Teman Palsu

Teman Palsu
Tragedi Kejar-Kejaran


__ADS_3

Sudah beberapa hari aku menjalani hubungan dengan Kak Gilang. Bisa dikatakan hubungan yang biasa saja menurutku, tidak terlalu sering bertemu hanya sekedar sering chattingan, video call dan telponan saja.


Aku yang tidak menginginkan sering bertemu dengannya. Membuatku takut bila sering bertemu, banyak setan berkeliaran mengganggu dua insan jika sedang berdua. Biar saja orang mengatakan aku katro, aku kuno cuma lebih baik kita pacaran jarak jauh saja. kalau memang takdirnya pasti kami akan bersama.


Bukannya aku gak percaya dengannya cuma aku tidak ingin terlalu berharap lebih karena takut aku mengalami sakit hati yang kedua kalinya.


Tepat di hari ini ketika Siang hari aku ingin ke kampus dengan stelan yang sama, helm pembalap, jaket kulit, sarung tangan dan memakai sepatu sport. Wow keren..., Karena jadwal kuliah siang jadi agak santai perginya. Ku lajukan sepeda motorku menuju kampus menembus jalanan padat merayap.


Baru beberapa kilo aku membawa motorku kulihat dari jauh seorang pemuda membawa motornya seperti motor Ragil. Motor keren sekeren orang yang mengenderai, kulajukan motorku mengimbangi laju motornya. Dia terkejut melihatku bisa mengejar laju motornya. Dengan keisenganku, ketika motorku dan motornya telah sejajar, ku acungkan jempolku keatas dan ku balikkan ke arah bawah.


Pemuda itu geram dan segera mengejar ku kami pun melakukan aksi kejar-kejaran. Pengendara yang lain merasa geram. Aku hanya ingin tahu kebolehan motornya. Keren bodynya apakah sekeren mesinnya. Dan ternyata mesin motornya tidak sejago mesin motorku. Karena motorku sudah ku modifikasi mesinnya jadi sudah tidak diragukan lagi kecepatannya. Kalau komeng naik motor bajunya yang sobek-sobek tapi kalau pakai motorku kulitnya yang sobek. Jangan menang bodi dan wajah tapi harus menang mesinnya.


Tepat di lampu merah pemuda itu tetap menatapku dan membuka kaca helm pembalapnya. Aku seperti pernah melihat wajahnya, seperti tidak asing, tapi di mana ya..., sepeda motornya seperti motor Ragil, tapi dari tubuhnya itu bukan Kakak seniorku. Terserah yang penting aku harus cepat sampai di kampus sebelum Arif terlalu lama menunggu. Arif ingin memberikan surat yang dititipkan Rini kepadanya.


Lampu lalu lintas kembali hijau, langsung ku tancap gas motorku, dengan ngebut meninggalkan pemuda tadi dan mendului beberapa banyak kendaraan roda empat. Ternyata Dua pengendara sepeda motor lainnya sedang mengejarku dari belakang bahkan hampir saja menyerempet motorku. Aku yang gugup tiba-tiba saja di kejar, hampir saja melanggar pembatas jalan.


Suara klakson terus kuhidupkan meminta kendaraan lain supaya minggir. Pengendara lain melihat aksi kejar-kejaran kami seakan menyumpah serapah. Aku seakan susah bergerak, motor dari sebelah Kanan dan kiriku terus mengejar. Aku tidak mengenal mereka. Seingatku aku tidak punya musuh. Dalam hatiku tidak berhenti melafalkan doa semoga aku selamat sampai tujuan.


Dari samping kanan ku lihat sebuah truk ingin menyeberang, bagaimana caranya menghindari kejaran. Truk gandeng terus berjalan, kalau kuteruskan melaju aku bisa tertabrak Truk itu dan kalau aku berhenti aku yang di tabrak mereka. Hatiku bimbang, ku yakinkan hatiku, aku pasrah.


Dengan tiba-tiba saja kubelokkan stang motorku secepat mungkin sebelum Truk itu melintang kejalan dan hampir saja menyenggol motorku. Supir truk yang tidak menyangka aku membelok dengan tiba-tiba terus saja menghidupkan klaksonnya supaya aku segera minggir. Aku tetap nekat menyelipkan motorku sebelum truk gandengan mendekat ke arahku, dengan jarak hampir satu meter lagi, akhirnya aku bisa lepas kemudian melintanglah truk itu menyeberang dan menghalangi jalan.


Yes...akhirnya dua motor yang mengejar terhalang oleh truk gandengan. Para pengendara yang melihat aksiku semuanya menjerit. Aku yang terlepas langsung menghilangkan jejak dan mengambil jalan potongan. Wih, aksi nekat betul..., jarak satu menit saja jika aku terlambat mengelak, mungkin aku akan terlindas truk. Ya Allah terima kasih, engkau telah menyelamatkan diriku.


