
Tangannya sudah meremas pinggangku dan aku mengikuti kegiatan bibirnya. Hilang rasa pahit menjadi manis. Sungguh manis dan sangat manis, semanis gula jawa.
" Kak aku gak tahan," Aku sudah mengapit kedua pahaku, agar yang di bawah sana tidak segera keluar. Terlambat beberapa menit saja, di khawatirkan maka akan menetes.
Gilang tersentak dan melepaskan bibirnya. mendengar perkataan ku pikiran mesumnya bertambah kemana-mana.
Wajah Gilang terlihat sudah sangat bergairah dan menatap bibirku yang sedikit bengkak.
"Apa maksudmu Dek..? apa Adek menginginkan lebih dari ini sebelum kita menikah...," Gilang tersenyum manis dan berharap tebakannya benar.
Pletak
Sentilan mengenai jidatnya. Dan sukses membuatnya terdiam.
" Aduh Dek, belum apa-apa sudah kena aniyaya," Gilang pura-pura meringis karena terkena sentilan di kepalanya.
" Makanya Kakak kalau ngomong jangan sembarangan. Aku mau pipis, udah gak tahan, buruan awas," aku berlari menuju kamar mandi dengan jantungku yang mau lompat.
Gilang meraup wajahnya dan segera keluar dari kamarku. Dia takut bila lebih lama lagi, mungkin bisa-bisa dia khilaf.
Di dalam kamar mandi, Jantungku masih berpacu. Ku pegang dadaku yang berdetak begitu cepat. Menatap cermin dan menyentuh bibirku yang masih terasa manis akan kecupannya.
Ya Allah, apa yang kulakukan tadi, hampir saja kami kebablasan. Syukurnya ada kode, nyuruh aku buang air kecil. Alhamdulillah, untuk sementara aku terbebas.
Aku melepas hijabku dan menyelesaikan niatku tadi kekamar mandi untuk apa dan membasuh mukaku agar bersih dari iler Kak Gilang yang menempel.
Ceklek
Aku berharap Kak Gilang sudah pergi. Alhamdulillah, ternyata dia memang sudah pergi. Jantungku kembali normal. Ku kunci pintu kamar, agar tidak ada lagi pengganggu. Ku matikan lampu ruangan dan menyalakan kembali lampu tidur.
Empuknya kasurnya...., Enak banget jadi orang kaya ya... Tidak berapa lama mata pun terpejam.
Di kamar sebelah yang luas seorang pemuda baru saja mengguyur tubuhnya agar panas yang mendera tubuhnya segera hilang. Hanya dengan itu gairahnya turun kembali.
Ketika berdekatan dengan Nisa, entah mengapa dia selalu tergoda ingin merasai bibir merah Annisa. Mungkin pantang di mulai sehingga menjadi ketagihan untuk merasainya kembali. Setelah puas mengguyur kepalanya, dia pun mengeringkan tubuhnya. Menggunakan handuk yang hanya melilit sebatas pinggangnya. Sedangkan bagian atasnya yang di biarkannya masih terbuka, memperlihatkan tubuhnya yang sangat sixpack.
Rambutnya yang basah membuat tubuhnya kembali segar. Tangannya memegang handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya dan memasuki walk in closet untuk mengambil piama tidurnya. Gilang merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamarnya. Menerawang kejadian beberapa menit yang lalu. Tangannya langsung menyentuh bibirnya. Tersenyum-senyum seperti orang gila yang tersenyum sendiri di malam hari .
__ADS_1
Lama kelamaan matanya meredup. Dan berhasil membuatnya tertidur dengan mimpi yang begitu indah.
Suara azan Subuh berkumandang terdengar merdu terdengar di telinga. Azan Subuh merupakan alarm paten bagi Gilang dan keluarganya. Gilang bergegas untuk segera bangun, walaupun matanya masih mengantuk tapi tidak menyurutkan semangatnya cepat bangun agar bersiap-siap untuk berangkat ke London nanti.
Aku bergegas bersiap setelah shalat subuh. Memakai setelan yang simpel agar tidak ribet saat berpergian jauh. Setelah penampilan terlihat sempurna, ku tarik koperku keluar dari kamar. Senyum terpancar dari pipi Mama ketika melihat diriku yang baru keluar dari kamar.
" Wih, cantiknya menantu Mama, ayo kita sarapan dulu Sa...,"
" Papa dan Kak Gilang mana Ma...,"
" Bentar lagi juga turun, ayo sini duduk," aku mengambil tempat duduk beseberangan dengan Mama.
Langkah kaki terdengar menuju meja makan, siapa lagi kalau bukan Kak Gilang dan Pak Prayuda. Gilang yang memakai baju casual menunjukkan wajahnya yang semakin tampan dengan kacamata hitamnya yang tergantung di kerah bajunya.
