawat di rumah sakit mana. Senyum terbit dari wajah Uge terlihat ceria seperti baru saja mendapat undian jutaan rupiah.


" Woi, ini beneran Nisa dirawat, besok pagi jam 10 kita ke sana ya," ucap Uge kepada temannya dengan penuh semangat.


" Naik apa Ge?," tanya Ifan yang takut terkena semprot oleh Ibu Uge karena keceplosan mengatakan naik mobil ayah Uge.


" Naik mobil ayah," ucap Uge langsung dan mendapat senyuman dari ifan karen harapannya sesuatu dengan kenyataan.


"Hore..., besok kita jalan-jalan," teriak Ifan memenuhi satu ruangan.


" Woi bocah, berisik!!!," teriak Rudi Dodi yanh sudah molor duluan, dan terbangun mendengar jeritan Ifan.


" Ayo kita tidur, biar besok segar di depan Nisa," ajak Uge mengambil bantal dan selimutnya.


" Cie...yang mau jumpa sama gebetan, bakal sejarah baru ini si Uge tidur cepat," ejek Rudi yang masih asik main gamenya.


" Udah jam 1 gini di bilang cepat, cepat kepala lo sableng" ucap Uge yang kesal.


"Bayu, matiin lampunya biar tidur semua," ucap Ifan yang juga sudah tiduran di samping Uge dan memeluk Uge dari belakang.


" Ih apaan sih ini, gerah aku tidur dekat kamu fan. Jijik aku lho dipeluk, lama -lama badan Aku kena iler Lo!," ucap Uge yang mengambil Gulingnya unyuk pembatas agar Ifan tidak bisa memeluk Uge.

__ADS_1


Akhirnya mereka tertidur dengan suara denguran yang sahut-sahautan dan mulut yang pada menganga.


****


Waktu sudah dini hari, tapi mataku tidak mau terpejam, aku harus bagaimana. Padahal Guling iler kesayanganku sudah dibawakan Bang Raga ketika datang ke rumah sakit. Guling jelek, guling busuk itulah gelar untuk gulingku, tetapi tanpa dia aku tidak nyaman tidur. Kupeluk guling kesana kemari dan terus gelisah, sial mataku juga tidak mau terpejam.


Diluar Andre mengintip dari jendela mendengar pembicaraan Annisa dengan seseorang di seberang sana, membuatnya menaruh curiga dan mencoba membuka pintu kamar inap.


Nisa tercekat kala pintu terdengar terbuka, dia berpikir di tengah amalm begini apakh ada hanti yang datng ingin masuk membuka pintu. Dalam kecurigaannya, muncul Andre dari balik pintu dengan wajahnya yang kusut sehabis tidur.


"Belum tidur Dek?," ucap Kak Andre yang berbicara ketika masuk.


" Gak bisa tidur kak," ucapku dan menutup ponselku kuletakkan fi atas kasur.


" Coba pejamkan matamu, kamu masih sakit ,perlu banyak istirahat," ucap Andre yang perhatian kepadaku.


" Tapi besok Nisa bisa pulangkan Kak," ucapku yang tidak merasakan sakit di anggota tubuhku.


" Kalau kamu pulang, teman kamu yang nelpon tadi pasti kecewa bila besok datang kemari " ucap Andre yang yang santai seperti oara normal yang sudah bisa membaca isi pikiran seseorang.


" Ha!.., Ka...kak andre tau dari mana? tanyaku yang sedikit terkejut mendengar perkataannya.


" Taulah, jangan coba untuk selingkuh dengan orang lain, tapi sama kakak boleh...," ucap Andre yang langsung pada intinya, maksud hati ingin benaran tetapi melihat mata Nisa melotot saat mengucapkan itu, Andre jadinya salah tingkah.


" Enggak, Kakak hanya becanda," ucap Andre yang membawa wajahnya kembali tersenyum, takut Nisa menganggapnya serius jika wajah Andre terlihat serius.


" Mereka itu hanya teman, tidak lebih


Yang ada di hati Nisa hanyalah Kak Gilang seorang," ucapku menjelaskan kepada Kak Andre.


Deg


Jantung Andre berdetak lebih cepat kala mendengar ucapan Nisa dini malam ini.


" Apakah tidak ada kesempatan satu hati lagi masuk ke hatimu Dek, tidak bisakah Kakak menggantikan sementara waktu selama Gilang pergi,"ucap andre yang terlihat seperti mengharap cinta Nisa dengan wajah sendunya. Ibarat kata, si Andre seperti pengemis cinta.


