
Ku ambil stelan dari lemari yang sudah lama tidak kupakai. Baju kaos lengan panjang berwarna biru, celana jeans longgar dan Jaket kulit berwarna hitam. Ku pakai Jilbab berwarna hitam, sarung tangan hitam dan sepatu kets berwarna putih. ku lihat wajahku di cermin dengan bedak tabur dan liptin berwarna bibir. Keren..., itulah kata yang cocok untuk Fashionku saat ini.... Tidak lupa tas ransel yang selalu menemaniku kala aku bepergian.
Aku keluar dari kamar menenteng helm balap yang keren. Melangkah menghampiri Arif. Arif sampai tercengang melihatku. Tinggi tubuhku dengan Arif saja hampir sama. Sehingga bila aku memekai helm, persis menyerupai tubuh laki-laki.
"Tutup mulutmu Rif," ucapku melihat Arif yang tercengang melihat fashionku.
" He...he..., iya, sudah siap Sa...," Ucap Arif yang melihatku sudah rapi.
" Sudah, ayo ..,"ajakku menghampiri sepeda motor yang terparkir di halaman.
Segera aku naik ke motor Besar milik Kak Gilang dan menyalakan motornya. Gatal tangan ini, ingin rasanya balapan lagi dijalan raya. Arif melajukan motornya dengan kecepatan maximum. Ku ikuti dari belakang dengan kecepatan rata-rata agar bisa mengimbanginya. Senyum smirk dari wajahku, Ingin tahu kemampuan Arif dalam balapan.
Balapan di jalan raya pun terjadi. Ku tarik gas motorku dengan suara menderu dan kecepatan maximum yang dapat mengimbangi motor Arif. Sankin kencangnya motorku, sampai bisa mendahului motor Arif. Arif kewalahan dan menarik Gas motornya lebih kencang lagi tapi tertinggal jauh ke belakang. Ku acungkan ibu jariku ke atas dan kubalikkan lagi ke bawah.
Ha...ha.. .kena kamu Rif .
Seperti mendapat hiburan aku hari ini, sangat bahagia. Seketika kegalauan dan kegundahanku pergi. Balapan dengan Arif dapat merubah moodku. Aksi kebut-kebutan pun terjadi di jalan Raya. Para pengendara roda empat banyak yang marah, ada yang kagum dan ada yang menyumpah serapah. Suara klakson menambah keramaian jalan raya. Berbagai umpatan mereka keluarkan. Aku senang aku kembali seperti dulu, Inilah Annisa yang dulu. Masa bodoh dengan Cinta. Aku menanti, tetapi Yang di nanti apakah sudah pasti? Aku terus menunggu tapi yang di tunggu seperti tidak mau tahu. Hanya mamanya yang sering memberi kabar, terus kalau orang tuanya saja yang perhatian, kemana selama ini anaknya? masa bodoh dengan itu semua.
Waktu 1 tahun sudah ku jalani di tinggal Kak Gikang, bukanlah waktu yang sebentar. Aku selalu menunggu kabar darinya, dianya saja begitu sulit untuk di dihubungi. Apalagi sekarang, kabar dia yang jarang kudengar dan membuatku pusing tujuh keliling. Hari ini ingin ku buang jauh-jauh perasaan itu. Aku tidak perduli, jika Kak Gilang Kembali aku akan terima, tetapi jikalau dia berpindah ke lain hati, aku akan merelakannya. Mungkin dia bukan jodohku.
Bayang-bayang yang menghantui dan segala praduga yang di katakan tetangga dan orang-orang terdekatku membuatku muak selama ini. Tetangga rata-rata ratu gosip semua, tidak ada yang ratu duit. Kalau ada yang ratu duit, mungkin semua sudah punya Mobil Lamborghini kayak gue. He..he...bangga gue yang sudah punya mobil Lamborghini, walaupun di kasih.
Lega rasanya, emosi telah ku salurkan dengan balapan. Sampailah kami di bengkel Kak Gilang. Motor kami beriringan memasuki bengkel yang terlihat ramai. Bengkel besar yang ada di tengah kota Bandung, berbagai motor sudah di modif menjadi motor-motor keren. Beberapa orang teman Ragil dan Arif sudah menunggu di tempat bengkel, membawa masing-masing motor mereka. Ketika kami berhenti, banyak pasang mata melihat kearah kami berdua, salah satunya adalah Ragil. Kakak Seniorku di kampus yang sangat tampan, bagai arjuna turun dari khayangan. Bulu-bulu halus yang memenuhi wajahnya membuat wajahnya semakin macho. Sayang aku sudah ada yang punya, kalau belum, pasti aku juga tertarik padanya.
Aku turun dari motor, berjalan masih menggunakan helm kearah mereka, mencoba menyapa dengan salam kepalan tangan tanpa bersuara. Aku merasa familiar dengan salah satu cowok yang memakai masker dan hodie berwarna putih. Dari matanya sepertinya aku pernah melihat mata itu. Siapakah cowok ini?
Dia juga terus menatapku. Mungkin dia pikir aku adalah orang yang sombong karena tidak segera membuka helm yang menutupi wajahku.
" Zak, buka helmnya dong, " Ucap Arif memanggil namaku dengan panggilan lama yang tidak akan pernah aku lupakan.
Cowok yang memakai hodie itu langsung berdiri merasa terkejut, mengenal nama panggilanku. Ku buka helmku, dan betapa terkejutnya semua teman-teman Ragil dan Arif. Mereka mengira aku adalah seorang laki-laki. Tersenyum mereka saling pandang karena salah menebak. Satu kosong, kalian tertipu.
__ADS_1
Cowok yang memakai hodie tersebut melangkah dan mendekati diriku, aku mencoba menghindar karena aku tidak mengenalnya.
