
Tok...tok...tok...tok...
" Assalamu'alaikum ". ucap seseorang yang di depan pintu.
Aku bertanya siapakah yang mengetuk pintu, kalau Gang Raga pasti langsung masuk. Ibu juga terbangun mendengar ketukan pintu tersebut. Kubuka pintu ternyata seorang pemuda dengan senyumnya menghiasi wajahnya.
Terpesona aku melihat wajahnya. Kenapa lebih tampan sekarang, padahal baru dua hari tidak latihan. Ah, mikir apa aku ini...
" Kok bengong Dek, gak dijawab salam kakak" ucap kak Gilang melihatku melamun melihat wajahnya sampai aku malu.
" Eh , wa'alaikum salam, sama siapa kemari kak? " tanyaku sambil melirik keluar melihat apakah Kak Gilang membawa temannya.
" Ibu sehatkan? bagaimana keadaan ayah, bu? " ucap kak Gilang sambil menyalami Obu dan melihat keadaan Ayah.
" Alhamdulillah Nak, Ibu sehat " ucap Ibuk kembali menangis, " ayah belum sadar Lang ".
" Maafkan Ayah Gilang ya Bu, Ayah Gilang tidak sengaja, mungkin pulang dari kantor ayah Gilang akan kemari . Oh, iya ini Dek tadi titipan bang Raga, Kak gilang tadi jumpa di depan. Kak Gilang lihat Bang Raga sangat lelah, jadi kakak suruh pulang istirahat di rumah .Biar gantian, untuk sementara gilang ikut menemani ibu di sini ". ucap Gilang sambil duduk di sofa.
" Merepotkan kamu Lang, gak usah, biar Ibu ama Adek aja, bentar lagi pasti Ayah siuman Lang..." ucap Ibu sedih
" Gak apa-apa Bu, Ayah Gilang juga yang tadi nyuruh Gilang untuk menemani Ibu disini , ini belum seberapa dengan yang dialami ayah yang di sebabkan oleh ayah saya Bu...".ucap Gilang sendu.
" Jangan bicara begitu Nak, ini sudah takdir " ucap Ibu sambil menghapus airmatanya.
" Bu, sebaiknya kita makan dulu Bu, ayo Kak Gilang sekalian, ini terlalu banyak..." ucapku sambil membuka bungkusan nasi yang di bawa Kak Gilang tadi.
" Iya, Terimakasih Dek, kakak baru aja makan tadi sebelum kemari. Kakak Sudah kenyang Dek, makan aja biar makin besar adek abang ini" ucap Gilang sambil bercanda.
" Sudah besar tahu..." ucapku sambil tersenyum.
Aku dan ibu makan dalam diam, makan langsung menggunakan tangan tidak memakai sendok lebih nikmat rasanya karena lauk yang ku makan ayam bakar kalau menggunakan sendok, kurang mantap...
* * * * *
Sementara di tempat lain terlihat seorang remaja lagi uring-uringan dikamarnya membaca sebuah chat dari kekasihnya kemudian memandangi sebuah foto seorang kekasih yang akan segera di putuskannya tanpa sebab.
Airmatanya perlahan menetes di pipi Candra membayangkan bagaimana perjuangannya mengejar gadis tersebut menjadi kekasihnya, kenangan tiga tahun selama latihan dan dua bulan ini selalu dihabiskan bersama bercanda sewaktu di sekolah. Candra frustasi menghadapi sang ayah yang meminta agar candra menerima jodohan dari teman ayahnya.
flash back on
" Papa, dua bulan lagi ulang tahun Rini lho Pa, aku ingin minta kado spesial dari Papa" ucap Rini kepada ayahnya.
__ADS_1
" Kado apa yang akan kamu minta, semua kamu sudah ada..." ucap Papa Rini.
" Ada Pa yang Rini belum punya, "ucap Rini menempel dengan Papanya.
" Apa yang Rini belum punya, bilang aja sama Papa "ucap ayah dengan santai.
" Benar Papa mau nuruti permintaan Rini ?ucapa Rini .
" Iya "ucap Papa Rini.
"Apapun Rini minta, apakah Papa bersedia mengabulkannya,??? " ucap Rini antusias.
" Iya, apasih yang gak untuk Rini, memang Rini mau apa? tanya ayah Rini seakan penasaran.
" Rini menyukai teman sekolah Rini Pa, namanya Candra. Rini sudah lama suka sama Candra. Tapi candranya sudah punya pacar Pa.
Bagaimana dengan Rini pa..."
" Candra anak siapa Rin "tanya Papa Rini.
" Candra anakny Pak Adi Wiguna ,Pa "ucap Rini menerangkan kepada Papanya.
" Benar Pa... " ucap Rini merasa senang.
