Teman Palsu

Teman Palsu
Keposesifan Gilang


__ADS_3

Di sebuah ruangan seorang pria paruh baya dengan keangkuhannya memarahi anak buahnya yang tidak bisa mencelakai seorang gadis yang menjadi incaran mereka.


Mereka salah sasaran mengincar orang yang salah.


Rudi kesal kepada anak buahnya karena mencelakai satu orang saja tidak bisa. Mereka akui bahwa gadis itu adalah gadis yang cerdik, bukan gadis sembarangan yang hanya bermanja kepada orang tuanya. Gelagat mereka saja bisa di baca oleh Annisa. Rudi Nugraha mengerahkan anak buahnya kembali agar tetap memantau gerak-gerik gadis itu. Membuat Annisa celaka dan menderita seumur hidupnya.


Rudi Nugraha dendam kepada Annisa karena dia mengganggap Annisalah yang sudah menjadi penyebab puterinya nekat melakukan perbuatan yang tidak terpuji dan mencemarkan nama baik orang lain. Karena dendamnya itu Rudi rela mencelakai dan hampir membunuh seorang gadis. Dendam telah menutup mata hatinya. Dia tidak tahu kalau puterinya di Rutan menyesal dan merasa bersalah kepada Annisa, tapi berbeda dengan si ayah yang dendam dan menghalalkan segala cara.


* * * * *


Cklek


Suara pintu terbuka, seorang Dokter keluar berdiri di depan pintu UGD, aku yang melihat Dokter keluar segera beranjak mendatangi Dokter tersebut.


"Apakah Adik ini keluarga dari pasien?" tanya Dokter kepada diriku.


"Tidak Dok, saya temannya, bagaimana keadaan Arif Dok, apakah sudah bisa di besuk,"


" Korban sudah melewati masa kritisnya, untuk sementara pasien biarkan dulu istirahat. Sebentar lagi akan kami pindahkan ke ruang perawatan dan anda bisa mengisi administrasinya sekarang?," ucap Dokter menjelaskan


" Alhamdulillah, Bagaimana ya Dok, apakah sebentar lagi bisa Dok, soalnya Kakak korban lagi dipejalanan," ucapku yang menjelaskan.


" Baiklah, nnti kalau sudah tiba segera hubungi saya dan tolong isi administrasinya segera ya Dek," ucap Dokter dan melangkah pergi.


Aku pun kembali duduk di kursi tunggu di samping Kak Bima. Dari tadi Kak bima hanya mendengarkan pembicaraan ku dengan Dokter saja. Bima yang tidak banyak bicara hanya asik memainkan game onlinenya. Baju yang dipakainya pun belum berganti dari pagi. Wajah lelahnya terlihat di wajahnya, dia baru pulang dari tugas langsung membantu mengantar Arif ke rumah sakit.


Hening terasa ketika kami berdua tanpa adanya yang memulai pembicaraan

__ADS_1


menunggu Arif di pindahkan ke ruangan VIP. Setelah tiga puluh menit, akhirnya Arif sudah berada di ruangan lain, dengan fasilitas yang lengkap. kami pun melangkah menuju ke ruangan tempat Arif di rawat. Kak Bima yang sudah duduk di sofa langsung merebahkan badannya yang lelah. Tidak menunggu lama matanya pun terpejam.


Ruangan yang lumayan nyaman untuk keluarga yang menunggu pasien. Aku tidak tahu siapa yang akan membayarnya nanti. Asal jangan diriku yang diminta untuk membayarnya, aku takut bila Kak Andre marah dan meminta untuk ganti rugi karena ide gila itu datang dari kepalaku hingga menyebabkan Arif kecelakaan.


Tak


Tak


Tak


Suara langkah sepatu terdengar memenuhi ruangan rumah sakit. Kak Andre langsung memeluk adiknya yang sudah lama tidak berjumpa. Dia harus rela melihat adiknya yang luka pada bagian kepala, badan dan kakinya. Arif yang belum juga sadarkan diri dengan kondisi infus yang terpasang dipergelangan tangannya terlihat dirinya sangat memprihatinkan.


Tidak berapa lama masuk juga Ragil ke ruangan.Ragil terlihat terkejut melihat Arif terbaring dengan kondisi luka parah. Ragil Seakan tidak percaya, karena pagi tadi dia baru saja berjumpa dan meminjam motor kepadanya.


Kebiasaan Arif yang tidak pernah dilakukannya, biasanya pergi ke kampus selalu mengenderai mobil. Tapi hari ini dia entah mengapa sibuk naik motor. Dua orang yang mendekati Annisa membuat Ragil takut untuk mendekat karena dari cerita Arif bahwa Annisa sudah berhubungan dengan Kakak sepupunya.


