
Assalamu'alaikum," ucap Gilang.
"Wa'alaikum Salam, dari mana kak," ucapku melihat ke arah Kak Gilang.
" Kakak dari rumah, kaki Adek masih sakit?" ucap Gilang melihat kaki Annisa yang sudah di buka perbannya.
" Sedikit kak, tapi kalau di buat berjalan masih ngilu " ucapku kembali.
" Kakak ingin mengajakmu jalan-jalan," ucap Gilang
"Tapi Nisa masih sulit berjalan kak," ucap ku yang merasa sedih.
" Udah gak apa-apa, kakak bantu" Gilang pamit kepada Ibu dan Ayah yang ada di ruang keluarga.
" Ayo, kakak bantu," ucap Gilang memapah diriku ke mobil, dan di bukan pintu mobil, ketika akan masuk di bopongnya diriku ke dalam mobilnya. Perasaan campur aduk karena Ayah dan Ibu melihat diriku di bopong kak Gilang.
Ayah di teras berkecamuk hatinya, tidak
menentu memikirkan mulut tetangga yang nyinyir setiap harinya melihat puterinya berdua-duaan dengan seorang pemuda.
"Bu, bagaimana kalau Annisa kita nikahkan saja ya Bu," ucap Ayah Annisa.
"kok cepat sekali Yah, puteri kita masih kuliah,"
ucap ibu mengambil kopi ayah di ruang keluarga memindahkannya ke teras depan.
"Ayah takut jadi fitnah Buk," ucap ayah yang melihat ke coffe shop adiknya yang ramai pembeli.
"Terserah Ayah, Ibu ngikut saja,"ucap Ibu meletakkan secangkir kopi.
"Nanti Ayah akan bicara dengan Gilang sewaktu mengantar Annisa," ucap Ayah menyeruput kopi panasnya.
*****
Di Taman Gilang menghentikan mobilnya, dia kembali membopong Annisa duduk di kursi Taman, banyak mata memandang Gilang dan Annisa. Mereka berprasangka Gilang dan Annisa adalah pasangan yang sangat romantis mengumbar kemesraan di depan khalayak ramai, tidak tahunya yang di bawa Gilang adalah orang sakit.
Gilang mengambil gitarnya dari dalam mobil. Gilang memetik gitar dan menyanyikan sebuah lagu untuk Annisa, lagu yang sangat disukai Annisa di kala berkumpul dengan teman-teman abangnya.
Kau begitu sempurna, dimata ku kau begitu indah
Kau membuat diri ku, akan s'lalu memuja mu
Disetiap langkah ku, ku 'kan s'lalu memikirkan, diri mu
Tak bisa ku bayangkan hidup ku tanpa cinta mu
Janganlah kau tinggalkan diri ku
Tak 'kan mampu menghadapi semua
Hanya bersama mu ku akan bisa
Kau adalah darah ku
Kau adalah hidup ku, lengkapi diri ku
Oh sayangku kau begitu
Sempurna, sempurna
__ADS_1
Kau genggam tangan ku, saat diri ku lemah dan terjatuh
Kau bisikkan kata, dan hapus semua sesal ku
Janganlah kau tinggalkan diri ku
Tak 'kan mampu menghadapi semua
Hanya bersama mu ku akan bisa
Kau adalah darah ku
Kau adalah hidup ku, lengkapi diri ku
Oh sayangku kau begitu
Sempurna, sempurna
Janganlah kau tinggalkan diri ku
Tak 'kan mampu menghadapi semua
Hanya bersama mu ku akan bisa
Kau adalah darah ku
Kau adalah hidup ku, lengkapi diri ku
Oh sayangku kau begitu
Sempurna, sempurna
Kau adalah darah ku
Kau adalah hidup ku, lengkapi diri ku
Oh sayangku kau begitu
Sayangku kau begitu
Sempurna, sempurna
Suara Gilang merdu menyentuh kalbu, Annisa yang mendengar merasa tersentuh. Annisa tanpa sadar terpana akan ketampanan Gilang yang menyanyikan lagu untuknya.
Nisa tersenyum dan bertepuk tangan untuk lagunya.
"Terima kasih kak," ucapku kepada Gilang karena sudah menghibur diriku
" Nisa apakah sudah ada jawabannya" ucap Gilang.
"Bisakah Annisa menjawabnya besok kak, Annisa ingin menjawabnya di depan Ayah dan Ibu," ucap ku dengan muka sendunya.
"Iya, apa pun jawaban Nisa Kakak akan menerimanya," ucap Gilang dengan raut wajah sedihnya.
" Semangat," ucap ku memberi support kepada Gilang.
" Ih, kayak mau perang aja, gemes...." Gilang tertawa mendengar perkataan dan repleks memijit hidung Annisa.
" Ih...Sakit, Kak makan Yuk, Nisa lapar...," ucapku dengan manjanya sambil menggandeng tangan Gilang.
