
Keesokan paginya, Aku cepat bangun pagi ingin mempersiapkan keperluan diriku dan juga membantu ibu. Cuaca yang dingin tidak menyurutkan semangatku untuk bangun cepat. Selesai shalat subuh, langsung berberes seperti ibu yang sudah punya anak 10. Senyum ceria di wajahku melihat semua sudah rapi.
Sarapan sudah terhidang di meja, tinggal menunggu ayah dan Ibu serta Bang raga di meja makan.
Aku pun bersiap memakai baju stelan kemeja dan celana kain, dengan jilbab yang senada dengan warna bajuku membuat penampilanku seperti wanita dewasa. Ku lihat di cermin wajah polosku, belajar memoles sedikit agar kelihatan manis. Perfect
Aku keluar membawa tas ransel yang sudah lama tidak kupakai, ingin memberi semangat kepada orang yang mengantar diriku ke kampus hari ini. Ayah, ibu dan Bang Raga sudah duduk manis di meja makan menyantap hidangan yang sudah ku masak tadi pagi. Walau hanya telur sambal, tetapi cukuplah dikatakan sempurna. Untuk penilaian rasa tidak jauh beda dengan warung nasi di warung sebelah.
Suara deru mobil terdengar di halaman rumah, orang yang datang mengucapkan salam. Ku jawab dan ku lihat orangnya karena suaranya tidakku kenal.
"Maaf Neng, Den Gilang meminta saya mengantar Eneng ke kampus. Nanti sewaktu pulang, Den Gilang yang akan menjemput Eneng. Den Gilang ada urusan pagi ini, bengkelnya lagi ada masalah," ucap Supir Kak Gilang menjelaskan.
" Iya, Gak apa -apa Mang, ayo kita berangkat mang," ucapku masuk ke dalam mobil.
kenapa bengkel kak Gilang mang," ucapku penasaran.
" Oh, ada yang menjual onderdil motor dibengkelnya diam-diam dengan harga yang lebih murah. Sehingga membuat pemasaran onderdil dengan harga yang normal mereka tidak mau, pemasaran menurun," ucap Mang joko, supir Gilang menjelaskan.
Tidak berapa lama sampailah aku di kampus, melangkah masuk melewati pintu gerbang. tampak mahasiswa yang cowok memperhatikan diriku dari jauh. Cuek saja, untuk apa di ladeni mereka. Satu tepukan di pundakku, membuatku terkejut dan segera berbalik melihat kebelakang.
" Nisa,"ucap Candra mengejutkan diriku.
" Candra, kamu kuliah di sini?ucap ku yang terkejut melihat Kehadiran Candra yang tiba-tiba.
"Iya, aku baru masuk, bagaimana keadaanmu?," tanya Candra kepadaku.
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja,"Jawabku kepada Candra yang terlihat senyum di wajahnya.
" Syukurlah, kamu dalam keadaan sehat," ucap Candra.
Pak dosen berjalan menuju ke kelas. Semua Mahasiswa berlarian masuk, aku pun juga bergegas, takut Pak Dosen killer masuk mendahului aku.
Ku lihat kursi di belakang tidak ada yang kosong, terpaksa deh mengambil tempat duduk di depan. Candra yang masuk juga duduk di sampingku.
Tak
Tak
__ADS_1
Bunyi sepatu pantofel terdengar seperti tempo detak jantungku yang menunggu Pak Dosen masuk.
"Selamat pagi semua," ucap Dosen baru yang menggantikan Dosen killer.
Aku tertegun melihat sang Dosen baru yang gagah, kemana sang Dosen yang umurnya sudah setengah abad itu? sudah tua dan sangat cerewet.
"Perkenalkan nama saya Andre wijaya, Dosen baru kalian yang sementara waktu menggantikan pak Darwis, beliau sedang keluar kota karena ada urusan keluarga," ucap Andre sekali-kali memandang diriku karena Andre sudah mengenal diriku sejak lama.
Mahasiswi perempuan bersuara dari belakang,
"Belajarnya sama bapak aja juga gak apa-apa Pak?ucap Mahasiswi yang bernama lusi. Lusi juga cantik dan tomboy seperti diriku. Hanya saja dia tidak mau berhijab, dengan rambut pendek dan bajunya pun mengikuti gaya seperti laki-laki.
Andre hanya menanggapi dengan tersenyum dan melirik diriku. Aku yang ada di depannya tersenyum, berbeda dengan Candra yang angkuh melihat Andre. Aku memperhatikan pelajaran sampai selesai.
Mata kuliah telah selesai ku jalani hari ini, Candra berjalan menghampiri diriku yang akan menuju gerbang.
