
Surprise ini membuat Dirga bertanya-tanya, hati kecilnya merasa tidak enak. Dirga mempunyai pirasat bahwa hadiah ini adalah berita ingin menjatuhkan dirinya. Tangannya terasa dingin. Keringat bercucuran dari dahinya. Rini dengan gaya pongahnya membusungkan dadanya seolah dirinya berhak mendapat surprise yang sangat berharga dari kalangan bisnisnya. Dia membayangkan hadiah itu adalah Sebongkah berlian atau permata atau intan yang sangat berkilau. Dia tidak sadar pengusaha nomor 1 itu adalah Keluarga Yuda, saingan berat suaminya.
Seperkian detik berputar rekaman dilayar, mempertontonkan Dirga telah bekerja sama dengan Rudi Nugraha ingin mencelakai Annisa, calon istri Gilang. Suara percakapan mereka sangat jelas dalam rekaman itu. Dan memperlihatkan kecelakaan Annisa yang entah siapa merekam kejadiannya. Walaupun sedikit gelap tapi masih bisa memperlihatkan wajah korban yang ada di layar.
Rekaman itu membuat Aku terkejut dan hampir sok, belum hilang dari ingatanku dua tahun yang lalu, Rini ingin menjebakku dan kini terulang kembali ayahnya ingin mencelakaiku. Para tamu riuh membicarakan orang yang ada di pelaminan. Satu jam yang lalu di puja-puja dan sekarang mereka diejak-ejek. Nasibmulah Dirga.
Dirga mengepalkan tangannya. Buku-buku tangannya sampai berbunyi. Ingin rasanya dia menghancurkan semua orang yang mencibir dirinya saat ini. Hari yang dianggapnya sangat bersejarah dan bahagia akan kehadiaran Istri yang cantik jelita dan calon buah hati yang masih dikandung istrinya.
Berlanjut kepada rekaman kedua, rekaman dimana Rini menghina seorang gadis sebagai sahabatnya sendiri di sebuah butik yang terkenal di kota itu. Rini berpura-pura tidak mengakui Annisa sebagai sahabatnya dan malah Dirga ikut-ikutan ingin mengusir Annisa di butik tersebut. Syukurnya Ada Gilang yang mencegah pengusiran itu.
Penghinaan berujung menjadi percekcokan antara Pemilik Butik dan Dirga. Masih ingat para Undangan melihat berita yang sedang viral baru-baru ini. Dan berita tersebut masih panas-panasnya. Semua mata melotot melihat awal mula berita itu, ternyata mereka salah tapsir.
Penyataan mereka diawal mengatakan, kalau pemilik butiklah yang arogan dan sangat bar-bar, ternyata kesalahan malah jatuh kepada sepasang suami istri yang sangat pongah. Dua rekaman yang menuju korban yang sama, mereka sampai bingung siapakah gadis itu sebenarnya. Sungguh spesial gadis itu sampai sangat di bela oleh keluarga Prayuda.
Aku digandeng Kak Gilang menuju podium dan Gilang mengambil alih mic yang masih dipegang MC. Dengan keberaniannya di depan para undangan banyak, dia mengumumkan kepada para undangan bahwa korban yang mereka lihat di rekaman itu adalah aku, Annisa Zakira Puteri, calon menantu keluarga Prayuda.
__ADS_1
Dirga matanya menyusuri undangan yang ramai, tidak terlihat seorang pun anak buahnya yang setia kepadanya.
Dia heran mengapa anak buahnya tidak bertindak dan seorang pun tidak ada yang muncul. Dia tidak tahu sebenarnya anak buahnya sudah di lumpuhkan oleh anak buah Yuda dan di masukkan ke dalam Gudang. Dirga merasa terancam, dirinya sekarang bagai telur di ujung tanduk. Ingin melarikan diri, istrinya dalam keadaan hamil muda, tidak mungkin dia rela meninggalkan istrinya.
Kehamilan di awal itu sangat rentan keguguran. Ingin bertahan ditempat itu, Dirinya pasti akan berakhir di jeruji besi.
Semua undangan terlihat berbinar melihat sepasang kekasih yang sangat tampan dan cantik diatas podium. Sungguh mereka tidak menyangka, seorang Dirga sang pengusaha kaya tega menyakiti seorang gadis yang sangat cantik dan terpilih menjadi calon menantu keluarga Prayuda.
" Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Para hadirin semua, di samping saya ini adalah Calon istri saya namanya Annisa Zakira Puteri. InsyaAllah dalam waktu dekat ini kami akan melangsungkan pernikahan kami. Jadi mumpung kita di sini, sekalian saja saya umumkan. Saya, Gilang Prayuda dan Annisa Zakira puteri akan mengadakan resepsi pernikahan kami di Hotel GP, dua minggu yang akan datang. Saya harap para undangan di dini dapat berhadir di pesta pernikahan kami," ucap Gilang dengan santainya di depan podium menggengam tanganku erat.
" Bersedia...bersedia...bersedia....," sorak para undangan yang sangat antusias. Sedangkan sepasang pengantin yang duduk di pelaminan dengan wajah mereka yang sudah kusut, tidak ada yang sama sekali memperdulikan mereka. Sungguh kasihan....
Aku menganggukkan kepalaku menerima sekuntum bunga mawar berwarna putih yang sangat harum. Kak Gilang sangat senang, dia pun langsung berdiri dan hampir saja memelukku, aku langsung mncegahnya. Aksinya membuat bahan tertawaan para undangan.
