Teman Palsu

Teman Palsu
Perdebatan


__ADS_3

Riuh tepuk tangan kala aku dan pemuda di sampingku telah selesai menyanyikan sebuah lagu.


" Gilang...Gilang....Gilang.....," Grup BTS bersorak memanggil nama Gilang, mereka meminta Gilang untuk bernyanyi kembali bersama mereka semua. Aku tidak tahu lagu korea. Gilang melepaskan gengaman tanganku dan berlari menuju podium. Gilang dengan senang hati bernyanyi bersama group BTS yang lagi manggung, sementara diriku menyendiri membiarkan mereka bernyanyi dengan lincahnya. Di akhir lagu, Kak Gilang berjalan mendekatku dan bersujud memberikan sebuket bunga yang sangat indah. Riuh tepuk tangan menyoraki kami berdua.


" Dansa...dansa...dansa....." teriakan para tamu yang menggema di ruangan menyarankan kami berdua untuk berdansa.


Seketika musik berganti menjadi alunan dansa yang romantis. Alunan musik piano yang di mainkan pianis seakan menyentuh kalbu. Sebuah Uluran tangan di depanku seolah memintaku untuk menyambut uluran tangannya. Wajahku sudah merah semerah buah tomat. Sangat malu di depan orang ramai. Dengan perasaan gugup aku menerima ukurannya dan memegang tangannya erat. Refleks tangan Kak Gilang memegang daerah pinggulku yang dilapisi gaun yang indah. Aku bagai kesetrum, tidak pernah aku sedekat ini dengan seorang laki-laki, syukurnya orang yang ada di hadapanku sebentar lagi akan menjadi suamiku.


Kak Gilang tersenyum menarik lebar sudut bibirnya memperlihatkan ketampanannya dan dia sangat tampan dihari ini. Ya Allah, manisnya senyumnya. Jangan lama-lama Kak menatapku nanti aku bisa diabetes. Alamak, bisa terkena penyakit komplikasi aku sebentar lagi. Yang pertama penyakit Diabetes bisa terkena karena terlalu lama memandang wajahmu yang manis, sangkin manisnya aku jadi diabetes. Penyakit yang kedua terkena penyakit TBC : Tekanan Batin Cintamu. Yang ketiga terkena penyakit mata, Mata pencaharian maksudnya. Kenapa terkena penyakit mata, karena mata pencaharianku bisa habis untuk bayar pesta ini semua kalau tidak ada yang mau mengeluarkan untuk biaya pesta ini.


Untuk sementara waktu lampu utama di padamkan, hanya lampu sorot yang kembali menyala. Lampu sorot di arahkan kepada kami berdua, mataku sampai silau oleh lampu itu. Aku dan Kak Gilang seperti aktor dan aktris utama didalam pesta ini. Sampai-sampai Mata para tamu memandang kami berdua sebagai pasangan sangat serasi. Bagai Raja dan Ratu di sebuah istana.


Kami menari mengikuti irama musik yang melow dan tamu-tamu banyak yang ikut berdansa, salah satunya mama Kak Gilang bersama Pak Yuda yang tidak ingin ketinggalan. Apalagi Citra sengaja mengajak Bang Raga untuk menari bersama. Ruangan dansa begitu meriah. Begitupun anak-anak panti mereka bersuka cita menikmati makanan dan suasana pesta.


Alunan musik romantis bergema memenuhi ruangan pesta. Rasanya bagaikan mimpi bisa berdansa di tengah keramaian seperti ini. Langkah kami berdua terasa canggung di depan orang ramai. Menunjukkan senyuman yang sangat mempesona, sankin mempesonanya hampir bisa mengalahkan senyuman Pangeran William dan istrinya dari inggris.


Saat kami berdekatan, jantungku tidak bisa tenang. Detak jantungku rasanya sangat cepat. Aku malu jika tempo detak jantungku sampai terdengar oleh Kak Gilang. Matanya terus menatap wajahku, aku sangat malu. seperti kucing yang malu-malu, tapi bukan malu-malu kucing.


