Teman Palsu

Teman Palsu
Agresif


__ADS_3

" Makan Dek,"


" Iya Kak,"


Dalam diam kami melahap makanan yang ada di depan mata. Jangan di tanya perutku yang sudah lapar dan keroncongan. Tidak usah gengsi, yang akan membuat kita lapar. Sedikit bar bar yang penting kenyang.


Dari jauh sepasang mata menatap diriku yang sedang menyantap makanan.


Tidak sengaja ketika dia menatapku, pandangan kami bertemu dan dia tersenyum lebar kepadaku. Cepat-cepat ku buang pandanganku. Sangat tidak wajar seorang calon istri bertatapan dengan pemuda lain


Takut Kak Gilang curiga. Mungkin ini yang namanya cobaan untuk wanita yang sebentar lagi menikah.


Aku tidak leluasa menyicip makananku lagi, perut yang lapar menjadi kenyang. Moodku berubah dalam sekejab. Syukurnya Kak Gilang tidak menaruh curiga. Kalau dia sampai melihat pramusaji itu bisa habis pemuda itu dihajarnya.


Pramusaji tidak tahu diri. Sudah jelas cincin kawin melingkar di jari manis putihku, masih saja mengganggu. Memang pemuda kegatelan.


Ku lihat Kak Gilang menyudahi makannya, aku pun menghentikan makanku yang sudah tidak berselera. Menu yang pertama menggugah selera terlihat muak.


"Kenapa gak di habisi Dek, gak enak ya? kamu makan apa?,"


Aku menggelengkan kepalaku. Mencoba menyembunyikan sesuatu yang membuatku tidak berselera makan.


" Kamu nanti sakit lho Yang..., sini Kakak suapi," Gilang menarik piringku dan langsung menyuapi dengan sendok yang sudah berisi nasi dan lauknya.


Kesempatan ini ku manfaatnya supaya pemuda yang di pojokan sana merasa kesal menatap kemesraan kami berdua. Emang enak lihat orang mesra-mesraan. Aku pun sedikit manja dan sedikit menempel dengan Kak Gilang. Gilang yang melihat tingkahku, bingung tidak pernah dia melihatku seagresif begini.


Kak Gilang menyuapkan makanan ke mulutku.


Entah sudah berapa suapan yang masuk ke mulutku, sampai makanan yang di piring tidak bersisa. Sungguh sangat lezat makanannya. Mungkin karena di suapi rasa masakannya semakin nikmat. Secepatnya Kak Gilang menyapu mulutku menggunakan tisu karena terdapat sisa makanan yang masih menempel.


Di perlakukan Kak Gilang seperti anak kecil membuatku sedikit manja. Entah keberanian dari mana diriku mencium pipinya begitu mesra.


Cup

__ADS_1


Aksiku sungguh membuat Kak Gilang terkejut. Diriku yang sangat agresif memancing Singa jantan yang masih tidur. Dan membuat Kak Gilang begitu senang, aku yang mendapat tatapan yang tidak biasa. Seperti tatapan mesum seorang pemuda kepada lawan jenisnya. Sungguh menyeramkan. Dan aku menjadi kikuk, tertunduk malu melihat tatapan Kak Gilang yang sangat tajam. Lain halnya dengan sepasang mata yang terus tertuju kepada kami berdua.


Membayangkan hal tadi sungguh membuatku seperti menjadi wanita murahan, pasti orang yang melihat diriku percuma berhijab. Tetapi kelakuan seperti wanita lainnya yang menyerahkan tubuhnya kepada pemuda di luaran sana. Terserah orang mau bilang apa, aku hanya ingin terbebas dari tatapan pemuda yang terus menatapku tajam. Tatapannya seperti pisau yang akan menghunus jantungku.


Kak Gilang menggenggam tanganku dan seperkian detik menciumnya begitu lama. Aksi Kak Gilang membuat pemuda itu emosi dan melangkah pergi. Tatapi jejaknya membuat kegaduhan di depan kami. Pemuda itu sengaja menendang beberapa kursi yang di sebelahnya sehingga berserakan ditanah.


Pengunjung yang yang di sana berteriak histeris dengan aksi pemuda itu. Begitu juga dengan Kak Gilang yang terlonjak dan melepaskan genggaman tanganku. Ingin mencari tahu apakah yang terjadi sehingga terjadi kegaduhan. Aku mencoba mencegah dan menarik lengan Kak Gilang.


" Kak, Nisa ngantuk, kita pulang aja yuk," alasan diriku agar Kak Gilang tidak mencari tahu sumber kegaduhan itu.


" Baiklah, di sini tidak aman Yang..., sebaiknya kita kembali ke penginapan," Dengan sifat posesifnya merangkul pundakku.


