
Sesampainya di kota Bandung, berita kepindahan Pak Iwan sudah terlebih dahulu di dengar oleh adik perempuannya dan di sambut dengan gembira. Keluarga Pak Iwan langsung menempati rumah peninggalan orang tuanya.
Devi sartika adalah nama adik perempuan Pak Iwan yang terkenal jago membuat kue. Toko kuenya yang sudah berkembang di kota-Kota besar semakin banyak peminatnya. Suami Tante Devi adalah seorang pengusaha bernama Yudi Dermawan. Perusahaannya lumayan besar dan mempunyai anak cabang di ibukota Medan dan Kalimantan.
Devi memiliki sepasang anak yang bernama Andrian Sanjaya dan Citra Kumala. Mereka masih duduk di bangku SMA dan SMP. Berkat usahanya yang berkembang, Tante Devi mempunyai kontrakan di samping rumahnya. Kontrakan yang hampir 30 pintu membuat lingkungan itu seperti perumahan.
Biaya sewanya pun tidak terlalu mahal, sehingga bila ada yang pengontrak pindah, cepat berganti dengan pengontrak baru.
Tante Dewi membuat kontrakan khusus Pria, dan Pasutri.
Hari berganti hari, sudah satu minggu keluarga Pak Iwan menempati rumah peninggalan orang tuanya, rumah yang besar dan bisa di katakan mewah itu adalah warisan dari orang tuanya Pak Iwan. Pak Iwan tidak pernah menyinggung harta peninggalan orang tuanya.
Kini Pak Iwan dalam keadaan terdesak sehingga mau tidak mau Pak Iwan harus mengambil rumah peninggalan orang tuanya itu. Sebenarnya Pak Iwan lebih suka mandiri daripada di bantu orang tuanya.
Ternyata selain rumah, Pak Iwan juga di beri sawah yang membentang di batas kota. Persawahan yang di tanami padi itu di sewakan kepada warga kampung. Pak Iwan yang bekerja menjadi Guru Pegawai Negeri Sipil yang mengajar jauh dari kampungnya, tidak terlalu sering pulang untuk mengurus tanahnya di kampung, sehingga tidak ada yang mengurus persawahan tersebut.
Ibu Annisa sudah seminggu ini membantu Tante Devi membuat kue. Kue-kue yang di buat Ibu Annisa menambah peminat pelanggan di toko kue Tante Devi. Di samping toko kue tersebut di buat coffe shop untuk menemani hidangan kue. Jadi peminat tidak dari kalangan tua saja tetapi dari kalangan muda juga banyak.
Kopi pendamping ketika makan kue sangat digemari para karyawan kantor di sore hari. Penghilang penat seharian menghadapi kerjaan dan juga para muda-mudi sambil nongkrong menunggu sore hari tiba.
Bangunan ruko dua tingkat di samping rumahnya setiap hari selalu di kunjungi kalangan ibu-ibu, muda-mudi juga para pegawai kantor. Mereka selalu memesan kue dalam porsi yang banyak. Terkadang untuk pengajian, acara kantor ataupun peresmian perusahaan.
Tante Devi mempunyai niat membuka cabang toko kuenya di dekat kampus sekolah, letaknya yang strategis dan juga ramai.
Dari jauh terlihat gadis cantik berkerudung menuju toko kue Tante Devi. Dengan raut wajah yang sudah mulai kemerahan, bibir merah jambu dan matanya yang sendu, memegang sebuah buku diary yang selalu menemani hari-harinya.
Buku yang menjadi hadiah di hari terakhir dia menempati rumah lamanya di Tangerang. Ada seorang kurir pos yang mengantar sebuah paket dengan nama pengirim GP, buku itu setiap hari yang menemaninya untuk mencurahkan keluh kesahnya.
Annisa melangkah memasuki toko kue setiap hari ketika sore menjelang melihat matahari tenggelam dari lantai toko paling atas.
Seorang pemuda selalu memperhatikan Annisa yang rutin ke toko kue Tante Devi setiap sore hari. pemuda itu seorang perwira yang menempati kontrakan Tante Devi. Dia selalu memandang Annisa dari kejauhan.
__ADS_1
Suatu hari Annisa melangkah ke toko tidak sengaja bertubrukan dengan seorang pelanggan yang mengakibatkan Annisa hampir terjatuh. Syukurnya Pemuda itu ada di belakang. Dan dengan cepat memegang tangan Annisa. Annisa yang gugup sudah lama tidak bertemu laki-laki kembali ketakutan.
Tante Devi yang melihat keponakannya seakan ketakutan langsung merangkulnya dan menenangkan keponakannya itu.
Diajaknya duduk dan di berinya minum.
Pemuda itu sengaja mengikuti Annisa karena ingin berkenalan dari beberapa hari yang lalu. Rasa penasarannya semakin bertambah ketika Annisa selalu bermanja kepada Tante Devi dan satu pekerja paruh baya, siapa lagi kalau bukan Ibunya Annisa.
