Teman Palsu

Teman Palsu
Malu-malu Kucing


__ADS_3

Melihat aku yang menggeleng, Gilang berinisiatif mencari Mamanya. Ketika Gilang akan melihat Mamanya, ternyata sang mama muncul dengan wajah yang ceria.


" Udah bangun Lang??? kamu sudah shalat belum? tanya Mama Gilang yang sudah seperti sang reporter, nanya melulu tanpa berhenti.


" Belum Ma...," jawab Gilang dengan muka bantalnya.


" Sebaiknya, kita jemaah saja Lang, Kamu jadi Imamnya ya..., " ucap Mama Gilang kepada puteranya.


"Iya Ma...," jawab Gilang singkat.


Gilang mencuci muka dan sekalian mengambil wudu. Memakai baju Koko yang tergantung di lemari, menunjukkan dirinya yang sangat tampan dan gagah. Baru berpakaian koko saja, Kak Gilang sudah seperti Al ustad. Aku dan ibu menjadi makmumnya. Lantunan ayat suci Alqur'an di baca dengan suara yang merdu. Sungguh suara bawaan lahir yang pantas di syukuri.


Di akhiri salam, aku mengulurkan tanganku kepada ibu, tapi terlihat uluran tangan dari arah depanku. Terasa gugup dan malu-malu menyambut tangannya.


Ah, begini rasanya ya kalau nanti sudah menjadi istri, selalu di imami saat shalat. Ah, sudah tidak sabar ingin selalu menjadi makmummu Kak Gilang. Kami bersiap menuju mobil ingin segera ke rumahku dengan perut yang sudah keroncongan.


Aduh lapar banget perutku. Mana tadi siang makan sedikit lagi. Ada gak ya... yang perasaan mau neraktir makan. Cacing....., Jangan bunyi dulu ya cacing. Jangan malu-maluin aku, di sini ada Ibu mertuaku, nanti aku bisa malu.


Tanganku memegangi perutku yang sangat meronta-ronta minta diisi. Kalau sekarang belum nikah, yang di ajak ngomong, cacingnya saja dulu, nanti kalau sudah nikah yang diajak bicara, baru kecebongnya. Aha, kecebong..., apakah sudah siap aku punya anak? ah nikah saja masih satu minggu lagi. Si dara manis mau jalan-jalan ke London.


" Lang, Nanti sebelum ke rumah Nisa kita makan dulu ya..., Mama lapar banget nih. Siap marah-marah energi Mama banyak terkuras habis, jadi perlu diisi biar bisa ngomel lagi


" ucap Mama Gilang yang terkekeh mengingatkan dia sebegitu marahnya kepada karyawannya.


Ah, mama Gilang bisa membaca apa yang ada dikepalaku saat ini dan sudah merekam apa yang kupikirkan sekarang, berarti mama Gilang paranormal dong. Ah, emang gue pikiri yang penting gue kenyang.


" Makanya jangan marah-marah Ma..., marah juga perlu asupan gizi," ucap Gilang kepada Mamanya yang tersenyum melihat mamanya tertawa, terlihat dari kaca di atas kemudinya.


"Eleh Lang, kamu saja emosi, hampir mati anak orang kamu hajar, untung ada Nisa yang menghentikan kamu," ucap Mama Gilang yang masih ingat karena puteranya seperti orang kesurupan menghajar orang sewaktu di butik tadi.


" Maaf Ma...," Gilang meraup wajahnya dan menatap diriku yang ada di bangku mobil bagian berdampingan dengan Mama Gilang melalui kaca yang ada di atas kepalanya.


" Kayaknya Nisa sudah waktunya menggantikan Mama. Jangan Mama Lagi yang terjun ke butik," ucap Mama Gilang menjelaskan.

__ADS_1


" Tapi Ma, saya gak tau tentang fashion. Kalau sepeda motor, mungkin saya bisa merancang model dan mesinnya," ucapku yang sangat jujur dari hati yang paling dalam.


" Iya juga ya, ya sudah nanti kamu ambil kuliah desainer lagi, " ucap Mama Gilang yang sangat enteng tidak memikirkan diriku yang harus menjalaninya.


"Yah Ma..., apa gak ganggu nanti, sebentar lagi kami kan mau menikah dan Gilang ingin Nisa cuti kuliah dulu. Kok malah di suruh kuliah ngambil jurusan lain lagi, bisa capek Nisa Ma.., nanti gak bisa cepat buatkan cucu untuk Mama," ucap Gilang berkata panjang lebar, agar Mamanya dapat memahaminya.


Uhuk


Uhuk


Aku tersedak ketika menelan salivaku sendiri. mendengar kata cucu membuatku seperti mimpi. Gilang yang melihatku tersedak segera membuka botol air mineral yang ada di dashboard mobil dan memberikannya padaku.


" Nisa kamu gak apa-apa? tanya Gilang yang sedikit khawatir.


" Gak apa-apa Kak..," ucapku yang sudah malu karena tidak minum saja bisa tersedak.


