
Kak Gilang Menyenggol badanku, Aku pun tersadar dari lamunanku. Seketika lamunanku buyar. Belum selesai aku membayangkan wanita yang hanya mempunyai satu bidang saja yang wanita itu bisa, malah bayang-bayang itu pergi entah kemana.
" Eh, i...iya Kak...," ucapku gugup karena keasikan membayangkan tantangan bagi seorang diriku bila sudah berumah tangga nantinya.
" Kamu melamun ya...," Ucap Kak Gilang yang menebak raut wajahku.
" Eng...nggak Kak," ucapku kembali gugup karena tebakkannya 100 persen benar.
" Kamu mau dengar enggak Dek, kalau ada satu hal yang kamu gak bisa? ucap Gilang yang memberi pertanyaan kepada diriku.
" Kak Gilang ini gak boleh seperti itu, jangan diumbar ke orang lain, malu Kak..." ucapku yang mencegah agar Kak gilang tidak sampai mencetuskan suatu hal yang tidak harus disebutkan kepada orang lain.
" Supaya kamu makin semangat belajarnya lho Sayang.... Seperti kakak sekarang ini, sejak mengenalmu, bawaan Kakak pengen belajar
...terus" ucap Kak Gilang yang mencoba mengajari aku romantis.
" Belajar apaan...," ucapku yang bingung akan perkataan Kak Gilang.
" Belajar menjadi yang terbaik buat kamu...," ucap Kak Gilang mengutarakan gombalan recehnya.
" Ha...ha..bisa juga Kakak gombal. Oh iya, tadi Kakak bilang Annisa ada yang gak bisa, emang apaan sih yang Nisa gak bisa Kak? ucapku penasaran ingin mengetahui dari Kak Gilang.
" Bang supir..., kalau telinganya mendengar pura-pura tidak dengar ya. Ibarat dunia ini milik kami berdua yang lain pada ngontrak, bang supir juga numpang" ucap Gilang yang sudah mengeluarkan jurusnya untuk menggombal diriku dan mendapat anggukan dari bang supir.
" Ayo jawab, tadi apa coba yang Nisa tanya," ucapku yang tidak sabar ingin mendengar perkataannya tentang diriku.
"Yang kamu gak Bisa Dek, Kamu gak bisa merayu kakak lho Sayang..., apa pernah kamu menyebut Kakak tampan, menyebut kakak ganteng, gak pernahkan Sayang.... Makanya dari sekarang, Sayang harus belajar, biar Kakak makin lengket terus sama kamu...," ucap kak Gilang dengan mulut manisnya tapi matanya melirik ke Bang supir. Melihat tingkah Kak Gilang kepada Bang supir seakan-akan Kak Gilang tidak ingin calon istrinya sampai di lirik pria lain. Makanya Gilang memberi rayuan gombal supaya orang yang mendengarnya menyimpulkan Kak Gilang adalah pria yang romantis.
" Ih, Kakaknya aja yang kegatelan mau lengket terus," ucapku yang kesel karena Kak Gilang mengumbar kemesraan di depan orang lain.
" Iyalah, sekali-kali lengketkan gak apa-apa Dek," ucap Kak Gilang yang masih berkata manis dan meletakkan tangannya di pundakku.
"Emangnya pakai lem bisa lengket," ucapku dengan nada ketus dan menurunkan kembali tangannya.
"Eh beneran lho pakai lem, Dirumah kamu ada lem apa enggak Sayang??? Tanya Gilang kepada diriku, yang ku artikan bahwa Kak Gilang menanya Lem beneran.
__ADS_1
" Untuk apa Kak," ucapku kepada Kak Gilang karena penasaran.
" Kalau ada, Kakak mau pake untuk nge-lem hati kita berdua biar bisa cepat bersatu," ucap Kak Gilang yang menggombal diriku dan mendapatkan tertawaan dari Bang supir.
" Ha...ha...Gombal...," ucapku sambil tertawa mendengar ucapannya yang tidak seperti biasanya.
" Cuit-cuit...," canda Bang supir mendengar gombalan receh Kak Gilang yang masih fokus menyetir.
Tiba-tiba tangan Kak Gilang turun ke jari-jariku yang sebelah kanan. Jarinya memutar-mutarkan cincin pertunangan kami yang di sematkan di jari manis kananku.
" Dek, Kakak mau tanya, apa bedanya cincin ini sama kamu? Ucap Gilang memberikan pertanyaan kepada Diriku dan aku harus memutar otakku untuk menjawabnya.
" Eh aku tahu, kalau cincin ini kan buatan manusia sedangkan aku buatan Allah," ucapku menjawab saja tanpa memikirkan benar atau salahnya
" Salah Sayang..." ucap Kak Gilang Menyalahkan jawabanku.
" Terus apa dong," ucapku yang sudah tidak sabar akan tebakannya.
" Kalau cincin melekat di jari, kalau kamu melekat di hati aku," ucap Kakak Gilang membuat aku meleleh.
Ku pegang kening Kak Gilang, merasakan panas atau tidak keningnya. Kenapa sebenarnya Kak Gilang hari ini, bahagia banget. pandai ngegombal lagi. Bang Supir yang melihat hanya jadi umpan lalat.
