
Mengingat aku ada Janji dengan Rini tiga tahun yang lalu ketika masih duduk di bangku SMK. Jika suatu saat nanti, aku sudah mempunyai penghasilan sendiri, aku akan meneraktir dirinya sepuasnya di restoran terkenal di kota ini. Penghasilan dari toko rotiku sudah sangat lumayan. Bahkan setiap Jum'at, aku masih bisa memberikan sebahagian penghasilanku kepada anak yatim dan panti asuhan. Semoga amalku tahun ini lebih baik daripada tahun semalam. Kuhadapi hari-hariku di toko dengan penuh semangat.
Selama bersahabat dengan Rini, hanya dirinya yang selalu meneraktirku ketika makan. Aku berniat ingin mengajaknya makan-makan di hari ulang tahunku esok hari. Aku ingin membuang jauh-jauh pikiran yang selalu datang menghampiri tentang sikap Rini kepadaku baru-baru ini. Citra tidak mau berterus terang tentang terakhir pertemuannya dengan Rini di Minimarket tersebut. Dia selalu menutupi kegugupannya bila aku menyinggung nama Rini. Apakah Rini masih benci atau sudah berubah bertingkah laku baik? Ku ambil ponsel yang terletak di meja, mencari nama Rini dan kutekan tombol memanggil.
Satu panggilan berlalu tidak ada jawaban, ku panggil kembali sampai panggilan ke delapan, tetap begitu juga tidak ada yang menjawab penggilanku. Putus asa sudah pasti ada, ku coba untuk memanggil yang terakhir kalinya Ada suara perempuan yang bersuara, ku dengarkan dengan seksama. Suaranya terdengar merdu, eh ternyata suara operator.
Yah, kesalnya hatiku. Rasa hati ingin melempar ponsel yang ku genggam dan dengan percaya dirinya aku langsung membanting ponsel di atas kasur, bukan dilempar ke lantai. Ada juga sih perasaan sayang kalau sempat ponselnya rusak. Ponsel kesayangan pembelian dari Kak Gilang ketika setahun yang lalu sebagai hadiah ulang tahunku yang ke 19 tahun. Ku pungut kembali ponsel yang sudah ku lempar dan ku cium ponselnya, mengingat itu pemberian dari calon suamiku yang sangat berharga dan akan selalu di jaga.
Dimanakah kau Rini, apakah diriku tidak lagi kau anggap? Sebegitu bencikah kau pada diriku.
Ku kirimkan chat kepada Rini, menanyakan keberadaannya. Dan ternyata masih centang satu yang muncul. Ponsel Rini tidak aktif. Kupandangi layar ponselku yang terlihat wallpaper Fotoku dan Kak Gilang. Senyum ceria memperlihatkan gigi putih kami.
Dua tahun sudah Kakak Gilang meninggalkanku, apakah dia akan kembali besok hanya untuk memberikan surprise untukku. Berharap belum tentu mendapatkan. Berharap membuatku sulit untuk menghadapi kenyataan yang sebenarnya.
Hening dimalam ini hanya terdengar detak jarum jam yang menempel di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 malam, tetapi mata ini sulit untuk dipejamkan. Syukurnya ini malam minggu. Begadang sedikit gak apalah, mumpung masih gadis.
Ku ambil diary di atas meja, bisa dikatakan teman di kala aku sendiri. Aku tidak ada teman untuk curhat, hanya Diaryku yang menemaniku hari-hariku. Kata demi kata tergores di kertas putih, sambil berurai air mata. Rinduku kepadanya sungguh membuatku dilema. Dilema memikirkan calon suami yang jauh di negeri orang tidak tahu kapan dia akan pulang.
Merindukanmu itu seperti hujan yang datang tiba-tiba dan bertahan lama. Dan bahkan setelah hujan reda, rinduku masih terasa.
Kau tahu jika aku rindu padamu, namun rasa rinduku lebih dari apa yang kau tahu.
Rindu bukan hanya muncul disaat jarak yang jauh, namun juga dikarenakan keinginan yang tidak pernah terwujud.
__ADS_1
Aku rindu disaat memiliki kesempatan berbicara berdua denganmu, meskipun tak penting apa yang dibicarakan namun aku merasa bahagia jika ada di dekatmu.
Tulisanku sudah tidak beraturan, mataku sedikit menyipit sulit untuk kubukakan dan hampir terpejam. Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 malam, sudah waktunya aku istirahat. Besok mataku mungkin akan seperti panda jika aku tidak segera tidur.
Beberapa jam kemudian.
Gema adzan Subuh berkumandang. Aku terbangun dan segera ke kamar mandi membersihkan diri dan berwudu. Kembali kuserahkan jiwa dan raga untuk bermunajat hanya kepada-Nya. Memohon segala yang menyesal di dada dan meminta kekeshatan selalu dan kemurahan rezekinya di hari ulang tahunku di hari ini. Membaca Al qur'an dan menghadap surah pendek untuk menambah ilmu tentang ayat Alqur'an.
