
"Bang Raga, ini Nisa,"
Spontan Raga membuka matanya sampai melotot. Dia tidak menyangka adik tomboinya menghubunginya disaat dia sudah enak-enak tidur. Dilihatnya jam di dinding menunjukkan jam 02.00 dini hari.
"Dek, ada apa, kenapa tengah malam menghubungi abang, apa ada hal penting, kamu baik-baik sajakan???,"
"Ha...tengah malam, masih maghrib lagi Kak,"
"Woi, ini di Indonesia, bukan di London, semprul,"
"He...he..., Nisa lupa..., maafi Nisa ya Abang Nisa yang tampan, tapi ketampanannya lebih banyak Kak Gilang"
" Dasar adek edan, udah Abang tampan gini masih muji orang lain, ada apa Dek...,"
"Nisa rindu ama Ibu,"
" Ini udah malam, kamu mau apa? mau nyusu.Udah ada yang nyusu Dek,"
"Siapa yang mau nyusu. Dasar aneh. Eh, entar dulu Mama emang punya bayi lagi,"
"Enggak,"
"Terus siapa yang nyusu,"
"Rahasia,"
"Is, pakai rahasia segala,"
"Iya dong, nanti kamu akan tahu sendiri setelah menikah,"
"Kapan pulang Dek..., berapa hari lagi kamu mau nikah lho..., emang kamu gak ada niat pulang,"
"Is, Bang raga ini marah-marah melulu, nanti cepat keriput, jadi bujang lapuk,"
"Enak saja kamu bilang bujang lapuk, gini-gini abang udah laku, punya pacar lagi dan setelah abang wisuda, Abang melamar, seorang gadis"
"Benaran Bang..,"
"Iyalah, Raga gitu lho...,"
"Emang kapan Abang wisuda,"
"Satu tahun lagi,"
__ADS_1
"Ha....Ha...., keburu Nisa punya anak Bang..., kelamaan, masih tangeh,"
" Kamu itu, taunya ngejek....aja,"
"Emang ada cewek yang mau sama Abang,"
"Ya Adalah..., udah ah, Abang ngantuk, kamu cepat pulang, pantang dara manis berkeliaran,"
"Iy Abangku yang tampan..., titip salam sama ibu ya Bang, besok Nisa pulang, jeput Nisa di bandara pakai Mobil Lamborghini Nisa ya,"
"Oke, adek cantik Abang, Assalamualaikum...,"
"Wa'alaikum Salam,"
Tok...tok...tok...
" Iya bentar," aku berjalan cepat ke arah pintu tanpa menyadari penampilanku yang memakai celana pendek selutut dan baju kaos lengan pendek, seragam favorit sebelum tidur.
Ceklek
"Udah siap Sayang???,"Kak Gilang terlihat terkejut menatap wajahku yang tidak sama sekali memakai jilbab dan memakai baju serba pendek.
" Be...belum Kak," aku juga gugup dengan tatapannya dan tersadar bahwa aku tidak memakai jilbab dan bajuku begitu mini.
Dor
Gilang yang melihat diriku menutup pintu kembali, tersenyum dengan tingkahku seperti anak kecil. Baju pendek dan celana pendek membuatku terlihat imut seperti anak kemarin sore yang masih merengek minta di belikan kuota dan uang jajan.
Aduh bodohnya diriku, kenapa bisa kecolongan didepan Kak Gilang begini malunya...
Ahhh
Aku meremas rambutku dan mengambil pakaian di dalam lemari masih tersusun rapi. Padahal besok aku sudah akan pulang. Tapi belum ada persiapan mengemasi pakaian ke dalam koper.
Dengan gerak cepat ku pakai celana kain warna hitam, cardigan dan jilbab pasmina instan. Tidak lupa memakai sepatu sport berwarna putih. Sedikit bedak tabur dan liptint. Sebelum melangkah ke arah pintu, aku berbalik kembali melihat ke depan cermin. Sudah sesuai atau belum penampilanku saat kencan malam ini,
Sedikit berputar dan terlihat bayangan Kak Gilang menatap ku beberapa menit yang lalu. Membuatku tersenyum memegang pipiku yang sudah memerah bak tomat busuk. Ternyata fashionku tidak buruk-buruk amat.
Malam yang dingin sengaja ku pakai cardigan yang trendi membuat diriku seperti remaja yang pertama kali kencan dengan teman dekatnya pada umumnya. Diajak berkencan yang sebentar lagi akan di jadikan pacar. Tetapi tidak dengan diriku sekarang, bukan menjadi pacar melainkan ingin dijadikan istri yang tinggal menghitung hari.
Ceklek
Kak Gilang terpaku menatapku yang sudah rapi. Tatapannya begitu tajam tanpa berkedip sedikit pun.
