Teman Palsu

Teman Palsu
Kesedihan Annisa


__ADS_3

Gilang menghidupkan mobilnya menuju keluar melewati gerbang rumah Annisa. Bima yang melihat sebuah mobil keluar dari halaman rumah Annisa memandangi dengan penuh selidik dan mengambil sepeda motornya mengikuti dari belakang.


Gilang fokus mengemudi melihat Jalanan yang Ramai di hari weekend ini. Penuh lalu lalang kendaraan membuat jalanan penuh asap dan suara bising kendaraan. Annisa merasa ketika keluar dari halaman rumahnya ada yang mengintai rumahnya dari jauh, dua pengendara sepeda motor yang tidak Annisa kenal pura-pura berbincang-bincang ketika mobil Gilang melintas.


Mereka seperti tidak mengenal Annisa, terbukti mereka tidak mengikuti mobil yang baru keluar. Annisa pun merasa lega akhirnya lepas dari incaran mereka.


" Ehmm..., melamuni apa Dek" Deheman Kak Gilang membuyarkan lamunanku.


"Enggak Kak, Nisa hanya mikir sampai kapan Nisa terus menyamar seperti ini, Nisa takut Kak," ucapku yang terus memikirkan keselamatan diriku.


" Tenang sebentar lagi, anak buah Papa akan menangkap pelakunya, bagaimana tawaran Kakak Dek, apa sudah Adek pikirkan," ucap Gilang mengingatkan.


" InsyaAllah Kak, satu minggu lagi akan Nisa jawab," ucapku menjelaskan.


"Kakak akan menunggu," ucap Gilang dengan kesabarannya.


Tidak berapa lama mobil Gilang pun sampai di rumah sakit. Gilang yang sudah memarkirkan mobilnya membukakan pintu mobil untuk Annisa, Nisa pun langsung turun. Banyak mata memandang wajah Annisa yang terlalu cantik untuk datang ke rumah sakit.


Sebenarnya Annisa juga tidak mau seperti ini jadi bahan tontonan. Gilang memberi Annisa sebuah kaca mata agar percaya diri ketika di lihat oleh khalayak ramai. Tahu juga Gilang dengan kegelisahan Annisa. Gilang dan Annisa berjalan berdampingan, seperti pasangan yang serasi yang membuat jiwa merasa iri melihat mereka berdua.


Suster-suster jomblo merasa meronta-ronta jiwa kejombloannya, Begitu pun juga perawat yang laki-laki seakan tak jemu memandang wajah Annisa, bak modeling yang tersesat tidak tahu jalan pulang dan tidak punya sanak keluarga terpaksa mencari keluarganya di rumah sakit karena ingin mengadopsi dahulu.


Sampailah kami di depan ruangan Arif, Kak Andre yang sudah mengetahui kami datang segera membuka pintu sebelum kami masuk. Kak Andre ingin melihat situasi mana tahu ada yang sembunyi-sembunyi mengikuti dari belakang. Sedih kalau begini gak bisa bebas.


Arif telah bangun dan menyandarkan tubuhnya ke sisi ranjang rumah sakit. Wajahnya tampak menyedihkan seperti pemain tinju yang babak belur terkena hantaman. Arif tidak mengenalku, dia bingung.


Aku mengerti akan kebingungannya. Kulepas kacamataku, rambut Wig dan ku hapus riasan diwajahku. Arif menangis memandang diriku. Dia memintaku untuk mendekat dan membisikkan sesuatu ditelingaku karena bibirnya penuh luka. Dia tidak bisa bersuara lebih keras.


Mendengar ucapan Arif aku merasa shok, kecurigaanku benar bahwa mereka telah menyabotase motorku. Arif menabrakkan diri karena rem motorku tidak berfungsi. Aku menangis melihat keadaannya karena melindungiku dari kecelakaan itu.


Kak Gilang yang melihatku menangis segera menenangkan diriku, Gilang takut aku akan trauma kembali. Kak Gilang dan Kak Andre terlihat berbicara sangat pelan seperti orang yang berbisik-bisik, tidak lama kemudian Kak Gilang segera pergi keluar.


Andre kembali ke ruangan dan duduk kembali ke sisi ranjang Arif


" Kak, Nisa lelah terus diawasi begini, Nisa gak tenang Kak, Nisa takut mereka kan mencelakai Kak Gilang juga," ucapku kepada kak Andre sambil menangis menatap keadaan Arif.

__ADS_1


" Kamu tenang Sa, sebentar lagi mereka akan tertangkap," ucap Andre menenangkan diriku.


Pintu terbuka seorang pria dan wanita paruh baya masuk ke ruang inap Arif. Mereka baru tiba dari luar negeri dan akan membawa Arif berobat ke sana.