Seketika mata kami bertemu. Begitu lama kami saling tatap dan tidak ingin berpaling dari tatapan itu. Bola mata yang indah sangat menghipnotis diriku. Tatapan Kak Gilang sangat lembut, wajahnya hampir mendekat ke wajahku, sampai tercium wangi parfum mint dari mulutnya, menusuk urat sarapku dan membuatku sangat ingin berlama-lama dekat dengan Kak Gilang.


Tempo musik mengikuti hentakan kaki yang tidak tahu arah gerakan tarinya dan tidak aku mengerti. Sesekali kami melakukan gerak memutar, tanpa melepaskan genggaman tangan sebelahnya. Tidak pernah kursus dansa malah di suruh dansa di panggung. Sedikit canggung, tetapi gerakanku dapat mengikuti gerakan Kak Gilang. Akhirnya sedikit demi sedikit dapat kuikuti.


" Hemm..., kamu cantik sekali hari ini Yang," ucap Kak Gilang ketika menatap wajahku.


" Ah, Kak Gilang bisa saja," jangan di tanya dengan wajahku yang sudah semerah tomat dan malu-malu menatap wajahnya kembali.


" Iya bidadariku, wajahmu sangat cantik," ucap Gilang memuji calon istrinya dan memegang daguku untuk menatapnya kembali.


" Gombal," ucapku tersipu malu.


" Ini bukan gombal ini kenyataan Yang..., gak sabar mau cepat nikahi kamu, andai hari ini ada penghulu yang nyasar menghadiri ulang tahunmu, pasti aku sudah minta nikahi sama kamu sekarang juga," ucap Gilang yang sangat santai tidak mikiri dulu rencananya.


" Udah pandai ngegombal ya Kak...," ucap Diriku yang kembali menunduk dan ragu menatap wajahnya kembali.


" Terserah Adeklah, yang penting ini bukan gombal, kamu tau Sayang, jauh hari Kakak sudah merencanakan membuat acara ulang tahunmu di sini dan hari ini acara itu berjalan lancar," ucap Gilang menjelaskan, tidak memikirkan hal lainnya yang akan membuat dirinya nanti kesulitan untuk menjawab.


" Jadi ini ide Kakak?," tanyaku kepada Kak Gilang yng sudah bida menebak dari jawabannya.


" Iya," ucap Gilang dengan santai.

__ADS_1


" Jadi yang hantu tadi, itu kerjaan kakak juga!," ucapku yang sedikit keras.


" Suust..., jangan kuat-kuat nanti mereka nganggap kita berantem," ucap Gilang hampir membungkam mulutku tetapi duluan aku melotot, akhirnya tangannya diturunkannya kembali.


" Biarin, kakak tau gak, jantung ku mau copot melihat hantu-hantu itu," ucapku menjelaskan perasaanku ketika kejadian hantu di siang hari.


" Kamu mau tau tidak Yang..., itu yang jadi hantu bermanfaat panjang dan bersama seram adalah Citra, dia yang punya ide itu..., dan yang pura-pura jadi raksasa itu Arif. Sebenarnya tidak ada ide membuat Raksasa, tapi karena siarif lucu melihatmu menangis ketakutan, jadi dia tertawa dan hampir ketahuan, akhirnya dia yang membuat ide sendiri menjadi raksasa," ucap Kak Gilang menjelaskan.


" Jahat kalian semua, suka lihat aku menderita,"ucapku yang kesal.


" Udah ah jangan ngambek, nanti wajahmu jelek," ucap Kak Gilang membujuk diriku.


Aku memalingkan wajahku dari tatapan Kak Gilang yang sedang tersenyum melihatku cemberut. Dia menyentuh daguku dan mencubit pipiku dengan lembut. Cubitan mesra kata orang-orang dewasa. Sentuhannya membuat jantungku berdebar-debar.


" Senyum.dong Yang..., kamu apa tidak senang kakak buat acara seperti ini," ucap Gilang kepada Diriku yang menatap wajahnya.


"Ya senanglah, Bohong kalau aku bilang tidak senang, Tapi kadonya mana???," tanya ku kepada Kak Gilang yang mencoba tersenyum menatap wajahnya.


