Teman Palsu

Teman Palsu
Menghilangkan Bosan Dengan Balapan


__ADS_3

Dengan stelanku yang keren percaya diri untuk melangkahkan kakiku menaiki motor yang sudah ku parkirkan di halaman. Motor besar milik Kak gilang yang ku gantikan sementara menjadi kepemilikanku. Entah kemana aku akan pergi membawa suasana hati yang gundah gulana dan aku bosan di rumah tidak ada teman untuk curhat. Ku pakai helm, masker dan ku nyalakan motorku melaju melewati gerbang.


Baru aja keluar, emak-emak rempong tukang ghibah melihat dandanan keren diriku ala jagoan balap, mata mereka melotot dan terpesona. Mereka mengira aku cowok keren yang baru saja keluar dari halaman rumahku. Sengaja aku buka helm dan ku kedipkan sebelah mataku kepada mereka dan menyalakan klakson motorku.


Ha...ha.. , aku membayangkan emak-emak rempong yang ngira aku cowok pada klepek-klepek mendapat mata genit dariku. Rasai..., emang enak di usili, sekali-sekali di usili biar mabok sekalian. Itu babak pertama, akan ada babak kedua.


Suara riuh emak-emak sangat ramai, sangat kecentilan seperti ABG kadaluarsa.


Dengan kecepatan tinggi ku tarik gas motor seperti layaknya pembalap yang sudah mahir di arena balap. Sangat kencang, kalau si komeng mungkin jaketku sudah koyak-koyak.


Tidak perduli kendaraan lain yang terus membunyikan klakson, tiba-tiba sebuah motor besar juga terus mengikuti kecepatan motorku. Aku terus menyelip pengendara yang lain, tidak tahu apa yang di ucapkan mereka. Mungkin pujian, makian, bahkan mungkin nyanyian dangdut atau keroncong yang mereka keluarkan dari mulut mereka untukku di kala aku menyelip kendaraan mereka tanpa memberikan tanda peringatan. Ku tarik gas kembali kala motor yang mengejarku sudah berada di samping motorku. Aku tidak mengenali pengendara motor itu sungguh membuatku panas dan membangkitkan emosiku.


Sial!! siapa ini orang, berani mengejar gue, belum tahu siapa gue rupanya.


Ku pakai trik di kala persimpangan jalan, aku bukannya mengambil jalan terus tetapi malah membelok. Sipengejar akhirnya kehilangan jejakku.


Yess, itulah kataku hatiku bersorak kegirangan.


Ku putar arah kembali kejalan semula, dengan mengambil jalan potongan agar pengejar tidak mengikutiku kembali.


Jalan kanan kiri penuh dengan Pohon rindang sungguh terasa sejuk di sore hari. Kecepatan motorku sempat menjadi pusat perhatian beberapa pemuda yang mangkal di pinggir jalan. Pemuda itu masih seumuran denganku. Mereka menjerit seolah tidak senang melihat diriku yang balapan dan motorku yang tidak di kenal mereka berani masuk ke kampung mereka sembarangan. Aku juga tidak kenal mereka, aku sadar aku telah sembarangan masuk kampung orang.


Yah, ternyata aku nyasar, salah jalan. Jalan yang ku pilih berlubang-lubang. Para pemuda mengejarku dengan motor bebek mereka. Wajah-wajah tampan yang baru beranjak dewasa dan emosinya masih labil membuat mereka berbuat nekat seperti aku.


Di kira mereka aku adalah seorang cowok. Ku lajukan motorku, biar motor bebek mereka mengepulkan asap karena mengejar motor besar ku yang sudahku modifikasi mesinnya.


Naas di depan ada lubang besar yang sangat becek. Dengan kelihaian ku tarik gas motorku


melewati lubang itu dengan laju, seperti pembalap yang difilm laga, bisa terbang melewati lubang. Akhirnya Lubang pun terlewati dan aku terbebas dari mereka.


Para pemuda yang sok-sokan tidak bisa mengerem, tiba-tiba mereka masuk ke dalam kubangan becek seperti kubangan kerbau. Aku tertawa melihat aksi mereka. Ku acungkan ibu jari tanganku ke atas dan kembali ku putar ke bawah. Mereka geram melihatku yang mengatakan mereka lemah.


