Teman Palsu

Teman Palsu
Buat Adek lagi


__ADS_3

Gak pala di tawari Mama, udah kelihatan dari bentuknya emang sangat lezat. Ah, jiwa laparku meronta-ronta.


Tanpa memperdulikan malu aku lansung melahap makanan yang di depanku dengan menjaga tingkahku yang datang dari orang kampung. Aku juga mengerti tata krama ketika makan. Tidak mungkin jiwa rakusku di bawa ke negeri orang. Apa kata dunia, seorang menantu prayuda makan dengan rakusnya dinegeri orang. Bisa langsung viral aku dalam waktu sehari. Mendadak dangdut jadi artis.


" Sa..., besok pagi kita cepat bersiap-siap. Pakaian yang di pakai besok, nanti akan Mama antarkan ke kamarmu," Ucap Mama Gilang ditengah-tengah ketika makan malam.


" Iya Ma...," aku hanya patuh mengiyakan.


" Dandan yang cantik ya...," terasa aneh mendengar perkataan Mama, sudah tahu menantunya tomboi malah di minta dandan.


" Emm," aku menggaruk kepalaku yang berlapis jilbab. Aku bingung bagaimana cara berdandan. Dengan ekspresi bingung dan cengegesan akan tatapan Mama Kak Gilang yang memintaku berdandan, yang rasaku itu sangat mustahil.


" Kenapa Sa???," tanya Mama Kak Gilang yang heran melihat sikapku yang kebingungan.


" Nisa tidak bisa berdandan Ma, hanya bisa memakai bedak tabur saja," jawabku jujur dan langsung mendapat senyuman dari Mama Kak Gilang.


" Itu juga sudah cukup," jawab Gilang dengan santai sambil menikmati hidangan di meja.


" Tapi..., " kata-kataku belum selesai sudah di bantah Kak Gilang.


" Tidak ada tapi-tapian. Kamu itu akan menjadi milik aku, jangan terlalu cantik, nanti semua mata akan melihatmu. Aku tidak rela kalau sampai milikku begitu banyak yang menatapnya. Usahakan tetap natural aja, wajahmu yang natural bagiku sudah sangat cantik", Gilang begitu posesif, teringat beberapa hari lagi, Nisa akan menjadi istrinya, keposesifannya semakin bertambah.


" Udah jangan di dengarkan Sa..., makan aja, Papa takut kamu pulang dari sini badanmu makin kurusan karena makan hati," Papa Gilang melirik puteranya yang tidak perduli disindir malah makin menempel dengan diriku.


" Siapa bilang, makin kurusan, akan Gilang buat Nisa menjadi bertambah gendut dan bohai," Gilang menggerak-gerakkan tangannya menyerupai lekukan tubuh manusia bak gitar spanyol.


Plak


Aku memukul lengan Kak Gilang karena mulutnya tidak bisa di rem kalau banyak bicara.


"Sakit Sa...," ringis Gilang yang masih manja. "Apa kamu gak mau punya body bohai,"Gilang sudah memancing emosiku. Di tegur tapi masih nyerocos juga mulutnya. Sebel aku mendengarnya.


Uhuk


Aku tersedak kala mendengar perkataan Gilang ketika masih mengunyah makanan.


" Pelan-pelan Sayang..., ini minum," Tepukan tangannya di punggungku membuatku harus berani mendapat tatapan dari Mama Gilang.


Dengan cekatan Kak Gilang mengambilkan air minum yang ada di depannya, sedangkan air minum itu sudah duluan di minumnya. Tanpa pikir panjang aku langsung meneguknya. Aku sedikit menelan salivaku setelah gelas kembali di letakkan ke depan Kak Gilang. Pikiranku kacau, secara tidak sengaja, kami sudah berciuman secara tidak langsung.


Aku menundukkan kepalaku, sesekali melirik Kak Gilang yang masih senantiasa menatapku.


" Suapi...," Gilang membisikan sesuatu begitu pelan, membuatku meremang. Terpaan napasnya mengenai wajahku.


Aku menuruti kemauannya. Dengan terampil menyuapinya, Papa dan Mama Gilang tersenyum melihat anaknya yang masih begitu manja.


