Teman Palsu

Teman Palsu
Serigala Berbulu Domba


__ADS_3

Kebahagian kami berdua dilihat oleh Citra. Citra yang semula melihat kebahagiaanku, dia juga merasa bahagia. Tetapi di balik itu ada kebingungan pada dirinya. Semenjak Kak Nisa akrab berteman dengannya, Kak Nisa tidak pernah sama sekali dekat dengan seorang gadis lain.


Apakah ini salah seorang dari kisah masa lalu Kak Nisa. Aku akan menyelidikinya, benar atau tidak dia sudah berubah.


" Kamu makin cantik Sa," ucap Rini dengan seramah mungkin menyapaku dengan menarik lebar sudut di bibirnya.


"Tunggu dulu, sejak kapan kamu panggil aku Nisa, setahu aku Rin..., kamu suka manggil aku Zaki?," ucapku yang merasa aneh dengan panggilan akrabnya selama ini.


"Maaf kan Sa, kesalahanku sudah membuatmu trauma. Sekali lagi aku minta maaf Sa. Aku ingin buang jauh-jauh hal yang mengenai masa lalu kita. Jadi...mulai sekarang aku manggil kamu dengan panggilan Nisa, bolehkan..." ucap Rini yang langsung memegang tanganku dan menggenggamnya, wajah sendunya menunjukkan bahwa Rini sangat tulus meminta maaf kepadaku.


" Iya sudah aku maafi, sudah jangan di ingat lagi yang lama, sekarang kita buka lembaran baru. Eh Rin, kita ini di depan pintu lho, bagaimana kalau kita berbincang-bincang nanti sebentar. Kamu mau nunggukan..., tunggu di sini ya, aku ke dalam sebentar, mau beli sesuatu. Citra..., Kamu bisa temeni Sahabat Kakak kan, kakak kedalam sebentar," ucapku kepada Rini dan Citra.


Citra tidak menjawab hanya menganggukkan kepalanya, ini kesempatan baginya untuk menyelidiki bahwa sahabat Kak Nisa ini sudah berubah apa belum. Mana tahu keramahannya hanyalah sebuah topeng.


Aku langsung masuk kedalam mengambil yang ingin ku beli dengan cepat. Tidak butuh lama belanjaanku sudah penuh satu keranjang yang berisi es cream dan Cemilan kentang yang menggoda.


Mama Kak Gilang tidak pernah datang lagi ke rumah, biasanya beliau yang rajin membawakan diriku cemilan yang banyak. Mungkin ini Mama Kak Gilang ikut Pak Yuda ke London. Jadinya harus beli sendiri. Seperti cewek matre jadinya aku. Kapan lagi bisa dapat mertua yang baik hati, jadi kalau sudah dapat harus dijaga kebaikannya.


Aku menuju kasir memberikan Atm yang di berikan Kak Gilang. Berasa seperti orang kaya, belanja menggunakan kartu bukan uang kes. Ah, senang, mau belanja satu mobil juga, tidak akan habis isi Atm ini.


Selesai sudah pembayaran, ku langkahkan kakiku menuju keluar. Ketika ku gak pintu, Rini terlihat berlari mengejar sebuah mobil yang setidak kenal siapa orang di dalamnya. Akubtwrlibat kecewa, tetapi perasaan itu kubuang jauh-jauh tidak ingin beranggapan yang aneh-aneh. Aku percaya Rini sudah berubah.


Sepuluh menit sebelum Nisa selesai berbelanja.


"Kak, kenali aku Citra adik sepupu Kak Nisa," ucap Cita dengan ramah dan mengungkapkan tangan kanannya untuk berkenalan.


Rini terlihat acuh dan tidak membalas uluran tangan Citra. Dia terlihat gelisah bolak-balik melihat arloji yang di tangan kirinya.


"Gak penting juga kenalan sama kamu bocah ingusan!," ucap Rini dengan ketus dan membuat Citra terkejut dengan perkataan Sahabat Kak Nisa.


" Oh.., aku kira Kakak sudah berubah, ternyata masih sama bejadnya seperti setan," ucap Citra yang keceplosan dan membuat Rini terlihat emosi.


" Apa kamu bilang!," ucap Rini yang sudah mengepalkan tangannya dan siap-siap yang memukul Citra.


"Makanya kalau Kakak di tanya orang dengan lembut jangan di jawab ketus, Kak Nisa itu tulus lho kak temenan sama Kakak, dia mengganggap Kakak sudah berubah," ucap Citra menjelaskan.