Mereka berdiri ingin melemparku dengan lumpur. Ku buka helmku dan terlihatlah wajahku dengan menggunakan masker. Ku buka masker dan alangkah tercengang mereka melihatku adalah seorang cewek cantik yang ugal-ugalan mengenderai motor besar. Aku berjalan mendekati mereka dan mengulurkan tanganku kepada mereka agar mereka bisa keluar dari lumpur itu.


Akhirnya satu persatu bisa keluar dengan keadaan baju yang penuh lumpur.


" Maaf ya bang? ucapku yang merasa bersalah.


" Kamu Beneran cewek," tanya seorang pemuda dengan mukanya yang bersih tetapi badannya penuh lumpur, mengelilingi badanku merasa tidak percaya bahwa aku ini cewek beneran.


" Ya bener gue cewek, emangnya tipuan," ucapku berbicara jujur.


" Gila bener kamu naik motornya, Jago banget kamu, belajar dimana Neng?," tanya pemuda yang satunya lagi.


" Belajar sendiri," ucapku dengan ramah.

__ADS_1


" Hampir aja kami tinju kamu neng," ucap Pemuda yang wajahnya penuh lumpur.


" Oh ya, perkenalkan namaku Nisa, kalian siapa?, " ucapku ramah memperkenalkan namaku.


" Aku Dodi," ucap pemuda berambut pendek berhidung mancung, berkulit hitam dan berbadan gemuk.


" Aku Bayu," ucap Pemuda yang berambut cepak seperti pangkas tentara dan bertubuh tinggi tegap.


" Aku Rudi," ucap Pemuda berambut gondrong dan tingginya seperti bayu.


" Aku Ifan," ucap Pemuda bertubuh pendek dan berkulit putih.


" Itu siapa??," tanyaku yang masih kurang satu orang lagi belum memperkenalkan dirinya, tetapi sungguh cuek minta ampun.


Pemuda yang sedang memakai topi tapi wajahnya terkena lumpur, hanya tinggal matanya saja yang terlihat, dia sibuk mencari air ingin mencuci mukanya di pinggir kali yang mengalir. Setelah menemukan air, pemuda tersebut langsung mencuci wajahnya. Terlihat wajah tampan dengan rambut ikalnya yang sebagai, berjalan melangkah ke arahku.


" Namaku Nugi, panggil saja aku Uge," ucap Uge dengan santai dan terlihat senyum di wajahnya.


" Keren namanya,"ucapku yang sepontan ketika mendengar namanya yang keren.


" Ehem,"deheman dari Uge terdengar kala aku memuji namanya.


" Nisa, bantu ambil motor kami di Lumpur itu,"ucap Dodi yang sudah kesusahan mengambil motornya.


" Ah, kamu kan yang buat kita kotor," ucap Ifan yang kesal karena motornya juga susah di naikkan ke jalan.


"Siapa suruh ngejar gue," ucapku dengan santai.


" Udah jangan ribut, ayo aku bantui,"ucap Uge yang berbaik hati membantu temannya menaikkan motor-motor temannya sedangkan motornya berada di jalan, hanya badannya saja yang terbang ke dalam lumpur.


Mereka susah payah menaikkan motor mereka ke jalan. Aku hanya tertawa memandangi mereka yang kelelahan. Lelah terbayar sudah, motor sudah kembali bisa menyala, setelah mengalami ngambek berat karena salah satu motor bebek gak bisa hidup terendam di lumpur. Terpaksa ku kotak-katik dengan alat bengkel darurat yang ada di motorku. Ada gunanya juga pandai otomotif motor, bisa berguna bagi orang lain.


Uge sampai terpukau melihat kepandaianku, mereka sampai terpesona melihat aku jago ngebengkel, samapi di kerubungi pemuda tampan. Enak rasanya berteman dengan mereka, walaupun mereka pemuda kampung tetapi berasa saudara.


Kami melajukan motor masing-masing, membelah jalan desa yang padat penduduknya terasa asing bagiku, tetapi sungguh membuatku tenang. Iring-iringan motor kami sempat menjadi perhatian warga kampung, ada yang tertawa melihat Uge dan teman-temannya berlumpur dan ada yang terpesona melihat penampilanku. Aku mencoba tenang, padahal aku sudah grogi setengah mati di lihat banyak orang.


Sampailah kami di rumah Uge, rumahnya lumayan besar. Ternyata dia anak kepala Desa. Mobil di rumahnya aja sampai dua. Teman-temannya yang jatuh bersamanya juga menumpang membersihkan diri di kamar mandi belakang tempat Uge. Mereka sudah biasa ngumpul di rumah itu. Ada ruangan tersendiri untuk mereka ngumpul di bagian belakang.


