
Keesokan harinya selesai sholat subuh Annisa melanjutkan kembali tidurnya. Di tempat tidur di bawah selimut Annisa tetap memakai baju yang sama seperti kemarin. Ibu yang sebelum tidur mengecek keadaan Annisa terlebih dahulu, ada niat hati ingin mengganti baju puterinya tapi takut mengganggu mimpi indah sang puteri. Akhirnya di biarkan saja sampai pagi.
Hari ini weekend, dihari sabtu dan minggu Annisa tidak masuk kuliah, dia memilih rebahan lebih lama, menunggu ibunya memanggil puteri kesayangannya. Biasanya si Ibu kalau anak gadisnya tidak bangun-bangun harus di jemput ke kamar, baru puterinya beranjak bangun.
Matahari sudah terang, Ayah dan Raga sudah pergi ke sekolah. Raga satu sekolah dengan ayah. Raga untuk sementara waktu ikut mengajar di sekolah tempat ayah bekerja, menggantikan seorang guru yang lagi cuti melahirkan.
SMPN 1 Bandung, sekolah yang tidak terlalu jauh jaraknya dari rumah Raga. Raga mau menggantikan guru itu untuk sementara karena ingin menambah pengalaman dan sekalian penelitian skripsi di sekolah tersebut. Tinggal menghitung hari, Raga akan mendapatkan gelar Sarjananya.
Raga yang mempunyai impian menjadi Dosen di universitas Bandung akan mengambil S2 nya di Universitas Padjajaran. Sedikit demi sedikit dia Menabung agar kelak dapat melanjutkan S2 tahun depan.
Annisa membuka matanya kala matahari sudah sepenggalah. Ibunya sudah berulang kali menarik selimut Annisa, agar Annisa cepat bangun dan ikut ke Toko Kue Tante Devi untuk membantu membuat Kue, tapi Annisa malah tidur kembali, Annisa merasa badannya sangat lelah. Ibu bilang anak perempuan harus cepat bangun dan harus pandai memasak karena suatu saat perempuan itu akan menjadi seorang isteri dan tinggal di rumah sendiri.
Annisa dengan semangat empat puluh lima bangun dan segera mandi. Merapikan tempat tidur dan merapikan kamar. Dandan yang cantik supaya pembeli senang melihat kasirnya cantik dan wangi. Toko Tante yang di percayakan aku menjadi kasirnya. membuatku harus sering tersenyum dan banyak mengucapkan terima kasih.
Banyaknya pembeli membuatku semangat untuk melayani pembeli dan mengecek pesanan. Ibu dan Tante sudah menjadi Koki Profesional, tidak perlu di ragukan lagi keahlian mereka membuat kue.
Citra selalu menyempatkan diri ikut mengemas kue yang akan diantar kepada pelanggan. Terkadang Citra juga ikut mengantar kue bersama supir ke Kantor- kantor, sekolah, dan Acara Arisan. Katanya senang kalau mengantar kue sekalian cuci mata lihat cowok- cowok ganteng.
Hari ini ayah pulang lebih awal karena di sekolah sedang Ada cara rapat, Ayah yang baru pulang dari sekolah langsung ke Toko Tante Devi ingin memanggilku pulang ke rumah. Ayah ingin membicarakan hal semalam yang di bahas Gilang.
Sampai di rumah Ayah segera mengganti pakaian dan makan siang terlebih dahulu. Annisa yang sudah mahir memasak, segera menyiapkan makan siang untuk ayah.
menu yang dimasak Annisa juga tidak terlalu sulit yang penting lezat di lidah. Annisa masak sayur lodeh dan sambal ikan nila.
Ayah menyantap masakanku dengan senang, wajahnya juga terlihat bahagia, berarti menu yang ku hidangkan juga enak di lidah ayah. Selesai ayah menyantap masakanku, ayah mengajakku duduk di teras belakang menikmati udara siang di bawah pohon rambutan yang berbuah lebat. Kuhidangkan secangkir teh untuk ayah dan sepiring kue lapis untuk menemani perbincangan kami.
" Dek, ayah sudah mulai tua, Ayah dengar kamu semalam hampir saja celaka, bagaimana kalau Ayah tidak bisa menjagamu," ucap Ayah kepadaku sambil menyeruput teh panasnya.
__ADS_1
"Adek bisa jaga diri Yah, Ayah tidak perlu khawatir," ucapku meyakinkan Ayah.
" Ayah takut kamu akan celaka Dek, lihat Si Arif yang Ayah dengar dia terluka parah, Ayah takut orang-orang mencelakaimu akan semakin dendam," ucap Ayah mengkhawatirkan diriku.
"Jadi bagaimana Yah, semua itu harus dijalani, karena Allah bersama kita, selama kita benar Allah akan menjaga kita," ucapku kepada Ayah.
