Teman Palsu

Teman Palsu
Perasaan Andre


__ADS_3

Andre memukul kepala Arif karena sudah membuat Abangnya cemburu. Degub jantungnya bertempo cepat tatkala Raga muncul tepat di belakang mereka. Andre sengaja menggaruk kepalanya yang tidak gatal untuk mengurangi kegelisahannya. Andre takut jikalau Raga mendengar pembicaraan mereka berdua. Bisa hancur masa depan Andre karena sudah berani ingin merebut calon majikannya.


" Dre, gue mau bicara sama lho, tapi tidak di sini" ajak Raga kepada Andre.


Tanpa memikirkan ajakan Raga, Andre mengangguk kepalanya dan mengikuti ke mana Raga berjalan membawa suasana hatinya yang penasaran.


Sampai mereka di taman rumah sakit. Tempatnya sejuk dan terdapat air mancur. Raga mengajak Andre duduk. Raga tidak mau gara-gara perasaan Andre, mereka menjadi musuh. Maka dari itu, Raga ingin Andre berbicara dengan jujur tentang kedekatannya selama ini dengan Adiknya.


" Ada apa kita kemari Ga? tanya Andre kepada Raga yang tidak memiliki kecurigaan sekalipun.


" Duduklah," ucap Raga meminta Andre duduk bersamanya.


" Dre, jawab dengan jujur, apakah Lo suka sama adik Gue..?," tanya Raga langsung pada intinya.


" Ehemm!, A...apa maksud loe Ga?," ucap Andre yang gugup karena rahasianya akan terbongkar.


" Tolong Dre, jawablah yang jujur..., Gue akan dengar semua omongan dari mulut Lo langsung, asal itu tidak untuk melukai adik gue," ucap Raga yang menginterogasi Andre karena sikapnya selama setahun ini berbeda dengan sebelumnya.


" Kalau boleh Gue jujur, iya Gue memang suka kepada Nisa, sejak dulu Ga, sebelum Gilang menyatakan perasaannya terlebih dahulu kepada Nisa, sejak Lo sering ngajak Nisa ngumpul bareng sama kita," ujar Andre menjelaskan.


" Kenapa Lo tidak terus terang kepada adik Gue?," tanya Raga heran kepada Andre.


" Gue takut Ga, Gue takut kalau Nisa akan nolak Gue, secara aku itu tidak sekaya Gilang," ucap Andre kepada Raga.


" Aku harap, kamu jangan mengungkapkan dulu perasaanmu kepada Annisa Dre, takut dia akan menjauhimu, dia orangnya pantang dikhianati, kalau dia menganggapmu abang maka seterusnya dia akan menganggapmu abang," ucap Raga kepada sahabatnya.


" Iya Lo benar Ga, tapi bolehkan Gue tetap dekat dengan Adik Lo, Gue janji Akan tetap jaga adik Lo semampu Gue," ucap Andre mebgiba kepada Raga.


" Gue gak bisa mutuskannya Dre, gue sebenarnya seneng Lo bisa menjaga dan bertanggung jawab atas keselamatan adik Gue, tapi masalahnya adik Gue sudah bertunangan dan bakal menjadi istri orang, dan calon adik Gue juga sahabat kita. Jangan sampai gara-gara memperevutkan adik Gue, kita jadi bertengkar,"ucap Raga kepada Andre.


"Iya, Gue tau, tapi Gue ingin Lo bisa merahasiakan perasaan Gue kepada adik Lo, jangan sampai orang-orang juga tahu," ucap Andre meminta kepada Raga untuk membantunya.


" Iya InsyaAllah, Gue akan merahasiakannya," ucap Raga dan berdiri ingin menyudahi perbincangan mereka. " Dre, Gue duluan ya, gue mau jenguk Nisa,"ucap Raga dan melangkah meninggalkan Andre yang masih terpaku, memikirkan sesuatu sambil melihat air mancur yang ada di taman.


