Teman Palsu

Teman Palsu
Takut


__ADS_3

"Mau banget, apalagi gratis," ucapku dengan senyumku yang manis memperlihatkan deretan gigi putihku.


Pesanan telah terhidang di meja. Warung di pinggir jalan menjadi tujuan makan kami pagi ini. Aneh sekali dengan Kak Gilang, anak pengusaha mau juga makan di pinggir jalan begini. Apa sudah jamin higienis. Kalau aku sih gak masalah. Dimana aja makan terserah, yang penting enak.


Cara makanku saja seperti satu minggu tidak makan. Sangat lahap dan membuat yang melihat aku makan, semangat untuk makan juga. Tidak terasa dua piring nasi sudah kandas. Sebutir Nasi masih menempel di sudut bibirku. Sungguh tanpa ku sadari, dengan tangan lembut Kak Gilang langsung menyambar selembar tisu yang ada di meja, di usapkan ke mulutku.


Sungguh pemandangan yang indah kala Sepasang mata kami saling bertatapan karena aksi Kak Gilang yang tanpa permisi mengusap mulutku. Malu rasanya makan lahab meninggalkan bekas.


Habisnya Kak Gilang memesan menu yang enak sih, jangan salahkan aku jika nafsu makanku meningkat sekejap saja. Gak perduli badanku naik. Walaupun di kala diriku sedang menyendiri, selalu terpikirkan mengenai pernikahan diriku yang sebentar lagi akan diadakan.


Desakan dari tenggorokan membuatku ingin bersendawa. Ku lirik samping kiri kananku, banyak muda-mudi yang makan juga di warung ini. Malu rasanya dengan mengeluarkan suara. Ku tutup mulutku dengan ujung jilbabku. Akhirnya keluar juga, sedikit mengeluarkan suara tetapi tidak terlalu keras.


Kak Gilang melihat aksiku hanya geleng kepala dan mengelus lembut kepalaku.


"Ayo kita jalan, hari sudah hampir panas," ajak Kak Gilang membayar tagihan yang lebih duduk berjalan di depan.


" Iya, tunggu Kak," Teriakku yang membuat satu warung menoleh mendengar jeritanku yang terlalu kuat.


Kak Gilang mengulurkan tangannya dan tersenyum manis. Adem rasanya lihat wajahmanisnya. Dengan sukarela ku sambut tangan lembutnya. Dan berjalan bergandengan tangan.


Ada perasaan tidak rela jika orang di sebelahku, di lihati gadis-gadis cantik di pinggir jalan. Mata mereka sungguh tergoda dengan penampilan keren Kak Gilang. Dia memakai training berwarna hitam, baju kaos pas di badan. Memperlihatkan perut kotak-kotaknya. sehingga akan sangat terlihat bahwa tubuh tegabnya sangat macho.


Begitu juga ternyata dengan Kak Gilang, yang tidak rela gadis disampingnya yang berjalan berdampingan dengannya yang beberapa hari lagi akan menjadi istrinya, di lihat pemuda-pemuda tampan yang bertubuh macho. Mereka melihat diriku hampir menjatuhkan air liurnya.


Gilang dengan posesifnya merangkul bahuku dan di mintanya aku memakai kaca mata hitam miliknya. Layaknya pasangan yang lagi di mabuk cinta sangat senang bila berduaan. Sejatinya berkencan di pagi hari dengan suasana pagi yang sangat menyegarkan membuatku sangat nyaman.


"Dek, nanti siang kamu akan Kakak jemput, kamu dandan yang cantik ya...," ucap Gilang lembutnya berbicara sambil merangkul bahuku.


" Memangnya mau kemana Kak???," tanyaku yang penasaran mau keluar kemana.


" Kita ke Butik Mama, sekalian pulangnya nonton bioskop, ada film bagus yang akan tayang nanti, apakah kamu mau nonton???," ucap Kak Gilang mengajak diriku kencan yang sudah lama tidak pernah kami lakukan.


" Nonton...," ucapku yang mendengar ajakan Kak Gilang.


" Iya, kamu mau kan...," tanya Kak Gilang kembali.

__ADS_1


Aku mengganggukkan kepalaku


" Terus ke Butik Mama mau ngapai kak???," tanyaku penasaran.


"Mau fitting baju pernikahan kita," ucap Gilang dengan santai.


Mendengar kata pernikahan membuatku langsung berdebar. Baru nyadar beberapa hari lagi aku akan menyandang status istri.


Sungguh suatu kebahagiaan bisa cepat dipersunting pemuda berpendidikan dan pengertian.


"Mama Ingin kita yang memilihnya langsung, karena Mama sudah menyiapkan beberapa gaun untuk kamu coba di butiknya nanti," ucap Gilang menjelaskan kepadaku.


"Kak, Nisa rasa ini bagai mimpi," terangku kepadanya.


" Apakah kamu sudah siap??," tanya Kak Gilang kepadaku.


" Gak tau, Nisa bingung," jawabku yang sedikit diam seperti berpikir.


" Kenapa?, jangan terlalu di pikirkan, semua tentang pesta, sudah ada yang mengurusnya," ucap Gilang menjelaskan.


Aku menaikkan alisku, heran mendengar penjelasan dari Kak Gilang yang semudah itu mengadakan resepsi. Apakah orang yang mempunyai kekuasaan, akan memudahkan segala urusan?