"Sa, tunggu,"ucap Candra yang sedikit berlari mengejar diriku yang terus berjalan.
"Ada apa Can? ucapku yang berbalik menghadapnya.
" Apakah kau masih marah padaku?ucap Candra dengan muka sendunya.
" Dek, ayo kita pulang," ucap Kak Gilang yang sudah menggandeng diriku.
Jiwa keposesifannya membuat dirinya murah cemburu, dan segera menarikku ke dalam mobil. Candra yang melihat diriku di gandeng Kak Gilang dari jauh hanya pasrah dan berharap ada celah baginya untuk mendekati diriku kembali.
Aku sudah di dalam mobil dan memasang sabuk pengamanku. Kak Gilang diam saja, wajahnya terlihat dingin.
" Kak, ucap ku agar dia mau bicara," ucapku yang merasa kesannya didiamkan terus.
"Hem...," ucap Kak Gilang yang enggan menatap diriku.
"Kak, kakak kok diam saja sih, kalau gak mau bicara, Nisa turun aja ya,"ucapku yang mulai emosi.
Mendengar perkataanku, Kak Gilang menghentikan mobil Mendadak, dia tampak marah dan memeluk diriku.
"Dek, kakak gak sanggup lihat kamu di dekati pria lain, bagaimana kakak nanti jauh di sana? pasti banyak pria yang dekati kamu,"ucap Gilang dengan kecemburuannya.
__ADS_1
"Kakak harus percaya dengan Annisa," ucapku mencoba meyakinkannya.
"Tapi Dek, kakak cemburu melihat kamu jalan dengan pria lain, apalagi itu mantanmu," ucap Gilang yang masih cemburu.
Aku melepaskan pelukannya.
"Kak kita gak baik seperti ini, ini di tempat umum, jadi tidak Kak, kita beli cincinnya?, kalau tidak jadi kita pulang," ucapku yang masih ngambek.
"Iya, jadi, maafkan Kakak ya Dek,"ucap Kak Bilang yang memegang tanganku.
Mobil berhenti di toko mas terbesar di Bandung. Kami menuju ke dalam, baru masuk mereka sudah mengenal dan sangat akrab dengan Kak Gilang. Pelayanan yang sangat baik membuat diriku bertanya-tanya. Apakah Kak Gilang sering kemari, sampai-sampai Kak Gilang merasa di hormati dengan pekerja di toko mas ini.
Pekerja Toko menunjukkan model cincin yang terbaru dengan model yang indah.
"Kak, yang ini saja,"ucap ku yang melihat modelnya sederhana tapi terlihat kesannya mewah.
"Tolong siapkan yang ini," ucap Kak Gilang kepada pek,erja Toko.
" Iya Tuan," ucap Pekerja yang segera menyiapkan cincin tersebut dan meneteskan kotak berwarna merah kepadaku.
" Kita makan dulu ya Dek," ucap Kak Gilang kepada diriku.
"Iya kak,"ucap diriku yang menyetujui ajakannya
Diriku dan Kak Gilang masuk ke mobil, dan menuju ke tempat makan yang enak. Makan ayam penyet ektra pedas. 15 menit makanan tersaji, menu makan mantap. setiap hari begini bisa gemuk.
"Dek, 4 hari lagi Kakak wisuda, kamu datang ya di hari wisuda Kakak? ucap Bilang yang mengharapkan gadis pujaan hatinya.
"Iya kak?,"ucapku, walau aku tahu Kak gilang lebih dahulu wisuda dari pada Bang Raga. Otaknya yang sangat cerdas membuat Kak Gilang cepat menyelesaikan kuliahnya.
Aku dan Kak Gilang makan dalam diam dan tidak butuh waktu kama kami menyelesaikan makan dan segera pulang ke rumah.
Dua hari kemudian
Hari ini tepat di hari pertunanganku, Ayah, Ibu dan Bang Raga sudah bersiap dengan baju batiknya, sedangkan aku masih di dandani oleh para Mua di dalam kamar. Diriku yang tidak pernah berdandan, merasa takjub dan terheran. Merasa bukan diriku di depan cermin, ku cubit tanganku membayangkan apakah ini merupakan mimpi. Kalau ini mimpi, aku tidak ingin ceoat bangun.
__ADS_1
Detak jarum jam seakan sejalan dengan detak jantungku yang menunggu kedatangan Kak Gilang. Ku lihat jarum jam yang sudah tepat jam 09.00 pagi. Hatiku semakin tidak menentu. Keringat dingin membasahi dahiku, dan mendapat teguran dari para Mua karena berulang kali mengusap dahiku dengan tisu sehingga bedak di wajahku ikut terhapus.