Teman Palsu

Teman Palsu
Bebasnya Rini


__ADS_3

Dehemen kecil dari mulutku memecahkan suasana di ruangan yang tidak kedengaran sedikit pun suara. Ibarat puteri yang di pingit, tidak ada yang dapat kulakukan hanya duduk di tempat tidur dengan ponsel yang selalu di tangan. Mau kemana-kemana dikawal, Keluar dikawal, di dalam ruangan juga dikawal.


Ketukan pintu terdengar di luar, pastinya sudah melewati pemeriksaan anak buah Kak Andre, makanya seseorang ini di perbolehkan masuk.


Ibu yang baru selesai mengerjakan salat ternyata langsung bangun membuka pintu dengan penasaran. Ternyata seseorang di balik pintu itu adalah Ayah, Tante Devi dan anak-anaknya. Kak Andre santai dengan tidurnya di sofa. Lantas Ibu membentang ambal untuk alas mereka duduk dilantai.


Ayah yang melihat diriku selalu memperhatikan Sekantung bungkusan yang dijinjingnya membuatku seperti mendapat durian runtuh. Karena ayah sudah janji akan memberikan makanan kesukaanku. Sebungkus bakso beranak yang tidak tahu entah kapan buntingnya, Eh tahu-tahu anaknya sudah banyak.


Ayah melangkah dengan tersenyum, mencoba mengerti dengan sikapku yang merajuk dan menyerahkan sekantung plastik berwarna hitam dan terasa panas dingin.


Tentu bahagia hatiku, bahkan sangat bahagia sekali. Ayah memenuhi janjinya ternyata tidak zonk. Sebungkus bakso beranak dan satu cup jus Alpokat. Mantap....


Ibu membuka bungkusan baksoku dipindahkan ke wadah mangkuk kaca kecil dan diberikan kepadaku. Sungguh Ayah luar biasa pengertiannya. Tahu saja selera anaknya.


Citra yang baru tiba duduk di sebelah ranjangku dengan jailnya membuka selimut yang menutup kakiku.


"Turun kenapa Kak?," ucap Citra yang ingin bermain denganku.


"Kakak malas, kaki kakak sakit Cit," ujarku yang malas bergerak karena tulang betisku terasa ngilu.


"Ih..., kakak ini, cepat sembuh biar kita cepat pulang," ucap Citra dengan nada manjanya.


" Besok Kakak juga sudah bisa pulang," ujarku kepada Citra.


" Bagus dong, jadi Citra gak kesepian lagi di Toko kue," ucap Citra dengan Ceria mendengarku pulang ke rumah.


" Bang Raga Mana Yah," tanyaku kepada Ayah yang tidak kelihatan dari aku masuk rumah sakit.


" Dia ke tempat Arif," ucap Ayah.


" Wih, keren Bang Raga sudah mau ikut ke bengkel," ucapku yang merasa senang karena Abangku sudah mau perduli dengan hobbyku.

__ADS_1


" Raga mau ikut latihan bela diri, biar bisa jaga adiknya, masa orang terus yang jagain kamu, dia juga cemburu Dek," ucap Ayah menjelaskan.


" Ngerti juga dia jadi Abang, kirain gak ada perdulinya," ucapku yang santai membicarakan tentang Raga.


" Kamu Dek kalau sudah sembuh jangan balapan lagi ya..., anak perempuan kok kelayapan, nanti apa kata tetangga, kamu di bilang anak gak bener...," ucap Ayah meminta padaku untuk menuruti keinginannya.


" Iya Yah," jawabku dengan patuh.


Ku lahap bakso dengan cepat sampai tidak sadar ada seseorang yang memperhatikan aku makan. Citra yang sudah sangat berselera ingin juga memakannya. Sengaja ku pancing-pancing makan dengan gaya serakus betul. Supaya Citra ngiler lihat aku makan.


" Emm," terdengar suaraku memuji rasa nikmatnya.


" Wih, enaknya. .., beli di mana Yah..., kok Citra gak di beliin," ucapku di depan Citra yang membuat Citra semakin iri kepadaku.


"Iya, Pak De gak mau beliin Citra, Citra kan Jadi pengen," ucap Citra yang langsung menyambar sendokku ketika kuletakkan sebentar.


"Ah, kamu mau ya, nanti kamu gemuk, kamu gak takut Cit, ini banyak lemaknya lho," ucapku menakutinya.


" Ih, Kakak ini banyak alasan bilang aja pelit," ucap Citra yang mendengar arti perkataanku.


" Ha! kan udah bisa ngegas ngomongnya berarti sudah sembuh," ucap Citra yang masih menjailiku.


" Diam kamu Citra!, tuh kan bangun Kak Andre dengar suara berisikmu," ucapku yang melihat Kak Andre merasa tertanggu dengan suara cempreng Citra.


