Teman Palsu

Teman Palsu
Berita mengejutkan


__ADS_3

Deru suara mobil terdengar di halaman rumahku. Kulihat Mang Amir turun dari mobil dan berjalan menuju ke arah kami. Kak Gilang melihat Mang Amir, segera berpamitan dan melangkah pergi menuju mobilnya.


Aku rasa ada sesuatu yang dipikirkan Kak Gilang sampai dia lupa mengatakan jam berapa keberangkatan kami esok hari. Aku berjalan ke taman bunga yang ada di belakang rumahku. Senang rasanya melihat bunga-bunga indah bermekaran. Ibu sengaja menanam bunga-bunga itu sebagai pengobat hati dikala kita terlalu banyak memikirkan masalah yang sulit untuk dipecahkan.


kulihat diatas meja terdapat gembor untuk menyiram tanaman. Dengan riang aku mengambil air dan menyiram semua tanaman ibu. Citra diam-diam dengan langkah berjingkat datang mengejutkan diriku.


Dor!!!


"Eh , citra... Astaghfirullahaladjim..., ngejuti aja kamu!, jantungan Kakak Cit...," ucapku setengah jengkel dan mengelus-elus dadaku.


"Ha...ha...kak Nisa melamun ya...jangan melamun nanti ke sambet lho, kasian Kak Gilangnya kalau Kakak ke sambet, nanti citra ambil lho kak Gilangnya," ucap Citra yang sudah menjaili aku.


"Ah Kamu ini, dasar bocah tengil," ucapku yang terkadang kesal melihat tingkah usilnya.


"Tengil-tengil, tapi cantik kak," ucap Citra yang kepedean, tersenyum menunjukkan gigi putihnya.


" Dari mananya cantik, ganteng sih iya," ucapku yang gantian ngerjain si Citra.


" He...he..., seratus untuk Kak Nisa, tapi hutang...ha...ha....," ucap Citra yang berlari duduk di ayunan.


" Edan...," ucapku dan kembali menyiram bunga yang ada di taman.


" Kak," ucap Citra memanggil diriku.


" Hemm...," aku hanya mengeluarkan suara deheman karena malas menyahuti bocah tengil itu.


"Kak!!!," teriak Citra yang sangat kuat.


" Iya, ada apa Citra?..., kenapa teriak-teriak...," ucapku yang bising mendengar suara cempreng Citra.


" Habisnya kakak di panggil gak nyahut," ucap Citra yang kesal dengan sikapku.


"Ada apa? tanyaku kepadanya.


" Ajari Citra karate Kak," ucap Citra yang membuat aku tertegun.


" Untuk apa?," tanyaku yang merasa heran mendengar ajakan Citra.


" Ya untuk jaga dirilah, kakak dulu pertama belajar untuk apa" ucap Citra dengan santainya.


" Ya untuk jaga diri,"ucapku berkata jujur.


" Ha...itulah niat Citra, ya kak Nisa, kakak mau kan..." ucap Citra membujuk diriku.


"Di mana kita latihannya? ucapku yang ingin tahu tempat latihan.


" Di sini, di taman saja," ucap Citra yang ingin memilih tempat yang nyaman.


"Gak usah kita latihan ditempat latihan kakak aja ya, gimana," ucap Aku memberi arahan.


" Oke, Kak," ucap Citra yang semangat.


" Iya," ucapku tanpa membantah bicaranya.


" Kak Nisa, kenapa membiarkan Kak Gilang pergi walaupun hati Kakak merasa ragu," ucap Citra mencoba mengorek perasaan ku selama di tinggal nanti.


" Enggak tahu Dek, Kakak merasa egois kalau Kak Nisa menahan Kak Gilang pergi ke sana...," ucapku menjelaskan kepada Citra


" Mengapa egois kak, 3 tahun itu terlalu lama?


ucap Citra yang tidak habis pikir dengan jalan pikiran Kakaknya.