" Maksud Kakak???," tanyaku yang tidak mengerti akan perkataan Kak Andre.


" Em..., misalkan bila ada satu orang yang suka sama kamu, apakah kamu tidak memberikan kesempatan orang itu untuk singgah di hatimu dan dekat denganmu selama tunanganmu jauh di negara orang?," ucap Andre mencoba menerangkan keadaan yang sering kualami sekarang.

__ADS_1


" Nisa mencoba untuk setia Kak, tetapi jika Kak Gilang kedengaran selingkuh, Nisa tidak akan menerima orang lain itu akan masuk juga. Nisa butuh waktu untuk membuka hati kembali sampai Nisa benar-benar bisa menilai bahwa yang menggantikan Kak Gilang memang layak di samping Nisa," ucapku menjelaskan kepada Kak Andre yang aku sudah mulai paham arti pembicaraannya kemana.


" Andre meraup wajahnya.mencoba tetap tegar menghadapi gadis belia di depannya. Hatinya seakan bersedih karena dari ucapan Nisa, dia tidak memiliki kesempatan untuk masuk ke dalam hati Nisa ke depannya. Bukan Mau mengajari Annisa selingkuh, tetapi Andre berharap masih ada ruang di hati Nisa untuk namanya.


Nisa memperhatikan gerak-gerik Kak Andre yang terlihat bersedih dan terlihat mempunyai masalah.


" Kak, maafin Nisa Kak, Nisa menganggap Kakak seperti abang Nisa sendiri," ucapku yang merasa bersalah telah membuat hatinya bersedih.


"Hemm," deheman Andre mengartikan kata iya, tetapi wajahnya terus menunduk seakan malas menatap wajahku.


" Kak," ucap Ku yang ingin mendengar suaranya dan melihat wajahku.


" Ya, ada apa Nisa," ucap Andre yang berjalan ke arahku dan duduk di samping ranjang memegang tanganku.


" Ini sudah malam, Kamu sebaiknya tidur," ucap Kak Andre meminta aku istirahat.


" Nisa gak ngantuk Kak," ucapku yang mencoba memejamkan mata, tetapi masih belum juga terlelap.


" Sini biar kakak elus kepalamu," ucap Andre yang menunjukkan perhatiannya dan mulai.mengelus kepalaku dengan lembut.


Aku yang merasa Kak andre adalah seperti abangku sendiri menerima saja, dengan kesediaanku membolehkan Kak Andre mengelus-elus kepalaku dan tidak butuh lama, aku pun tertidur.


Kak andre tertidur dalam terduduk, posisi kepalanya di tempat tidur dengan berpangku kedua lengannya.


Hari menjelang subuh, ibu yang menjelang suara azan segera bangun dan menormalkan pandangannya sebelum di berdiri. Di lihatnya dari jauh, Andre menemani puterinya di samping ranjangnya.


Perasaan Ibu tidak menaruh curiga sedikit pun, ibu beranjak ke kamar mandi, membersihkan diri dan mengambil air wudu segera karen ibu ingin melaksanakan Sholat di musholla rumah sakit.


Andre terbangun kala mendengar suara decitan pintu, dia menoleh ke sana kemari dan mengintip sari jendela siapakah yang baru keluar. Dilihatnya Ibu sudah berjalan ke musholla. Andre segera ke kamar mandi, ingin membersihkan dirinya dan mengganti perasaannya yang dari malam tidak berhenti.


Ketika tengah malam, arif menyempatkan datang untuk mengantarkan baju ganti Andre dan mengabarkan tentang siapa yang mengejar Nisa di malam Itu. Setelah di interogasi anak buah Andre, Ternyata orang itu adalah preman yang tidak senang karena wilayahnya di masuki orang asing yang mempunyai motor lebih canggih dari dirinya.


Preman itu tidak menyangka, motor yang di hadangnya pada hari itu di kenderai seorang wanita yang cantik. Dan dia juga memuji Nisa karena ketangguhannya dalam balapan dan berkelahi.


Andre melaksanakan sholat di ruangan itu saja, karena tidak ada teman Nisa di ruangan itu.


Tidak butuh lama dia pun selesai. Ibu yang baru masuk terkejut melihat Andre yang rajin beribadah.


" Bu, saya keluar mau cari sarapan," ucap Andre yang berpamitan ingin keluar mencari sarapan.

__ADS_1


" Iya Nak," Jawab Ibu yang lagi membereskan alat shalatnya untuk di simpan kembali ke dalam tasnya.


Andre terasa canggung bila bersama ibu, akhirnya dia memutuskan untuk mencari sarapan.


__ADS_2