Teman Palsu

Teman Palsu
Sakit Perut


__ADS_3

Ibu kantin tidak mengakui kalau dia sudah memberikan sambal yang lebih banyak pada somai buatannya, karena dia pun merasa tidak berbuat. Orang lain yang berbuat, Bu Susi yang kena getahnya. Malang betul nasib Bu Susi.


Satu jam di Toilet membuatku mual, tempat yang bau membuat kepalaku semakin pusing. Karena keterpaksaanlah membuatku harus rela berlama-lama di kamar mandi, mau diurungkan tidak ke toilet, tetapi perutku sangat melilit. Berulang kali aku keluar masuk Toilet sampai tubuhku terasa lemas. Aku bingung bagaimana aku ini -pulang, tubuhku saja tidak sanggup berdiri, apalagi untuk membawa motor.


Satu jam Arif menunggu di kantin, tetapi aku yang di tunggu belum juga kembali lagi. Arif segera menyusul ingin mengetahui apa yang terjadi padaku. Arif mondar-mandir di depan pintu Toilet, Dia gelisah karena Nisa sedari tadi keluar masuk Toilet dengan wajah yang pucat.


Tok


Tok


Aku berpegangan pintu saat pintu terbuka. Tubuhku tidak kuat untuk berjalan. Arif yang melihatku sempoyongan segera memafahku untuk duduk di bangku belakang kampus yang sudah terlihat sepi. Jadwak ujian yang menyepatkan Mahasiswanya pulang, membuat Kampus di tengah hari, juga sudah terlihat sepi.


" Rif, antarkan aku pulang," ucapku dengan lemas sambil memegangi perutku yang terasa melilit.


" Tunggu sebentar ya, aku telpon Kak Andre dulu," ucap Arif yang selalu melapor bila terjadi sesuatu terjadi kepada diriku.


Arif mengambil ponsel melangkah menjauhi Nisa. Entah apa yang di bicarakan mereka, tidak lama pun kembali lagi. Arif memafah diriku ke depan, di pos satpam. Pak satpam terkejut melihatku yang di kenal tidak pernah sakit.


" Kenapa Neng," ucap pak Satpam.


" Sakit perut mang," ucapku yang mencoba menjawab padahal tubuhku sudahlah sangat lemah.


" Kok bisa sakit perut Neng, pasti salah makan si Eneng ini" tanya Pak satpam penasaran.


"Cuma makan somai pedas Mang," jawabku yang sudah sangat terpaksa.


" Tapi biasanya si Eneng hantu cabai Neng?," tanya Pak Satpam yang sudah tahu kebiasaan selama dia sering ke kantin saat aku juga lagi makan.

__ADS_1


" Kok hantu mang, cantik juga di bilang hantu, apes mungkin, lambung saya sudah tipis," ucapku yang sudah meringkis kesakitan tapi si Pak Satpam masih mencoba bercanda.


Tiba-tiba Kak andre datang dan memasukkan mobilnya ke halaman Kampus. Dengan wajah dinginnya langsung keluar dari mobil dan melihat keadaanku. Arif dengan siaga memapahku ke dalam mobil tanpa menunggu abangnya.


" Rif, motorku bagaimana?tanyaku yang tidak ingin meninggalkan motor dknkaampus karena takut hilang.


" Aman itu, nanti Doni akan aku minta untuk membawanya ke rumahmu," ucap Arif di depan pintu mobil.setelah berhasil membawaku ke dalam mobil.


Mobil pun melaju dengan kencang, Aku menidurkan kepalaku di sandaran lursindengan perut melilit dan berharap berjumpa kamar mandi secepatnya. Andre yang melihatku meringis duduk di belakang seakan semakin khawatir lalu membawaku ke rumah sakit. Tujuan Andre untuk memeriksakan diriku ke rumah sakit agar sakit perutku segera teratasi. Andre juga takut, dia tidak ingin menjadi sasaran kemarahan keluarga Gilang karena tidak bisa menjaga calon menantu mereka.


Sepasang mata terlihat berwajah kecut karena rencananya gagal. Dia ingin membalaskan dendamnya kepada Arif dengan memberikan Sambal dan merica yang banyak ke dalam Somai si Arif. Tetapi Nisalah yang memakan Somai tersebut karena tertukar dengan somai Arif.


Dia mengambil kesempatan memberikan sambal.ketika Ibu Susi sedang di panggil anak-anak yang akan membayar. Orang tersebut yang memeng di dalam kantin langsung menuju dapur diam-diam dan menjalanlan aksinya. Orang itu adalah Candra. Candra yang sangat terobsesi dengan Citra segalanya cara di kerjaannya agar Nisa dapat kembali padanya lagi dan menjadi pacarnya seperti dulu. Dia menyesal karena ulahnya Nisa sekarang menjadi sakit dan bila Nisa tahu mungkin Nisa akan semakin membencinya.


Tanpa sepengetahuannya Ibu Susi, ada orang yang sudah memberikan sambal dan merica ke piring Nisa. Ibu Susi sangat menyayangkan kejadian itu dan merasa bersalah. Dia lalai dalam menghidangkan makanan, dan dia bisa ceroboh tidak teliti sebelumnya. Dan tidak sampai di situ saja, urusan ini bisa lebih gawat lagi. Kantinnya ini pasti akan segera di tutup karena sudah berurusan dengan keluarga Yuda.


Beberapa jam sebelum Nisa sakit perut.


