Teman Palsu

Teman Palsu
Pengacau


__ADS_3

Aahhh!!!


Andre memukul stir mobilnya. Dia merasa lemah bila berada didepan Annisa. ingin rasanya membawa gadis pujaan hatinya lari sejauh-jauhnya. Tapi bagaimana dengan orang tuanya bila dia egois mementingkan dirinya sendiri. Orang tua Andre masih bekerja dengan Pak Yuda. Jika Andre berkhianat maka Orang tua Andre akan terkena imbasnya.


Aku berjalan menuju kelas, tapi saat di depan pintu ada pengacau yang menghalangi langkahku.


"Nisa, Selamat ulang tahun," ucap Candra menyodorkan sebuah kue tar berukuran kecil yang terdapat lilin yang masih menyala di tengahnya dengan senyuman semanis mungkin.


" Terima kasih Can...," ku tiup lilinnya langsung kubawa ke dalam kelas dan meninggalkan Candra yang masih terpaku melihatku menerima pemberiannya dengan senang hati. Hati Candra bersorak kesenangan karena aku telah menerima pemberian sesuatu darinya. Senyumnya melebar kala aku membawa kue yang diberinya di bawa ke dalam kelas, dia merasa senang bahwa masih ada kesempatan untuk mendekati diriku kembali.


" Siapa yang mau kue???" teriakku kepada teman-temanku yang ada di dalam kelas menyodorkan kue kepada mereka semua.


" Aku Sa, aku lapar belum sarapan," jawab Lusi yang langsung menyambar kue yang ada di tanganku dan aksinya membuat mata Candra melotot. Musnahlah harapannya, harapan Untuk berdamai dengan Annisa, dan itu semua hanya isapan jempol semata.


" Sa, itu kue dariku spesial untukmu...," ucap Candra yang tidak terima karena kuenya diberikan kepada orang lain.


" Maaf, aku udah kenyang Can..., tapikan kue itu udah kamu berikan kepadaku, kan gak ada salahnya aku berbagi, dari pada mubajir dan gak termakan, bagus di berikan pada yang membutuhkan, " ucapku dengan santainya berbicara dengan Candra. Aku sudah tau sifat Candra, yang jika dia memberi sesuatu harus mendapat imbalan. Aku bukan cewek seperti yang lain, bisa langsung klepek-klepek bila di beri sesuatu oleh seorang pria dan langsung takluk.


"Tega kamu Sa!!!," ucap Candra yang kesal dan meninggalkan kelas dan hampir bertabrakan dengan Pak Dosen ketika akan masuk Ke kelas.


" Candra, mau kemana Kamu!," teriak Pak Dosen yang melihat mahasiswanya keluar dari kelas padahal pelajaran akan di mulai.


Candra menoleh dan menatap tajam wajah Pak Dosen tanpa menjawabnya dan berlalu pergi tanpa memperdulikan teriakan Pak Dosen. Terlihat wajah candra yang emosi seperti hatinya hari ini sangat sakit sekali.


" Siapa yang tahu, Ada apa sebenarnya dengan Candra?," tanya Pak Dosen yang sedikit gemulai yang penasaran tentang sikap salah seorang Mahasiswanya yang menurutnya sangat tampan.


" Sakit hati Pak...,"teriak Arif dengan percaya dirinya dan ingin menjaili pak Dosen.


" Sakit hati sama siapa?," tanya pak Dosen kepada kami semua.


" Sama Nisa Pak," teriak Lusi menyebut namaku yang baru selesai makan kue, mulutnya saja masih belepotan oleh cream kue tar.


Pak Dosen dan teman-temanku menatap wajahku yang biasa saja, dan aku pun merasa kebingungan karena tidak ada menyakiti hati Candra. Aku menaikkan bahuku seakan aku tidak tahu apa-apa.


" Sudahlah, mungkin dia lagi PMS," ucap Pak Dosen yang asal. Perkataan Pak Dosen membuat kami Senyum-senyum sendiri.


