Teman Palsu

Teman Palsu
Ketularan Bucin


__ADS_3

" Nisa, Kakak Hanya mencintaimu, tidak ada wanita lain di hati Kakak selama ini, apakah kamu percaya sama Kakak,???" Ucap Gilang dengan sendu dan terlihat jujur dari tatapan matanya.


" Aku berdosa jika tidak mempercayai calon suamiku, tapi semua itu kita serahkan saja kepada Allah Kak.., kelak di tunjukkan mana yang salah dan mana yang benar," ucapku menjelaskan kepada Kak Gilang untuk berusaha percaya atas ucapannya.


" Nisa tapi kakak bersumpah, tidak ada wanita lain di hati Kakak, hanya kamu seorang Nisa...," ucap Kak Gilang yang menangis memohon padaku seperti anak kecil yang minta permen.


"Iya, Nisa percaya pada Kakak, udah ah, malu...anak muda kok nangis," ucapku yang mencoba membujuk Kak Gilang untuk tidak menangis lagi.


" Nisa..., maukah kau menikah dengan Kakak secepatnya...," ucap Gilang kembali bersujud memberikan sekotak perhiasan di hadapan diriku dan itu membuatku tertegun akan kilauan yang terpancar dari perhiasan itu. Tetapi dari perkataan Kak Gilang membuatku ingin menolak perkataannya dan ragu untuk mengambil kado yang diberikannya.


" Tapi Kak, Nisa masih kuliah," Ucapku yang memikirkan masa depanku dan masih ada urusan yang harus ku selesaikan.


"Kamu gak kuliah juga bakal akan Kakak kasih uang yang banyak dan kita tidak akan miskin hanya kamu tidak kuliah, jadi ngapain harus kuliah, tugasmu nanti dirumah sesudah menjadi istri Kakak hanya melayani Kakak saja, bagaimana kamu mau kan Sayang...," ucap Gilang merayu diriku.


" Sombong, setinggi-tingginya gunung kalau digali setiap hari akan longsor juga, begitu juga dengan uang kakak, kalau Nisa shopping setiap hari lama-lama uang Kakak akan habis, jadi Nisa kuliah mau cari uang sendiri biar bisa beli keperluan Nisa sendiri," ucapku menjelaskan kepada kak Gilang.


" Isss...bawel banget sih, nurut kenapa sama calon suami," ucap Kak Gilang kepada diriku.


" Gak mau, kalau mau Nikah sama Nisa secepatnya, izini Nisa ngelanjuti kuliah dulu, kalau gak diizini, lebih baik kita jangan nikah dulu," ucapku kepada Kak Gilang.


" Iya nanti deh nanti Kakak pikir-pikir dulu," rengekku kepada Kak Gilang.


" Gak mau, maunya sekarang ," ucapku yang sangat manja.


" Iya..ya oke, iya Kakak izinin, sekarang giliran kamu jawab permintaan Kakak," ucap Gilang membujuk diriku .


" Itu kan..., mangkir, tadi katanya kalu diizini akan jawab..., Cepatlah Dek...jawab..., kalau gak kamu jawab, Kakak cium kamu disini" ucap Gilang mengancam Nisa dengan kemesumannya.


" Mulai deh, suka ngamcamnya, emang kakak suka cium orang ya.., berarti Kakak di sana begitu,"ucapku Kepada Kak gilang


" Gak Sayang..., kakak gak pernah berciuman dengan orang lain, hanya sama kamu saja kok, itupun tidak sengaja pakai adegan bibir jontor lagi. Cepat dong Nisa... Kakak sudah di tahan ini...," rengek Gilang yang seperti anak kecil.


" Kakak Mau ke kamar mandi, sono toiletnya," ucapku santai kepada Kak Gilang.

__ADS_1


"Ih.. gemes deh..., jawab kenapa sih ajakan Kakak ini, udah pakai acara romantis juga ngajak nikahnya, masih... juga di cueki," Ucap Gilang yang sudah mencubit pelan pipiku yang tembem.