" Diam mulut kamu, tau apa kamu dengan persahabatan, jangan ikut campur. Zaman sekarang orang yang tulus mana ada tuh. Eh, denger anak kecil! jangan sampai mulut kamu bocor mengatakan hal ini pada Nisa, kalau kamu mengatakannya pada Nisa, awas kamu!," ucap Rini mengancam Citra dengan mengisyaratkan tangannya berada di depan lehernya seperti ingin memenggal leher manusia.


Citra bergidik mendengar ancaman Rini. Dia tidak habis pikir, masih ada manusia seperti ini di dunia ini. Seperti serigala berbulu domba. Munafik, kalau sudah dari asalnya jahat, selamanya akan jahat.


Sebuah mobil mewah terparkir di tepi jalan. Rini dengan berlari mengejar mobil yang sudah membunyikan klakson. Seketika kaca mobil terbuka, terlihat seorang pria paruh baya seumuran dengan Pak Yuda dengan tersenyum ginitnya. Rini dengan ramah menyapa pria itu. Mobil pun melaju meninggalkan Minimarket.


* * * *


" Lho Dek, teman Kakak mau kemana Dek," tanya Nisa yang melihat Rini terburu-buru


" Gak tahu Kak, ayo Kak pulang," ucap Citra menarik tanganku menuju motor yang terparkir di halaman.


" Pelan-pelan Dek..., nanti kakak tersandung," ucapku yang memperingatkan Citra yang terus menarik tanganku.


Aku merasa ada yang aneh dengan sifat Citra, tadi dia terlihat ceria, sekarang kenapa wajahnya terlihat ketakutan.


Motorku lakukan hingga sampai ke rumah. Sampai di rumah, Arif sudah menunggumu depan teras. Rumah yang sepi, membuat Arif sampai tertidur menunggu aku pulang.


Citra turun dan langsung berlari ke arah rumahnya tanpa berpamitan denganku. kedua alisku terangkat, merasa heran dengan tingkah Citra hari ini. Berjalan menuju teras, dan meletakkan Barang bawaan ke ats meja.


" Udah lama Rif?," tanyak kepada Arif yang ternyata Arif pura-pura tidur.

__ADS_1


"Lumayanlah," jawab Arif langsung memperbaiki cara duduknya.


" Kenapa gak nelpon aja, kan gak lama nunggu," ucapku yang merasa tidak enak karena seseorang menunggu kepulanganku di rumah.


"Percuma, kemana pun kamu pergi aku kan tahu," ucap Arif yang dari perkataannya seperti detektif.


" Terus kenapa gak jadi ojek aja, aku kan bisa hemat bensin" terangku kepadanya.


Seketika Aku baru teringat kalau tadi aku jumpa Rini di Minimarket dan akan aku ceritakan dengan Arif.


" Rif, tadi aku ketemu Rini lho di Minimarket depan sana," ucapku yang terbawa serius karena ini aku pikir adalah berita penting.


" Ha! masa Sa," ucap Arif pura-pura terkejut, padahal dia sudah mengetahui berita kebebasan Arif seminggu yang lalu.


" Eh, bohong kamu, katanya kamu tahu kemana aku pergi, tadi tanpa Sengaja aku jumpa Rini, kok kamu gak tahu," ucapku yang penuh curiga kepada Arif.


" He...he..., maaf hanya akal-akalanku saja Sa," Ucap arif sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, untuk menutupi kebodohannya. Padahal Arif memang sudah mengintai tadi di minimarket.


" Dia kurus sekali Rif," ucapku kepada Arif.


" Tapi masih cantik kan Sa...," ucap Arif yang merasa berbinar menceritakan tentang Rini.


" Masih sih, tapi tadi dia terlihat buru-buru masuk ke mobil, gak tahu dia pergi dengan siapa?," ucapku menjelaskan kepada Arif dan Arif tidak mau meresponnya.


" Buat minum kenapa Sa, haus ini dari tadi, sampai kering ini tenggorokan, bisa dehidrasi gue di sini," ucap Arif memohon kepadaku.


" Siapa juga yang nyuruh kamu nunggu," ucapku dan langsung berdiri.


" Rif, temeni gue besok jumpa Rini lagi yuk, gue rindu, belum puas juga ngobrolnya, dia usah main kabur aja," ucapku kepada Arif yang duduk kembali dengan cara memohon kepadanya.