* * * * * *


Di seberang sana, Gilang yang sedang mengerjakan tugas kuliahnya merasa seharian ini terus teringat Annisa. Dia sampai tidak konsentrasi mengerjakan tugas kuliahnya. Sudah satu tahun lebih, Gilang terus mengubur rasa rindunya untuk bertemu langsung kepada Calon istrinya. Hari ini rindunya sudah terasa menyesak ke dada. Dia pun mengambil ponselnya dan mengirim chat kepada Andre, ingin mengetahui keadaan calon istri yang setiap hari di awasinya. Tapi Andre tidak membalas chat darinya. Dia pun menghubungi Annisa langsung, tetapi ponsel Annisa juga tidak aktif.

__ADS_1


Gilang terus mondar mandir di dalam kamarnya, waktu makan siangnya juga sudah lewat karena terus memikirkan Annisa. Mau tidak mau dia harus menghubungi Mamanya. Tetapi ketika akan menghubungi Mamanya, Gilang mendapat telpon dari Papanya kalau perusahaan mereka yang di London dalam masalah besar. Perusahaan yang sudah bertahun-tahun dirintis Papanya dari nol, beberapa bulan ini mengalami penurunan keuangan terus menerus yang belum diketahui apa penyebabnya dan hampir mengalami kebangkrutan. Akhirnya Gilang mengurungkan niatnya untuk menghubungi mamanya.


Ia pun bergegas mengemasi pakaian dan membawa berkas-berkas penting untuk segera dibawa ke sana. Padahal rindunya sangat berat kepada sang pujaan hati. Tetapi ada hal yang lebih penting dari itu, nasib para karyawan yang mempunyai tanggungan keluarga harus di perjuangkannya. Gilang berangkat ke London dengan menggunakan pesawat pribadi keluarganya yang sudah menunggu 30 menit yang lalu sebelum Papanya menghubunginya. Orang kepercayaan Papanya selalu bertanggung jawab menjemput putera si mata wayang keluarga Yuda.


Toni adalah Orang kepercayaan Papanya yang menjemput Gilang ke penginapannya. Ia membawa mobil untuk membawa Gilang ke Bandara yang akan berangkat menggunakan pesawat pribadi mereka. Pria paruh baya yang sudah berumur hampir kepala lima, masih kelihatan gagah dan berwibawa. Orang kepercayaan Pak Yuda mempunyai seorang putera


yang bernama Ragil Setiawan. Mereka selalu senantiasa mengabdikan diri mereka untuk keluarga Gilang. Karena keluarga Gilang sudah banyak membantu keluarga Pak Toni, sehingga perekonomian mereka sudah sangat membaik.


" Apakah Om Toni sudah lama menunggu saya? ucap Gilang menggunakan bahasa formalnya bila berhadapan dengan orang kepercayaan Papanya.


" Belum lama, Tuan Muda...," ucap Toni berbohong karena sudah tiga puluh menit dia menunggu terasa membosankan, tetapi Toni mempunyai kepatuhan yang tinggi, dia tidak akan berani melawan kepada majikan dan anak majikannya.


" Biasa saja panggil saya Om, panggil saja saya Gilang, jangan terlalu formal," ucap Gilang yang sudah berjalan menuju mobil.


"Tidak bisa Tuan muda, nanti saya bisa dikenakan Sanksi,"ucap Toni yang dengan dinginnya berbicara dengan anak majikannya.


" Siapa yang bilang?,"ucap Gilang yang penasaran.


" Apa semua yang saya tahu, harus saya beritahukan kepada Anda, Tuan?"ucap Toni yang ketus dan terdengar ancaman pada kata-katanya.


Gilang pun masuk ke dalam mobil dan duduk dibagian belakang dengan memakai Jas yang rapi menambah ketampanan wajahnya.


"Tuan Muda, apakah anda tidak keberatan, jikalau selama anda membantu perusahaan Papa anda, anda tidak dapat menghubungi Calon Istri anda dan mungkin sampai bertahun anda baru pulang," ucap Toni menjelaskan kepada Gilang yang membuat Gilang terkejut mendengarnya.