" Ayo Pa.., kita duluan ke kamar," ajak Mama Gilang yang memeluk manja.


" Iya Ma..,kita mengganggu mereka. Jadi panas Papa melihatnya. Mending kita buat adek buat Gilang," Ucap Papa Gilan yang teramat suka menjaili puteranya.

__ADS_1


" Pa...Ma..., Aku tidak mau adek, jangan sampai anakku nanti berusia sama dengan anak kalian, ingat umur, sudah bau tanah juga mau bikin anak lagi, yang ada malah encok," cegah Gilang yang dari dulu keinginannya selalu sama tidak mau di tambah adik lagi.


" Astaghfirullah Lang, posesifnya kamu. Apa urusanmu kalau kami mau nambah anak lagi Lang..., kami kesepian perlu hiburan. Dengan adanya tangisan bayi di rumah kami, rumah kami akan ramai kembali ," ucap Papa Gilang menjelaskan kepada puteranya.


" Sana terserah, bikin adek yang banyak. berisik amat sih," Gilang sudah bosan kalau bicara soal adik. Mamanya pernah keguguran akibat berniat hamil kembali. Kandungan yang lemah membuat beresiko pada nyawa Mama Gilang. Itu yang membuat Gilang takut kehilangan Mamanya.


" Ayo Ma.., jangan dengar anak gendeng ini," Pap Gilang sangat suka.menjaili puteranya. Dia bersyukur dengan seringnya menjaili Gilang. Gilang jadi berniat menikah cepat, supaya bisa memberikan mereka cucu.


" Ma...," panggilan Gilang membuat Mamanya menoleh kembali.


" Apa Lang, kamu mau ikut," Papa Gilang menyahut, karena anaknya seperti anak kecil.


" Is...," Gilang kesal, Papanya selalu ikut campur.


" Nanti kamu juga akan merasakan apa yang kami rasakan, ingat jangan di sentuh dulu menantu Papa, da da...," Pap Gilang tersenyum, karena menang membuat anaknya kesal.


" Dasar orang tua gak ada akhlak," Gilang kesal dan meneguk air minum sampai kandas.


Wajah Gilang di tekuk melihat tingkah laku orang tuanya yang pamer kemesraan di depan anak dan menantunya.


" Mau lagi Kak?," aku menyodorkan sesendok nasi ke depan mulut Gilang yang manyun.


" Iya dong Sa, ngambek juga butuh energi," entah sudah beberapa kali suapan, Kak Gilang seakan tidak ada kenyangnya. Mulutnya terus terbuka seperti anak burung yang berkicau meminta makanan.


" Kak sudah habis, udahan ya," aku mengambil tisu melap bibirnya. Yang di lap malah keasikan menatap.


" Kamar yuk, Kakak lelah," ajak Gilang yang sudah berdiri.


" Maunya kamar siapa?," Gilang seperti mendaoat kejutan, pertanyaanku yang membuatmu ndapapa kesempatan.


Aku sedikit gelagapan, pertanyaanku salah tidak pada waktu yang tepat. Mana Mama fan Papa lagi buat adek lagi. Mampus aku..., pasti gantian aku yang akan dimangsa.


" Apa kamar kamu saja," Gilang emenaikakan alisnya, berwajah mesum yang membuat orang panas dingin mendengarnya.


"Ogah," elakku dan berjalan duluan.


"Ih gak seru, buat males aja. Mama aja satu kamar, kita malah pisah kamar, gak enak," Gilang kesal, karena keinginannya belum bisa di dapatnya.


" Nyicil-nyicil boleh ya dek....," Gilang selalu ada cara menggoda Nisa.


" Apanya???," jawabku bingung.


" Itunya," pandangan matanya melihat pada benda kenyal yang berwarna pink di wajahku.


" Mesumnya???," jawabku asal. " Kakak apa gak takut aku akan kabur," tanyaku yang langsung membuat Gilang bersalah.


"Jangan Dek, Kakak bisa gila,"


" Perasaan Nisa, Kakak dulu gak mesum ginilah," ucapku yang menyatakan apa yang kurasakan selama ini tentang Gilang.