" Kamu benar Lang, Mama sudah tidak sabar kepengen gendong cucu, semoga cepat terwujud," ucap Mama Gilang mengucapkan doa-doanya.


" Amin...," Gilang dengan cepat mengaminkan kata-kata Mamanya. Aku melotot mendengar kata-kata Tante Dewi.


Lima belas menit kemudian


Kami sudah sampai di restoran yang cukup mewah. Aku sampai terkagum-kagum melihat Interiornya yang sangat modern. Beh, kalau gak pacaran sama Kak Gilang mungkin aku gak akan pernah masuk ke tempat ini. Sifat wong desoku mulai ku tutupi dan mencoba tidak membuat malu. Seorang pelayan datang memberikan buku menu. Ku lihat dari segi bahasanya, aku tidak mengerti makanan apa saja yang di jual direstoran ini.


" Makan apa Sa...," tanya Tante Dewi kepadaku. Tetapi sikapku yang bingung diketahui oleh Gilang.


Aku menggelengkan kepalaku mengartikan kalau aku tidak tahu mau makan apa. Aku bukannya tidak suka, cuma bingung mau milih makanan apa yang ada di restoran ini. Setahuku hanya makanan indonesia saja yang semuanya enak.


Salah satu favoritku ya Bakso. Kalau itu mau sepuluh mangkok juga, aku tidak akan nolak. Emm, baru teringat saja membuatku jadi kepingin. Aduh dimana Nisa yang tomboy dan suka ugal-ugalan yang suka nongkrong di warung bakso Mang Udin. Sekarang malah jadi kalem. Kalem, kayak lembu, mbook.... Jiwa penggemar baksoku meronta-ronta. Dasar manusia penggemar makanan bermecin.


" Ma...samakan saja menu Nisa ''seperti Gilang. mungkin dia bingung mau milih apa...," Gilang mengerti akan sikapku yang tidak mengenal makanan asing.


Hidangan pun datang. Terlihat nasi putih yang hanya sebesar mangkuk cuci tangan berukuran kecil, sepiring gurami asam manis dan oseng cumi manis pedas.

__ADS_1


Wow, sangat menggiurkan dilidah hidangannya. Ah, aku malu, malu-malu kucing tapi mau.... jangan duluan ah, terlihat kali kalau aku emang kelaparan.


" Sa..., ayo makan, jangan malu-malu, ini masih Restoran milik Papa Gilang, mau nambah juga boleh," ucap Mama Gilang yang masih melihatku terpaku melihat hidangan di atas meja.


Ha.., boleh nambah..., apa gak salah. Nisa makannya banyak lho Ma..., nanti Mama bisa rugi kalau Nisa sering di ajak makan di tempat ini.


Ku tarik piring ku yang sudah diisi Mama Gilang dengan menu yang ada di meja. Aku jadi malu. Menunya sudah penuh. Sankin penuh piringnya, sehingga nasinya sampai tertutup dengan ikan gurami asam manis.


Membaca Bismillah dan ku kunyah suapan pertama, sensasi rasanya, enaaakkk...


Berlanjut suapan-suapan berikutnya, sensasinya, enak..., enak.., ah gak nyesel deh makan di sini. Tanpa kusadari piringku sudah kosong. Mau nambah, malu dong. Kebiasaan ketika selesai makan. Sedikit ingin bersendawa. Refleks langsung ku tutup mulutku. Bisa hancur harga diri Mama Gilang, bila ada yang melihat calon menantunya bersendawa di restoran elit begini.


Kenyang deh, bisa di bawa pulang tidak ya sisanya, Sayang banget.


" Pelayan...," panggil Mama Gilang.


" Iya Nyonya...," jawab pelayan tersebut berikan hormat. Karena pelayan tersebut sudah mengenali Tante Dewi sebagai majikannya.


" Tolong bungkus makanan ini, menantu saya sangat suka dan buat kan satu bungkus yang masih baru ya...," ucap mama Gilang seenaknya saja tanpa menyapa orangnya langsung. Namamu yang di bawa-bawa merasa kepo.


Ha..., kenapa kata hatiku, Mama Gilang juga tahu.


" Untuk siapa Ma???," tanyaku yang penasaran.


" Ya untuk kamu Nisa," ucap Mama Gilang dengan tersenyum." kamu harus banyak makan biar sehat, " ucap Mam Gilang menjelaskan kepadaku yang terkadang diriku di buat seperti anaknya sendiri.


Iya Ma.., gak banyak makan ikan juga kali. Harus di sertai sayur juga. Bisa cacingan aku ini karena makan ikan melulu.


Mama gilang bergegas masuk ke mobil, teringat ada yang akan di selesaikannya perihal ingin meminta izin untuk membawa Annisa ke London. Menghadiri acara Wisuda Masternya Gilang. Sesampainya di rumah Annisa, Annisa mengajak Ibu mertuaku masuk, dan terlihat Gilang juga nyusul setelah memarkirkan mobilnya.


" Assalamualaikum"


"Wa'alaikum Salam,"

__ADS_1


*******


Jangan lupa Like, komentar, Vote dan Hadiahnya ya..


__ADS_2