Mata kuliah hari ini selesai juga. Beberapa jam belajar membuatku sangat lapar, aku ingin ke kantin bersama Arif. Tapi ketika berjalan ke bangku Arif, seketika ponselku berdering. Tertulis atas nama Calon suami. Dengan cepat langsung ku tekan tombol hijau. Aku tidak ingin dia menunggu lama.


"Hallo Assalamualaikum Kak,"

__ADS_1


"Wa'alaikum Salam, Ini mama Sa.. , kamu sudah selesai belajarnya?,"


"Sudah Ma..., baru aja selesai,"


" Ini mama sudah didepan,"


" I..iya Ma..., Nisa segera ke sana,"


Aku melangkah dan sebelumnya berpamitan kepada teman-temanku. Arif kebingungan melihatku yang terlalu cepat pulang, biasanya sering kumpul bersama Arif dan teman-temannya.


Dari jauh Aku melihat sebuah mobil Roll Royce berwarna hitam mengkilau keluaran terbaru


Sangat wow untuk kita kalangan orang susah. Mimpi apa aku naik mobil seperti ini. Dapat Mobil lamborghini dari Kak Gilang aja sudah sangat bahagia hatiku. Di wilayahku saja, cuma aku yang punya mobil seperti itu.


Ini Kak Gilang mobil baru lagi. Enak banget cari uangnya. Seperti apa ya banyak uangnya. Iyalah uang di Atmku yang diberi Kak Gilang saja banyak amat nolnya. Aku sampai bingung mau beli apa. Mau beli Motor gak di bolehi. Mau bayar kuliah, Ayah yang bayar. Mau beli baju, aku juga punya uang sendiri. Simpan sajalah mana tahu kedepannya aku punya anak 10, bisa untuk uang sekolah mereka. Ha...ha...10 ya.., 1 aja belum ada.


Aku sampai di depan mobil Kak Gilang, kulihat dia yang mengemudi dengan wajahnya yang imut seperti Marmut. Mama Gilang duduk di belakang dengan bahagia.


" Assalamualaikum Ma.....," ucapku menyapa calon mertuaku dengan ramah mungkin tanpa menyapa calon suamiku.


"Wa'alaikum Salam Nisa....Masuk Nak," ucap Mama gilang yang sangat bahagia melihat diriku yang sangat cantik hari ini.


Aku mengangguk dan segera masuk di bangku belakang. Sementara Kak Gilang sudah cemberut karena aku lebih memilih di belakang dari pada duduk di samping dirinya.


Gilang sesekali mencuri pandang melihat dari kaca yang ada di atas kemudinya. Galagatnya dapat di tangkap oleh mama. Mama Gilang senyum-senyum melihat kelakuan puteranya.


Aku merasa canggung duduk dengan Mama Kak Gilang. Perasaan gugup terus menderaku. Hening di mobil, tiada suara yang terdengar. sampai terdengar suara dari dalam perutku.


Kruukk..


Kruukk...


Cacing-cacing di perutku tidak bisa diajak kompromi. Mau ikutan juga mereka jalan-jalan. Aduh aku malu sekali, di depan mertua kelaparan. Memang aku belum sarapan dan tadi mau makan siang tapi keburu Mama Kak Gilang sudah memanggil.


" Kamu lapar Sa...," tanya Mama Kak Gilang yang membuatku tersipu malu.


"He...he..., iya Ma, tadi gak sempat sarapan,' ucapku yanh sangat malu dan membuat wajahku sangat memerah.


" Ya...Allah, mama gak mau menantu Mama kelaparan, Lang kita singgah makan siang dulu, kasihan menantu mama kelaparan,"ucap Mama Gilang meminta kepada puteranya segera membagi restoran untuk makan siang.

__ADS_1


"Iya Ma...," ucap Gilang dengan semangat.


Tidak berapa lama mobil berhenti tepat di salah satu restoran mewah. Kami turun dan Mama langsung menarik tanganku.


" Ayo Nak ikut Mama," ucap Mama Gilang membawaku masuk ke dalam. Aku merasa minder dengan pakaianku yang seperti ini. Kalau Mama Kak Gilang dari auranya saja sudah terlihat kalau dia orang senang dan apalagi pakaiannya, dari atas ke bawah branded semua.


