
Sampailah aku di sebuah pedesaan yang pernah aku datangi dengan Kak Andre. Tepatnya setahun yang lalu, ketika jalan-jalan bersama Kak Andre, Arif dan Citra setelah kepergian Kak Gilang. Hatiku yang kalut berharap akan tenang setelah pulang dari tempat ini. Perjalanan yang butuh memakan waktu 2 jam 30 menit, tidak menyurutkan diriku untuk berbalik arah karena tempatnya yang terlalu jauh dari tempat tinggalku. Suasana yang adem dan tempatnya yang masih alami membuat hatiku merasa tentram.
Waktu ashar telah tiba, aku menunaikan shalat di mesjid pedesaan itu. Mungkin warga kampung merasa asing melihatku, tapi aku mencoba beramah tamah untuk bisa bersosialisasi dengan mereka. Selesai mengerjakan kewajiban, ku coba jalan-jalan di daerah persawahan yang luas membentang. Terlihat seorang Ibu-ibu yang baru pulang dari sawah mengangkat hasil panennya yang lumayan banyak, beliau melihat diriku yang begitu asing bagi dirinya.
" Assalamu'alaikum Nak," Salam ibu itu kepadaku.
" Wa'alaikumsalam Bu," jawabku kepada ibu itu.
" Anak datang dari kota ya, mau mencari siapa di sini Nak?," tanya Ibu itu.
" Tidak mencari siapa-siapa Bu, saya hanya ingin mencari ketenangan di sini Bu," ucapku kepada ibu yang membuat Ibu itu terkejut.
" Ayo ikut Ibu Nak ke rumah Ibu," ajak ibu itu kepadaku.
" Tapi saya bawa motor Bu," jawabku yang tidak mungkin meninggalkan motor di tengah sawah begini.
" Ya sudah, ibu jalan kamu naik motor saja," ucap ibu kepada diriku yang mencoba mengalah.
" Tidak usah Bu, biar saya bonceng ibu, ayo Bu...," jawabku yang tidak enak hati meninggalkan ibu berjalan sendirian.
Ibu itu terlihat sungkan, aku menaikkan hasil panennya di depan. Motor besar yang ku kubawa terlalu tinggi. Membuat ibu itu sedikit kesusahan untuk naik.
" Bisa Bu...," tanyaku yang merasakan ibu kesulitan untuk naik.
" Iya Nak, agak sulit," ucap ibu kepadaku.
" Pegang bahu saya Bu," ucapku meminta kepada ibu.
" Iya sudah," jawab ibu yang sudah duduk di atas motor.
" Pegangan ya Bu," ucapku menarik tangan ibu ke perutku.
Kami pun berboncengan menuju rumah Ibu , semua mata penduduk melihatku yang membonceng seorang Ibu. Ibu yang menurut penglihatanku sangat di hormati di kampung itu, membuat mereka tunduk dan tidak berani berkata macam-macam.
" Di depan itu rumah Ibu Nak," ucap ibu kepada diriku.
" Oh iya Bu," jawabku yang melihat sebuah rumah besar berwarna biru.
Aku memberhentikan motorku tepat di halaman rumah ibu itu. Rumah yang besar dan sejuk. Terlihat rumah yang sederhana dan terawat rapi, sangat nyaman bila di tempati.
" Ayo Nak masuk," ajak ibu kepadaku yang dengan kekuatannya mengangkat hasil panennya ke dalam rumah.
" Iya Bu," jawabku kepadanya.
" Tunggu sebentar ya, ibu ke dapur dulu,"ucap ibu yang melangkah ke dapur.
Suara gemericik air terdengar dari belakang, mungkin si ibu sedang memncuci tangannya yang sedikit kotor. Aku melihat sekeliling rumah ibu yang membuatku nyaman. Terpajang di dinding foto keluarga ibu bersama suami dan anak-anaknya.
Ibu datang membawa nampan berisi dua cangkir teh manis yang di suguhkan di atas meja.
" Minum Nak," ucap ibu mempersilahkan.
" Iya Buk, jadi merepotkan ibu," jawabku yang merasa sungkan.