__ADS_1
" Ayo kita mau makan Apa," ucap Gilang yang melihat kemanjaan Nisa hari ini tidak seperti biasanya.
" Bakso aja kak, Nisa sudah lama gak makan bakso,"ucap ku yang seperti anak kecil.
"Ayok, Kakak bantu masuk ke mobil," ucap Gilang dan segera membopong Annisa ke dalam mobil.
"Nisa malu Kak di bopong terus" ucap ku salah tingkah.
"Enggak apa-apa, di biasakan supaya jangan terkejut," ucap Gilang yang mengedipkan sebelah matanya.
" Ih mesum," ucap ku yang memukul dada Gilang.
" Sakit Dek, Nanti Kakak cium di sini biar mesum beneran," ucap Gilang bercanda.
" Eh...eh.. jangan, nanti dosa," ucap ku mencubit pinggang Gilang.
"Aww...belum nikah aja sudah di aniyaya,"ucap Gilang mengelus pinggangnyabyangbsa
yang sudah masuk ke dalam mobil.
" Siapa juga yang Aniyaya, nyubitnya gak
sakit juga," ucap ku yang cemberut memajukan bibirku.
" Ih gemes deh lihat bibirnya, ingin kakak halalin secepatnya," ucap Gilang kembali mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum nakal.
"Sudah kak cepat jalannya, Nisa sudah lapar," ucap ku yang memegang perutku sudah berbunyi cacingnya.
" Iya, kakak sampai lupa," ucap Gilang segera melajukan mobilnya mencari warung bakso di pinggir jalan yang rasanya mantap.
Makan mereka dengan hening sampai makanan habis, Annisa melihat jam di tangannya terlihat jam sudah menunjukkan jam 09.45 malam, Gilang melihat Annisa gelisah segera mngantarnya pulang.
Beberapa menit kemudian Mobil Gilang sampai di rumah, Gilang membopong Annisa duduk di teras. Tiba-tiba ayah Annisa keluar dari dalam rumah.
" Nak Gilang, jangan pulang dulu Ayah ingin bicara," ucap Ayah yang duduk di dekat Annisa.
" Iya Yah," ucap Gilang duduk di depan Ayah dan diriku.
"Ayah lihat kalian sudah terlalu dekat dan kamu Gilang sudah terlalu sering datang ke rumah, ayah takut akan menimbulkan fitnah dan gunjingan tetangga. Bagaimana kalau kamu suruh Papa dan mama mu datang ke rumah ini besok, Ayah ingin kau segera melamar puteri ayah segera," ucap Ayah membuat Annisa melotot.
"Ayah, annisa akan jawab besok yah, karna annisa sudah shalat istikharah , tapi jawabannya belum jelas yah, Annisa harap malam ini jawabannya sudah ada,"ucap ku kepada ayah
.
" Iya yah, Gilang akan menunggu jawaban dari Annisa dulu yah, karena Gilang tidak mau Annisa menerima Gilang karena terpaksa, Gilang ingin menikah cukup satu kali dalam hidup Gilang," ucap Gilang kepada Ayah.
Gilang pun pulang ke rumah dia berharap besok adalah hari terbaiknya. Pulang ke rumah Gilang langsung menceritakan kepada Papa dan Mamanya. Mamanya memberi dukungan kepada Gilang untuk menjadi orang yang sabar.
Papa menyarankan agar Gilang tunangan dahulu, karena Gilang akan melanjutkan S2 nya ke luar negeri selama dua tahun.
Gilang merasa bimbang bagaimana tunangan dulu, Gilang takut hal lain akan terjadi kembali.
Gilang masuk ke kamar dan merenungkan kedepannya, Gilang pusing memikirkan S2 nya. Akhirnya gilang berprinsip.
kalau aku S2 di luar negeri berarti aku masih tergantung kepada Papa, akukan punya bengkel motor dibeberapa cabang, ngapain harus pusing, mikiri S2 jauh-jauh. Kalau mau S2 disini juga ada. Aku harus menikahi Annisa secepatnya. Aku besok harus bicara dengan Papa.
*******
Annisa masuk ke kamarnya dengan jalan tertatih-tatih. Dia mengganti bajunya dengan baju tidur dan melaksanakan shalat isya. Di panjatkannya doa kepada Allah tentang keputusannya.
__ADS_1
Annisa pun merebahkan tubuhnya ditempat tidurnya yang tidak terlalu besar. Tidak butuh lama mata Annisa pun terpejam. Annisa bermimpi Annisa melihat cahaya terang kembali, terlihat seorang pemuda datang dengan wajah yang jelas,.wajah tampan dantubuhnyang gagah. Pemuda itu mendekat dan memegang tangan Annnisa.
Tiba-tiba Annisa terbangun, jam bekernya berbunyi terlalu kencang sehingga memekakkan telinga Annisa. Annisa teringat mimpinya tadi malam dan di mimpinya wajah pemuda yang selama ini selalu melindunginya. Annisa sangat bahagia ternyata pemuda yang dalam mimpinya itu adalah Gilang.