Di luar mentari pagi masih tersipu malu bersembunyi di balik awan kelabu. Seakan menandakan langit akan menangis hari ini. Yah, tebakanku ternyata benar, tidak berapa lama terdengar suara hujan di luar. Ku buka semua tirai jendela untuk melihat rintik-rintik air hujan yang membasahi bumi. Angin menyertai rintikan hujan yang tidak begitu deras tetapi begitu dingin menusuk kulitku.
Ku nyalakan ponsel yang sudah terisi penuh. Semalaman ku matikan dayanya karena lagi di carger.
Bunyi pesan begitu ramai. Terdengar Beruntun dan belum saja berhenti. Terhitung ada 20 nama yang mengirim chat ke ponselku. Satu chat tidak bernama dan tidak ada foto profilnya, aku penasaran ini dari siapa. Ku buka chattingannya.
" Selamat Ulang Tahun temanku yang super keren, semoga tetap sehat, tetap cantik dan menjadi jodohku kelak di kemudian hari, dari Uge, si cowok ganteng yang selalu mengagumi,"
Tinggal 19 nama lagi, 18 diantaranya teman kuliah. Salah satunya adalah Arif yang tidak pernah absen mengucapkan ulang tahunku selam berteman dengannya. satu nama lagi yang sering mengawal hari-hariku. Nama Kak Andre mengirim ucapan yang membuatku terharu dan sangat menyentuh perasaan.
" Selamat mengenang hari lahir gadis manis selalu berhijab, wanita idola kampus dan bidadari bagi semua pemuda. Aku bersyukur telah menjaga keseharianmu selama dua tahun ini. Allah masih memberikan kita nikmat kesehatan yang tiada tara. Yah..., abang sadar selama ini abang bukanlah siapa-siapa bagi dirimu, sekedar pengawal keseharianmu. Selamat Ulang tahun yang Ke 20 Tahun. Semoga panjang umur, dimudahkan rezeki dan menjadi gadis sholeha,"
Ku rebahkan tubuhku kala matahari sudah mulai menampakkan cahayanya. Melihat Langit-langit kamar mengingat chat dari Kak Andre dan merasa bersalah karena tidak membalas perasaannya. Tanpa terasa aku hampir terlelap dan terasa Malas kemana-mana hanya berbaring membuatku nyaman berada diatas kasur.
Terdengar ketukan pintu yang pelan, aku menerka pasti di luar adalah ibu.
__ADS_1
Nisa," panggil Ibu sambil mengetuk pintu.
Ceklek!
" Iya Bu," melihat ibu sudah Rapi dan terlihat manis dengan perasaannya
" Cepat bangun Nak, hari ini banyak pesanan kita Nisa..., bantu ibu di toko," ucap Ibu heran melihatku masih mengantuk dengan rambut yang berantakan.
" Kamu sudah mandi apa belum Nisa..., masih ada ilernya itu?," tanya Ibu yang sudah bolak balik melihat jam di tangannya.
" mas Sih Bu afa ilernya. Nisa Sudah mandi Bu, tadi tiduran lagi, ini kan hari minggu Nisa mau santai dirumah aja, males kemana-mana Bu...," ucapku kepada Ibu dan mendapat anggukan.
" Yang punya toko kamukan...., cepat Siap-siap jangan kesiangan, nanti rezekimu keburu dipatuk ayam," ucap Ibu dengan nada judesnya.
" Iya Bu, tunggu Annisa siap-siap dulu," ucapku dengan wajah jutekku, ini pemaksaannya langsung berganti pakaian dengan pakaian santai dan jilbab pasmina hitam. Walauoun pakain Santai tetapi terlihat mempesona bila Annisa memakainya
Mobil telah terparkir di luar, Andre pagi-pagi sudah menunggu di teras untuk mengantar ku dan Ibu ke Toko.
" Kak, cepat banget datangnya," tanyaku kepada Andre.
" Iya semalam udah janji sama Ibu," ucap Mama Raya.
" O...," ucapku yang merasa bingung.
__ADS_1
Tumben-tumbenan Kak Andre perduli banget dengan toko kueku, biasanya ogah. Udah pagi- pagi begini gak ada yang ngucapi selamat ulang tahun. Pada lupa kali ya, kak Andre lagi, padahal sudah tau aku berulang tahun. Kok gak mau ngucapin langsung sih. Ih sebel lihat kalian semua, tidak ada yang perduli dengan ulang tahunku.
Kami pun berangkat ke toko roti, dengan santai Kak Andre mengenderai mobil berwarna merahku, lamborghini yang sekarang masih sulit untuk di dapatkan pemilik mobil seperti ini. Mobil dengam model terbaru dan hanya ada beberapa orang saja di Indonesia ini yang mampu membelinya.