
Jantungku berdetak cepat ketika menyalami tangan mama dan Papa Kak Gilang. Senyum di wajah mereka membuat jantungku mau copot. Jalanku yang biasa seperti jalan laki-laki terasa kaku dan susah untuk dilangkahkan. Kak Gilang tersenyum melihat aku gugup ketika berhadapan dengan orang tuanya.
Mama Kak Gilang sangat ramah dan mudah akrab dengan ibuku. Parasnya terlihat cantik di umurnya yang sudah kepala empat. Tersirat hati mengagumi kecantikan Tante Dewi. Pantasan anak mudanya tampan , wong mamanya cantik dan Papanya juga tampan.
Pasangan yang harmonis dan Keluarga yang sempurna. Keluarga Gilang walaupun tergolong orang berada tapi tidak sombong dan tidak membedakan kasta.
Hari ini Nenek akan datang kerumah Kak Gilang. Setelah mendengar Kak gilang mendekati seorang gadis, Nenek menjadi sembuh dan semangat untuk melihat cucu kesayangannya menemukan gadis pilihannya.
Om Yuda bertanya keadaan ayah dan memohon maaf atas ketidak waspadaannya ketika mengemudi sehingga menyebabkan Ayah kecelakaan. Ayah bukanlah orang pendendam, Ayah mengikhlaskan keadaannya karena semua itu adalah takdir.
Sebagai bentuk ungkapan permintaan maafnya, Om yuda akan membiayai semua perobatan ayah selama di rawat di rumah sakit dan membiayai kuliahku ketika aku kuliah nanti. Ayah merasa keberatan, karena mengkuliahkanku adalah merupakan tanggung jawab Ayah. Tapi Papa Yuda bersikeras akan membiayai kuliahku nanti. Aku merasa tidak enak hati belum apa-apa sudah berhutang budi.
Beberapa menit kemudian
Tante Dewi pamit kepada ibu dan ayah untuk pulang karena Nenek Kak Gilang akan datang ke rumah. Tante Dewi merasa terkejut karena Kak gilang meminta izin kepada ibu untuk membawaku serta menemui nenek. Aku terperangah mendengar ucapan Kak gilang karena tidak ada persiapan sama sekali, baju yang ku pakai juga biasa-biasa saja. Apa kata Nenek nanti. Pasti beliau merasa tidak senang.
Ibu dengan senang hati mengizinkanku asal aku bisa jaga diri. kami berempat keluar dari kamar ayah dan terpisah di parkiran .Ternyata Om Yuda dan Tante Dewi beda mobil dengan Kak Gilang. Kak gilang membuka kan pintu mobil dan mempersilahkan aku masuk. selanjutnya Kak Gilang juga masuk dan menjalankan mobilnya mengikuti mobil Om Yuda.
Hening di mobil tidak ada yang berani mendahului pembicaraan, aku pun asik melihat pemandangan melalui kaca mobil.
Sampai di depan Butik kak Gilang memberhentikan mobilnya. Aku bingung ada perlu apa singgah ke toko lagi.
" Ayo, turun Dek," ucap kak Gilang membukakan pintu mobil melangkahkan kaki menuju butik.
" Iya Kak, " dengan gugup mencoba turun dan mengikuti langkah Kak Gilang.
"Selamat siang Tuan, apa yang dapat kami bantu, " ucap salah satu pekerja butik cantik dengan ramah.
" Tolong, siapkan gaun untuk gadis ini yang cocok, cepat ya "
"Baik Tuan, ayo nona " ucap pekerja itu membawa beberapa gaun dan membawaku masuk ke ruang ganti
__ADS_1
Beberapa menit kemudian
Kak Gilang terlihat gelisah sesekali memandang ke pintu ruang ganti tapi yang di tunggu belum juga keluar. Dengan melawan rasa jenuhnya, Kak Gilang memainkan game online di ponselnya.
"Sudah Tuan, Nona sudah siap, "
Ku lihat Kak Gilang terus memandangi ku dan melangkah mendekat, rasa mau terlepas bola matanya karena terlalu lamanya melihat wajahku.
Baju gaun warna silver yang ku kenakan serasi dengan warna jilbabnya. Mempunyai model simpel dan tertutup, sesuai digunakan bila memakai jilbab.
