
Keseruan bermain air di pinggir pantai sungguh membuat kami bertiga seperti anak kecil yang tidak pernah bermain air. Seperti halnya pernah mengalami masa kecil yang suram, yang tidak pernah mengenal dunia luar.
Citra menarikku bermain pasir dan di ambilnya sebuah kayu untuk memintaku menggambarkan bentuk love dan menuliskan namaku dan nama Kak Gilang di dalamnya.
Seketika aku teringat Kak Gilang yang sudah setengah harian tidak berjumpa, sungguh membuatku kangen. Sedang apakah kau di sana Calon Imamku?.
Arif menarik tanganku, mengajak menaiki sebuah bebatuan yang terlihat lebih tinggi di dekat pantai, di sana dia menjerit sepuasnya, melepaskan perasaan yang berkecamuk di dada. Aku terus memperhatikannya dan terlihat ada kepuasan dari wajahnya.
" Cobalah Nisa, pasti perasaanmu akan lega," ucap Arif yang memintaku untuk melakukan seperti dirinya.
Aku mencoba memberanikan diri untuk berteriak menghadap lautan lepas.
" Aaaa......," teriakku kuat sampai suaraku terasa serak.
Aku menatap Arif dan mengangguk kepalaku, senyum terbit dari wajah Arif dan mengajak berfoto bersama mengabadikan kejadian di pantai menggunakan ponselnya. Diam-diam dia mengirimkan beberapa fotoku kepada orang yang jauh di sana.
Kami bertiga tidak kenal waktu ketika bermain, seakan masa kecil terulang kembali. Apakah mungkin masa kecil kami benar-benar suram sehingga tiada pernah bermain di pantai seperti hari ini?. Baju kami bertiga sudah basah kuyup, syukurnya aku memakai baju yang tebal, sehingga tidak memperlihatkan lekuk tubuhku.
Ketika langit sudah menunjukkan semburat jingga, menandakan hari sudah menjelang sore. Kami masuk ke penginapan ingin membersihkan diri, berganti pakaian dan bergegas pulang.
Hari yang sangat menyenangkan, akankah aku kembali ke tempat ini untuk mencurahkan keluh kesahku dan membuang jauh-jauh pikiran yang berkecamuk di dadaku. Aku masuk ke dalam mobil, terlihat Kak Andre meminta diriku tetap duduk di belakang dan menarik Arif agar berpindah duduk di depan, aku di minta duduk bersama Citra.
Kak Andre berjaga-jaga, jikalau aku tertidur, aku dan Citra bisa saling berdekatan. Sehingga tidak ada kekhawatiran di dalam dirinya karena aku dan Citra adalah sama-sama perempuan. Sedangkan Arif, yang di minta pindah ke depan merasa kesal dan memilih memainkan game online dengan handset di telinganya dan cemilan yang ada di tangannya.
Begitu juga dengan Citra, entah pengaruh lapar atau apa, dia juga mengambil satu bungkus keripik kentang ukuran jumbo yang sudah di tangannya, suara kunyahannya sangat berisik memenuhi ruangan mobil. Mulutnya yang penuh membuat dia tidak bisa berbicara dan membuat wajahnya terlihat lucu.
Badan yang lelah membuatku mengantuk dan tidak butuh lama, mataku pun terpejam.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, waktu maghrib tiba. Kak Andre membangunkan kami semua, untuk melaksanakan shalat maghrib di pedesaan itu. Dengan mata masih mengantuk, ku coba untuk menormalkan pandanganku. Citra tidak perduli akan ajakanku, dia tetap tertidur di dalam mobil dengan dengkuran halus dari mulutnya.
Dengan khusyuk ku kerjakan kewajiban dan mencurahkan keluh kesahku kepada yang maha kuasa.
Selesai sudah melaksanakan kewajiban, tinggal mengisi perut yang sudah terlalu lapar. Untuk mencari tempat makan sangatlah jauh dari pedesaan itu, terpaksa harus menempuh sekitar 30 menit perjalanan baru menemukan rumah makan. Perjalanan kembali kami lanjutkan sampai melewati perkebunan karet. Sekeliling jalan yang kami lewati tidak ada perumahan sama sekali dan terasa begitu menyeramkan di malam hari. Syukurnya kendaraan banyak yang melintas membuat kami di dalam mobil tidak merasa takut bila sewaktu-waktu ada perampok di jalan.
Sampailah kami di warung nasi Bu Nuri. Warung nasi yang buka 24 jam, dengan hidangan makanan khas bandung membuatku sudah tidak sabar ingin menyantap hidangan itu.
Begitu pula dengan Citra, sukses membuat kami tercengang akan cara makannya dan porsi yang dia makan. Arif saja sampai geleng kepala melihat begitu tingginya nasi dalam piringnya seperti gunung merapi. Sikapnya yang cuek membuat kami mengelus dada bila melihat tingkahnya.
" Cit, udah gak makan berapa hari?," tanya Arif kepada Citra yang asik makan dengan lahapnya.
" He...he... baru 3 jam bang," canda Citra yang tahu bawa dia lagi di sindir tapi di tanggapi dengan santai.
"Gila bener napsu makanmu, bagaimana mau dijadikan calon istri, makanmu saja sudah begitu banyaknya, bisa habis gaji kakak untuk makanmu saja Cit," canda Arif yang menyindir Citra secara halus.