Laju motorku terus menuju ke kampus. Lelah rasanya hari ini. Tidak pernah terpikirkan olehku ada yang menerorku kembali. Apa aku harus minta bantuan Kak Gilang saja ya. Tidak perlu dulu ku beritahu, aku takut keluargaku akan ikut khawatir.

__ADS_1


Sampai kampus langsung ku parkirkan motorku dan membuka helm, jaket dan sarung tangan segera. Napasku yang tidak beraturan terasa sesak. Kutenangkan diriku duduk di bangku parkiran dan mengambil botol air minum dalam tas ranselku. Ku teguk air sedikit demi sedikit, dan tenang itu yang ku rasakan sekarang. Pandangan Arif tertuju pada diriku, dia mendekat dan menepuk pundakku. Aku terkejut, sempatnya aku melamun.


" Astagfirullahaladzim, kamu ngejuti aku Rif, jantungku mau copot," ucapku yang masih memegang dadaku.


" Sa, kamu kenapa, kamu seperti orang ketakutan? ucap Arif yang penasaran.


" Gak tau Rif, aku bingung, tadi waktu berangkat ada yang membuntutiku, aku gak kenal mereka, hampir saja aku tertabrak truk Rif" jawabku sambil menutup mataku yang gugup terlepas dari maut.


" Ya Allah Sa, kamu gak apa-apakan?ucap arif khawatir.


" Enggak apa-apa Rif tapi aku takut, aku gak tau kalau terlambat sebentar saja mungkin aku sudah terlindas. Mereka terus mengejar ku, aku gak bisa mengelak, cuma itu caranya aku bisa selamat tapi hampir menghilangkan nyawaku"


ucap Nisa yang sudah gemetaran.


" Rif, kapan kamu bertemu Rini, bagaimana kabarnya Rif,"tanyaku ingin tahu kabar sahabatku.


" Dia baik-baik saja hanya kurusan dan..." ucap Arif dan menggantikan perkataannya karena tidak tega menceritakan.


"Dan apa rif," ucapku penasaran.


" Dia seperti selalu kena bully di sana Sa, Dia rindu kamu Sa, dia ingin kamu memaafkan dia Sa?" ucap Arif menjelaskan.


" Aku juga Rindu Rif, aku sudah memaafkannya. Tapi untuk sekarang aku belum bisa bertemu dengannya dulu, aku takut traumaku kembali lagi. Kejadian tadi saja membuat aku takut," ucapku menjelaskan.


" Sungguh baiknya kamu Sa, kalau boleh tau apa kamu selama ini punya musuh? ucap Arif penasaran kenapa Annisa sampai kejar-kejaran.

__ADS_1


" Gak ada Rif," ucapku kepada Arif.


" Terus siapa yang ngejar kamu," ucap Arif penasaran.


" Aku juga gak tahu siapa mereka" ucapku menjelaskan.


" Udah nnti aja kita bahas lagi, sekarang kita masuk dulu " ucapku mengajak Arif masuk ke kelas.


" Kamu apa udah tenang Sa, gak apa-apa kamu gak kuliah hari ini, jangan dipaksai, kalau capek kamu pulang aja Sa...? ucap Arif menirukan, seperti dia sang pemilik universitas.


" Emangnya kamu yang punya kampus ini Rif, sembarangan aja ngelarang aku mau belajar.


" Bukan gitu Sa aku lihat kamu sangat lelah," ucap Arif.


" Aku hanya takut ada yang ngikuti Aku lagi, Eh kau Rif..., ke mari naik apa? tanyaku kepada Arif.


" Naik motor Ragil, emang kenapa Sa? ucap Aril jujur.


" Oke, siniku bisiki, nnti pulang kita tukaran motor ya, aku pakai motormu dan kamu naik motorku. Helm dan jaket kita tukar juga, kita lakukan penyamaran, bagaimana kamu bisa... ? ucapku kepada Arif sambil berbisik.


" Oke Sipp..." ucap Arif tenang.


Di parkiran orang suruhan Rudi Nugraha datang ke kampus hanya untuk mengotak-atik motorku. Mereka ingin melihatku celaka, dan entah apa tujuan mereka sehingga tega ingin mencelakaiku. Penjaga kampus entah kemana tidak menyadari ada penyelusup masuk ke kampus.


Beberapa jam kemudian, kami pun keluar dari kelas. Jaket dan helmku sudah dipakai Arif, tinggal punya Arif yang masih melekat di tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2