Waktu sudah menunjukkan waktu ashar, aku belum melaksanakan shalat. Tapi yang punya rumah meninggalkan aku diluar sendirian.


5 menit,10 menit, sampai 30 menit aku menunggu, sungguh membosankan menunggu. Aku geram, hampir saja ku tinggalkan kalau saja seorang wanita paruh baya tidak ada yang keluar dari rumah itu. Ketika aku akan naik keatas motorku kembali dan sudah memakai helm balapku, Tiba-tiba wanita itu menyapa,


"Anak yang tukang paket itu ya," tanya ibu menunjuk diriku yang dikiranya aku abang pengantar paket.


Ya Allah, keren-keren gini di bilang pengantar paket. Apes deh gue.

__ADS_1


Ku buka helmku kembali dan terlihat wajahku yang ayu.


" Eng....gak, buk saya nunggu Uge, tadi Uge bawa saya ke sini," ucapku dengan tersenyum memperlihatkan gigi putihku.


" O...pacarnya Uge ya..., Cantik banget, ugenya masih mandi tadi rebutan kamar mandi ama teman-temannya," ucap Ibu Uge menjelaskan. "Ayo masuk Nak," ucap.ibu kembali memsilahkan masuk.


" Iya terimakasih Bu, Bu Nisa minta maaf, bolehkah Nisa menumpang shalat?," ucapku yang sungkan untuk berterus terang.


"Boleh nak," ucap Ibu berjalan mendahuluiku.


" Assalamualaikum," ucapku ketika masuk ke dalam rumahnya.


" Wa'alaikum Salam," ucap si ibuk menjawab salamku. " ayo nak ikut ibu, biar ibu tunjukkan tempat shalatnya," ucap ibu membawaku ke tempat shalat yang ada di dekat ruang keluarga.


Aku pergi ke kamar mandi mengambil wudu, segera melaksanakan Kewajibanku dan memanjatkan doa kepada Allah. Baru saja ku buka mukenaku terdengar keributan dari ruang keluarga yang pada tertawa. Aku rapikan hijabku kembali dan memakai bedak yang ada di tas ranselku.


Keluar dari ruang shalat ingin melihat siapakah yang sangat bahagia di ruang keluarga itu. Ku lihat Uge dan teman-temannya sedang bergabung bersama Ibunya dan seorang wanita cantik yang ada di samping ibunya. Aku yang mengintip, tetapi terlihat oleh Bayu.


" Sini Nisa, kita gabung," ucap Bayu yang memanggil diriku untuk duduk bersama dengan mereka.


" Iya" jawabku sungkan.


" Ayo nak, ini minum, jangan malu-malu," ucap Ibu Uge yang menghidangkan minum di atas meja.


Aku mengambil duduk di sebelah Ifan. Ifan salah tingkah dan pindah ke samping dodi yang terasa sempit.


" Kamu ngapain nyempit di sini, ini udah gak muat," ucap Dodi yang terasa karena Ifan mendesak badannya.


" Uge, kamu pindah sana, duduk di samping Nisa biar aku duduk di kursimu," ucap Ifan yang masih berdiri karena tidak ada tempat duduk yang kosong kecuali di samping Nisa.


" Apaan sih, tinggal duduk aja kok susah banget," ucap Uge pindah duduk di sampingku.


" Minumlah, nanti tehmu ke buru dingin," ucap Uge yang mencoba perhatian kepadaku.


" Iya, " jawabku dan langsung meminum teh buatan ibu Uge yang sudah hampir dingin. Mataku melihat jam yang sudah menunjukkan hampir jam 5 sore.


" Uge, aku mau pulang," ucapku yang akan berpamitan.


" Kok cepat banget," ucap Uge yang terkejut akan pamit ku yang terlalu cepat.


" Tadi Nisa gak pamit sama ibu di rumah, maksud hati tadi mau jalan-jalan aja, tapi nyasar kemari," ucapku menjelaskan kepada mereka semua.


" Nginap aja nak?," ucap ibu Uge menawarkan.


" Lain kali aja Bu, Nisa kapan-kapan kemari lagi," ucapku yang sudah menyalam Ibu, Uge dan teman-temannya, terakhir salaman kepada wanita cantik di samping Ibu yang membuat aku penasaran siapa wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2