Aku yang mengetahui gelagat Kak Gilang segera mencegahnya dan memintanya duduk kembali. Gilang segera melangkahkan kakinya keluar dari ruang rawat Arif. Terlihat dari jauh dia menghubungi seseorang yang tidak tahu siapa yang di hubunginya. wajahnya terlihat emosi, rahangnya mengeras dan tangannya mengepal.


Kak Andre menyuruhku duduk dekatnya ada sesuatu yang ingin di ceritakkannya dan ini masih dalam penyelidikan Kak Andre. Aku di minta untuk berhati-hati karena keselamatanku sekarang terancam. Ada yang ingin mencelakaiku melalui orang suruhannya tapi mereka belum tahu siapa orang yang di maksud. Kak Andre bercerita bahwa Arif selalu dekat dengan diriku selama ini ingin selalu menjaga keselamatanku. Sudah menjadi tanggung jawab mereka karena Arif dan Kak Andre adalah orang kepercayaan Kak Gilang yang dipercayakan untuk menjaga diriku yang tanpa sepengetahuanku Arif ikut satu kampus agar selalu memantau kegiatanku.


Bima yang mendengar keributan segera membuka matanya dan melihat aku dan Kak Andre sedang berbincang. Kak Andre yang baru pertama kali melihat Kak Bima, menatap wajahku di minta untuk menceritakan tentang kak Bima kepadanya.


Bima yang diperhatikan merasa sungkan dan mengajak Kak Andre berkenalan. Selesai berkenalan Kak Bima mengambil tempat duduk berdampingan denganku kembali dan ingin mengajakku berbicara.


Kak Andre dengan wajah dinginnya menatap tajam wajah Bima yang tidak suka melihatnya duduk berdekatan denganku dan tidak tersenyum sedikit pun.


Belum juga Kak Bima mengajakku bicara, Kak Gilang masuk kembali ke ruang rawat Arif memasang wajah yang tidak bersahabat dan mendorong Kak Bima agar berjauhan dariku. Kak Bima yang di dorong merasa emosi dan ingin meninju muka kak Gilang tetapi terlebih dahulu dapat ditangkis oleh Gilang dan di dorong Gilang kembali.

__ADS_1


" Pergi Kau dari Sini," Hardik Kak Gilang.


"Dasar manusia tidak tau terima kasih, tanpa kau suruh pun aku akan pergi," ucap Bima dan melangkahkan kakinya keluar, sorot matanya menatap diriku seakan ingin mengucapkan kata pamit yang tidak dapat di ucapkan.


" Jangan lihat-lihat, udah sana pergi," ucap Kak Gilang dengan posesifnya.


" Kak Gilang ini kenapa sih..., Kak Bima sudah membantu Arif di bawa ke rumah sakit Kak, seharusnya kakak mengucapkan terima kasih bukan malah mengusir kak Bima," ucapku penuh emosi.


"Iya aku tahu, dia yang sudah menolong Arif, tapi apa harus segitunya juga dia dekat sama kamu...," ucap Gilang ngotot.


"Terus...kakak cemburu gitu..." ucapku juga yang ingin marah.


" Iyalah kamu kan pacar kakak, kakak cemburu Sa, kakak juga khawatir. Ini menyangkut keselamatan kamu Sa. Tadi Kakak dapat telpon dari Arif sebelum kecelakaan dia rela menggantikan kamu. Kamu yang dikejar-kejar orang yang tidak di kenal saja Kakak tidak bisa tenang. Apa lagi melihat kamu dekat dengan orang lain." ucap Gilang menjelaskan.


" Berisik kalian berdua, keluar kalau mau ribut!. Kalian tidak lihat ini di mana, kamu juga Lang kuasai dirimu jangan terlalu posesif, kalau kamu seperti itu Annisa akan kabur dari kamu " ucap Andre menasehati Gilang." Sa, kamu pulang sana, tenangin diri kamu, biar kakak sama Ragil yang jaga Arif" ucap Kak Andre kembali.


" Kak terima kasih motornya ya, ini kuncinya," ucapku sambil menyerahkan kunci motor kepada Ragil.


" Kamu naik apa Sa, pakai aja motor Kakak dulu," ucap Ragil melirik Gilang yang tidak respon sedikit pun untuk mengantar pulang.


"Enggak usah Kak, Nisa masih takut, Biar Nisa nanti naik taksi aja" ucapku yang masih trauma akan kecelakaan tadi.


"Ya sudah sini kakak antar kamu, bahaya dilepas sendirian," ucap Ragil menjaili Gilang supaya dia cemburu dan akhirnya mengantarkan Annisa.


" E...e...e... jangan ikut dia, Ayo kakak antar," ucap Gilang melangkah dan menarik tangan Annisa keluar dari ruang rawat inap Arif, Annisa yang ditarik terasa berlari-lari mengikuti langkah Gilang.


Sok jual mahal di jaili cemburu juga

__ADS_1


Ragil tersenyum melihat tingkah kakak sepupunya itu, yang tidak romantis dan kurang perhatian.


__ADS_2