" Stop! jangan mendekat," ucapku meminta cowok tersebut berhenti.
Di bukanya masker di wajahnya, betapa terkejutnya diriku, bahwa orang yang merasa familiar itu adalah Candra, mantan pacarku sewaktu di SMK. Ragil tersenyum dan mendekat ke arahku.
" Apa kabarnya Sa, kita di kampus jarang bertemu, sampai pangling Kaka sama kamu," ucap Ragil tersenyum menambah ketampanan wajahnya.
" Baik Kak, Seperti yang Kakak lihat," ucapku menunjukkan pada diriku, bahwa aku baik-baik saja.
" Makin cantik aja kamu Sa, ucap Candra yang berjalan menggeser Kak Ragil dengan sok coolnya.
Gayamu candra, sok Cool, apa tidak tahu dia kalau aku sudah bertunangan. Aku berasa wanita yang paling cantik di bengkel ini. Habis...,semuanya laki-laki, tapi laki-laki yang baik hati.
" Bagaimana Bro, sudah siap memodif motor-motor kami,"ucap Teman Arif yang bernama Doni.
" Bagaimana Sa, kamu sanggup bantu aku," ucap Arif dengan percaya dirinya mencaribtahu jawaban dariku.
" He..he..., loe kan galau, boring, biar gak galau gue bantu mencairkannya, ini pegang alat bengkelnya," ucap Arif yang membawa alat bengkel dan menyerahkannya kepadaku.
" Edan loe Rif, yang pasti gue makin stress," ucapku kepada Arif.
"Santai Sa..., ayo gue bantui," ucap Candra yang cari perhatian.
" Emang loe siapanya Nisa...," tanya Ragil yang penasaran kepada Candra seperti sangat kenal dengan diriku.
" Gue mantannya," ucap Candra dengan percaya dirinya.
" Ha...ha...mantan aja belagu," ucap Ragil yang tertawa mendengar perkataan Candra.
" Gue Calon Adek sepupunya aja gak belagu tuh," ucap Arif yang mencoba memancing suasana hati Candra, padahal Candra adalah sahabatnya.
__ADS_1
" Emang siapa pacar Nisa sekarang Rif? ucap Candra yang penasaran dan memandang diriku begitu lama.
" Mau tahu aja atau mau tahu banget," ucap Arif yang terus menjawab perkataan Candra.
" Shutt...udah-udah jangan ribut, ayo kerja, baju keren gini pun di suruh ngebengkel, bisa kotor ini nanti," ucapku dengan ngedumel.
" Kamu kan bawa tas Sa, apa gak ada baju ganti?," ucap Arif yang baru ingat kalau diriku selalu membawa persiapan bila kemana-mana.
" O..iya, tunggu ya gue ganti baju dulu," ucapku berjalan menuju kantor Kak Andre ketika Kakak Andre masih bekerja di bengkel itu.
Aku melangkah menuju Kantor, setahuku ini adalah bengkel Kak Andre, kenapa Arif mengatakan kalau bengkel ini adalah bengkel Kak Gilang? apa sudah di jual Kak Andre dan di beli Kak Gilang?.
Sepeninggal diriku yang mengganti baju, Candra terus menginterogasi Arif, agar dapat mengatakan pacar Annisa sekarang. Arif yang tidak ingin ikut campur mencoba bungkam dan lebih mengganti topik pembicaraan yang lain.
Aku bergegas kembali ke bengkel, terlihat arif sudah berjibaku dengan alat bengkelnya dan sudah memodif motor Doni. Walaupun belum selesai, tetapi sudah kelihatan keren.
Doni harus merogo kocek dalam, agar motornya yang di modif bisa bebas dari tilang dan bebas di jalan raya. Doni suka rela memodif motornya, supaya terlihat keren.
Aku Membantu Kak Ragil mengerjakan motor temannya yang lagi dalam pengerjaan. Sesuai permintaan yang punya motor, membuat diriku harus memutar otak untuk segera menyelesaikannya. Entah mengapa otak ku tidak bisa berfungsi untuk berpikir. Apakah Karena modelnya yang terlalu rumit atau karena memang aku yang sulit mengerti? Kak Ragil juga pusing dan menggeleng tidak mengerti, mengapa permintaan temannya begitu menyulitkan seseorang. Aku bisa semakin stress kalau begini.
Beberapa jam kemudian
Waktu sudah sangat siang, perut juga sudah lapar, Candra dengan perhatiannya membelikan beberapa bungkus nasi padang. Ah, tau aja orang lapar.
Merasa tanganku kotor, segera mencuci tangan dan melangkah ingin mengambil nasi, tetapi Candra sudah berjalan duluan mendekati untuk memberikan nasi kepadaku beserta minumnya. Semua mata memandang Candra yang perhatian kepada diriku. Ku ambil nasinya dan aku pergi ke kantor ingin makan sendirian.
Aku tidak ingin di ganggu dan berbicara untuk urusan cinta. Sudah pusing kepalaku. Entah mengapa akhir-akhir ini aku kurang konsentrasi. Hasil ujianku juga menurun. Mungkin faktor sudah lama di tinggal Kak Gilang.
Kak bagaimana kabarmu, sedang apakah kau di sana?
Ku lahap Nasi yang ada di hadapanku, sungguh menggiurkan. Dengan semangat langsung ku gas dan tidak butuh lama, nasi habis tidak bersisa. Kenyang sudah perut ini.
__ADS_1
Ku ambil ponsel dalam tas, ingin mencoba menghubungi Kak Gilang. Berulangkali aku memanggil, tetapi tidak di angkat. Sampai panggilan terakhir terasa menyambung dan aku bingung mendengar suara seseorang yang menjawab.