Nisa melarikan diri karena ketakutan sudah menendang motor seseorang tepat di lampu merah. Kecelakaan beruntun itu mengakibatkan 6 orang terluka dan 4 sepeda motor rusak. Terpakasa Yang terluka harud di bawa kebrumah sakit terdekta untuk segera di obati luka-lukanya. Petugas Keamanan yang cepat datang di TKP tersebut segera menangkap dan menginterogasi pelaku. Syukurnya lampu merah di lengkapi CCTV, sehingga memudahkan Petugas Keamanan mengusut perkaranya.


Saksi mata yang melihat kejadian perkara di panggil petugas keamanan ke Polsek agar memberikan saksi. Andre yang selalu membuntuti kemana Nisa pergi, segera menyelesaikan masalah Nisa tanpa Nisa harus pergi ke sana. Ganti rugi perbaikan motor dan pengobatan korban kecelakaan, juga sudah di tuntas Andre. Yang di sayangkan Andre, pelaku hampir saja melakukan pelecehan kepada Annisa. Syukurnya Annisa mempunyai kepandaian bela diri, sehingga bisa melindungi dirinya dari manusia durjana itu.


Tugas yang di emban Andre menjadi orang kepercayaan Gilang sangatlah berat. Dia di sana santai mengahadapi kuliahnya. sedangkan Andre di sini begitu ketat menjaga Annisa. Untuk membuang rasa cintanya kepada Nisa saja, dia rela mengorbankan salah satu antara perasaan dan tugas.


Andre lebih baik mengalah dan memendam rasa cintanya. Memendam rasa memanglah menyesakkan dada. Terkadang Andre melampaskannya dengan cara minum-minuman beralkohol,. agar perasaan itu sedikit berkurang. Sebenarnya bukan makin berkurang tetapi semakin bertambah. Andre sering meracau menyebut nama Annisa pada saat dia mabuk. Masuknya Andre membuat Arif sangat menyayangkan sikap Abangnya karena tidak bisa mengontrol sikapnya.


Andre selalu berpikir untuk menjauhi Nisa, tetapi selama Gilang pergi, untik.menjauhiny saja sangat susah malah semakin dekat. Terkadang sudah malam oun , Andre menyempatkan lewat di depan rumaah Annisa hanya untuk memastikan bahwa Annisa dalam keadaan baik-baik saja.

__ADS_1


Pemikiran Andre terkadang meyatakan dalam benaknya, biarlah aku tidak bisa memilikinya tetapi aku bisa menjaganya setiap hari dan bisa selalu di sampingnya.


*******


Di rumah sakit aku langsung di tangani Dokter Wanita. Dokter Arini adalah nama Dokter tersebut. Dokter yang sudah lama menjadi Dokter keluarga Gilang. Dengan bantuan Kak andre, aku membaringkan tubuhku di ranjang, Dokter segera memeriksa keadaan perutku dan mendiagnosa penyakitnya. Cairan infus pun di pasang di pergelangan tanganku. Tubuhku yang lemas perlu banyak cairan agar tubuhku segera pulih kembali. Dokter memberikanku obat untuk meredakan rasa sakit dan perih di lambungku melalui cairan infus.


Untuk sekarang aku di larang oleh Dokter untuk memakan makanan yang pedas dulu, karena resikonya dapat menyebabkan merapuhan permukaan lambungku sehingga lambungku bisa mudah terluka bila aku nanti memakan pedas kembali.


Ayah dan Ibu yang di beri tahu Andre segera datang untuk melihat diriku ke rumah sakait. Ibu terlibat sangat khawatir. Berita yang di katakan Kak Andre kalau aku sakit ternyata membuat Tente Devi heboh sampai mengusung keluarganya ke rumah sakit untuk menjenguk diriku yang terbaring di ranjang. Ruang inapku sudah di pindahkan ke ruangan VIP, dengan fasilitas menyerupai kamar mewah.


Andre yang tahu keadaanku terbaring lemah di rumah sakit segera menghubungi Arif. Arif yang baru tiba di bengkel merasa kesal, karena dia sudah paham siapa abangnya yang akhir-akhir selalu suka memerintah. Arif segera bergegas ke rumah sakit untuk menemui Andre yang sudah mengancamnya bila dalam waktu 15 menit dia tidak datang, maka Andre tidak segan-segan untuk mengungkapkan perasaannya kepada Nisa didepan orang tua Annisa. Selama ini Arif selalu mewanti-wanti Abangnya jangan sampai Abangnya sampai mengungkapkan perasaannya.


Beberapa menit kemudian


Arif sampai di rumah Sakit dengan terburu-buru dan mencari ruangan Nisa di rawat. di depan pintu Andre telah menunggu di depan pintu.


" Kenapa kamu tidak bisa menjaga Nisa?tanya Andre kepada Arif.


"Aku juga tidak tahu Bang, biasanya tidak ada masalah sama makanannya," jawab Arif kepada abangnya.


"Ia tapi kamu kurang teliti, seharusnya sebelum di makan Nisa, kamu harus terlebih dahulu yang memakannya," ucap Andre dengan keposesifannya.


" Wih, mana mau Nisa makan bekas gue, gak ada sejarahnya tuh. si Nisa tidak mau makan kalau sudah sisa orang lain, " ucap Arif yang sudah tahu kebiasaan Nisa.


" Abang apa rela jika Nisa kepelet


denganku kerena sudah makan belas sisa makananku," ucap Arif dengan menjalani abangnya.

__ADS_1


Andre memukul kepala Arif karena sudah membuat Abangnya cemburu.


__ADS_2