" Ha...ha...Kak Gilang Bucin deh..., tunggu ya Nisa berpikir bentar," kupejamkan mataku dan kutarik napas dalam-dalam kemudian kukeluarkan kembali. "Bismillahirrahmanirrohim..., Nisa terima ajakan Kakak untuk nikah secepatnya," dengan tarikan nafas.


" Beneran Sa...,Ye....ye....," Teriak Gilang kesenangan, sankin senangnya sampai hampir memeluk diriku.


" Stop jangan peluk-peluk lagi ,belum halal tau...," ucapku memperingatkan Kak Gilang.


" He...he...he..., habis Kakak seneng banget Sa...," ucap Gilang cengengesan.


" Terus...ini kadonya Untuk Nisa kan... terima kasih ya Kak...," ucapku menunjukkan kado tang masih di pegang Kak Gilang dan segera ku ambil dari tangannya dan mengucapkan kata Terimakasih dengan senyum lebar menghiasi wajahku.


" Terima kasih doang, gak ada yang lain gitu," ucap Gilang mengedipkan sebelah matanya kepadaku yang berekspresi genit.


" Emangnya mau bagaimana lagi ngucapinya Kak, apa harus sungkem?," ucapku yang berpura-pura polos dan tidak tahu akan isyarat mata dan arti dari perkataan Kak Gilang yang sudah menjerumus kemesuman.


"Biasanya sepasang kekasih ngapain lagi kalau sedang berdua, misalnya ngasih Kiss gitu...," ucap Gilang menjaili diriku dengan senyumnya yang menggoda.


Perasaan ku tidak enak mendengar perkataan Kak Gilang. Jika dua orang insan yang berlainan jenis, berada ditempat yang sepi, maka orang ketiganya adalah setan. Setan akan menggoda dua insan yang lagi dimabuk cinta melakukan hal maksiat. Naudzubillah Min dzalik.


Sementara Kak Gilang melihat tingkahku yang polos merasa terhibur dan tertantang ingin mengerjaiku lagi. Wajahnya senyum-senyum seperti mendapat undian Milyaran juta. Gilang hanya sebatas menjaili Nisa saja, tidak lebih dari itu. Gilang juga tahu batasan dalam berpacaran. Mendapat kesucian seorang wanita, adalah hadiah yang sangat berharga bagi seorang suami ketika menjalani suatu pernikahannya. Maka hal itu harus di pertahankan, sampai mereka menikah nanti.


Suasana ruangan masih seperti awal mula. Terlihat mereka sangat menikmati makanan padahal waktu sudah menjelang Ashar. Yah, waktu zuhur tanpa sadar sudah kulewatkan, aku merasa bersalah gara-gara pesta, shalat sampai di lalaikan.


Satu jam kemudian, Satu persatu tamu berpulangan, berpamitan dengan memberikan sebuah kado yang sangat banyak. Tidak kebayang banyaknya, bisa pakai bus bawanya kalau begini. Aku jadi malu bawa kado segini banyak. Seperti mau jualan, membuka Toko Istana Kado.


Senyum dari seorang pemuda yang berada di pojok ruangan duduk sendirian menatap nanar orang-orang yang memembereskan ruangan pesta. Pemuda itu merasa bersedih, tidak bisa sedekat dulu lagi kepada Nisa. Karena ada yang menjaga Nisa lebih dekat lagi untuk kedepannya. Pemuda itu meminum jus dengan ditemani sepiring kacang yang sudah sedari tadi di makannya.


Sementara anak buah Andre dan para WO sudah mengemasi barang-barang mereka untuk di bawa pulang oleh pihak WO.


Sebuah uluran tangan di depanku memintaku untuk menyambut. Tidak ada ucapan kata, hanya isyarat dan senyuman terindah yang di berikannya. Aduh geregetan deh lihat senyumnya. Setiap melihat senyumannya aku dapat merasakan hangatnya matahari. Setiap melihat tawanya, aku seperti melihat indahnya bintang. Bintang-bintang yang bertaburan di dalam hatiku seperti Kupu-kupu yang berterbangan. Kupikir-pikir Ada persamaannya mentega dengan senyum Kak Gilang. Kalau mentega di saat kena panas baru meleleh, tapi kalau senyum Kak Gilang mau kena panas, mau kena badai, mau kena hujan, tetap meleleh di hatiku. Ea...Cuit...cuit...