" Iya, Papa pergi ke kantor dulu ya.. " jawab Papa Rini mengangguk dan pergi keluar menuju mobilnya.
* * * * *
Ditempat lain seorang pengusaha bahan bangunan merasa pusing, karena terlilit hutang yang banyak dan belum bisa membayarnya. Sementara sudah jatuh tempo yang ditentukan. Pak Wiguna, ayah Candra merasa bingung kemana lagi mencari pinjaman. Ketika pusing memikirkan masalah hutang-hutang, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu diruang kerjanya.
tok... tok... tok... tok...
" Masuk " ucap Pak Wiguna tanpa melihat orang yang datang.
" Apakah saya mengganggu?" ucap Pak Rudi Nugraha, Papa dari Rini.
" Oh..., a..apa kabar Pak " ucap Pak adi Wiguna terkejut. " Ada keperluan apa Pak sampai anda datang ke tempat saya ". ucap Pak Adi Wiguna, ayah dari Candra.
" Ah, biasa sajalah manggilnya, kita ini temanan dari SMA, jangan terlalu formal. Panggil saja saya Rudi dan kalau saya dibolehkan, saya akan memanggilmu dengan panggilan Adi saja, bagaimana? " ucap Pak Rudi Nugraha.
" Gak masalah Rud, ngomong-ngomong apa yang bisa saya bantu , gak biasanya kemari kalau tidak ada keperluanmu Rud, " ucap Ayah Candra.
__ADS_1
" Tahu saja kamu kalau aku ada keperluan, memang terlihat dari wajahku ya, Di "
" Kamu itu terakhir minta bantuan ke aku, sewaktu kamu mau mendekati istrimu dulu, masih ingat " ujar Ayah Candra.
" Iya, sudah hapal kamu rupanya Di, " ucap Papa Rini dengan tersenyum.
" Aku sebetulnya lagi punya masalah, dan masalahku belum selesai, kamu sudah mau minta bantuanku " ucap ayah Candra merasa frustasi.
" Memang kamu ada masalah apa? " tanya ayah Rini penasaran.
" Hutangku banyak Rud, ini sudah jatuh tempo pembayaran, aku bingung bagaimana cara membayarnya, sedang penjualan ini lagi sepi-sepinya.
" Bagaimana kalau kita bekerja sama, mungkin bisa membantumu untuk membayar hutang-hutangmu ".ucap Papa Rini mencoba memberi ide.
" Maksudmu " ucap Ayah Candra bingung.
" Aku akan membantumu membayar hutang-hutangmu dan aku ingin menanamkan sahamku kepadamu, tapi ada Syaratnya bagaimana ?" ucap Papa Rini mencoba menjelaskan.
" Apa syaratnya"ucap Ayah Candra
" Tunggu dulu ada yang akan aku tanyakan. Yang aku dengar kamu punya putra kan? tanya Papa Rini.
"Iya ,betul namanya Candra, apa hubungannya dengan kerjasama kita " tanya ayah Candra
" Aku ingin kita menjodohkan anak kita berdua, aku mempunyai seorang putri yang sudah lama jatuh cinta kepada putramu. Bagaimana kalau kita buat seperti tunangan dulu kalau sudah lulus kuliah baru kita nikahkan mereka. bagaimana apakah kau setuju ?"ucap Papa Rini meyakinkan Ayah Candra.
" Apakah tidak terlalu cepat kita menjodohkan mereka, anakku saja belum lulus sekitar satu minggu lagi mereka akan ujian nasional, aku takut rencana kita ini akan mempengaruhi belajarnya, "ucap ayah Adi mempertimbangkan.
" Kita tidak usah membuat pertunangannya sekarang, kita buat dulu mereka bertemu sabtu depan. Bisa di bilang untuk menyatukan dua keluarga dulu. Selesai ujian bertepatan di hari ulang tahun putriku, kita buat mereka bertunangan sekalian. apakah kau setuju ???. ucap Papa Rini meyakinkan.
" Oke ,aku setuju, bagaimana perihal dirimu ingin membayar hutang-hutangku, kapan bisa kau transfer ?" ucap Ayah Candra antusias.
" Secepatnya ,dan sekalian ini berkas tentang penanaman sahamku ,syaratnya keuntungan di bagi dua. Bagaimana? ucap Papa Rini.
" Itu terlalu banyak " ucap ayah Candra.
" Terserah, aku hanya membantu " ucapa ayah Rini dengan seringai liciknya.
"Oke, setuju ".ucap ayah Candra.
" Kalau begitu aku pergi dulu, aku tunggu kamu di rumah saya hari sabtu nanti, jangan lupa bawa putramu " ucap Papa Rini beranjak pergi dan membuka pintu.
__ADS_1