"Iya, kakak tahu itu terlalu lama tetapi Papanya Kak Gilang sangat berharap Kak Gilang dapat menggantikannya memimpin perusahaannya kelak, siapa lagi yang diharapkan menggantikan perusahaan, kalau bukan Kak Gilang sendiri. Kamu kan tahu, anak Pak Yuda cuma Kak Gilang. Kakak tidak ingin suatu saat ada penyesalan di belakang hari," ucapku yang tidak di ingin ada selentingan terdengar mengatakan diriku menahan Kak Gilang pergi.


"Apakah kakak tidak takut Kak Gilang akan pindah ke lain hati?," ucap Citra yang terus bertanya seperti wartawan.


" Ya takut sih ada, tapi jodoh itu yang mengatur Allah, Kita tidak tahu ke depannya bagaimana. Kalau Allah berkehendak, sejauh Kak Gilang melangkah Kak Gilang tetap kembali kepada Kakak," ucapku yang hanya yakin kepada Allah dan aku percaya kepada Kak Gilang beliau adalah seorang pria yang dapat memegang janjinya.


"Teguh benar pendirian Kak Annisa ini, terus mantan Kakak masih gangguin Kakak apa Gak?


ucap Citra yang menjaili Kakaknya.


"Siapa?,"tanyaku yang penasaran.


" Kak Candra," ucap Citra yang menyebutkan nama seseorang yang pernah singgah di hatiku.


" Eh tau dari mana Kamu," ucapku yang merasa terkejut mendengar pengakuan Citra.

__ADS_1


" Tahulah, Citra gitu lho...," ucap Cita yang menunjukkan membanggakan dirinya.


" Kakak itu primadona kampus, masa berita kecil aja Citra Gak tau," ucap Citra yang kembali mengucapkan hal yang di ketahui.


” Sudah sana pergi kamu, ganggu aja," ucapku yang bosan di jaili terus oleh Citra.


" Iya deh, calon Nyonya Gilang Prayuda..., " ucap Citra yang membuatku muak, ku ambil gembor plastik dan ku lemparkan ke arah dirinya tanpa disangka gembor mengenai kepalanya.


Kletok!


" Au.., Mama!!!, Kak Nisa jahat ma...," teriak citra yang pura-pura kesakitan karena di lempar oleh Annisa dengan gembor penyiram bunga, sedangkan Annisa begitu melihat Citra menjerit langsung kabur. "Ha...ha..., kapok Kak Nisa aku kerjai, emang enak di kerjain," ucap Citra yang berayun-ayun di taman.


Aku berlari menuju kamar dan mengunci kamarku, jantungku berdebar kala aku di teriaki Citra yang menangis karena ku lempar pakai gembor. Aduh bagaimana ini, pasti Tante Devi marah. Ku rebahkan tubuhku ke tempat tidur dan tidak sengaja mataku melihat sebuah gitar yang sudah lama tidak ku pakai. Ku ambil gitar pemberian Bang Raga di ulang tahunku yang 17 tahun. Ku hapus debu yang menempel dan mencoba memetik senarnya. Tiba-tiba terdengar ponselku berdering. Ku lihat atas nama calon Imam dan beralih ke mode VC.


" Hallo, Assalamualaikum Kak,"


"Wa'alaikum Salam, cepat banget ngangkatnya


lagi ngapain Sayang...,"


" Main Gitar Kak,"


" Lagu apa,"


" Ada deh,"


" Kakak mau dengar dong Sayang,"


" Tapi gak enak lho suaranya...Kak?


" Gak apa-apa lho Sayang..., ayo cepatan,"


"Tunggu Ya, Nisa letakkan dulu ponselnya,"


"Terlihat, kak...,"


" Iya sudah Sa..., cantik ya...,"


"Apanya,"


" Oke,"


...Haruskah kuulangi lagi


Kata cintaku padamu


Yakinkan dirimu


Masihkah terlintas di dada


… Keraguanmu itu


Susahkan hatimu


Tak akan ada cinta yang lain


Pastikan cintaku hanya untukmu


… Pernahkah terbersit olehmu


Aku pun takut kehilangan dirimu


Ingatkah satu bait kenangan


Cerita cinta kita


… Tak mungkin terlupa


Buang semua angan mulukmu itu


Percaya takdir kita


Aku cinta padamu


… Tak akan ada cinta yang lain


Pastikan cintaku hanya untukmu

__ADS_1


Pernahkah terbersit olehmu


Aku pun takut kehilangan dirimu


… Akankah nanti terulang lagi


Jalinan cinta semu


Dengarlah bisikku, bukalah mata hatimu


… Tak akan ada cinta yang lain


Pastikan cintaku hanya untukmu


Pernahkah terbersit olehmu


Aku pun takut kehilangan.