" Tidak apa-apa, hanya air, oh ya namamu siapa Nak," tanya ibu kepadaku.
" Saya Nisa Bu," jawabku memperkenalkan diri.
" Panggil saja saya Ibu Wati, Ibu adalah istri RT di kampung ini, kalau kamu ada keperluan bisa tanya pada Ibu," ucap Ibu Wati menjelaskan.
" Tapi ibu kok ke sawah, bukankah kalau istri RT harus mendampingi bapak di kantornya bu," ucapku yang sedikit mengerti tentang perangkat desa di kampungku dan ku utarakan kepada ibu.
" Ah, ada saja kamu, kalau ibu gak ke sawah, lalu kami mau makan apa? emang kertas bisa di makan? gak kan Nak...," ucap ibu yang menjelaskan dan sempat bercanda padaku.
__ADS_1
" Ha...ha..., bisa juga Ibu becanda," aku tertawa merasa lucu akan perkataan Ibu.
" Anak ada masalah ya...," tanya Ibu itu kepadaku.
" Iya Bu, tapi Nisa bingung mau mengatakannya," jawabku yang sulit untuk menjelaskannya.
" Kenapa harus jauh-jauh mencari ketenangan," ucap Ibu kepada diriku.
" Nak, dengan memohon kepada Allah, kita juga bisa tenang," ucap Ibu Wati menjelaskan.
"Maaf kan saya Bu, sudah merepotkan ibu. Nisa gak tahu bisa sampai ke tempat ini. Nisa terus melajukan motor sampai Nisa merasa lelah dan terasa sudah sampai di desa ini," ucapku menjelaskan.
" Sebelumnya, apakah anak pernah kemari?" tanya Ibu kepadaku.
" Iya bu, waktu itu kami jalan-jalan ke pantai," ucapku disertai anggukan.
"Syukurlah berarti kamu gak kesasar," ucap ibu yang Melihat keluar langit terlihat mendung.
Aku terkejut tiba-tiba terdengar suara guruh yang kuat dan di sertai rintik-rintik hujan. Segera ku pindahkan motorku ke teras ibu yang luas, tetapi hujan yang deras mengguyur tubuhku.
" Kamu basah Nak," tanya ibu kepadaku yang melihat bajuku kuyup karena memindahkan motor.
" Iya Bu," jawabku yang sudah pusing bagaimana nanti jika aku masuk angin dengan baju basah begini.
" Ini baju Nak, pakailah..., ini baju anak perempuan ibu, sana sekalian mandi di belakang," ucap ibu yang memintaku untuk mengganti pakaianku.
Aku bergegas kebelakang, ku lepaskan baju yang sedari pagi ku pakai. Airnya yang begitu dingin membuatku harus menahan kedinginan. Tidak butuh waktu lama akhirnya selesai, segera kupakai baju yang di berikan Ibu wati agar tubuhku merasa hangat. Bunyi gemelatuk dari gigiku terdengar di telinga Ibu. Ibu segera membuatkan diriku wedang jahe. ku teguk sedikit demi sedikit membuat tubuhku terasa hangat.
Rumah yang sepi membuatku bertanya kemana penghuni lainnya.
" Kemana bapak dan anak-anak Ibu," tanyaku kepada Ibu yang sedari tadi tidak kelihatan.
" Bapak masih di kantor Nak, mungkin menunggu hujan berhenti baru pulang ke rumah, kalau yang besar sudah menikah tinggal yang bungsu masih bertugas," ucap Ibu menjelaskan.
" Iya, kamu kok tahu," ucap Ibu yang merasa heran dengan tebakanku yang benar.
" He...he..., Iya Bu, itu Bu saya lihat fotonya," ucapku yangbtersipu malau karena sudah ketahuan melihat-lihat foto di dinding ibu.
" O...iya, itu fotonya, ibu kangen sama anak ibu yang bungsu, nama nya Rangga," ucap Ibu menjelaskan.
" Assalamu'alaikum ," ucap Pak Surya kepada Ibu Wati.
" Wa'alaikum Salam," serempak menjawab salam.
