
Aku masuk kedalam kamar ingin segera membersihkan tubuhku yang terasa lengket karena seharian tidak terkena air. Dengan gerakan cepat semua pakaian yang menempel sudah lepas dan secepatnya mengguyur tubuh.
Segar, itulah kata yang tepat diungkapkan untuk suasana tubuhku saat ini. Wangi sabun mandi yang baru ku ambil terasa merasuk seluruh urat sarap. Tidak ingin cepat-cepat menyelesaikan mandiku. Belum puas rasanya meninggalkan air yang sangat segar.
Samar-samar terdengar suara azan Maghrib. Aku segera bergegas mengambil handuk dan mengeringkan titik-titik air di tubuhku. Segera berpakaian dan mengambil air wudu.
Keserahkan semua hanya kepada Allah.
Mengungkapkan semua keluh kesahku, meminta kelancaran hubunganku dengan Kak Gilang sampai acara menjelang. Mengambil mushaf Alqur'an untukku baca sebentar. Tenang perasaanku membaca ayat demi ayat. Seakan kegelisahanku hilang. Gelisah membayangkan akan menjadi milik orang.
Jam Sudah menunjukkan pukul 07.00, membuka mukena dan melipatnya kembali. Melihat sekeliling kamar yang dua bulan lagi akan jarang di tinggali. Mungkin aku nanti bakal kangen banget dengan kamar ini. Kamar yang beberapa tahun iniku tempati, sudah memberiku banyak kenangan.
Di kamar inilah aku merasakan awal penderitaanku karena truma masa laluku. Masa lalu yang membuatku hampir gila. Di kamar ini juga aku menghabiskan waktu untuk bangkit dari keterpurukan. Kamar yang banyak memberiku semangat, salah satunya si bantal pujaan hati. Dilihat dari bentuknya sama tidak ada bedanya dengan bantal lainnya. Tapi tidak tahu entah mengapa kalau pakai bantal itu aku langsung tertidur. Apa nanti ketika aku sudah menikah dan tinggal di rumah suamiku harus dibawa juga ya? Ku ambil bantal itu dan ku peluk cium. Terasa tenang otakku mencium baunya.
Mataku tertuju kepada kalender yang terletak di meja. Kuhitung dua bulan kedepan di mulai hari ini. Coretan pertama di mulai besok. Memperkirakan dua bulan kedepan bukanlah waktunya lama. Tepatnya itu di hari lebaran.
Tok!
Tok!
Seketika lamunanku buyar.
" Nisa....," sibuk memanggil dari balik pintu.
" Iya Bu," jawabku dan membukakan pintu untuk Ibu.
Ceklek!
" Ayo makan Nak, ini sudah malam," Aku berjalan mengikuti Ibu, menggandeng tangannya dengan manja menyandarkan kepalaku di bahunya. Seakan tidak ingin jauh dari Ibu. Seperti anak ayam yang takut di tinggal induknya.
" Woalah Dek...Dek..., sebentar lagi mau jadi istri orang kok manja banget To Dek...," ucap Ibu yang heran dengan tingkah manjaku.
" Biarin, Nisa mau puas-puasi bermanja dengan Ibu," ucapku cuek tidak perduli dengan perkataan Ibu.
" Dek, mulai besok kamu harus belajar masak, di rumah mertuamu nanti kamu harus bisa membahagiakan anggota keluarga yang dirumah itu. Kalau mereka senang makan di rumah, berarti mereka akan betah berada di rumah," ucap Ibu menasehati diriku.
Sampailah kami di meja makan, ku dengarkan nasehat Ibu yang sangat berharga. Walaupun sekarang Mama Kak Gilang sangat sayang padaku tapi dengan sayangny dia, jangan sampai kita terus nganggap remeh begitu saja kepadanya. Kita harus belajar agar orang-orang yang menyayangi kita tidak akan kecewa kedepannya.