Terdengar suara tepuk tangan dari Kak Gilang di seberang sana, senyum cerianya dan gigi putihnya menambah kadar ketampanannya. Sebuah lagu ungkapan hatiku untuknya telah ku nyanyikan di depannya. Walaupun tidak di hadapannya langsung, tetapi aku berharap dia mengerti akan perasaanku.


"Dek...,"


"Iya Kak,"


"Kakak harap kamu jangan marah ya,"


" Ada apa Kak?


Aku melihat Kak Gilang menangis dengan tersedu. Tidak pernah aku melihat Kak Gilang sesedih ini, airmatanyabterus mengalir dan amtanya merah. Hatiku terus bertanya, ada apa sebenarnya dengan Kak Gilang? Dia terlihat sulit untuk mengatakan yang akan di ucapkannya.


" Kakak besok harus pergi Dek, jadwal Kuliah Kakak sudah di mulai lusa untuk anak yang mendapat Beasiswa Dek,"


" Terus kapan Kakak berangkat?,"


"Besok pagi? kenapa terlalu cepat Kak..., tidak bisakah menunggu lusa sampai menunggu pembukaan Toko Nisa yang baru,"


" Tidak bisa Dek, jika Kakak terlambat, maka beasiswa Kakak akan di tarik kemabali, sebenarnya Papa Kakak mampu menguliahkan Kakak dengan uangnya sendiri, tapi Kakak ingin belajar mandiri, supaya Kakak supaya bisa cepat menyelesaikan kuliah Kakak,"


" Kakak memang hebat mendapat beasiswa,"


"Itu juga berkat kamu penyemangat Kakak. Kakak Gak tahu, apakah Kakak bisa betah hidup di sana tanpa kamu Sayang???,"


"Kakak, Nisa sudah ikhlas kalau Kakak kuliah di sana, ini untuk masa depan Kita dan masa depan perusahaan Kakak, ingat perusahaan Kakak banyak memiliki karyawan, Kakaklah ke depannya yang melanjutkan perusahaan orang tua Kakak. Mata pencaharian para karyawan tergantung dari perusahaan kakak, mereka berdoa dan selalu berharap perusahaan itu tetap berjalan Kak,"


" Iya kamu benar, Dek malam ini kamu di bolehi ibu gak ya tidur ditempat Kakak, Kakak ingin sebelum besok kakak pergi, kakak bisa puas berbicara denganmu,"


" Tapi Kak,"


"Kakak janji gak akan macam-macam, ingat perusahaan Kak ada di mana-mana, jika Kakak macam-macam, maka perusahaan kakak akan hancur,"


"Nisa takut Kak, ibu gak ngizini,"


"Kakak akan coba bawa Mama nanti malam,"


" Kak, kalau ibu juga gak ngizini bagaimana?,"


" Kakak bawa semua keluarga kamu, udah apa lagi yang mau Sayang tanya?


" Enggak ada,"


" Sayang cukup berdoa saja, supaya Kakak di izini bawa Sayang nanti malam,"


" Iya, terus bagaimana besok jalan-jalannya,"


" Maaf Kakak besok tidak tidak bisa


menemanimu jalan-jalan, Kakak udah bilang sama Andre agar kalian tetap pergi sesudah pulang mengantar Kakak, jangan lupa bawa Citra untuk temanmu di sana,"


" Iya kak,"


"Ya sudah, siap-siap Dek, kemasi kian bajumu yang akan di bawa, Kakak minta tolong sampaikan kepada ibu terlebih dahulu sebelum kakak datang, bisa kan Dek,"


"Iya Kak,"


"Assalamualaikum "


" Wa'alaikum Salam,"

__ADS_1


__ADS_2