Teman Palsu

Teman Palsu
Keresahan Papa Gilang


__ADS_3

Keesokan paginya, cahaya pagi sedikit masuk ke celah-celah jendela, sangat menyilaukan mata penghuni rumah mewah yang baru ingin membukakan mata. Mamanya mengerjapkan matanya menggeliat ke samping, alangkah terkejutnya melihat puteranya ada di samping tubuhnya. Dia merasa puteranya harus segera dinikahkan. Karena kalau tidak bisa setiap malam dia uring-uringan dan minta tidur dengan Mamanya. Bisa mengamuk ini Papanya Gilang.


Di London saja, kelakuan Gilang lebih parah dari itu. Mama Gilang sampai pusing menghadapi kelakuan Papanya Gilang yang tidak terima harus tidur di sofa terus setiap malam dan sering merajuk karena setiap malam tidak pernah mendapat jatah dari istrinya. Inilah penyebab mengapa Gilang bisa cepat menyelesaikan kuliahnya karena rasa rinduku tidak bisa menguasai dirinya. Kalau Gilang terus begini, Papa Gilang bisa murka, pasti Pesta pernikahan semakin cepat diadakan, mungkin tidak sampai menunggu waktu 2 bulan.


Hari ini, Papa Gilang bisa bertoleransi dengan puteranya. Entah besok atau lusa, mungkin Papa Gilang mempunyai siasat untuk menjauhkan istrinya dari puteranya.


Mama gilang meninggalkan putera dan suaminya yang masih bergelung selimut. Dia langsung menuju kamar mandi dan ingin menyiapkan sarapan untuk mereka bertiga. Bangun kesiangan membuat mama Gilang harus bergegas ekstra karena sarapan tidak akan tersedia kalau di lakukan dengan santai.


Sampai di dapur pelayan rumah sudah memasakkan sarapan pagi, masak nasi goreng dan telur dadar. Sangat sederhana tapi sangat menggugah selera.


Mama dan pelayan menatanya di meja makan sekalian dengan minumnya. Di kira sudah sempurna barulah dia membangunkan suami dan puteranya.


Cklek!


" Papa..., Pa...bangun, mau ngantor gak Pa...,"


ujar Ibu membangunkan suaminya.


" Jam Berapa ma???," tanya Papa Gilang yang belum bangun hanya terbuka saja matanya.


" Sudah jam Tujuh Pa...," jawab Mama gilang yang manja menyandarkan tubuhnya di bahu suaminya.


" Oouah, dasar Puteramu edan mengganggu tidur Papa saja, badanku sakit semua tidur di sofa. Besok kita tidur di hotel ya Ma.., gak sanggup Papa terus mengalah seperti ini," ucap Papa Gilang kepada istrinya yang membenarkan posisi tidurnya menjadi duduk di sofa dan mama gilang duduk bermanja di samping suaminya.


"Terserah Papa aja deh," ucap mama yang pasrah akan permintaan suaminya.


" Pokoknya Papa gak mau gak dapat jatah lagi malam ini," ucap Papa Gilang yang genit dengan mengedipkan sebelah matanya kepada istrinya.


" Ih papa Ini kalau urusan itu pasti selalu ingat," ucap Mama Gilang yang tersipu malu.


" Pasti dong Sayang...," Papa Gilang mencium kening istrinya dan memegang dagu istrinya dengan gemas. Kemudian bergegas ke kamar mandi karena dia teringat ada meeting pagi ini dengan rekan bisnisnya.


Mama Gilang membangunkan putera si mata wayangnya yang masih bergelung dalam selimut. Dengkuran halus terdengar dari mulutnya menandakan bahwa Gilang masih sangat pulas.


" Gilang, Lang...bangun Nak, nanti kamu kesiangan jemput Nisa," ucap Mama Gilang yang menjaili puteranya.


" Ha..., iya Ma, udah jam berapa ini , aduh...aku kok lupa ya...," Gilang sangat kebingungan dan langsung duduk di tempat tidur mamanya, kemudian mengucek matanya melihat jam masih jam 07.00 pagi.Di dalam hatinya waktu masih pagi untuk datang ke kampus Nisa.


" Dengar nama Nisa aja kamu langsung semangat, besok jangan tidur di sini lagi Lang...," ucap Mama Gilang mengingatkan Puteranya, agar puteranya menyadari kelakuannya.


" Pantang anak muda tidur sama ibunya,"ucap mama Gilang lagi menimpali.