Ibu dengan perhatiannya mengambilkan nasi untuk Ayah dan diriku. Sedangkan Bang Raga sudah cemberut karena ibu membiarkan dirinya untuk mengambil nasinya sendiri.
" Bu..., Piring Raga masih kosong Bu... masa Raga ngambil sendiri," ucap Raga yang ikut manja dan terlihat sendi wajahnya.
" Belajar nak untuk Dewasa, karena kamu nanti bakal jadi kepala keluarga," ucap Ibu menasehati Raga.
__ADS_1
" Itu Nisa di ambili, Raga kok gak Bu..., Ibu gak sayang sama Raga," ucap Raga yang tidak mau kalah.
" Udah tenang Bang...sini Nisa ambili, sekalian Nisa mau belajar melayani suami Nisa kalau Nisa sudah nikah nanti," ucapku dengan santai dan spontan menerbitkan senyuman dari bibir Ayah dan Ibu. Di mulai dari hal kecil. Dan Hal kecil itu sudah membuat mereka bangga dengan diriku.
" Bagus anak ayah, kamu harus sering belajar, Dek... kudu sering berdoa..., orang yang menikah itu banyak ujian. Banyak berikhtiar kepada Allah minta di lancarkan dan diberi kesehatan sampai harinya nanti," ucap Ayah memberi wejangan yang sangat berharga. Pokoknya dua bulan ini, nasehat melulu yang akan di ucapkan mereka. Sampai memori kepalaku nanti penuh karena kebanyakan teori dari Ayah dan Ibu. Ketika menikah kau tinggal menjalankannya saja.
" Iya Yah," ucapku diiringi anggukkan kepalaku mencoba menjadi anak penurut.
Kami menyantap masakan Ibu yang super duper lezat. Sederhana tapi enak di lidah. Memang betul kata Ibu, mulai sekarang aku harus belajar, kalau kita bisa menyenangkan perut orang maka orang itu akan senang juga kepada kita.
Selesai makan malam, ibu dan Ayah bercerita di teras, cari angin katanya. sambil melihat orang lalu lalang di jalan. Aku membereskan meja dan dengan senang hati mencuci piring kotor. Setelah selesai dan sudah beres, aku kembali ke kamar.
Dering ponsel berdering, tanda ada panggilan yang masuk. Sebuah nomor yang tidak aku kenal. Dan berulang kali berdering, penasaran siapa sih yang bolak-balik manggil. Ku sentuh tombol berwarna hijau.
" Hallo Assalamualaikum,"
" Wa...wa'alaikum Salam Ini siapa?,"
" Ini Uge Sa...,"
" Iya...Ada apa Ge.., besok aku boleh datang ke rumahmu gak Sa..., ayah dan Ibuku Besok mau ke kota katanya sekalian mau singgah ke rumahmu,"
" Bagaimana ya Ge..., aku gak bisa ngasih keputusan, Tunanganku juga ada disini baru pulang, takut gak enak sama ayahku karena nerima tamu laki-laki di rumahku,"
" Kesempatan apa Ge...,"
" Aku suka sama kamu Sa..., kesempatan untuk menjadi pasangan hidupmu,"
Aku diam terpaku mendengar perkataan Uge yang langsung pada intinya. Tanpa memikirkan perasaan orang lain.
" Sa..., Sa..., kamu gak suka dengan aku ya...,"
" I...iya Ge...,"
" Eh, maaf Bukan begitu Ge..., aku sebentar lagi akan menikah, tolong jangan kejar aku lagi Ge..,
kamu juga orang baik, pasti kamu akan mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku.
"Tapi kau beda Sa...,"
Tok! tok!
" Nisa ada yang nyarii kamu di depan," jerit ibu kepada diriku.
__ADS_1
" Iya Bu..,"
" Udah ya Ge....ada tamu, aku matiin dulu ya..., Assalamualaikum, "
" Tu...tunggu Sa....," ponsel.mati, Nisa menutup panggilannya tanpa mendengarkan dulu perkataan terakhir Uge.