Aku merasa tidak percaya diri melihat Wajahku dipoles di depan cermin. Sangat berbeda, aku saja sampai tidak mengenali wajahku sendiri. Ku ambil ponselku di dalam tas, untuk ku abadikan bahwa di hari ini aku tampak menawan.
sungguh cantik gadis ini, perfect...' batin Gilang.
"Ayo nanti kita terlambat makan siangnya, pasti nenek sudah menunggu, " ucap Kak Gilang sambil mengulurkan tangan untuk kusambut.
"Iya Kak, " ku jawab dan menyambut tangannya.
"Ssshut, jangan ngegosip yang kamu gosipi itu majikan kita, nanti di pecat baru tau rasa. Ucap pekerja senior yang sudah lama
berkerja di butik mama Gilang.
Kak gilang melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali Kak Gilang curi-curi pandang melihat ke wajahku. Ku remas tanganku, jantungku berdetak cepat ,keringat dingin mengalir dikeningku.
"Ehmm, Dek jangan gugup, nenek orangnya baik," ucap Kak Gilang mencairkan suasana.
Siang hari jalanan kelihatan ramai karena orang akan segera makan siang mencari cafe atau warung nasi. Jalanan juga macet, kulirik jam tangan Kak Gilang sudah menunjukkan pukul 11.45 siang. Mana aku lapar lagi, Aduh lama sekali sampainya.
kruk....Kruk
Suara cacing di perutku tidak bisa tenang sebelum dikasih makan. Kak gilang tersenyum mendengar suara dari perutku.
__ADS_1
" Lapar ya Dek, sabar ya... bentar lagi juga sampai, " ucap KK gilang dan tersenyum kepadaku.
Lima belas menit kemudiaan,
Tibalah kami di rumah Om Yuda, rumahnya megah dan besar. Tampak pelayan Kak gilang tersenyum menyambut kami. Nenek yang sudah sembuh segera keluar menyambut kami datang.
"Assalamualaikum, Nek," ucap Kak Gilang kepada Nenek.
" Wa'alaikum salam, " ucap Nenek melirik diriku.
" Ini dia gadisnya Lang," ucap Nenek memandang dari atas ke bawah melihat ku, aku yang dilihat merasa kecil.
"Iya Nek," senyum terbit dari wajah Kak Gilang lalu melihatku dengan menganggukkan kepalanya.
" Saya Annisa Nek," ucapku mendekat dan menyalami tangan nenek.
"Cantik, pandai juga kamu memilih gadis Lang," ucap nenek membuat wajahku merah.
"Ayo Lang, suruh Annisa duduk, masa tamu disuruh berdiri saja," ucap Tante Dewi mempersilahkanku duduk.
" Ibu ayo, kita segera makan nanti sakit ibu kambuh lagi," ucap Tante Dewi agar nenek segera makan.
" Iya, tapi Nenek ingin di suapi Nisa, maukan Nisa menyuapi nenek?,"
Terpaku diriku mendengar nenek meminta untuk disuapi. Ada rasa canggung berhadapan dengan orangtua dari kalangan berada ini. Tante Dewi yang memandangku dengan senyumnya menganggukkan kepalanya menandakan bahwa telah memberikan izin kepadaku untuk menyuapi nenek. Kak gilang sekolah-olah tidak perduli akan kejadian yang ada di meja makan. Kak Gilang asik melahap makan siangnya tanpa bersuara sedikit pun.
" I...iya Nek," jawabku gugup dan mengambil piring nenek mengisi nasi secukupnya, lauk, dan sayur.
Nenek bahagia Lang, akhirnya sebentar lagi kamu akan berdampingan dengan wanita berparas cantik. Sudah Cantik, sopan santun dan ramah tamah lagi. Cantik luarnya semoga cantik juga hatinya. Cantik alami dari wajah Annisa menandakan bahwa selama ini Annisa tidak pernah berdandan, beruntung orang tuanya mempunyai anak gadis seperti annisa. Andai cepat menjadi pendamping Gilang, bahagianya hati nenek Lang... ' batin nenek.
'
__ADS_1
Dengan telaten ku suapi Nenek sampai nasi yang di piring tidak bersisa. Nenek menyudahi makan siangnya dan harus minum obat. Tante Dewi yang melihat nenek menyudahi makan siangnya segera menghampiri dan memgantarkan Nenek ke kamar untuk beristirahat. Tinggallah aku dengan Kak gilang yang masih di meja makan.