Teman Palsu

Teman Palsu
Bocah Edan


__ADS_3

Tanpa Sadar Gilang melangkah dan mendekat ke arahku. Menatap wajahku begitu lama. Semakin lama wajahnya semakin dekat. Aku bingung dan mencoba mundur, tapi Gilang terus melangkah maju dan memegang daguku. Wajahnya semakin dekat hingga tinggal beberapa centimeter saja. Harum nafasnya menghembus wajahku. Dengan refleks mataku terpejam. Ada perasaan hatiku menanti apa yang akan terjadi.


"Ehemm," terdengar deheman dari Mama Kak Gilang dan langsung membuat Gilang mundur menghindari diriku.


Aku tersadar dan membuka mataku, ku lihat Kak Gilang sudah sedikit menjauh dan mengotak-atik ponselnya kembali. Mama Kak Gilang mendekat dan menepuk pundakku.


" Sabar Sa... sebentar lagi kalian akan menjadi pasangan yang sah, dan kamu Gilang tidak ada malunya di depan Mam la nekat mau mencium Nisa di aman Perasaanmu,"


" He...he... maaf Ma...," ucap Gilang yang salah tingkah mendapat teguran dari Mamanya.


" Wow..., Kamu semakin cantik memakai gaun ini Sa..., Mama aja terpesona melihatmu, apalagi Gilang..., ya Kan Lang....," ucap Mama Gilang yang menjaili puteranya


" Ha..., a..apa Ma..." Gilang yang belum fokus tiba-tiba terkejut dengan suara Mamanya yang mengusik dirinya.


" Gak Jadi," ucap Mama Kak Gilang yang geleng kepala melihat kelakuan anaknya yang sangat bucin, sampai tidak berhenti-henti menatap calon istrinya.


" Ma..., pasti gaunnya sangat mahal ya...," tanyaku yang bingung bagaimana nanti Ayah dan Ibu membayarnya, sedangkan gaji ayah juga tidak bakal cukup untuk membayar satu gaun ini.


" Untuk kamu Gratis Sayang...," ucap Mama Gilang dengan senyumnya yang tulus.


" Emm..., apakah mama tidak takut rugi???," tanyaku kepada Mama Kak Gilang. Ternyata sedari tadi karayawannya yang bernama Mimin, Noni, Gita dan Siti masih senantiasa mendengarkan dan memperhatikan diriku mencoba gaun pernikahan.


" Mama tidak akan rugi Sayang..., asal di Butik Mama ini gak ada biangnya tukang gosip. Kalau pun Mama mengalami kerugian, itu soal gampang, tinggal Mama pecat aja Karyawan-karyawan Mama yang tukang gosip ini. Kan lumayan gaji yang dipake untuk menggaji mereka, bisa untuk menutupi kerugian Mama, Iya kan Mimin...," ucap Mama bicara seperti menyindir para karyawannya dan mata ketika berbicara selalu melirik kearah Mimin, Gita dan Noni yang sekarang terlihat menunduk seperti ketakutan.


" I...iya Bu," Ucap Mimin terlihat sangat gugup dan sibuk meremas jari-jarinya sampai berkeringat.


" Nisa..., harga gaun itu tidaklah mahal dan untuk gadis manis seperti kamu malah sangat pantas mendapatkan gaun-gaun yang sangat mewah ini Sayang..., apa yang enggak sih untuk kamu...," ucap Mama Kak Gilang mengelus kepalaku dan aku sangat tersentuh dengan ketulusannya menganggapku seperti anak sendiri.


Gilang menoleh menatap diriku yang bersikap seolah merasa tidak enak hati. Memang ku akui sikapku saat ini sangat gugup dan memiliki keraguan. Diriku yang sekarang selalu belajar feminim dan keterpura-puraan. Pura-pura kalem, pura-pura menjadi wanita lembut, pura-pura menjadi gadis manis dan pura-pura jadi wanita yang diidamkan semua orang. Capek juga ya penuh dengan kepalsuan.


Aku berbuat begini supaya tidak membuat keluarga Kak Gilang malu. Kak Gilang sudah menasehati diriku, jadilah diri sendiri, jangan menjadi orang lain. Apa yang membuatku nyaman, itu yang seharusnya ku lakukan. Tapi memang aku lebih nyaman menjadi diriku sendiri.

__ADS_1


Tapi ada dampaknya bila menjadi diriku sendiri. Aku lebih banyak berteman dengan laki-laki, penampilanku Tomboi, tidak seperti sekarang, lebih kearah kewanitaan. Aku rindu diriku yang dulu, sering bercanda dengan teman-teman bengkelku. Walaupun kerjanya kotor tapi senang bila di minta mengaotak atik motor. Berasa motor yang kita perbaiki seperti motor kita sendiri.