Wow, kerennya..., monolog dalam hatiku. Tak dapat ku bohongi hati kecilku, pemuda yang sebentar lagi mengubah statusnya menjadi seorang suami memang sangat tampan.
" Tutup mulutnya Dek..., nanti masuk lalat. Kamu terpesona ya lihat ketampanan Kakak," Gilang memegang daguku dan mencium pipiku.
Plak
" Aw, sakit Dek...," Mama Gilang geleng kepala melihat kelakuan puteranya yang tidak memperdulikan orang lain dan sudah terkena virus bucin.
Papa Gilang mengambil kursi di sebelah istrinya begitu juga dengan Kak Gilang yang hingga merapat dengan kursi yang ku duduki.
Dalam hening kami menikmati sarapan dan sesekalai Kak Gilang menyuapi diriku. Terlihat romantis dan membuatku sangat malu di depan orang tua Kak Gilang. Tanpa terasa kami menghabiskannya tanpa bersisa.
Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 kami bersiap berangkat ke bandara dengan di antar oleh Mang Amir.
Hal yang mengagetkan ternyata Papa Gilang juga ikut berangkat, katanya sekalian mengecek perusahaan yang ada disana. Kalau tahu seperti itu kenapa aku diminta ikut. Tahu begitu aku mending di rumah aja, luluran, memutihkan kulitku menjelang hari pernikahan. Biar manglingi. ini malah masih kelayapan. Ah, pasti ini akal-akalan Kak Gilang supaya dia tetap dekat denganku.
Beberapa Jam kemudian
Kami tiba di London menjelang malam dengan tubuh yang sangat lelah. Pegangan tangan Kak Gilang menggenggam erat tanganku agar tanganku tidak terlepas. Mungkin dalam pemikirannya aku takut hilang. Soalnya diriku baru Pertama kali memijakkan kaki di negara ini. Kalau sempat hilang. Terpaksa jadi masuk data pencarian orang hilang.
Tidak kebayang sempat aku hilang di negara orang dengan pernikahan yang sebentar lagi akan di adakan. Sudah seperti novel, pengantin wanita hilang di gantikan sepupu. Ah, jauhkan ya Allah, berikanlah kabar dan hal yang baik-baik. Dan jagalah hamba selama di kota ini. Jauhkanlah mata-mata jahat dan sifat buruk orang-orang yang ada di dekat hamba sekarang ini.
Ah, bagai mimpi bisa datang ke negara ini. kami check in hotel dengan memesan 3 kamar sweet room.
__ADS_1
Wow ruangannya sungguh luas.
Semuanya lengkap tersedia.Tanpa pikir panjang Aku berendam, memakai aroma terapi yang begitu haruam. Kapan lagi bisa merasakan gratis kalau gak di sini. Sesekali merasai seperti orang kaya. Toh kita nginap di kamar ini sudah di fasilitasi dan harus di gunakan semestinya.
Kelamaan berendam membuat perutku lapar, tapi yang mengantar makanan belum juga datang. Ku pakai cepat pakaianku, ingin menjumpai Mama yang ada di kamar sebelah.
Tok
Tok
Ceklek
"Eh Kak Gilang, ada apa Kak???," Gilang menautkan alisnya.
" Kamu tidak lapar Yang..,"
" Emm, lapar sih," jantungku berdebar mendengar kata sayang dari bibir Kak Gilang.
" Harum sekali tubuhmu Sayang..., jadi kepengen nyium. Apa besok Kakak mandi di sini aja ya...," Gilang mendekat dan mengendus-ngendus hidungnya mencium aroma dari kulitku. Aku meremang kala dia mendekati tubuhku yang terlalu dekat.
" Jangan macam-macam Kak..., beberapa hari lagi kita menikah Kak, ingat batasan" Perasaanku mulai gelisah, kalau di ladeni terus bisa bahaya. Bisa kebablasan lagi ujung-ujungnya.
" Andai kita sudah menikah dulu ya Dek..., kan enak sekalian bulan madu disini," Gilang begitu entengnya berbicara, tidak mikir orang yang di hadapannya berkecamuk melihat tingkah mesumnya.
Deg
Ini orang kalau ngomong mesum melulu, pikirannya selalu aneh-aneh.
" Ayo kita makan Yang," Kak Gilang merangkul pinggangku dengan posesif.
Kami keluar menemui orang tua Kak Gilang yang sudah menyantap makan malam duluan. Makan malam yang sudah sangat malam.
" Ma, Pa, " sapaku kepada orang tua Kak Gilang.
" Ayo makan Nisa...., rugi kamu kalau gak merasai makanan ini, ini enak banget lho...,"
Gak pala di tawari Mama, udah kelihatan dari bentuknya emang sangat lezat. Ah, jiwa laparku meronta-ronta.
__ADS_1