
Setengah harian membantu ibu dan Tante Devi membuat tubuhku terasa lelah. Uang yang di beri Tante Devi karena sering membantunya, sedikit-sedikit bisa ditabung untuk memulai usahaku nanti. Alhamdulillah yang pesan kue hari ini lumayan banyak.
Dua hari lagi Toko kueku yang di dekat kampus akan di buka. Aku sudah punya toko kue sendiri. Senang rasanya punya usaha sendiri. Pelan-pelan dengan berjalannya waktu sifat tomboiku melalui berkurang. Citra yang selalu nempel bila aku dirumah sudah mulai ikut memanjangkan rambutnya karena selama ini rambutnya selalu pendek. Hanya bajunya yang masih menyerupai stelan laki-laki.
Hari sudah maghrib, toko kue Tante Devi juga sudah tutup. Aku kembali ke rumah ingin bersih-bersih dan shalat maghrib. Di meja makan Ayah, Ibu dan Bang Raga menunggu kehadiran diriku ingin makan bersama.
Aku melangkahkan kakiku menuju meja makan kulihat ruangan makan terasa gelap. Ku nyalakan lampu ruangan, ternyata Ayah dan Ibu membuat kejutan.
Mereka menyediakan nasi tumpeng lengkap dengan ayam ingkungnya, sayur urab dan sambal serta perlengkapan tumpeng lainnya di susun ibu di atas meja. Ayah dan Ibuku menciumi pipiku, mereka mengucapkan selamat ulang tahun. Sedangkan Bang Raga memberikan sebuket uang 50 ribuan yang tidak tau jumlahnya berapa. Bahagia hatiku ternyata banyak yang perhatian padaku.
Terdengar suara salam di luar. Bang Raga membukakan pintu, ternyata Tante, Om dan anak-anaknya pada ikut datang.
Senangnya kalau kejutan begini, pasti banyak makanan, banyak kado dan saweran. Hatiku melihat buket berisi uang membuat jiwa miskinku meronta-ronta. Rasanya mau cepat aja buka itu buket. Mana ada manusia yang gak butuh uang. Apalagi di kasih, ya mau kali...
Tante Devi membawa sebuket Uang berwarna merah yang banyak, kalau Om Yudi memberi aku handphone terbaru. Sedangkan citra memberi aku Senar gitar. Aneh-aneh aja ini orang ngasih kok senar gitar, apa di suruh akunya ngamen di jalan, kalau putus senarnya langsung ganti gitu. Sampai satu kotak penuh isinya.
Berbeda dengan Dimas, buketnya sungguh unik, bikin aku ngakak dan gak bisa diam melihat isinya. Buket yang berisi peralatan bengkel dan bumbu dapur bawang putih bertungkul-tungkul yang di bentuk menyerupai bunga. Aneh aja ini si Dimas, kenapa harus bawang putih???
Syukur saja Dimas tidak memasukkan terasi atau ikan asin yang jadi buketnya. Hal terkocak yang aku dapatkan di malam ini. Tunggu saja pembalasan dariku ya Dimas..., buket apa yang akan kuberikan padamu nanti. Dimas yang ku lirik, tertawa melihat isi buket yang aku terima.
Kami menikmati nasi tumpeng buatan ibu, rasanya sangat lezat karena ibu memasaknya dengan penuh cinta. Disela-sela makan, Bang Raga mencandai diriku yang di beri bawang putih oleh Dimas. Katanya bawang putihnya di buat jimat saja, agar tidak di pelet oleh pemuda lain sewaktu di tinggal Kak Gilang Nanti. Ah, aneh-anah saja orang ini.
Selesai makan Ayah melafazkan doa, doa dari orang tua buat diriku sangat berguna untuk ku jalani ke depannya. Hari menjelang malam, Tante beserta suami dan anak-anaknya sudah pulang ke rumah. Aku yang sudah mengantuk menuju ke kamar membawa Buket yang sangat berharga.
Ku rebahkan tubuhku di atas kasur. Kulihat langit-langit kamar membayangkan bila nnti jauh dari Kak Gilang. Ku lihat ponselku terus bercahaya karena nada deringnya di mode silent. ku lihat di layar tertulis nama calon Imam. Ya, sejak bertunangan dengan Kak Gilang, nama Kak Gilang di ponsel ku ganti dengan nama Calon Imamku. Kak Gilang memanggil dengan Video call.
"Assalamu'alaikum calon istriku,"
"Wa'alaikum Salam calon Imamku,"
"Lagi ngapain Sayang,"
"Seperti yang Kakak lihat,"
"Dek, boleh gak Kakak lihat kamu buka jilbab,"
"No, belum boleh, kita belum menikah, sabar ya Calon suami,"
"Ha...ha...ya Deh sabar..., Dek sudah buka kado belum ya...?,"
"Belum Kak, emang apa sih isinya,"
"Makanya di buka, biar tahu isinya, ayo sayang buka kadonya,"
"Kado Nisa banyak lho Kak, Kakak mau lihat gak?,"
"Mana? coba arahkan ke kakak biar kakak Lihat...,"
__ADS_1
Kuarahkan kameranya ke buket-buket yang baru aku terima malam ini.
" Ha...ha..., itu siapa yang ngasih bawang putih Sayang?,"
" Dimas anaknya Tante Devi,"
"Ada-ada saja, lucu adik kamu ya.. Ayo dong Sayang, buka kadonya dari Kakak"
" Iya, tunggu ya...,"
Ku letakkan ponselku di meja, ku sandarkan dalam keadaan berdiri dengan kameranya menghadap diriku.