__ADS_1


" Tapi Kakak pengen Dek," Gilang merengek seperti minta uang jajan.


" Astaghfirullahaladzim, ternoda mataku," ucapku yang sedikit keras.


" Kenapa Yang...," pandangan mataku diikuti Kak Gilang.


" Itu Lihat di sono," Kutunjukkan tempat yang seharusnya tidak dilihat.


" Ahh..., ahh...," Desa han suara pasangan mesum, terdengar begitu memekakkan telinga.


Gilang langsung melotot melihat sepasang kekasih di seberang meja mereka sedang bercumbu, ******* dan melilit lidah. Jejak-jejak cinta sudah menghiasi leher wanita yang di cumbu pacarnya. Tangan pria sudah merayap kemana-mana. Sepasang kekasih yang tidak memperdulikan orang lain malah asik mengumbar kemesraan di tempat umum.


Tapi pengunjung yang lain biasa aja melihat mereka. Hala yang sudah biasa di sana. Tidak perlu terkejut lagi. Kami berdua saja yang heboh. Ya Allah akal manusia sudah tidak ada. Urat malunya bahkan sudah putus.


" Dek...," Gilang menempel seolah dia ingin berbuat yang sama dengan mereka yang dilihatnya.


" Tutup mata Kak.…," Ujarku kepada Kak Gilang.


" Iya, Ini Kakak tutupi," Gilang mencoba menutupi matanya. Tapi hati kecilnya mengatakan sayang kalau di lewatkan.


" Apaan yang ditutupi. Itu tapak tangan jarang semua jarinya, sama aja bohong," Ujarku yang membuat Kak Gilang malu.


" Biarin, ini ganggu aja, lagi seru nih, sayang mubajir kalau gak di tonton," Gilang masih tetap fokus.


" Dosa Kak..., ih... ayo Kakak kita pergi dari sini," aku menarik tangan Kak Gilang. Tapi yang di tarik tetap gak mau pergi.


" Tunggu Dek, tanggung," Gilang masih fokus pada pasangan mesum itu.


" Ih.., ikut gak," Aku emnjewer telinga Kak Gilang yang masih asik menonton pasangan mesum.


" I.. iya Dek, sakit lepasin," ringis Kak Gilang ingin meminta aku melepaskan telinganya.


" Makanya Kak Gilang jangan aneh-aneh," jawabku dan langsung melepaskan telinganya. Kak Gilang langsung menggosoknya.


Kami berdua sampai di pintu kamar. Tidak ada kata yang keluar dari mulut kami. Aku masih kesal sama kelakuan Kak Gilang yang sangat mesum. Suasana menjadi canggung.


" Emm, sudah ya Kak, aku masuk ke kamar ya...," aku meninggalkan Kak Gilang yang berdiri dibelakangku.


Ku masukkan kunci.


Ceklek


Pintu terbuka. Tapi tanpa di duga, Kak Gilang mendorong tubuhku ke dalam kamar dan menutupnya kembali dengan kakinya. Di bungkamnya bibirku dengan rakus. Aku terkejut mendapat serangan yang tanpa aba-aba. Hati kecilku menolak tapi ragaku menjawab lain. Ada sebuah hasrat yang ingin membalasnya.


Sebuah gigitan di bibirku, membuatku membuka mulut. Lidah kak Gilang semakin leluasa masuk ke dalam rongga mulutku. Gilang semakin gencar melu mat dan membelit. Belitannya membuatku hanyut dan sedikit membalas. Tapi aku belum terlalu mahir. Cukup lama sampai pasokan udara terasa habis. Ku dorong tubuh Kak Gilang dan terlepas pagutan yang terlihat bengkak.


Napasku ngos-ngosan seperti baru saja habis lari meraton.


Ibu jari kak Gilang mengusap bibirku yang masih basah. Kening kami saling menyatu.

__ADS_1


" Ehemm, Sudah gak sabar kakak Dek, beberapa hari lagi saja, terasa sangat lama waktu berputar," Gilang merasa frustasi, hasratnya sudah menggebu. Kalau tidak mikiri anak orang harus pulang dengan utuh. Sudah di sikatnya malam ini juga.


__ADS_2