" Ah, Om ini bercanda ya,"ucap Gilang yang menganggap omongan adalah candaan.


"Benar Tuan Muda, kita akan semakin sibuk mengurusi perusahaan ini, karena ini perusahaan besar, kita harus menormalkan keuangan kembali agar karyawan bisa sajahtera kembali," ucap Toni dengan serius.


Gilang terlihat terdiam dan menundukkan kepalanya memikirkan perkataan Orang kepercayaan Papanya.


"Baiklah, setuju Om, bagaimana pun ini demi kesejahteraan orang banyak, tapi ada syaratnya sebelum lepas landas, izinkan saya berbicara dengan tunangan saya, kalu Om tidak mengizinkan, maka saya tidak akan pergi," ucap Gilang yang bernegoisasi dengan Om Toni.


Om Toni menganggukkan kepalanya, berat rasanya untuk emmenuhi syaratnya, karena majikannyansudah menunggunya, tetapi ancaman Gilang juga lebih berat. Jika Toni tidak dapat membawa Gilang ke London maka, Toni yang akan terkena amukan dari Papanya.


Gilang segera mengambil ponselnya dan menghubungi Annisa dengan melalui VC. Beberapa kali deringan ponsel pun terhubung. Terlihat wajah Nisa yang pucat, berbaring di ranjang rumah sakit dan Selang infus masih menempel di tangannya.


"Assalamualaikum Kak,"

__ADS_1


"Wa'alaikum Salam Dek, kamu kenapa Dek? itu seperti rumah sakit,"


"Nisa gak apa-apa Kak,"


"Gak apa-apa bagaimana? kamu sakit kan Dek," kakak pulang saja, kakak mau jaga kamu, Andre gak becus jaga kamu,"


" Udah Kak, Nisa gak apa-apa Kak, Nisa sudah mendingan, Nisa cuma sakit perut karena terlalu banyak makan pedas,"


" Ha!! itukan kamu Dek, sudah Kakak larang jangan makan sambal banyak tapi kamu masih ngeyel. Pasti sambal.yang kamu makan terlalu banyak, jadinya kayak gitu sakit perut. Itu perutnya masih sakit Yang...???


" Udah gak Kak,"


"Dek, kakak sebentar lagi akan berangkat London, ini Kakak sudah di bandara dan butuh waktu bertahun baru bisa pulang. Apakah adek setia menunggu Kakak sampai Kakak kembali, perusahaan keluarga Kakak dalam masalah Dek, dan Papa minta bantuan Kakak untuk mangatasinya, jadi selama Kakak di sana Kakak akan belajar mengendalikan perusahaan Papa Kakak,"


" Lalu kuliah Kakak bagaimana??,"


" Kakak akan ngambil jalur beasiswa di sana,"


"Tapi Kakak masih bisa menghubungi Nisa kan?


" InsyaAllah,"


" Ehemm," suara deheman Toni memberi kode agar Gilang menyudahi pembicaraan, Gilang yang belum puas melihat wajah Nisa seakan tidak ingin mengakhiri panggilannya.


" Dek, kakak minta maaf ya, kakak belum bisa ada di sampingmu sampai sekarang, tapi kakak janji akan pulang secepatnya setelah masalah keluarga Kakak beres, kamu jaga diri baik-baik di sana ya...?


" Iya Kak, jaga juga hati dan raga kakak untuk Nisa, dan pulang dengan selamat"


" Oke Calon istriku, I love You Nisa,"


" I love You too,"


" Assalamualaikum,"


"Wa'alaikum Salam,"


Panggilan berakhir, Nisa merasa lemas mendengar Gilang akan pergi bertahun untuk menyelesaikan masalah perusahaannya. Bagaimana dia akan mengisi hari-harinya sampai menunggu Gilang kembali?

__ADS_1


__ADS_2