__ADS_1
"Ayo bidadariku kita berangkat" Gilang mengulurkan tangannya sedikit membungkuk seperti pangeran yang ingin mengajak permaisurinya jalan-jalan mengelilingi istana dengan kereta kudanya. Sungguh tersanjung hatiku.
Wajahnya yang tampan sangat mempesona, oh indahnya berkencan dengan pujaan hatiku, cepatlah waktu berlalu aku sudah tidak sabar menunggu hari bahagia itu tiba.
Beberapa menit kemudian
Sampailah kami di sebuah restoran yang bernuansa alam, dengan pemandangan malam yang sangat indah. Terlihat lampu-lampu kota yang terlihat dari seberang danau buatan memperlihatkan pemandangan alam yang semakin indah. Dua Kursi yang tersedia di setiap meja menghadap ke danau membuat mata memandang tidak lepas dari pandangan malam di tempat yang luas.
Semilir angin malam meniup pasminaku hingga menutup sebagian wajahku. Belaian lembut dari tangan kekar Gilang menyapu jilbabku dan memegang pipiku begitu lembut. Tangannya yang lembut membuatku merasakan terbuai akan sapuan tangannya. Sedetik kemudian jari-jarinya berpindah ke bibirku menyentuh dengan begitu mendamba. Aku tertunduk, mengerti akan maksudnya. Malu dan seakan campur aduk mendera perasaanku.
Gugup, itulah saat ini yang kurasakan. Debaran jantungku sungguh berdetak kencang. Alunan musik romantis menemani malam ini di bawah sinar rembulan dan bertabur bintang-bintang. Sebelah tangannya menaikan daguku dan menatapku begitu dekat.
Lama-kelamaan wajahnya semakin mendekat. Aku memejamkan mataku, bingung dengan apa yang terjadi selanjutnya. Tanpa minta persetujuanku, Kak Gilang menempelkan bibirnya cukup lama. Sentuhan benda kenyal yang sangat manis begitu sangat menghanyutkan. Hanyut dan terbuai itulah yang kurasa. Tanganku refleks mengalung kepundak Kak Gilang. ******* kecil yang membasahi bibir membuat kami berdua hampir bergairah merasakan manisnya ciuman. Walaupun kami tidak berenang tapi ikutan juga hanyut di telaga cinta. Tangan Kak Gilang meremas pinggangku dan akan meraba di bagian atas.
"Ehemm...," Pramusaji pria berjalan mendekati kami berdua.
Deheman suara pramusaji membawa buku menu. Spontan Kak Gilang melepaskan pagutannya dan melap bibirnya. Aku sedikit canggung, jilbabki yang sedikit rusak terpaksa ku perbaiki akibat ulah Kak Gilang.
Ya Allah, terlalu banyak dosaku mengikuti nafsu. Aku takut semakin jauh dan khilaf. Kenapa setiap dekat dengan Kak Gilang aku selalu terbuai dengan ciumannya. Ah, sebaiknya besok aku pulang. Gawat kalau terus berdekatan dengan Kak Gilang bisa-bisa kita berdua khilaf.
" Maaf Tuan dan Nona, kalian mau minum dan makan apa?," Pandangannya tertuju kepada diriku yang tidak biasa dilihatnya. Dia menebak bahwa aku bukanlah wanita asli dari negara itu.
" Oh tadi saya sudah pesan, tapi sampai sekarang belum datang, kenapa lama sekali?," Gilang sedikit kesal karena pramusaji itu terus menatap diriku yang tertunduk.
"Oh, sorry, mungkin lagi dipersiapkan, maaf kalau saya mengganggu," Pramusaji sadar bahwa Gilang sangat cemburu karena gadis di sampingnya selalu di tatap orang lain. Gilang menggeser kursi dan semakin menempel dengan diriku yang masih canggung.
"Kamu sangat mengganggu sekali, pergilah," Gilang sedikit posesif karena gadisnya telah di tatap pemuda lain. Gilang paling tidak suka bila miliknya ada orang lain yang ingin memilikinya.
" Sorry, tunggulah sebentar lagi pesanan anda akan datang Tuan," Ucap Pramusaji yang hampir ketakutan melihat tatapan Gilang yang sangat membunuh, seperti seorang pemburu yang ingin membunuh hewan buruannya.
Pramusaji itu pergi, aku sedikit canggung dengan kejadian tadi. Sungguh sangat malu. Berciuman di tempat umum.
Gilang terlihat tenang dan memainkan ponselnya. Sikapnya yang biasa-biasa saja terlihat seperti tidak terjadi apa-apa.
Seorang pramusaji wanita datang membawa hidangan yang telah di pesan Kak Gilang sebelumnya.
Hidangan yang terlihat sangat menggiurkan
Wah enak ini...
"Selamat menikmati Tuan dan Nona,"
"Iya, terima kasih,"
__ADS_1
*********
Jangan lupa Like, Komen ,Vote dan Hadiahnya ya...