"Wa...wa'alaikum Salam,"
Sa... sampai kapan pun aku tetap suka sama kamu. Jangan larang aku menyukainya kamu. Aku akan korbankan jiwaku untuk mendapatkanmu , kalau memang sudah tidak sanggup baru aku mundur.
Di kamar Nisa
Maafi aku Ge, aku tidak ingin memberikan kamu harapan. Kalau hanya berteman saja, aku bisa tapi masalahnya sebentar lagi statusku sudah berbeda dan pernikahanku sudah semakin dekat. Bisa gagal pernikahanku hanya karena kesalah pahaman.
Siapa sih tamu yang datang malam-malam gini, baru aja mau istirahat, sudah di ganggu.
Kupakai jilbab instanku dan memakai sweater berwarna hitam, karena lengan baju yang ku kenakan berlengan pendek. Aku berjalan kedepan cermin melihat wajahku yang sangat pucat karena kelelahan, mengambil Bedak tabur dan liptint. Perfect.
Berjalan keluar menuju teras, penasaran siapa sih malam-malam tamu tidak diundang datang. Sayup-sayup terdengar pembicaraan di luar. Sesekali Ibu tertawa karena bahagia. Penasaranku semakin bertambah, tidak pernah ibu sebahagia begini kalau bicara.
Tamu yang patut di acungi jempol sudah membuat ibu tertawa terbahak-bahak.
Sampailah langkahku di ujung pintu. Aku terperanjat melihat orang yang datang malam ini ternyata Kak Bima datang bersama Papanya. Pak Dosen killer yang berkepala Botak. Botaknya sangat berkilau seperti mobil Lamborghiniku. Kalau terkena terik matahari, pasti akan silau kita melihatnya.
Aku nyaris terpaku, bisa-bisanya Ibu dan Ayah bercengkrama dengan Bima dan Papanya sampai bahagianya.
" Sini Nisa kenali ini teman Ayah kamu, Papa Bima ini yang jodohi Ayah sama Ibu, " ku salim Pak Dosen yang sudah ku kenal lama dengan wajah di buat semanis mungkin biar terlihat ramah. Nanti pulang-pulang kan Pak Dosen kena Diabetes karena terkena senyumanku yang sangat manis.
" O..., gitu ya berarti ibu dan Ayah di jodohi, kok baru tau ya. ..," ucapku yang membuat Ibu tersipu malu.
Pantes Ibu tertawa kencang banget, rupanya tamu yang datang teman lama ayah. Bakal jadi anti nyamuk di sini. Pasti nanti gak nyambung pembicaraannya.
Sebuah hidangan ku lihat sudah ada di meja, Tapi itu bungkusan apa ya...kok banyak banget. Ada sebuah bungkusan yang menarik perhatianku. Aku tidak bisa membohongi pandanganku. Tebakanku itu adalah makanan yang di beli di khususkan untuk di bawa ke rumah ini. Kak Bima memperhatikan pandanganku.
" Kamu lihat Apa Sa...kamu mau, nih ambil tadi Kakak sengaja beli untuk kamu," ucap Kak Bima menawarkan bungkusan cemilan kepadaku.
" Beneran Kak," ucapku yang sangat kegirangan seperti mendapat undian.
" Iya, ambillah, ini spesial untuk kamu...," ucap Kak Bima kepadaku.
Aduh di saat aku mau menikah kok pada berdatangan pemuda-pemuda menawan sih. Baru saja tadi aku menolak Uge, ini sudah datang Kak Bima yang sangat perhatian.
Andai aku punya saudara kembar 4. Kubagi-bagi deh satu-satu ke mereka. Tidak begini-gini amat di kejar laki-laki. Apa juga yang di lihat mereka dari wajahku. Gaya biasa saja. Wajah bisalah angka 9, postur tubuh okelah. Tapi soal fashion ku masih kalah jauh dengan gadis-gadis kota disini.
__ADS_1