Teman Palsu

Teman Palsu
Dasar Cebol


__ADS_3

Berarti selama ini dia memperkerjakan golongan manusia ular yang siap kapan saja akan menjatuhkan usahanya. Sungguh ini tidak bisa di diamkan. Mama Gilang harus menindak lanjuti masalah yang menimpa butiknya.


Brakk


Mama Gilang menggebrak meja, dia sudah kehabisan kata-kata. Matanya menatap tajam kearah Siti. Sedangkan Siti sudah menegang, mendengar suara gebrakan meja saja, jantungnya serasa mau copot. Mama Gilang seolah ingin menelan Siti hidup-hidup kedalam perutnya, Agar dia puas melampiaskan emosinya.


Siti gemetaran melihat majikannya akan mengamuk. Sungguh sikap ini sangat langka dijumpainya selama menjadi karyawan butik di tempat dia bekerja. Hari ini majikannya terlihat sangat buas. Dan sebentar lagi akan keluar taring dan tanduknya.


Tante Dewi ketika menghadapi Dirga saja tidak semurka ini. Hal ini sungguh sangat melukai hatinya. Karena butik yang selama ini dia didirikan dan dimulainya dari nol dengan bekerja keras untuk memajukan butiknya, di salah gunakan menjadi tempat perbuatan maksiat.


Apa tidak bisa pemuda itu menyewa hotel, kenapa harus di dalam butiknya. Ngakunya pemuda kaya, menyewa hotel saja tidak bisa. Mama Gilang mengetuk-mengetuk jarinya di atas meja. Irama ketukannya seperti irama jantung Siti sekarang. Tubuh Siti sudah merasa panas dingin menghadapi majikannya.


" Kamu tahu kesalahanmu Siti..??," tanya Mama Gilang dengan dinginnya menatap Siti yang masih menunduk ketakutan.


" Ma...maafkan saya Bu...," Ucap Siti dengan ketakutannya dan terlihat gugup.


" Sudah berapa lama kamu bekerja kepada saya," tanya Mama Gilang kepada Siti.


" Su...sudah dua tahun Bu...," ucap Siti yang gemetaran.


" Apa pernah saya semarah ini kepadamu?," ucap Mama Gilang kepada Siti yang ingin tahu bahwa Siti masih bisa menjawab atau tidak. Dan menguji sejauh mana kesetiaan Siti kepadanya.


" Ti....tidak Bu...," Jawab Siti gugup. Dia berharap ada dewa penolong segera membantunya hari ini.


" Kamu tahu kan apa sebabnya?," tanya Mama Gilang kembali.


Siti menganggukkan kepalanya, dia sangat takut jikalau Mama Gilang akan memecatnya.


" Terus kenapa kamu merahasiakannya dari saya," Tanya majikannya menginterogasi.


" Sa...saya di ancam Bu...," ucap Siti gugup.


" Ternyata kamu lebih takut dengan gertakannya, ingat kita masih ada Allah, kamu tidak perlu takut Siti, Sepandai-pandai binatang menyimpan bangkai, lama kelamaan akan tercium juga dan sepandai-pandai manusia menyembunyikan kesalahannya maka kesalahan itu akan terbongkar," ucap Majikan Siti menjelaskan.


"Maafkan saya Bu..., saya sudah berulang kali ingin melaporkan tetapi mereka bertiga Bu..,. saya jadi takut," ucap Siti mengakui kesalahan.


" Ah.....Sekarang kamu tinggalkan saya dulu, saya akan pikirkan rencana menyingkirkan Noni dan teman-temannya," ucap Majikannya yang memijat kepalanya sedikit pusing dan memejamkan matanya bersandar di kursi kebesarannya.


" Baik Bu...," ucap Siti segera undur diri.

__ADS_1


Siti keluar dari ruangan kerja Mama Gilang dan bersikap biasa saja seolah tidak terjadi sesuatu.


Noni yang di butik sedang kedatangan tamu yang di tunggu-tunggunya. Dia sangat bahagia menyambut pemuda yang dianggapnya akan menjadi tambatan hatinya dan mengalir terus uangnya.


" Sayang..., cepat banget kamu datang, pembeli masih ramai lho..., kamu tunggu di sini dulu ya...," ucap Noni dengan sifat manjanya.


" Tumben kamu nyuruh saya datang sore Sayang..., biasanya agak sedikit malam," ucap Pemuda itu yang penasaran.


" Iya Sayang..., ini majikanku lagi pergi," ucap Noni yang manja melendot di tubuh pemuda itu


"Oh, pantas," senyum pemuda itu dengan liciknya.


"Sayang.., kamu tunggu disini dulu ya...,"Aku layani pembeli dulu," ucap Noni yang melihat pembeli baru saja memasuki butik dan melihat-lihat gaun-gaun yang di pajang.


" Dengan senang hati, asal kamu beri aku dulu vitaminnya," ucap Pemuda yang sudah memperlihatkan wajah senyumnya.


"Ih, ini sih maunya aneh-aneh melulu, sabar ya Sa...," ucap Noni yang belum selesai, bibirnya sudah di bungkam dengan bibir pemuda itu. Dan memperlihatkan keintiman mereka di ruang tamu. Suara decapan terdengar mengganggu telinga Siti yang baru saja melintas.


" Ehemm...., Eh, Bambang kalau mau mesum, jangan di sini kalau mau enak-enak sana di hotel, apa gak punya uang sampai gak bisa booking hotel," Deheman Siti yang di buatnya dengan sengaja agar mereka mendengar dan menghentikan kegiatan yang mereka lakukan. Tetapi suara Siti tidak di hiraukan mereka sama sekali.