Gilang sudah mati kutu tidak sempat berdekatan denganku. Kami masuk dan mencari tempat duduk yang strategis untuk makan bertiga.


Kak Gilang cepat-cepat mengambil tempat duduk di sebelahku. Mama yang melihat tingkah puteranya hanya Geleng kepala. Kelakuan anak dan Papanya sama saja tiada bedanya. Mama Gilang memesan menu makan siang yang aku tidak tahu namanya. Namanya saja sudah seperti bahasa inggris, terasa asing di telingaku. Tidak butuh lama akhirnya makan siang kami pun datang dengan meja yang berisi penuh.


Aku merasa ini seperti pemborosan uang. Ini bisa untuk makan satu minggu tepatnya. menunya terlalu banyak. Beraneka macam masakan di hidangkan. Makanan seafood yang sangat menggugah selera. Berapa ya kira-kira menghabiskan makan satu meja begini . Ah, pasti sangat mahal, dan harganya mungkin sampai bisa beli motor satu.


" Makan Nak..., habiskan kalau perlu," ucap Mama Gilang yang lansung menyantap makanannya begitu juga dengan Kak Gilang.


Gila...makan sebanyak gini di suruh menghabiskan semuanya, gak salah...


Heran aku yang lapar siapa tapi yang makan duluan juga siapa. Aku dengan percaya diri mengambil menu yang sangat menggiurkan lidahku. Akhirnya dengan perlahan perutku kenyang. Makanan di meja juga tinggal beberapa menu lagi.


Mama Kak Gilang memanggil pelayan, dan memintanya untuk segera membungkusnya karena akan di bawa ke butiknya. kemudian menuju kasir membayar semua tagihan makanannya


" Untuk siapa lagi Ma..." tanyaku penasaran


" Nanti kalau kamu lapar lagi kan bisa makan lagi, jadi gak usah jauh-jauh cari makanan di luar," ucap Mama Gilang yang sangat perhatian.


Gilang terlihat senyum-senyum akan perhatian mamanya. Dia sangat bersyukur Mamanya sangat sayang kepada calon istrinya.


"Ayo kita ke mobil Nak...," ucap Mam Gilang memegang tanganku untuk masuk ke dalam mobil.


Mobil melaju membelah jalanan, dan tiga puluh menit kemudian, samapilah mobil di depan butik yang lumayan besar. Kami berjalan masuk ke dalam butik yang sangat mewah.


"Mama Banyak pesanan di butik, nanti temani Nisa ya Lang.., ini teman-teman Mama Bolak-balik nelpon mama sudah mnunggu di ruangan Mama. Mama tinggal dulunya sayang...," ucap Mama Gilang mencium pipiku dan meninggalkan diriku berdua dengan Kak Gilang. Dia memperlakukan seperti puterinya sendiri.


" Ayo dek kita keruangan pribadi Mama," ajak Kak Gilang kepada diriku.


Para karyawan Mama Kak Gilang sedikit berbisik-bisik ketika melihat diriku masuk bersama majikan mereka.


" Wih tampan bener ya wajah Tuan Gilang, andai dia bisa menjadi milikku, sangat senangnya diriku punya suami setampan dia dan punya mertua sebaik Nyonya Dewi," ucap karyawan Berbadan gemuk yang percaya dirinya tingkat dewa.


" Ngaca, badanmu gembrot, mana mau di dengan kamu, lihat tuh yang di samping sangat cantik, mungkin itu pacarnya," ucap karyawan yang berbadan kurus bernama Siti.

__ADS_1


" Biasa aja gayanya, kok mau ya Tuan Gilang dengan wanita yang biasa aja, cantikkan juga aku," ucap Para pekerja lainnya yang suka ngegosip.


" Ehemm," Mama Gilang keluar dari ruangannya mendengar keributan dari diluar membuat dia merasa terganggu. Akhirnya para karyawan bubar dan mengerjakan pekerjaan yang lain.


__ADS_2