
Iya memang, selama berpacaran dengan Nisa kami tidak pernah ada kontak fisik sekali pun. Lantas kamu mau seenaknya saja memberikan tubuhmu kepadaku. Ingat Rin, kita masih muda. Ingat masa depan kita. Aku laki-laki normal Rin, jangan pancing-pancing aku, Aku takut aku khilaf ?" ucap Candra kepada Rini.
" Kalau kamu meminta, aku rela memberikannya untukmu " ucap Rini menggoda lalu mendekati dan menyentuh bibir Candra dengan jarinya.
" Au, sakit Rini... apa kau tidak melihat bibirku sakit "ucap Candra membentak.
" Maaf aku tidak ingat, tapi nanti kalau sudah sembuh mau kan..." ucap Rini menggoda Candra dan mengedipkan sebelah matanya.
" Dasar genit," ucap Candra.
" Tapi kamu sukakan, buktinya bukan sekali ini saja kamu menikmatinya, " ucap Rini.
" Ingat batasanmu, kita sepakat hanya bagian atas saja, tidak lebih dari itu. Kalau kamu mau lebih, sana dengan pria lain, jangan sama aku, " ucap Candra mengingatkan.
" Iya aku ingat, dan kamu harus janji jaga hatimu untukku jangan pernah kembali kepada Zaki lagi. Kalau kamu ingkar maka usaha ayahmu akan bangkrut, cam kan itu " ucap Rini dan meninggalkan Candra sendirian.
Candra merasa frustasi karena merasa selalu mendapat ancaman dari ayahnya sendiri dan juga Rini. Rini membuat kesepakatan kalau berpacaran dengannya harus melakukan adegan mesra, seperti berciuman. Bahkan Rini juga membolehkan melakukan ke hal yang lebih jauh lagi seperti berhubungan layaknya suami istri.
Awalnya Candra menolak kesepakatan dari Rini karena Candra takut khilaf. Tetapi Rini selalu mengancam akan melaporkan kepada Papanya kalau Candra telah melakukan pelecehan seksual dan akan melaporkan ke pihak yang berwajib. Candra pasrah akan kesepakatan itu dan terkadang Candra merasa jijik dengan Rini yang terlalu agresif.
* * * * * *
Di parkiran aku berdiri melihat muda-mudi bersuka ria dengan teman-temannya. Ada yang bermain gitar dan bernyanyi bersama. Tapi tidak dengan diriku hari ini. Wajahku terlihat sembab, seperti cuaca di malam ini, mendung.
Kalau dipikir-pikir aku bodoh mengapa aku menangisi orang brengsek seperti mereka. Percuma buang-buang air mata. Allah telah menunjukkan sifat asli seseorang di hari ini. Allah sangat baik ternyata, orang yang selama ini ku sayang di tunjukkan adalah seorang pengkhianat.
Ku hapus air mataku dan mengajak Kak Gilang pulang. Kak Gilang menghidupkan sepeda motor besarnya tanpa mengajakku bicara. Rintik hujan telah berhenti seperti air mataku yang juga sudah mengering. Hatiku sudah mulai membaik.
Mengapa hari ini masalah bertubi-tubi. Siang hari ayahku kecelakaan. baru saja senang melihat keadaan ayah membaik, eh, tambah masalah baru lagi ,pacarku selingkuh. Selingkuh dengan sahabat pengkhianat. Ribet punya pacar mending seperti dulu jomblo tapi di sayang semua orang.
__ADS_1
Jam menunjukkan pukul 09.30 malam, Kak Gilang membelokkan sepeda motornya di Indomaret tidak jauh dari rumahku.
"Kita berhenti dulu ya Dek, ada yang ingin Kakak beli, " ucap kak Gilang dan masuk ke dalam indomaret.
Aku menunggu Kak gilang di luar sambil memainkan game dalam ponselku. Sepuluh menit kemudian Kak Gilang keluar kembali dengan menenteng sekantung plastik lalu naik sepeda motor kembali. Aku penasaran apasih yang dibeli, aku tidak di bagi. Mana haus habis menangis. Terkuras sudah tenagaku menampar dua orang sekali gus. Perlu asupan makanan ini, mana dingin-dingin lagi. Ayah..., Ibu...,Adek lapar....
Lima menit kemudian sampailah kami di rumahku. terlihat gelap rumahku belum di hidupkan lampunya. Aku turun dan langsung mencari kunci rumah dalam tasku.