Tante Mira, mama Kak Andre dan Arif menenangkan diriku. Mereka sangat baik, keluarga Arif sudah berjanji kepada Keluarga gilang akan mengabdikan dirinya kepada keluarga Gilang.


Karena mereka dulu pernah berhutang nyawa kepada keluarga Gilang. Keluarga Gilang sudah terlalu banyak membantu keluarga Arif.


Gilang masuk kembali keruangan bersama Bima, aku merasa terkejut. Mengapa mereka bisa berdamai, setahuku Kak Gilang paling anti dekat dengan Kak Bima.


Ternyata yang akan membantu menangkap tersangka adalah Bima dan teman-temannya. Aku yang di minta untuk menjadi umpan dalam penyergapan nanti. Supaya Kak Bima lebih mudah untuk menangkap komplotan mereka.


Kak Gilang mendekatiku memberikan semangat agar aku bisa menjalani hari esok. Esok hari adalah hari yang menegangkan bagiku, dimana Aku menjadi umpan dengan Naik motor sendirian lagi di jalan.


Bagaimana jika diriku menjadi korban selanjutnya. Ya Allah selamatkan Nisa ya Allah.


Waktu sudah sore, keberangkatan Arif dan orang tuanya keluar negeri sudah di urus oleh Kak Gilang. Kak Andre dan Kak Gilang ikut mangantarku pulang.


Kak Gilang yang duduk di belakang bersamaku membuatku sesak, dia terus saja memandangku, aduh tubuhku terasa gerah, jadi meleleh seperti es batu. Kalau perlu ada lemari pendingin biar tidak menyusut karena terlalu keseringan di lihat.


" Kenapa loe ketawa" ucap Gilang kepada Andre.


"Enggak Lang, lucu aja,"ucap Andre yang terus tertawa


"Apanya yang lucu," ucap Gilang kesal yang ditertawai.


" Ehmm kalau mau puas, halalin aja Lang, bisa sepuasnya natapi wajah gadis di samping loe," ucap Andre menjaili Gilang.


"Bilang aja loe irikan," ucap Gilang kepada Andre.


"Bukan iri Lang, Tapi jodoh gue aja yang belum besar" ucap Andre bercanda.


" Beh ha...ha...ha...," aKu tertawa mendengar ucapan Kak Andre. " Jodohnya masih bayi ya kak," ucapku kembali.


Gilang dan Andre melihat aku tertawa merasa senang, dilihatnya aku sudah bisa tersenyum kembali. Bagi Andre aku seperti Adek perempuan mereka, malah kebalik rasanya yang jadi abangku. Bang Raga samaku saja terlalu dingin.

__ADS_1


Tanpa terasa mobil sudah berhenti di halaman rumahku. Aku mengajak mereka singgah di coffee shop Tante Devi. Menu yang ku pesan segera datang dan terhidang di meja. Citra datang menghampiri Kak Andre dengan baju kasualnya seperti laki-laki benaran.


" Hallo Om, boleh kenalan," ucap Citra kepada Andre.


Andre yang mendengar sapaan Citra mengerutkan keningnya.


bocah ini ngeselin banget sih, masa ganteng-genteng gini dibilang Om-Om.


" Kapan gue kawin sama Tante loe"ucap Andre kesal.


" Wih, galak bener..., tadi makan nasi pakai lauk apa Om, kok ngegas," ucap Citra.


"Lauk manusia di masak rica-rica," ucap Andre yang melotot memandang Citra.


" Serem..., Kak Nisa kok bisa temenan sama orang yang makan manusia ya, kalau gitu makan saja saya om, saya rela masuk ke perut Om apalagi ke hati Om," ucap Citra yang menjaili Andre dan mengedipkan sebelah matanya.


iss...iss...manusia jadi-jadian dari mana nih, dikiranya gak ada cewek lagi yang mau sama gue, masa jeruk makan jeruk.


" Mikiri apa Om, Mikiri aku, nanti jatuh cinta lho...," ucap Citra yang narsis.


uhuk


uhuk


Andre tersedak ketika dia minum Kopi dan Citra yang melihat segera mendekat dan menepuk punggungnya tapi langsung di tepis oleh Andre.


" Udah jangan dekat-dekat, elergi gue lihat loe, sana pergi," ucap Andre emosi.


" Dasar manusia tidak tahu terima kasih, di kasih kopi gratis malah ngusir yang punya tempat ini," ucap Citra yang balik emosi.


" Ha...ha...kalau ngomong jangan ngehalu...." ucap Andre kepada Citra.


" Emang iya kok, tanya saja sama Kak Nisa," ucap Citra memandang Annisa dan tersenyum sinis kepada Andre.


Nisa yang ditatap Andre pun menganggukkan kepalanya. Nisa yang duduk dengan Gilang semenjak tadi memperhatikan perdebatan mereka berdua sampai senyum-senyum sendiri.

__ADS_1


__ADS_2