" Mama please aku gak bisa tidur kalau aku rindu dengan Nisa, dengan tidur sama Mama bisa mengurangi rasa rinduku" rengek Gilang kepada Mamanya dengan manja.

__ADS_1


" Alasan, nnti siang makanya kamu puas-puasi jumpa dengan Nisa, biar nanti malam kamu bisa tidur dengan nyenyak, tapi kamu jangan sampai berbuat macam-macam pada Nisa kalau kamu sampai macam-macam, ehemm...., Mama sunat burung kamu, dan Mama potong-potong, kemudian Mama coret kamu dari keluarga Yuda," ucap Mama Gilang menggertak puteranya.


" Ihh... serem, Mama ini nakuti aja, gak deh Ma... Gilang gak akan macam-macam, paling kita cuma pegangan tangan doang, itu pun kalau Nisa ngasih, kalau gak dikasih, Gilang mana berani minta, bisa-bisa Gilang kena jurus kunfunya Nisa," ucap Gilang yang merinding mendengar perkataan Mamanya yang setiap perkataannya pasti serius dan dia tidak bisa main-main dengan perkataan Mamanya. Gilang merasa takut jika pusakanya sampai dipotong, bisa hilang masa depannya kalau sempat Mamanya berbuat.


" Emangnya Nisa jago bela diri Lang...," ucap Mama Gilang yang penasaran.


"Behhh..., Apa sih yang Nisa gak bisa Ma..., semua dia bisa, menggoyahkan hati Gilang dia juga bisa. Tapi syukur deh Ma.. dia bisa jaga diri dan Gilang gak berani macam-macam padanya sebelum nikah," ucap Gilang bangga mempunyai tunangan seperti Nisa.


" Bagus deh, berarti masih orisinil, Ayo bangun, anak lajang tidak boleh manja," Ucap Mama Gilang dengan wajah bahagianya dan memaksa Gilang untuk bangun tapi Gilang menarik selimutnya kembali.


"Ih Ma...aku masih ngantuk ma...," Gilang menarik selimutnya dan tidak memperdulikan Mamanya.


" Ya Allah Lang, kamu sudah mau menikah, biasakan bangun cepat, mau kamu nanti kena marah Ayah Nisa karena sering bangun terlambat," ucap Mama Gilang yang mencoba menggertak anaknya.


"Kalau udah nikah, ya Beda Ma... inikan Gilang belum nikah jadi bisa santai, lagian Setelah wisuda Papa baru meminta Gilang meneruskan perusahaannya yang disini," ucap Gilang dengan santainya yang selalu ada saha alasananya setiap bicara dengan Mamanya.


Mama Gilang pusing menghadapi puteranya. Dia segera menuju meja makan, ingin membuat secangkir teh untuk suaminya. Papa gilang sudah membersihkan tubuhnya dan langsung bersiap ingin kekantor.


Dilihatnya puteranya masih tidur dikasurnya, dia mempunyai rencana untuk mempercepatkan pernikahan anaknya. Dan pergi ke meja makan untuk sarapan pagi. Disela-sela makan Papa Gilang mengungkapkan keinginannya.


" Ma..., bagaimana kalau pernikahan Gilang kita cepatkan saja Ma...," Ucap Papa Gilang yang mencetuskan rencananya.


" Kenapa rencana Papa berubah? Tanya Mama Gilang yang penasaran.


" Papa Takut, kemanjaannya akan memperburuk keadaan," Ucap Papa Gilang yang merasa was-was akan kelakuan puteranya.


"Dia terlalu manja, apa sama Nisa begitu juga," ucap Papa Gilang yang penasaran.


"Dia masih bisa menjaga kelakuannya Pa...," jelas Mama Gilang yang kepada suaminya.


" Nisa juga bisa menjaga dirinya, 2 bulan lagi itu bukan waktu lama," terang Mama Gilang kepada suaminya dan memegang punggung tangan suaminya agar bisa bersabar.


" Terserah mama, Papa Pergi dulu Ma..., titip salam sama calon menantu Papa," ucap Papa Gilang yang bersemangat ingin ke kantor.


" Sip," Mama Gilang mengacungkan ibu jarinya.


" Assalamualaikum," Papa Gilang Mengulurkan tangannya kepada mama Gilang dan mencium keningnya.


" Wa'alaikum Salam, hati-hati Pa...," Jawab Mama Gilang yang sudah menyalam tangan suaminya.