" Persis bicara sama batu, tidak ada respon sama sekali" gumam Siti yang sudah merasa geram dan mengepalkan jari-jarinya.


Siti yang melihat aksi mereka segera merekam diam-diam dan mengirim langsung ke tempat Bu Dewi. Sementara Bu Dewi di ruangannya masih istirahat, menenangkan pikirannya yang lagi pusing karena masalah baru muncul kembali.


" Ngapai kamu Siti! mau jadi pahlawan, jangan sok-sok kan kamu mau ngelaporkan Noni, kamu gak takut dengan ancaman si Noni?," Mimin mencekal tangan Siti dan mengambil ponsel Siti.


" Aku gak takut, aku akan membongkar kejahatan kalian, Sini kembalikan ponselku," teriak Siti menjerit meminta ponselnya.


Siti susah payah ingin menggapai ponselnya yang di rebut Mimin. Secara Mimin tubuhnya lebih tinggi dan lebih tegap dari Siti. Ponsel yang diangkat tinggi-tinggi sungguh sulit di gapai Siti. Siti menggapainya sampai lompat-lompat tapi tidak dapat di rebutnya kembali.


"Ambil kalau kamu bisa Siti..., dasar cebol!," ejek Mimin yang merendahkan Siti.


Noni dan pemuda itu yang mendengar ada keributan segera berhenti melihat dua wanita yang berebut ponsel.


" Ternyata kamu ya Siti yang mengganggu kegiatan kami, ikat saja dia, buat rusuh," ucap Noni yang meminta Gita untuk mengikatnya.


Gita mengambil tali dan mengikat tangan dan kaki Siti serta mulut Siti mereka bungkam dengan lakban.


" Aman..., sekarang, bawa dia ke gudang,".ucap Noni memerintahakan anak buahnya.

__ADS_1


" Emmm...," ucap Siti memberontak. Tapi Noni dengan wajah angkuhnya memandang Siti dengan sinis, seolah-olah dialah bosnya di butik ini.


Siti mencoba memberontak tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Tenaganya sudah banyak terkuras. Pergelangan tangannya sudah sangat memerah.


" Sayang kamu tunggu di sini ya.., bentar saja, oke...," Noni yang sengaja berpangku di paha pemuda itu sengaja ingin beranjak tetapi terlebih dulu mendekatkan bibirnya di pipi pemuda itu.


Cup


Pemuda itu terlihat senang karena mendapat ciuman dari Noni yang di akuinya pandai menyervis dirinya. Dia tersenyum lebar melihat kepergian Noni dan memainkan gawainya.


*****


Di mobil Gilang yang sangat mencintai diriku dengan tangan sebelahnya selalu menggenggam tanganku sampai di depan Bioskop. Sedangkan tangan sebelahnya lagi masih sibuk menyetir.


" Kita sudah sampai Sayang," ucap Gilang yang tiba-tiba wajahnya sudah ada di depanku membukakan seltbelt. Aku yang merasa terkejut melihat sebegitu dekat wajah Kak Gilang langsung memejamkan mata.


Ting


" Kamu mikir apaan ini tempat umum, kamu kalau mengharap lebih, nanti di dalam ya...," ucap Gilang yang menyentil keningku yang sudah berpikiran yang tidak -tidak.


" Ih... apaan sih Kak Gilang," ucapku yang tersipu malu karena ketahuan sudah berpikir kotor menghadapi orang mesum di depanku.


" Ayo kita keluar," ajak Kak Gilang yang langsung membuka pintu mobilnya.


Gilang cepat keluar dan berlari membukakan pintu mobil untuk diriku. Jangan di tanya dengan wajahku. Oh sungguh memerah, seperti buah tomat. Padahal harinya tidak terlalu panas. Tapi dengan perlakuannya sudah membuatku semakin jatuh cinta.


" Ayo...," ucap Gilang mengulurkan tangannya dan menggapai tanganku. Dia ingin menunjukkan kepada semua orang, bahwa yang berada di sampingnya saat ini adalah calon istrinya. Semua pasang mata melihat kami berdua berjalan berdampingan. Banyak mata yang merasa iri melihat kami yang terlihat cantik dan tampan. Dan juga memakai warna baju yang sama.


Gilang menggenggam tanganku dengan posesifnya. Dia memintaku untuk menunggu sebentar, karena ingin membeli tiket dan membeli dua minum serta sebungkus cemilan.


Aku terduduk menunggu Kak Gilang datang. Mataku memicing melihat dua sejoli yang terlihat agak jauh dari aku duduk. Membeli cemilan dan minuman dengan bersenda gurau.


Bahagianya kamu Kak Andre bersama Citra. Ternyata kamu yang dingin, bisa tertawa juga Kak. Senang rasanya bisa melihatmu tertawa.


" Ayo kita masuk, filmnya akan di mulai," ucap Gilang membuyarkan lamunanku. Dengan gerak cepat langsung menggenggam tanganku dengan tangannya sebelah. Padahal tangannya sebelah lagi membawa cemilan dan dua minum. Aku melihatnya sedikit kesulitan. Tapi ketika kutawarkan untuk membantu membawakan salah satunya, Kak Gilang menolaknya.


" Iya Kak," ucapku mengikuti langkah Kak Gilang.


Kami masuk dan mengambil duduk dibagian tengah. Aku tidak tahu dimana orang Kak Andre duduk. Terserah, aku juga punya pasangan dan pasanganku sangat posesif sehingga tidak bisa membiarkan aku untuk menjauh sedikit pun.

__ADS_1


* * * * * *


Jangan lupa Like, komentar dan Vote dan hadiahnya.


__ADS_2