Riuh terdengar tepuk tangan para undangan yang mendengar berita bahagia, sedangkan Dirga semakin emosi karena di acaranya, anak dari Prayuda malah mempamerkan akan segera melangsungkan pernikahan.
__ADS_1
"Selamat untuk pengantin baru yang ada di pelaminan, kami sangat bahagia dan bersyukur, karena berkat kalian yang ingin selalu mencelakai Annisa, akhirnya kami bisa mempercepatkan pernikahan kami. Semoga kalian sakinah, mawaddah dan warahmah. Semoga kalau anak kalian sudah lahir akan menjadi anak yang soleh," ucap Gilang panjang lebar memberikan ucapan Selamat kepada sepasang suami istri yang tidak berkutik sedikit pun di depan para undangan.
" Amin...," semua undangan mengaminkan.
" Untuk Pak Dirga, saya tidak bisa memberikan keputusan untuk tidak menghukum Bapak, mungkin Bapak bisa melihat sendiri beberapa orang polisi sudah berdiri di depan pelaminan yang ada di depan anda sekarang. Mereka sudah bersiap untuk membawa Pak Dirga. Tapi semua keputusan ini masih perlu dipertimbangkan oleh Calon istri saya, karena dialah salah seorang korban dari semua permasalahan yang Pak Dirga buat. Saya harap dengan peristiwa ini Pak Dirga dan saudari Rini dapat bertobat dan berbuat lebih baik untuk kedepannya.Jika kalian tetap akan menyimpan dendam maka beberapa tahun kemudian, kemungkinan akan menurun kepada anak-anak kalian. Karena buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Semua kita yang disini dikehidupan kedepannya berharap, apa yang kita tanam maka itu yang akan kita tuai. Jika kebaikan yang kita tanamkan maka kedepannya akan kebaikan juga yang akan kita dapatkan. Dan jika keburukan kita tanamkan maka kedepannya keburukan juga yang akan kita dapatkan. Untuk calon istri saya, saya persilahkan untuk memberikan keputusan," Ucap Gilang yang memberikan wejangan untuk pengantin baru dan menyerahkan micnya kepada Diriku.
Bagaikan mimpi sebelum tidur di malam begini. aku bingung tentang apa yang akan aku katakan. Wajahku sangat gugup sebelum aku mengatakan sesuatu, aku menatap wajah kak Gilang terlebih dahulu ingin meminta kekuatan agar aku bisa mengatakan sesuatu yang aku tidak mengerti apakah itu termasuk hukuman atau hanya teguran.
" Ehemm..," aku gugup mengatakan sesuatu. "Assalamu'alaikum Warahmatullahi Barakatuh. Para undangan semua, sungguh kehormatan bagi saya dapat berhadir di tempat ini dan saya merasa tidak pantas berada di tempat ini. Karena sesungguhnya saya tidak diundang di tempat ini. Saya berada di tempat ini karena di ajak oleh calon suami untuk menemaninya di pesta ini. Rini..., sungguh kamu sangat cantik, aku bahagia kamu sudah menikah dan menemukan pilihanmu. Aku sebagai sahabatmu, berharap kamu kedepannya akan di berikan kebahagiaan dan menjadi ibu yang baik bagi anak-anakmu kelak. Semua yang kau lakukan padaku aku sudah memaafkanmu. Aku tidak ingin kita selalu berselisih, aku sangat sayang padamu dan masih menganggapmu sebagai seorang sahabat yang dulu dan sekarang. Kepada pak Dirga tolong jaga sahabat saya, jangan lukai hatinya, dia butuh seorang yang dapat mengerti perasaanmu dan ingin selalu diperhatikan. Saya tidak akan menuntut perkara ini ke pengadilan tapi syaratnya. Kalian harus tinggal di panti asuhan sampai waktu yang saya tentukan. Dan saya minta sebagian hartamu Pak Dirga kamu berikan kepada panti asuhan dan Rumah Qur'an. Kalau kalian membantah, maka jeruji besilah pilihan selanjutnya. Saya berharap kamu bisa merasakan nasib anak-anak yang tidak mempunyai ayah dan ibu di panti tersebut agar hartamu lebih berguna. Mungkin yang saya ucapkan ini sudah jelas, terima kasih, Asalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh," ucapku panjang lebar dan membuat Pak Dirga tertunduk malu menyadari kesalahannya. Dia sadar memang dirinya sudah jauh dari agama.
Aku melangkah menggenggam Tangan Kak Gilang menuju pelaminan untuk menyalami sahabatku. Ketika berada di depan Rini. Rini dengan cepat memeluk diriku. Sungguh melow, kami berpelukan menangis tersedu-sedu. Rini, memelukku erat dan dia berjanji akan berubah dan dia mengatakan bahwa ini adalah terakhir kalinya dia berurusan dengan pihak yang berwajib.
Banyak mata memandang aksi kami berdua. Ada yang juga ikut menitikkan airmata dan mereka juga terharu melihat kami berpelukan layaknya seperti saudara kandung. Satu jam kemudian Para undangan beransur pulang. Aku dan Kak Gilang masih setia menemani Pasangan pengantin baru.
Gilang dengan cekatan memberikan berkas-berkas berisi bahwa Dirga bersedia tinggal di panti asuhan dan memberikan sebagian hartanya. Beberapa perusahaannya untuk sementara akan di ambil alih oleh keluarga Prayuda untuk mereka kelola, sampai benar-benar Dirga berubah dan kembali menjalankan perusahaannya sendiri.
__ADS_1