" Dek, tadi malam Gilang menghadap Ayah, dia melamar kamu Dek, apa sebelumnya dia pernah ingin melamar kamu," ucap ayah ingin mendengar jawabanku.
Aku menganggukkan kepalaku, terkejut rasanya mendengar perkataan ayah, tidak menyangka Kak Gilang senekat itu berbicara sama Ayah. Aku kira Kak Gilang hanya bercanda, eh ternyata dia serius. Aku takut ujung-ujungnya keluargaku akan terkena imbasnya dari teror mereka. Tapi aku juga bingung bagaimana aku akan menyelamatkan keluargaku sedangkan diriku saja sulit untuk lepas dari kejaran mereka.
" Jadi bagaimana Dek, apa kamu menerimanya," ucap Ayah kembali.
" Ayah, Adek perlu berpikir, adek masih muda, masih jauh perjalanan Adek ingin meneruskan cita-cita Yah," ucapku menjelaskan.
" Ini bukan masalah cita-cita Dek, ini demi keselamatanmu, Ayah tidak selalu senantiasa menjagamu , Abangmu juga sekarang lagi sibuk dengan kuliahnya, Ayah ingin ada
" Iya Yah, Adek akan shalat istikharoh dulu nanti malam Yah, InsyaAllah Adek akan jawab satu minggu lagi," ucapku permisi ingin melaksanakan shalat zuhur dan ingin mengetahui keadaan Arif dari Kak Gilang.
Aku pun pergi ke kamar melaksanakan sholat zuhur, kupanjatkan doa kepada Allah untuk keselamatan diriku dan keluargaku dan kesehatan Arif. Kuambil Al qur'an untuk menenangkan diriku yang lagi galau. selepas mengaji ku ambil ponsel yang ada di tempat tidur dan menghubungi Kak Gilang melalui VC.
" Assalamualaikum Kak,"
" Wa'alaikum Salam Dek, ada apa,"
" Adek mau tahu keadaan Arif, bagaimana Arif Kak,"
" Ini Arif sudah sadar dia menanyaimu Dek, Kakak akan jemput kamu, kamu di rumahkan?
__ADS_1
" Iya kak, hati-hati di jalan,"
" Assalamualaikum Dek,"
" Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,"
Kulihat wajah arif yang kebiruan, luka memar di hidung, mata, dan pipinya aku sedih melihatnya. Aku berpikir bagaimana Arif makan nanti, bibirnya saja bengkak. Ya Allah sembuhkan Arif.
Ku persiapkan diriku menunggu Kak Gilang datang. Aku ingin melakukan penyamaran supaya perjalananku aman. Aku yakin orang yang ingin mencelakaiku pasti berkeliaran di luar sana. Aku yang sudah memakai jilbab, ku lapisi dengan rambut Wig berwarna pirang panjang kulihat di cermin seperti boneka barbie. Baju yang ku kenakan gaun sederhana berwarna biru dengan sepatu tumit yang tidak terlalu tinggi. Kulihat diriku seperti boneka barbie di cerita dongeng anak-anak. Perpect
Tiga puluh menit kemudian mobil Gilang memasuki halaman rumah, baju casualnya menambah aura ketampanannya. Bila berdekatan dengan Bima sebelas dua belas tampannya. Bagaimana kabar Bima ya hari ini tidak kelihatan batang hidungnya.
Ibu yang melihat dari Toko Kue Tante Devi ada mobil di halaman rumahnya segera menghampiri tamu yang datang. Ibu terkejut ternyata Gilang yang datang dan ingin izin membawa Annisa ke rumah sakit, karena Arif sudah sadar dan ingin bicara langsung dengan Annisa.
Aku pun keluar dari kamar dan menuju teras depan, Ibu tercengang melihat ada tamu tidak di undang masuk ke rumah. Ibu mengambil sapu dan ingin menyuruhku pergi tapi langsung ku peluk ibu dan membisikkan sesuatu di telinganya agar tidak kedengaran keluar, bisa bahaya terbongkar semua penyamaranku.
Kak Gilang yang melihatku juga tercengang meneliti wajahku dengan seksama tidak pernah terpikirkan olehnya kalau aku menjadi wanita benaran, cantik seperti wanita barbie betulan.
" Tutup Kak mulutnya, elap ilernya," ucapku menjaili Kak Gilang.
" He..he... he..., belum tidur masa ada iler...," jawab Kak Gilang yang mencoba mengembalikan konsentrasinya.
" Ayo kita berangkat Kak," ucapku mengajak Kak Gilang pergi.
" Baiklah tuan putri dengan senang hati," ucap Kak gilang menirukanku seperti tuan puteri kerajaan mempersilahkan aku masuk ke mobil karena pintu mobil sudah dibukakannya.
Wajahku yang diperhatikan Kak Gilang sudah merah seperti buah rukam yang di curi kelelawar dari tetangga sebelah.
__ADS_1