Tante menghampiri pemuda itu, Tante seakan familiar dengan wajahnya dan tidak asing. Tapi Tante Devi melihatnya selalu Memakai baju biasa. Kenapa ini pakai baju perwira. Tante Devi mencoba berkenalan dengan pemuda itu.
" Siapakah namamu Dek,"ucap Tante kepada pemuda itu.
" Nama saya Bima sakti, panggil saja dengan Bima,Tante."jawab Bima dengan sopan.
"Sepertinya Tante sering lihat kamu tapi di mana ya?ucap Tante mikir.
" Iya tante, saya yang menempati kontrakan
" Oh, iya... ternyata kamu perwira itu, mana ganteng lagi," ucap Tante kepada Bima.
" Ah, Tante bisa aja,"ucap Bima tersenyum.
" Iya benar, Andai saja anak Tante sudah besar Tante akan jodohkan sama kamu," ucap Tante bercanda.
" Itu siapa Tante?," ucap Bima memandang annisa yang duduk di sofa sambil menekuk lututnya dan merasa ketakutan.
" Oh, itu keponakan Tante, baru datang dari Tangerang, Tante kasihan sama dia, akibat traumanya sampai sekarang dia masih ketakutan,"ucap Tante menjelaskan.
"Apakah sudah di bawa ke Psikolog Tante,"ucap Bima memberikan solusi.
"Sudah, baru semalam kontrol, beberapa hari ini dia sudah mulai pulih, tapi hari ini karena ada yang menabraknya di depan pintu tadi, dia menjadi ketakutan kembali." ucap Tante menjelaskan.
__ADS_1
" Terima kasih ya kamu sudah membantu keponakan tante tadi, " ucap tante
" Iya tante sama-sama, apakah saya boleh berkenalan dengan keponakan Tante?"ucap Bima memberanikan diri meminta izin kepada Tante Devi.
" Tante tidak bisa memastikan, kamu coba saja dahulu, Kalau anaknya tidak merespon jangan dipaksa ya...Baiklah Bima, Tante tinggal dulu ya," ucap Tante dan berlalu melayani pelanggan.
Bima mendekati Annisa yang duduk sambil menekuk lututnya. Buku hariannya di peluknya seakan tidak ada orang yang boleh mengambilnya.
"Hai, bolehkah kita berkenalan? ucap Bima kepada Annisa.
Annisa tidak merespon dia hanya melihat Bima saja.
" Nama saya bima, nama kamu siapa?,"ucap Bima kepada gadis di depannya.
Annisa kembali menundukkan pandangannya dan melihat diarynya kemudian menunjukkan nama di diarynya itu. Bima yang melihat namanya segera tersenyum, dia senang ternyata gadis di depannya merespon ucapannya.
" Aku akan menjadi temanmu, kamu jangan takut ya, aku tidak akan melukaimu" ucap Bima kepada Annisa.
Pandangan mata Annisa kembali melihat ke arah Bima, dia bisa mendengarkan ucapan Bima tetapi mulutnya seakan enggan untuk berbicara.
" Di Depan sana ada sebuah taman, kamu mau tidak ikut denganku besok, aku akan membawamu melihat bunga-bunga yang cantik, banyak yang ke sana pada hari minggu ketika sore hari, apakah kamu mau ???" ucap Bima pelan dan memandangi wajah Annisa yang sepertinya merespon.
Annisa menganggukkan kepalanya dan wajahnya kembali normal tampak berseri tidak ketakutan lagi.
Ibu Annisa tersenyum melihat puterinya merespon ucapan Bima. Dari belakang Raga tampak memperhatikan Adiknya yang sudah banyak kemajuan untuk sembuh dari traumanya. Raga juga mendengar pembicaraan Bima dengan Annisa, Raga tidak mau Annisa sampai trauma yang kedua kalinya. Raga akan terus memantau Adiknya, sampai Adiknya Sembuh.
Keesokan harinya, diakhir pekan. Bima yang libur tidak bertugas, menghabiskan waktunya di depan rumah sambil main game online. Dari jauh bisa melihat Toko kue Tante Devi. Ketika Asik main Game ada tetangga Bima mengajak nongkrong di Coffe shop Tante Devi. Bima yangbtidak ada kerjaan langsung menyetujui dan segera menuju coffe shop tersebut.
Ketika masuk ke ke dalam, Bima di suguhkan pemandangan Annisa yang luar biasa. Annisa yang pertama di jumpainya enggan berbicara sekarang sedang memainkan gitar dan menyanyikan sebuah lagu untuk menghibur dirinya sendiri. Wajahnya tersenyum memancarkan kecantikan seperti bidadari. Sungguh wanita sempurna itulah yang ada dipikiran Bima.
Bima melangkahkan kakinya menuju Annisa bernyanyi. Bima menyambut lagu Annisa sehingga terasa kompak. Mereka menjadi pasangan duet yang cocok dengan suara keduanya yang bagus. patut di acungi jempol untuk keduanya. Pelanggan yang lain menikmati nyanyian mereka berdua memberikan tepuk tangan yang meriah dan membuat keduanya malu. Keduanya segera turun dari panggung. Annisa merasa gugup dan segera naik ke lantai atas untuk curhat kepada diarynya.
__ADS_1