" Kelihatan gak Kak?,"
"Iya kelihatan, bukalah,"
"oke,"
Kubuka kado dari kak Gilang dengan sampul yang pertama, sudah kubuka, ternyata ada sampul kedua, di buka sampul kedua ternyata ada sampul ketiga, begitulah sampai sampul ke sepuluh.
" Capek Kak,"
" Jangan menyerah dong..., ayo cepat buka lagi,"
Ku buka kembali, ternyata sebuah kotak tipis, dan ternyata isinya gambar sebuah mobil yang ku pakai tadi siang bersama Kak Gilang dan surat-surat mobil beserta kunci mobilnya sekalian.
" Iya,"
" Maksudnya apa ini Kak,"
"Iya itu mobilnya Kakak belikan untuk kamu, Papa Kakak yang ngasih ide, dan bantu menambahi uang Kakak untuk membeli kado spesial untuk kamu,"
"Kak, Nisa gak pantas dapat ini Kak...,"
"Pantas tidak pantas, malah kamu sangat pantas Sayang...,"
"Besok pulang dari wisuda Kak akan ajari Adek nyetir,"
"Besok pagi supir Kakak akan datang ke rumahmu untuk mengantarkan kalian ke acara wisuda Kakak,"
"Kak, apakah itu tidak terlalu mahal...,"
"Tidak Annisa, Kamu sudah menjaga auratmu, makanya kamu wajar di kasih barang mahal,"
"Kak terima kasih ya Kak,"
"Iya Sayang...,"
__ADS_1
"Dek, Coba buka kado dari Bima dan Arif, apa sih isinya..."
Kak Gilang masih setia melihatku membuka kado dari arif dan Kak Bima. Duluan ku buka kado dari Arif, sebuah jam tangan yang berkelas. Dan sekarang giliran Dari Kak Bima, sebuah Tiket jalan-jalan ke daerah Wisata untuk dua orang.
" Kak, ini kapan akan Nisa gunakan tiketnya?,"
"Terserah kamu,"
"Tapi Nisa kan gak ada kawannya Kak,"
"Apa kamu mau kakak temeni?,"
"Iya kak, tapi kakak akan pergi 3 hari lagi,"
"Kalau kamu mau, Kakak akan undurkan biar kita puaskan berdua jalan-jalan sebelum kakak pergi, bagaimana apakah kamu mau,"
" Oke, kapan kita berangkat Kak,"
" Lusa ya...,"
" Okelah, Kak udah ya, Nisa lelah mau istirahat,"
" Selamat tidur..., mimpikan Kakak ya..., I love you Annisa..., Assalamu'alaikum,"
" Wa'alaikum Salam,"
Alarm ponselku berbunyi berulang-ulang, waktu subuh sudah akan tiba. Mataku enggan dibuka, dengan mata terpejam aku mencoba duduk. Menguap berkali-kali membuatku ingin kembali rebahan. Yang Allah, aku kok ngantuk banget. Mencoba menunggu kesadaran yang belum pulih sepenuhnya. Aku membuka perlahan mataku melihat jarum jam yang sudah menunjukkan waktu subuh.
Berjingkat turun dari tempat tidur, memaksakan diriku yang sedang malas ingin cepat bangun. Ku tuju kamar mandi tempat tujuan pertama setiap subuh menjelang, membersihkan tubuhku yang masih bau iler dan sekalian berwudu. Hari yang dingin membuatku tidak ingin berlama-lama mandi, aku segera keluar memakai baju piama dan melaksanakan shalat subuh.
Tenang jiwaku kalau sudah selesai shalat, ku sempatkan membaca Alqur'an sebentar, sebagai jadwal rutinku setiap subuh sehabis shalat. Dering ponsel terdengar nyaring dari ponselku, atas nama calon Imam.
" Assalamualaikum Dek, udah shalat?,"
"Wa'alaikum Salam Kak, Alhamdulillah sudah Kak, baru selesai,"
" Dek, sebentar lagi MUA akan datang ke rumah, untuk meriasmu. Katakan kepada mereka jangan terlalu menor, Kakak gak rela calon istri Kakak terlalu di pandangi laki-laki lain,"
"Iya Kak, Kak...Annisa bingung mau pakai...,"
"Baju, soal baju jangan Khawatir Dek..., mereka sudah Kakak minta untuk membawanya yang baru untukmu,"
"Siap-siap ya Sayang..., Assalamualaikum,"
"Wa'alaikum Salam,"
Aku bergegas ke dapur ingin membantu ibu sebelum para MUA datang. Berharap cepat sarapan karena kalau sudah di rias, malas untuk sarapan lagi. Kulihat Ibu sudah berkutat dengan alat masaknya seperti koki restoran yang sudah mahir dalam memasak. Ku hampiri dan memeluk ibu dari belakang. Ibu terkejut dan mencium pipiku, sifatku yang manja akan selalu ku pertahankan untuk selamanya. Itulah menunjukkan aku sangat sayang kepada semua keluargaku.
__ADS_1
Aku membantu Ibu meracip bawang yang sampai menangis dan mengeluarkan cairan dari hidungku. Sungguh sedihnya hidup ini mengiris bawang saja sampai bersedih, Ibu yang melihatku hanya geleng kepala. Masakan Ibu telah selesai, wangi masakan membuatku lapar. Ayah, Ibu dan Bang Raga sudah Rapi duduk menunggu hidangan yang ku tata di meja. Mereka mengambil nasi dan lauk yang baru di masak ibu. Dengan membaca Bismillah, langsung ku lahap dan makanan habis tidak tersisa.