Wajah bantal Kak Andre terlihat masih mengantuk, dan sangat lelah. Dia menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya dan permisi keluar dengan wajah yang segar, ingin mencari makanan karena dia belum makan siang.


Suara sepatu langkah kaki terdengar menuju ruang inapku. Seorang perawat pria dan seorang perawat wanita sedang memeriksa kondisiku. Melihat kondisiku sudah baik-baik saja, selang impus di lepas dan memeriksa lutut dan keningku yang masih sakit.


Citra memandangi perawat itu dan tersenyum kala di melepas selang infus di pergelangan tanganku.


"Wih, tampannya...Abang ini, jadi betah Citra di sini yang merawat setampan gini, Tiap hari Citra sakit juga gak apa-apa asal di rawat sama Abang...," ucap Citra merayu perawat laki-laki.

__ADS_1


"Ehem," deheman perawat laki-laki itu merasa lucu melihat tingkah mereka.


" Habis periksa Kak Nisa, periksa aku ya Bang...," ucap Citra dengan manja seperti gadis murahan.


" Adek apanya yang sakit," tanya perawat itu yang ramah berbicara kepada Citra.


" Hatiku sakit bang, sebelah sini berdenyut melihat wajah Abang" ucap Citra menunjuk dada sebelah kanannya.


"Ha...ha..., dasar Citra Sableng," aku terkekeh melihat Citra yang sangat berani di depan orang tuaku.


Sudah satu minggu aku keluar dari rumah sakit. Kondisiku juga bisa dikatakan sudah pulih. Kakiku yang terkilir juga sudah diurut. Jangan ditanya betapa sakitnya waktu diurut, Behhh!!! minta ampun sakitnya. Bantal aja digigit sampai sobek sarungnya. Tidak terbilangkan rasanya. Kalau kanibal pemakan daging manusia. Eh, aku malah pemakan sarung bantal.


Rutinitas seperti biasa ke kampus dan ke toko kue mengecek pesanan pelanggan. Hari ini udarabterasa panas, sepanas hatiku yangbtidak pernah mendengar kabar dari Kak Gilang. Sesibuk apa sih dirinya sampai lupa atau tidak sempat mengabari aku.


Rindu aku mendengar suaranya. Di hubungi juga gak aktif, kalau mau dengar kabarnya hanya dari Kak Andre. Rupanya pengobat cinta dan rindu itu bisa di transfer, seperti uang saja. Kalau uangnya tiap bulan sih di transfer sampai gak ke hitung jumlah nolnya.


Panas hati, panas pikiran. Biar adem makan yang seger dan manis. Seperti diriku yang sudah manis tapi gak adem. Sebaiknya dimanisi lagi biar diabetes sekalian. Sayangnya walaupun manis yang sering melihat bukan tunangan sendiri, tetapi malah orang lain.


Supaya dingin hati ini, enaknya makan cokelat dan es cream. Kepingin makan es cream sepuasnya. Beli satu box besar juga tidak akan membuat ATM ku kosong, karena sudah hampir dua tahun aku di tinggal Kak Gilang tidak pernah kupakai sekali pun. Hari ini jangan salahkan aku, kalau uangmu aku pakai.


Di toko Kue Citra terlihat sibuk menghitung jumlah kue yang sudah dikemas dan siap untuk di antar. Ku ajak Citra membeli es cream dengan naik motor besarku. Belajar naik motor pelan-pelan yang penting sampai tujuan.


Ku parkirkan motorku di halaman minimarket terdekat. Melangkah menuju pintu dan ketika ingin masuk aku hanya tertunduk karena ponselku berdering dan segera ku ambil berjalan sambil memegang ponsel.


" Aduh!, Kalau jalan lihat-lihat...," ucapku yang kesal seakan tidak terima tertabrak. Memang salahku jalan yang sambil menunduk menabrak seseorang tidak sengaja dan hampir saja ponselku jatuh ke lantai.


" Rini!," jeritku kepada Rini karena merasa tidak yakin karena orang yang di depanku adalah sahabatku.


" Nisa!," jerit Rini menyebut namaku yang terkejut dengan pertemuan ini.


Aku sangat terkejut melihat sahabatku keluar dari rumah tahanan. Terlihat kurusan dan menggunakan baju yang sopan. Sungguh bahagia hatiku bertemu dengan sahabatku lagi. Tanpa sadar karena keterkejutan, kami berpelukan sampai lama. Melepaskan rindu karena sudah lama tidak bertemu.

__ADS_1


" Apa kabar Rin,," tanyaku kepada Rini yang masih belum yakin bahwa orang yang di didepanku adalah Rini.


" Kabar ku seperti ini Sa, kamu lihat sendiri keadaanku, " ucap Rini merentangkan kedua tangannya dan memeluk kembali tubuhku.


__ADS_2