Bila sudah kerja lupa akan masalah kita. Hobby membongkar monderdil motor dan memasang kembali, Itulah hobbyku. Bagaimankah kedepannya diriku? Apakah aku harus menjadi diriku sendiri atau harus merubah sikapku menjadi wanita idaman keluarga Prayuda?.


Kadang aku rindu bermain dengan teman-temanku yang bergelut dengan alat bengkel dan minyak oli. Sungguh sangat seru dan menggemaskan bila wajah, baju dan tangan penuh dengan oli. Tapi kalau aku tetap melanjutkan hobbyku, maka keluarga Gilang akan malu dan tentunya Papa Kak Gilang akan sangat marah padaku. Nanti di kira mereka aku tidak memiliki attitude yang baik.


Biasanya semua jarang melihat cewek tomboi itu selalu mengarah kepada anak brandal dan gak diperhatikan. Tapi itu tidak dengan diriku. Belum pernah seumur-umur aku ini, Ayah dan Ibuku mendapat malu karena karakterku seperti laki-laki.


Bahkan mereka sangat bangga kepada diriku, karena selama ini aku tidak pernah manja, bisa menjaga diri, di sekolah selalu berprestasi dan satu lagi, rajin shalat. Itulah yang membuat mereka bangga kepadaku.


Lamunanku buyar kala Mama Kak Gilang memanggil namaku.


" Nisa..., sekarang kita coba kebayanya ya..., Siti antar Annisa ke ruang Pas lagi


" I...iya Ma...," jawabku gugup karena keadilan melamun.


Aku melepas gaun berwarna merah dan mengenakan kebaya berwarna putih yang sangat indah. Kebayanya sangat pas di badan. Ku padukan dengan jilbab berwarna putih. Terlihat di cermin tubuhku sangat ramping, tinggal memoles sedikit wajahku, mungkin akan kelihatan lebih cantik.


Sedangkan diluar, Tante Dewi memberikan tuxedo berwarna hitam dan putih untuk di coba oleh Gilang. Gilang segera belakangnya pas khusus untuk laki-laki. Di ruang Pas, Gilang mengenakan jas berwarna putih, terlihat dia sangat tampan dan sangat gagah sekali.


Dia segera mendekat dan menggandeng tanganku. Aku terpaku kala tangannya menarik tanganku menuju pintu keluar.


Mama Kak Gilang dan Para karyawan terperangah melihat Kak Gilang yang terburu-buru menarik tanganku.


" Lang!!, Annisa mau di bawa kemana?," tanya Mama Kak Gilang terheran melihat putera menggandeng calon menantunya.


" Gilang mau bawa Nisa ke KUA Ma..., kami kan sudah pakai baju pengantin, tinggal ijab kabulnya aja kan...," ucap Gilang yang berkata dengan santai tanpa memikirkan perasaan orang yang mendengarnya.


Ting


"Aw!!!, Sakit Ma...," teriak Gilang mengaduh.

__ADS_1


" Bocah edan!!," teriak Tante Dewi menyentil kening puteranya.


" Berkasmu saja belum selesai Lang..., kamu sudah kebelet mau kawin!," ucap Mama Kak Gilang sedikit emosi akan kelakuan puteranya.


" Nikah Ma..., bukan Kawin,"Jawab Gilang membantah ucapan Mamanya.


" Iyalah Lang, sama aja itu," ucap Mamaby yang males


" Ih..., Mama ini..., soal berkas, itukan bisa menyusul, sekarang ijab kabul terus aja ya Ma..," ucap Gilang yang sudah tidak sabar ingin cepat memperistri Annisa.


"Ngomong lagi kamu, Mama Batalkan pernikahan kamu sampai tahun depan," ucap Mama Kak Gilang mencoba menggertak anaknya.


" Mama..., tega Mama nunggu anaknya karatan," ucap Gilang yang sangat manja.


Ting


" Aw," Tante Dewi menyentil puteranya kembali.


" Ya Allah Lang, umur kamu baru berapa?, pusing Mama bicara sama kamu, Udah siti..., bantu Nisa mengganti baju ya, biar anak edan ini mengantar Ibu ke rumah Nisa secepatnya," ucap Mama Gilang yang sudah hampir hilang kesabaran menghadapi sifat tengil puteranya.


Siti mengganggukkan kepalanya dan mengantar diriku kerjanya pas kembali.


" Siti terima kasih ya..., sudah bersedia membantu saya," ucapku tulus kepada Siti yang umurnya tidak beda jauh dengan


" Iya Nona, sama-sama," ucap Siti dan pamit ingin meladeni pembeli lainnya.


Beberapa menit kemudian.


" Nisa , kamu sudah siap..," jerit Mama Kak Gilang memelanggil diriku.


" Sudah Ma..," ucapku yang sedikit pelan tapi masih bisa di dengar..

__ADS_1


******


Jangan Lupa Like, komen , Vote dan Hadiahnya ya...


__ADS_2