Malam ini pasti aku tidak bisa tidur, selalu terbayang-bayang senyummu Kak. Andai senyummu bisa ku bawa pulang, kukirimkan paket, alamatnya tertuju dalam hatiku dan sampai rumah kupajang deh senyummu di langit-langit kamarku. Jika aku lihat langit kamar, maka akan terlihat kau tersenyum kepadaku. Bucin...bucin..., sudah kena virus cinta kali aku ya. Bayangin aja dua tahun tidak bertemu. Rindu itu hampir berkarat.

__ADS_1


Dengan gugup kuulurkan tanganku yang sudah terasa dingin mencoba berdiri dan tanpa di sangka aku di ajak keluar dari ruangan itu. Aku bingung, dan seakan berat langkahku untuk meninggalkan ruangan itu, bukan apa-apa. aku hanya berat meninggalkan kado-kado yang telah di berikan tamu kepadaku.


" Kak...tunggu Kak..i...itu....," ucapku gugup ingin mengatakan sesuatu tetapi tanganku sudah ditarik Kak Gilang menuju keluar.


"Ayo Sayang, kita mau ke rumahmu bersama Papa dan Mama, mereka mau membicarakan sesuatu yangnoenting keada orang tuamu," ucap Gilang menjelaskan.


" Iya Kak Tunggu..., aduh bagaimana ini mengucapkannya sih..., aku bingung... ," ucapku yang kebingungan.


" Ada apa lagi Nisa....," tanya Gilang kepadaku.


" Kadoku Kak..., kado ketinggalan..., kan sayang kalau di tinggal semua," ucapku kepada Kak Gilang sambil memegang kado spesial dari Kak Gilang yang baru diberi.


" Ya Allah Nisa..., iya...ya..., itu gak akan di tinggal.lho Sayang..., anak buah Andre nanti yang akan membawanya ke rumah kamu, udah ayo kita berangkat, orang tuaku dan orang tuamu sudah nunggu itu didepan, ayo Sayang...," ajak Kak Gilang mengandung tanganku, memamerkan kepada di deoan umum bahwa diriku adalah milik dirinya seorang.


" Kita naik apa Kak...," tanyaku yang memikirkan mobilku kan gak mungkin haris do tinggal di panti.


" Adek mau naik pesawat? kalau mau naik biar kita pesan...," ucap Kak Gilang menjalani ku lag.


" lebay," jawabku ketus.


" Ha! itu tahu,makanya jangan nanya-nanya


" Iss...sebel deh," ucapku merajuk di depan Kak Gilang.


" Habis nanya melulu, ya naik mobil Adeklah..., tumpangi kakak gitu lho sekali-kali...," jawab Kaka Gilang kepadaku dan menyapu kepalaku yang dilapisi jilbab.


Tangan Kak Gilang refleks merangkul pundakku. dan mendampingiku melangkahkan kakiku melewati lorong-lorong panti menuju keparkiran. Degup jantungku bertalu-talu, rasa mau keluar dari sarangnya. Ku pegang dadaku untuk menetralkan degup jantungku yang sangat cepat. Ku tiup udara pelan-pelan untuk mengurangi kegugupan.


Masalahnya Kak Gilang tidak respon melihat sikapku yang kasak kusuk, gelisah dan hampir pingsan. Tangan kekarnya masih betah berada diatas pundak. Percaya diri sekali berjalan bersamaku dengan keintiman seperti ini. Aku saja sudah takut dengan ayah. Bisa-bisa besok aku sudah dikawinkan. Takut anak gadisnya di gosipi dan dikira tidak punya akhlak.


Dia apa gak ngerasai ya..., kalau diriku lagi nervous. kami tiba di parkiran, mama Kak Gilang tersenyum melihat diriku begitu dekat berjalan dengan Kak Gilang. Memang akting yang bagus, begitu di parkiran tangan kekarnya yang berada di pundakku segera di turunkannya. Mungkin takut kali ya sama ayah dan Ibu.


.

__ADS_1


__ADS_2