" Hati-hati Sa, m" ucap Arif meminta aku agar berhati-hati.


" Terserah,"ucap Arif dengan santai.


" Tunggu dulu ya, aku mau ambil minum," ucapku dan berlalu ke dapur.


Ketika aku ke dapur muncul satu notifikasi. Satu chat dari Kak Gilang menanyakan kabarku dan sebuah foto dirinya di tempat sekarang dia berada.


Aku dengan senang hati sampai tidak menyadari, sankin gembiranya, membuat teh manis dengan asal saja mengambil sesuatu dengan sendok dan di masukkan ke dalam cangkir. Kemudian ku aduk sampai larut dan langsung berjalan menuju ke teras.


Bersenandung dengan ceria berputar-putar seperti film india dan Ku letakkan cangkir yang berisi teh, dengan tersenyum-senyum seperti orang ke sambet. Arif yang melihatku merasa aneh, dan berhasil membuatnya geleng kepala. Aku seperti di mabuk cinta. Benar juga kata Band Armada yang menyanyikan lagi di mabuk Cinta. Dunia ini bagaikan milik kami berdua. Yang lain numpang. Tanpa memperdulikan Arif aku terus bernyanyi sambil membalas pesan dari Kak Gilang.


Bayangkan bila harimu penuh warna


Itulah yang saat ini kurasakan


… Dia membuat tidurku tak nyenyak


Dia membuat makan pun tak enak


Kuterpikat pada kehangatan


Yang selalu dia berikan


… Kurasa 'ku sedang dimabuk cinta


Nikmatnya kini 'ku dimabuk cinta

__ADS_1


Dimabuk cinta


… Bayangkan bila harimu penuh warna


Itulah yang saat ini kurasakan


… Dia membuat tidurku tak nyenyak


Dia membuat makan pun tak enak


Kuterpikat pada kehangatan


Yang selalu dia berikan


… Kurasa 'ku sedang dimabuk cinta


Nikmatnya kini 'ku dimabuk cinta


Kurasa 'ku sedang dimabuk cinta


Kurasa 'ku sedang dimabuk cinta


Nikmatnya kini 'ku dimabuk cinta


Dimabuk cinta


Dimabuk cinta


Dimabuk cinta


Arif mengambil secangkir teh, untuk mengurangi rasa mualnya melihat diriku yang seperti orang gila. Dengan membaca Bismillah, teh di minum.


Byur!!!


Arif menyemburkan teh yang baru di minumnya. Dan memuntahkan isi perutnya.


"Gila Sa, kamu mau membunuh ku..?," ucap Arif yang sudah lemas karena sudah berhasil memuntahkan isi perutnya.


" Emang kenapa Rif, itu teh manis, biasanya kamu suka," ucapku yang merasa aneh dengan sikap Arif yang terlalu berlebihan ketika minum teh manis.


"Di rumah kamu apa gak ada gula Sa...," tanya Arif dengan wajah seriusnya.


" Banyak, kenapa rupanya Rif?, apa kurang manis?, kayaknya tadi udah kumasukkan dua sendok deh" ucapku yang mengingat sudah ku masukkan sesuatu ke dalam teh.


" Ha!, Kurang manis gundulmu, sudah edan kamu Sa semenjak ditinggal Kak Gilang, ini bukan manis tapi asin," ucap Arif menjelaskan dengan nada ngegas.


" Masa sih Rif," ucapku yang tidak percaya.


Untuk mengurangi penasaranku, langsung aku minum dari cangkir arif dan ternyata,


Byurr!!!


Air teh yang ku minum langsung muncrat ke wajah Arif dan wajah Arif basah.


" Astaghfirullahaladzim Sa, bau iler muka aku Sa..., apes-apes, udah lama nunggu, dikasih minum rasa garam, eh ini kena iler lagi," ucap Arif dengan pasrah.


" Maaf Rif ,aku terlalu senang, kak Gilang udah ngabari aku tadi, jadi gak lihat toples apaan yang aku ambil,"ucapku yang merasa bersalah.

__ADS_1


" Baru di kabari aja udah bikin kamu sableng, sempat dikawini bagaimana lagi dengan kamu Sa?," ucap Arif yang geleng kepala dengan tingkah Nisa.


" Sudahlah Sa, besok aja aku cerita, udah gak mood aku, Assalamualaikum, " ucap Arif menyalakan motornya dan berlalu pergi.


__ADS_2