Ibu berdiri menyambut bapak pulang dengan mencium tangannya, begitu juga dengan diriku yang merasa sungkan dengan bapak yang punya rumah dan mendapat tatapan tajam karena merasa asing dengan diriku.
" Ini cah ayu siapa Bu," ucap Ayah yang tidak mengenalmu.
" Namanya Nisa Yah, tamu dari kota, ingin jalan-jalan ke kampung kita," ucap Ibu menjelaskan.
" O...Bapak pikir cah Ayu ini, calonnya Rangga Bu..." ucap Bapak berbicara tentang diriku.
Uhuk...uhuk...
Aku yang minum wedang jahe tersedak, mendengar bapak berkata tentang diriku. Ibu mengelus-elus pundakku karena aku masih tersedak.
" Pelan-pelan Nak," ucap Ibu berkata padaku.
" I...iya bu," jawabku gugup, tercekat leherku merasa malu.
" Sudah ada Calon Neng...," tanya Ayah kepadaku.
" Su..sudah Pak," ucapku yang gugup karena merasa diinterogasi.
__ADS_1
" O...sudah nikah Kamu Nak," ucap Pak Surya.
" Belum pak, kami masih bertunangan,"ucapku menjelaskan.
" Jadi kamu kemari, keluargamu sudah tahu?,"tanya Pak Surya kepadaku.
" Astaghfirullahaladzim, bagaimana ini Bu, Nisa lupa ngubungi Ibu di rumah, tunggu ya Buk Nisa coba telpon dulu," ucapku yang kebingungan karena belum mengirim kabar kepada ayah dan ibu.
" Ya Habis Baterainya," ucapku yang kesal karena ponselku kehabisan daya.
" Ini pakai telpon Bapak," ucap Pak Surya memberikan ponselnya.
" Iya Pak," ucapku yang merasa sungkan dipinjami ponsel dan aku terima.
* * * * *
" Yah..., Nisa ke mana Yah, sudah sore begini belum pulang, mana di luar lagi hujan? ucap Ibu yang gelisah karena puterinya belum pulang.
Raga yang melihat kegelisahan ibunya segera menghubungi Arif dan Andre temannya.
" Hallo, Dre kamu tahu di mana Nisa,"
" Enggak Ga, seharian ini aku gak jumpa, coba tanya Arif,"
" Oh ya sudah,"
Raga mematikan ponselnya dan menghubungi Arif, tapi ponsel arif juga gak aktif. Kemudian dia menelepon ke ponsel adiknya , hal yang sama juga tidak aktif. Raga terlihat prustasi.
Lalu dia menghubungi Gilang yang lagi kuliah. Tapi tidak diangkat-angkat juga.
Dret...Dret...
Terdengar getaran ponsel Raga Yang Ada di meja. Raga langsung mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelepon.
" Hallo, Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikum salam,"
" Dek Kamukah itu, di mana kamu Dek,"
" Annisa jauh Kak, di pedesaan, tadi Nisa Jalan-jalan tapi kehujanan, Nisa menumpang nginap Satu malam Kak, besok Nisa pulang ke rumah,"
" Ya sudah,.besok pamit baik-baik sama yang punya rumah Dek,"
" Iya bang,"
" Jaga dirimu baik-baik ,"
" Iyaa bang, sudah ya Bang..., ini ponselnya pinjam, ponsel Nisa habis baterai,"
" Assalamu'alaikum,"
" Wa'Alaikum salam,"
Ponsel pundi matikan Raga, Ibu yang mendengar pembicaraan Raga dengan Bisa langsung menghampiri.
" Bagaiman Nisa Ga," tanya ibu kepada Raga.
" Nisa Baik-baik saja Buk, tadi dia kehujanan jadi menumpang di rumah penduduk desa," ucap Raga dengan jujur kepada ibunya.
" Emang Nisa ke mana Ga," Tanya ibu penasaran.
" Nisa tadi katanya jalan-jalan, besok pagi dia pulang Bu," ucap Raga menjelaskan
__ADS_1
" Ya sudah, ibu sekarang sudah tenang Ga," ucap Ibu yang sudah tidak kalut lagi.