Kulangkahkan kaki menuju pintu dan memasukkan kunci. Ku cari saklar lampu menggunakan senter dalam ponsel. Kunyalakan lampu teras dan ruang tengah.
Ku lepas jaket Kak Gilang dan ku kembalikan kepadanya.
" Terima kasih Kak " ucapku sambil memberikan jaketnya.
" Iya dek , ini nih tadi kakak beli ini untuk Adek" ucap Kak Gilang.
" Apa ini Kak " ucapku memegang kantung plastik.
" Eh, es cream..., coklat, keripik kentang juga ada. Tahu saja kakak kesukaan Adek " ucapku seperti anak kecil.
" Dek , Dek, klu di tempat latihan seperti anak laki-laki, dirumah kok malah kayak anak kecil. Manja banget, udah besar lho, di ajak nikah juga sudah bisa..." ucap Gilang bercanda.
" Eh, Kakak saja yang nikah sendiri," ucapku sambil membuka tutup es cream cup besar.
" Enak..., em... " ucapku yang di perhatii oleh Kak Gilang.
" Beneran , " ucap Gilang antusias.
" Iya, kakak mau, aa....." ku sendok kan es cream lalu menyuapkan kepada Kak Gilang.
__ADS_1
" Iya enak, manis lagi, apalagi sendoknya bekas bibirmu " ucap Kak Gilang lalu tersenyum melihat bibirku belepotan makan es cream.
"Ha..., ih, Kakak jorok makan bekas mulut aku. Kakak gak jijik makannya bekas sendok aku, ha..ha...ha...nanti ketularan lho, " ucapku sambil tertawa.
" Gak, Kakak gak jijik, bentar lagi juga jadi milik Kakak, ngapain juga Kakak jijik, " ucap Gilang menggoda.
" Ha...ha... mimpi..." ucapku kepada Kak gilang sambil tertawa.
"Akhirnya tertawa juga, gini kan jadi lega kakak, meninggalkanmu di rumah, kakak gak khawatir lagi " ucap Gilang menjelaskan.
" Emangnya Kakak pikir aku mau bunuh diri gara-gara di khianati si gatel Rini." ucapku kepada. Eh...,Eh...Udah Dek, nanti sakit gigi lho, kalau gak habis masukkan kulkas saja. Tadi kakak belikan untuk kamu, biar kamu gak stres bukan langsung di habiskan begini "ucap Gilang menjelaskan.
" Siapa juga yang stres, malah Adek bersyukur ternyata selama ini Candra dan Rini sering bohong di belakang Adek. Benar kata si Arif kalau Candra sering ketemuan dengan si Rini. Berarti yang Kakak lihat waktu itu si Rini gatel itu ya Kak, " tanyaku kepada Kak Gilang.
" Iya waktu itu memang si Rini .Kalian kan sudah putus, jadi bisa dong Kakak dekati kamu..." ucap Gilang bercanda.
" No..., Adek gak mau dulu ,sakit di khianati, Ribet pacaran ,besok Adek sudah Ujian Nasional, Adek mau fokus belajar, biar lulus dengan nilai bagus, " ucapku menjelaskan.
" Good, oh ya besok pagi Adek jenguk ayah gak? kalau mau jenguk ayah, Kakak jemput Adek ya..." ucap Gilang menawarkan.
" Boleh, asal jangan merepotkan tapi bawa sarapan ya, Adek gak pandai masak, "ucapku kepada Kak Gilang sambil melihat jam dalam ponsel.
" Kakak pulang dulu ya Dek, sudah malam, nanti apa kata tetangga, nampak Pak RT di nikahkan pula kita " ucap Kak Gilang menggodaku.
" Oh, memang otaknya sudah koslet, bawaannya mau nikah melulu, " ucapku kepada Kak gilang.
" Kakak Pulang ya Dek, hati-hati dirumah kalau ada yang ketuk pintu malam-malam jangan di buka. Kalau ada apa-apa telpon kakak. oke...."ucap Kak Gilang beranjak berdiri.
" Siap Kak," ucapku sambil menghormat.
__ADS_1
" Assalamualaikum, " ucap Gilang dan mengusap kepalaku yang di lapisi jilbab.
" Wa'alaikum salam, hati-hati Kak, " ucap ku sebelum menutup pintu lalu mengunci pintu rumah.