" Kapok kamu Rif...," ucap Kak Andre yang tersenyum memandang Arif.
" Ha...ha..., senjata makan tuan," ucapku mengatai si Arif.
" He...he ..., perumpamaannya aja lho Cit, kakak bilang gitu kamunya langsung baper," ucap Arif yang sudah tidak enak hati kepada Citra, sedangkan Citra tidak perduli tetap makan dengan santainya.
Tanpa di sadarinya, dia bersendawa. Suara sendawanya membuat nyaris para pembeli yang lain melihatnya. Tapi Citra tetap santai, dia tidak perduli yang penting perut kenyang. Arif menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena malu membuat pembeli melihat ke meja kami.
"Sudah selesai makannya, biar kita lanjut lagi," ucap Kak Andre yang sudah gelisah banyak mata melihat kami berempat di meja makan.
" Sudah Kak," ucapku dan langsung berdiri.
__ADS_1
Aku bergegas pergi kekasir, ingin membayar semua makanan yang baru saja kami makan.
" Sudah Sa, gak usah, biar semua kakak aja yang bayar," ucap Kak Andre mengembalikan uangku dan ingin membayar makanan dengan uangnya.
" Tapi kak, Nisa sudah janji sama Citra untuk meneraktirnya," ucapku menjelaskan kepada Kak Andre.
"Sudah biar semua kakak yang bayar, kalau kamu memang mau meneraktir, besok aja. Dan jangan lupa, kakak juga diajak ya..., bolehkan?,"ucap Kak Andre dengan senyum manisnya dan sengaja mengedipkan sebelah matanya.
" Bo...boleh kak," ucapku gugup karena terkejut akan tingkah Kak Andre yang agak aneh.
" Ya sudah simpan uangmu," ucap Kak Gilang sambil membuka dompetnya dan mengambil dua lembar uang berwarna merah.
Kak Gilang menyerahkan uangnya kepada kasir dan mengambil kembaliannya. Tiba-tiba tangan Kak Andre menggenggam tanganku dan menarik diriku menuju mobil. Mobil melajukan membelah kota, 30 menit lagi kami sampai di rumahku. Jam Menunjukkan pukul 10 malam. Sudah tidak sabar ingin cepat sampai di rumah, ingin merebahkan tubuh yang sangat lelah ini. pikiranku menerawang mengingat kejadian di depan kasir tadi. Aku masih bingung akan sikap Kak andre, sudah lama aku mengenal Kak Andre tidak pernah selembut ini.
Kak Andre adalah orang yang dingin, dan sulit bicara. Sankin dinginnya, Citra sampai memanggilnya dengan sebutan Tunggul Kayu. Ah, mikir apa aku ini, mungkin sikap Kak Andre lembut kepadaku karena dia sudah menganggap diriku seperti adik sendiri.
Mobil masuk ke halaman rumahku. Cahaya lampu di dalam rumah seketika Terang mendengar suara mobil Kak Andre datang. Aku segera turun dan memeluk Ibu dan Ayah yang menyambut kami pulang. Begitu juga dengan Tante Devi dan Om yudi, langsung datang ketika melihat anaknya sudah sampai.
"Bu, Andre pamit ya bu? ucap Kak Andre dengan santun berpamitan kepada ibu tanpa menyempatkan mampir sebentar.
"Iya, hati-hati dii jalan, jangan ngebut Andre," ucap ibu dengan ramah, sama halnya seperti biasa dengan Gilang.
Kami masuk ke dalam rumah, ibu memintaku segera membersihkan diri sebelum tidur. Langkahku tidak semangat kenapa sudah jam segini tidak ada kabar dari Kak Gilang. Kak, andai engkau tahu, aku kangen..., kangen kak.
Ku lihat ponselku tidak ada satu pun panggilan atau sekedar chat dari Kak Gilang. Ah, pusing, lebih baik aku mandi. Ku segarkan tubuhlu dengan air, ingin mengurangi kegundahanku dan menghilangkan pikiran yang tidak-tidak kepada orang yang jauh di sana.
Hampir 30 menit aku di kamar mandi, kulit tanganku sudah terlihat pucat dan badanku juga menggigil kedinginan. Jam menunjukkan pukul 11.00 malam. Ketika keluar dari kamar mandi, berulang kali hidungku bersin-bersin. Cairan bening hangat mengalir dari hidungku dan kepalaku terasa pusing. Ya Allah, apakah aku akan terserang demam? Apakah aku terserang demam rindu. Rindu ingin bertemu kekasih yang baru sehari pergi. Jika aku demam bagaimana aku membuka tokoku esok hari.
__ADS_1
Aduh kenapa tubuhku dingin sekali. Bibirku pucat dan gemelatuk. Segera ku pakai baju dan memakai jaket tebal untuk mengurangi rasa dingin dari tubuhku. Ku cari obat yang ku sediakan di laci meja rias, sekedar untuk jaga-jaga bila tubuhku mulai terserang demam. Berjalan mengendap-endap di tengah malam, keluar dari kamar menuju dapur dengan cahaya temaram. Niat hati ingin mengambil Air hangat agar bisa meminum obat. Ku bawa air putih hangat ke dalam kamar dan segera ku minum obat penurun panas. Ku rebahkan tubuhku di kasur dan berselimut, berharap besok pagi tubuhku lebih segar, karena ingin membuka toko kueku di dekat kampus. Pasti esok hari adalah hari yang sangat melelahkan.