" Beberapa hari lagi, sudah terlalu lama untuk kakak menunggu waktu itu," ucap Gilang yang sudah tidak sabaran menunggu hari yang di nanti-nantikan.


" Ih..., kakak ini..., aku malah takut," ucapku kepadanya.


" Takut..., takut kenapa Sayang....," Gilang memincingkan matanya merasa bahwa calon istrinya merasa belum siap.


" Gak tau, pokoknya takut," ucapku jujur tapi teringat sesuatu yang membuatku penasaran.


" Teringatnya tadi, kenapa ngubungi Nisa terlalu subuh Kak, Nisa masih ngantuk" ucapku memberitahu sesuatu kepada Kak Gilang.


" Kakak mau lihat kamu saja, kangen lho Sayang....," wajah Gilang menandakan bahwa perasaan hatinya sangat rindu.


" Alasan...," ucapku menatap wajahnya.

__ADS_1


" Benaran sayang...," Gilang menggoyang daguku dan tersenyum manis. Senyumannya sangat manis, semanis gula sampai menular membuatku tersenyum juga. Ada daya tarik tersendiri untuk terus menatapnya. Buat aku meleleh seperti mentega. Soalnya ngelihati Kak Gilang suka membuatku gagal fokus. Ngelihati Kak Gilang itu seperti ngelihat kamera, bawaannya mau senyum terus.


" Jangan lihat terus, nanti gak bisa tidur...," ucap Kak Gilang menjailli diriku.


" Is..., gampang tuh, kalau udah nagantuk pasti langsung tidur. Gak ada sejarahnya Nisa gak bisa tidur," ucapku dengan bangga yang perkataanku emang sejujurnya dari hati


" Benaran bisa tidur...," tanya Kak Gilang yang membuatnya penasaran.


" Benaran, suer," ucapku menunjukkan dua jariku bahwa itu emang kenyataannya. jangan di tanya dengan jantungku saat ini yang sudah mendapat senyuman yng semanis gula. Jantungku rasanya mau keluar. Apalagi tiba-tiba Wajah Kak Gilang ha.pir dekat. Dengan canggung aku mendorong sedikit wajahnya.


" Kalau Malam-malam biasanya mungkin kamu bisa tidur, tapi...belum tentu dengan malam pertama kita nanti. Pasti nanti kamu gak bisa tidur," ucap Gilang yang memikirkan hal kedepan membuatku meremang.


Aku berkeringat mendengar malam pertama. Bulu kuduku merinding, membayangkan apa yang terjadi pada malam pertama. Ah aku suci, dan polos belum tahu apa yang terjadi dimalam pertama.


" Emangnya apa yang di lakukan di malam pertama? ta aku yang seperti orang bodoh atau memang pura-pura bodoh.


" Mainlah...," ucap Gilang dengan santai merasa tidak ada beban


" Main apa???," tanyaku dengan polos. Sebenarnya Aku tuh kurang pengetahuan tentang cinta. Karen terlalu lama ngebengkek jadi Enggak tahu tentang percintaan dan hal yang berbau adegan dewasa.


Gilang menepuk jidadnya, melihat kepolosanku yang sangat parah. Dengan refleks tangan lembutnya terulur kembali menyapu kepalaku. Dai merasa bersyukur, gadisnya masih sangat polos tentang percintaan. Dia lebih suka yang polos ,dari pada yang berpengalaman.


Dia tidak bisa membohongi dirinya kalau selama di London teman-temannya sering mengajak dirinya jalan-jalan Ke Club malam, tapi dirinya tidak mau yang aneh, jangan melakukan hal buruk, minum anggur saja dia belum pernah.


Hatinya menekankan jangan menyentuh barang haram selagi bisa untuk di tahan. Jadi kalau cerita pergaulan bebas sering dilihatnya tapi tidak pernah di lakukan. Di hatinya hanyalah Annisa yang akan menemaninya sampai hari tua.


" Udah persiapkan dirimu untuk malam pertama. Nnti tepat di malam itu kakak akan mengajarimu permainan apa," ucap Gilang terus mengajakku jalan, tidak terasa sudah jauh kami berjalan. Dan sampailah di depan rumah.


Ku Rumah sudah terlihat sepi, tetapi sedikit aku menyipitkan mataku melihat ada sepasang muda mudi yang membelakangi kami duduk di teras rumahku dengan tertawa renyah. Aku penasaran dari gayanya seperti Kak Andre dan Citra.


"Assalamualaikum " ucapku memberi salam, terlihat mereka salah tingkah dan melepaskan tangan mereka yang tadi saling bertautan.


" Wa'alaikum Salam," ucap Serempak mereka berdua yang langsung berdiri.


Aku merasa ada sesuatu diantara mereka berdua. Mereka tersipu malu ketika aku dan Kak Gilang menatap mereka. Wajah Kak Andre juga tidak seperti biasanya. Biasanya selalu memasang wajah kaku. Saking kakunya ku gelar Manusia Batu. Tumben, manusia batu bisa mencair. Mencair di buat wanita jadi-jadian. Falling in love ini mereka. Bagus deh, ada kemajuan jangan jomblo terus.

__ADS_1


*******


Jangan lupa like, komen dan Vote.


__ADS_2