Aku mengangguk dan berpikir itu lebih baik dari pada terus berlama di sini membuat jantungku tidak tenang. Dengan sigap Kak Gilang membuka pintu mobil untukku dan langsung mengemudikan mobilnya.


" Kak, kita tidak beli oleh-oleh untuk orang tuaku ,"


" Kamu tenang saja, Mama sudah mempersiapkannya, yang penting malam ini kamu tidur nyenyak. Dan besok pagi kamu bangun dalam keadaan segar,"


Mobil berhenti dan aku segera turun. Tangannya langsung menggenggam jemariku, tidak ingin terlepas sedikit pun. Senyumnya terus mengembang sepanjang jalan kami melangkah.


Cup


"Selamat Tidur Sayang..., tidur yang nyenyak ya Sayang.., mimpi yang indah," Pesan kak Gilang sebelum melangkah pergi dari kamar.


Dia berjalan mundur terus menatapku mengucapkan I Love You dan menempelkan tangannya di bibirnya dan meniupkannya kepadaku. Aku dengan sigap menangkapnya. dan menempelkan ke bibirku.


Aksinya terlihat olah pegawai hotel yang berjalan menuju kami berdua tanpa di diketahui Gilang. Dan tanpa sengaja di tabrak Gilang. Karena Gilang yang tidak hati-hati berjalan sambil mundur. Kekonyolannya hampir saja menjatuhkan pegawai hotel yang sedang membawa hidangan.


" If you walk carefully," (Kalau jalan hati-hati)


" I'm sorry," (maaf kan saya)


Aku segera menutup pintu kamarku takut aksiku juga akan terkena imbas.

__ADS_1


Dor


Tanganku reflek memegang dadaku yang berdetak kencang. Aku masih merasakan kebahagiaan yang malam ini sangat indah dari pada hari-hari yang sudah kulewati. Ternyata indahnya jatuh cinta. Jatoh cinta berjuang rasanya. Serasa kamarku penuh love-love beterbangan. Ku rebahkan tubuhku di kasur empuk menatap langit-langit kamar, dan tertidur tanpa sempat mencuci muka dan menggosok gigi terlebih dahulu.


Menjelang pagi, aku telah bersiap-siap untuk berangkat pulang. Koper yang ku tarik sudah mempunyai teman menjadi dua. Koper dengan isi seragam oleh-oleh makanan dan entah apalah, aku hanya tinggal terima yang penting bawa pulang oleh-oleh. Mumpung gratis.


"Yang..., Jaga dirimu untukku. jangan berkeliaran menjelang hari pernikahan kita. Aku sangat tidak sabar mengikatmu menjadi istriku, tunggu Kakak pulang ya...,"


" ingat hari pernikahan kita, Kakak jangan lupa pulang, kalau gak pulang Nisa akan kabur,"


" Eh..eh..., kok kamu ngomong gitu, tidak baik Yang..., Pasti, Kakak pasti segera pulang,"


"Udah belum mesra-mesraannya, nanti telat lho, malah ketinggalan pesawat, nanti kalau halal di sambung lagi,"


" Tentu Ma..., kalau sudah halal gak akan aku biarkan kamu lepas dariku, barang semneit saja, aku kurung kamu terus di kamar,"


" Cah edan, kamu Kira Nisa mesin, Nisa juga manusia, Mama gak mau nnti Nisa kelelahan,"


Mama Gilang menjewer puteranya.


" Ih salut Ma..., Mama ini lho, yang anaknya Nisa atau aku sih, Masa yang di bela Nisa terus,"


" Ya, iyalah..., Nisa kan itu calon mantu Mama, kalau kamu gak ingat pulang, akan kami carikan Nisa jodoh yang lain, sama Bima gitu,"


"Eh, jangan Ma..., Tunggu ya Dek,pasti pekerjaan di sini akan kakak tuntaskan,"


" Ayo berangkat, nanti kita telat,"


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, tangan Gilang yang sebelah terus menggenggam tanganku dan yang sebelah lagi memegang stir mobil.


Sampailah kami di bandara. dengan dea perpisahan Golang yang tidak ingin di tinggal seperti anak kecil. Panggilan penerbangan sudah berulang kalai akhirnya kami masuk dan meninggalkan Gilang seorang diri.


Gilang sedikit frustasi karena perusahan sudah di bebankan kepadanya. Hanya menunggu hari dia akan menjadi suami. Pekerjaan diLondon yang sedikit ada masalah harus rampung agar peusahaan yang di Indonesia bisa dikelolanya dengan baik.

__ADS_1


Gilang pun melajukan mobilnya menuju perusahaan yang sekarang masih di kendalikan Papanya. Dengan sedikit wawasan yang di milikinya itu dapat membantu Papanya di perusahaan.


__ADS_2