" Iya ada apa Sayang," ucap Kak Gilang mendengar panggilanku.
" Ehmm..., Kakak terus...aja gombali aku, aku bagaikan mentega yang jatuh ke wajan yang panas," ucapku yang mencoba belajar mengatakan sebuah rayuan.
" Kenapa begitu sayang?ucap Kak Gilang dengan raut kebingungan ingin mengetahui kelanjutan kata-kataku.
" Iyalah, aku langsung meleleh,"ucapku yang belajar menggombal Kak Gilang.
"Ha..ha..., bisa juga calon istri Kakak menggombal," ucap Kak Gilang kembali meletakkan tangannya di pundakku.
Aku mikir, wanita tomboi seperti aku, harus pandai merayu, bagaimana caranya? Pakai baju wanita aja baru akhir-akhir ini, malah di suruh Kak Gilang aku belajar merayu dia. Enggak di rayu aja dia sudah jatuh cinta, apalagi di rayu, mungkin kak Gilang lengket terus. Gawat bila di lihat warga RT bisa di kawinkan cepat aku dengannya.
Tidak terasa taksi berhenti di depan rumah ku. Kak Gilang melebihkan tarif ongkos. Aku segera meninggalkan Kak Gilang yang masih duduk di dalam Taksi, Kak Gilang terlihat beradu kata dengan bang supir. Ibu terlihat dingin melihatku yang sudah sampai di rumah. Kak Gilang yang sibuk membayar tarif taksi sengajaku tinggal untuk segera bertemu dengan ibu. Diriku Ketakutan bila ibu semakin marah dan bisa gawat kalau ibu negara bisa marah. Alamat Kak Gilang langsung di kirim secepatnya ke kutub utara.
__ADS_1
" Assalamu'alaikum Bu," ucapku mengucap salam melihat ibu ada di depan teras.
" Wa'alaikum Salam, sana langsung bersih- bersih dan shalat," ucap Ibu yang tidak ada basa-basi.
" Iya bu," ucapku merinding mendengar nada suara ibu yang tidak lembut.
Aku menyadari sikap ibu yang berubah dingin, mungkin Ibu meredam emosinya, mencoba bersabar tidak mengeluarkan rasa amarahnya di depan orang lain. Dengan cepat aku segera menuju ke kamarku dan mandi sepuasnya menghilangkan rasa gerah dan peluh yang menempel di tubuh yang disebabkan dari baju gaun yang terasa panas.
Sementara derap langkah kaki terus terdengar dari sepatu pentopel berwarna hitam.
" Assalamualaikum Bu," ucap Gilang mencoba tetap ramah walaupun Gilang tahu raut wajah ibu sudah berbeda, tetapi tetap menyalami ibu.
" Wa'alaikum Salam Nak," ucap Ibu menjawab salam Gilang dan mengulurkan tangannya.
" Maaf Bu, kami pulang terlambat, Saya tidak macam-macam kepada Annisa Bu, saya tetap jaga Annisa sampai kami menikah nanti Bu," ucap Gilang terlebih dahulu menjelaskan sebelum Ibu bertanya lebih jauh lagi.
" Ibu paham Kamu bisa menjaga Annisa,
Tetapi alangkah bagusnya kalian bisa menjaga batasan sebelum kamu melanjutkan kuliah ke sana," ucap Ibu yang mempunyai perasaan takut bila terjadi sesuatu kepada anaknya.
" Iya Bu, maaf," ucap Gilang tertunduk menyesal perbuatannya.
" Kalian kalau pergi jangan terlalu lama, ibu sangat khawatir," ucap Ibu menjelaskan.
" Iya Bu, maaf, tapi bu, besok saya diminta Annisa untuk menemaninya jalan-jalan Karena dua hari kemudian saya harus pergi Bu..," ucap Kak Gilang yang hati-hati meminta izin kepada Calon ibu mertuanya.
" Apa! Dua hari lagi Lang..., apakah kamu tidak menyiapkan barang-barang kamu Nak?," ucap Ibu yang terkejut mendengar perkataan Gilang yang tiba-tiba akan berangkat.
" Sebenarnya Gilang belum sempat Buk, tapi demi menemani Nisa, biar besok saja pulang dari jalan-jalan baru Gilang packing," ucap Gilang menjelaskan.
Aku melangkah mendekat ke tempat Kak Gilang membawa nampan berisi dua cangkir teh manis. Ibu yang melihat aku datang, segera berdiri meninggalkan kami berdua. Terasa keheningan ketika kepergian ibu. Raut wajah Kak Gilang terlihat penuh beban. Apakah Kak Gilang terpaksa menemani aku besok? aku tidak boleh egois, dia butuh istirahat juga. Jalan-jalan ke Jogja itu juga terasa jauh, walaupun naik mobil, tetapi badan juga terasa lelah dalam perjalanan.
" Kak, kalau besok Kakak tidak bisa pergi jangan di paksakan...? ucapku kepada Kak Gilang.
"Insya Allah kakak bisa Dek, besok Kakak ajak Andre dan Arif. Biar kita ramai pergi kesana, jadi bisa gantian nyetirnya," ucap Kak Gilang yang menghibur diriku agar aku tidak merasa gundah.
__ADS_1