Mama Gilang melambaikan tangannya menyertai kepergian suaminya. Sedangkan Gilang sudah kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri dan bersiap-siap ingin menunggu Nisa di kampusnya.


****

__ADS_1


Di sebuah kamar seorang gadis sedang bersiap-siap ingin ke kampus. Dia baru ingat jam berapa di harus berangkat ke butik mama Gilang. Masih jam 7, masih banyak waktu. Kemeja putih, celana bahan berwarna Biru dan jilbab pasmina berwarna biru, menambah kecantikan diriku ketika memakainya.


Bedak baby dan liptint menambah memperindah wajah putih mulusku yang tidak ada sama sekali jerawatnya.


Aku segera bergegas memakai tas ranselku dan seperti sport yang senantiasa menemaniku kemana pun aku pergi. Mobil Kak andre sudah emnunggu di depan. Tidak ada senyum pagi ini di wajahnya.


" Assalamualaikum Kak," ucapku kepada Kak Andre.


" Wa'alaikum Salam, " jawabnya ketus sambil membukakan pintu mobil untukku. Wajahnya seperti di tekuk.


Hatiku was-was di dalam Mobil, aura dingin di wajah Kak Andre sudah membuatku jantungan. Aku juga takut mensyukuri pembicaraan, takut gak nyambung dan berakibat kena amukan. Karena Arif pernah cerita kalau Kak Andre punya masalah dia akan diam saja dan jangan sekali-kali di ajak cerita, kalau dia sampai emosi, maka habislah kita yang ada di dekatnya.


Kata-kata itu masih terngiang-ngiang di kepalaku. Tapi aku mencoba memberikan diri untuk mencairkan suasana.


" Kak, nanti waktu pulang jangan jemput Nisa, Kak Gilang yang jemput Nisa di kampus sekalian mau ke butik Mamanya,"ucapku kepada Kak Andre.


"Hemm," sahut Kak Andre singkat.


Wih serem banget sahutannya, gak usah di perpanjang deh ngajak bicaranya, nanti aku pulang malah tinggal nama.


Tidak berapa lama sampailah kami di depan Kampus, aku segera turun dan langsung membuka pintu mobil tanpa menunggu Kak Andre yang membukakan untuk diriku.


"Kak, Nisa pergi ya," ucapku yang dingin tanpa memperdulikan dirinya.


"hemmm," sahutan Kak.Andre terdengar menyeramkan.


Astaghfirullahaladzim Kok gitulah jawabnya.


Seperti ada yang kurang pagi ini. Tidak seperti biasanya kami sering bercanda jika berdua di dalam Mobil. Hari ini terasa sepi. Aku berbalik badan, berjalan kembali mendatangi kak Andre yang masih di dalam mobil.


" Ada apa lagi," suara bariotnya membuat aku merinding, tapi membuatku tenang dan senyum semanis mungkin.


" Salim Kak," sapaku dengan ramah, aku tidak ingin Kak Andre mendiamkanku karen berdiaman dalam mobil itu tidak enak. Lebih menyenangkan jika bisa bercanda dan bertukar cerita.


"Tangan Kakak mana," Alis Kak Andre sedikit terangkat dia terlihat bingung dengan pertanyaanku dan melihatbuluran tanganku.


"Sini tangan Kakak biar Nisa Salam," dengan ragu dia mengungkapkan tangannya dan segera ku pegang dan kujunjung tangannya Terasa dingin tangan Kak Andre saat ku pegang.


" Aku pergi dulu ya kak, hati-hati di jalan,dada....,"ku lambaikan tanganku setelah menyalam tangannya disertai dengan senyumku yang ceria.


Senyum yang dibuat -buat dari wajah kak Andre menunjukkan kalau dia sangat terpaksa membuat wajahnya tersenyum. Senyum yang sangat mahal dari seorang Andre yang lagi galau. Sosok Nisa sudah sangat jauh melangkah meninggalkan mobilnya, tapi mata Andre terus memandang kepergian Annisa yang pagi ini membuat hatinya menghangat.


Baru pertama kali Andre menyentuh tangan Annisa langsung. Ini sepeti hadiah dan penyemangat Andre untuk merebut Annisa.

__ADS_1


Abang ya..., hanya Abang...ha....ha..., nasib-nasib ....Aku hanya kamu anggap Abang Annisa..., tidakkah ada celah sedikit saja di hatimu untuk namaku Annisa.


Aahhh!!!


__ADS_2