" Ya Allah, udah di buat pesta sebesar ini masih minta kado..., Kiss mau Yang...," ucap Gilang menjili diriku.


" Ogah..., jauh-jauh Kakak Dari London masa gak bawai Nisa kado sih" ucapku dengan cemberut.


" Coba aja ninggali aku lagi, pasti aku gigit," ucapku dengan ketus.


" O..o...selama di tinggal udah jadi anjing herder ya, tukang gigit, mau dong digigit...," ucap Gilang dengan senyumnya.


" Ih, sebel..."rengekku yang terlihat manja dilihat orang.


Seketika musik berhenti, suara tepuk tangan bergema memenuhi ruangan. Kami menundukkan badan tanda kami telah selesai berdansa. Aku meninggalkan Kak Gilang yang mengikutiku dari belakang ingin mengambil minum yang tersedia di meja, karena batang tenggorokanku sudah haus sejak tadi.


Dengan sigap Kak Andre mengambilkan minum untukku dengan tersenyum ceria. Segelas Oranye Jus yang sangat menyegarkan tenggorokanku telah aku minum. Hal itu dapat di lihat oleh Kak Gilang dengan penuh curiga.


" Perhatian banget kamu sama calon istriku, Kamu gak ada niat merebutnya kan...," ucap Gilang yang menaruh curiga kepada Andre, orang kepercayaannya sendiri.


" Apa maksudmu, bukankah kau memintaku untuk menjaga Nisa selama kau tinggal pergi,"


ucap Andre menjelaskan.


" Jangan banyak cerita," ucap Gilang ketus, dan aku hanya bisa jadi penonton mereka berdua.

__ADS_1


" Aku tau kamu juga suka dengan Nisa, tapi aku ada gak akan membiarkan itu terjadi," ucap Gilang kepada Andre.


" Aku tidak menyukainya, kalau aku menyukainya sudah dari dulu aku membawanya pergi ketika pertama kali kau meninggalkannya," jelas Andre kepada Gilang.


" Jangan banyak alasan," ucap Gilang kepada Andre.


" Gilang, kita bersahabat, jangan sampai karena wanita kita sampai bertengkar, terserah padamu. Sekarang tugasku sudah selesai. Jaga Nisa baik-baik. Aku akan pergi menjauh darimu dan Nisa. Semoga kau bahagia bersama.Adikku Nisa," ucap Andre men coba melangkah pergi, tetapi teringat sesuatu dan menatap tajam diriku.


" Kakak mau kemana?," tanya ku kepada Kak Andre, dan Andre mendekat memberikan sesuatu kepada diriku. Sebuah kota berwarna merah, tidak tahu isinya apa.


" Kau mau kemana Dre...," tanya Kak Gilang yang merasa keberatan ditinggal.orang kepercayaannya.


"Apa perdulimu!, bukankah kau menginginkan aku pergi, dan bukankah kau sudah pulang ke tempat jadi untuk apa lagiankau menjaga Nisa," ucap andre menjelaskan.


" Tapi bagaimana kalau aku suatu saat pergi kembali, dan kau kan orang kepercayaanku yang dapat menjaga Nisa...,"


" Makanya sebelum bicara jangan curigaan sama orang, aku juga tidak bisa menjamin, kalau kau di sana tidak mengenal wanita, mana tau kau juga di sana punya pacar,"


"Apa kamu bilang! kamu jangan mengada-ngada," ucap Gilang yang sudah emosi.


" Aku kan hanya bersugesti, kenapa kamu marah, berarti memang ada,"ucap Andre dengan santai.


" Diam mulutmu, kalau aku tidak setia mana mungkin aku relakan pulang hari ini hanya untuk wanita yang aku cintai,"


" Pegang kata-katamu, jika suatu saat nanti kau buat Nisa menangis, aku tidak akan segan-segan memberi pelajaran padamu," ucap Andre kepada Gilang yang dalam kata-katanya sedikit bermakna penekanan.


"Ya, kita lihat saja nanti,"ucap Gilang dengan lantang dan tidak ingin dikatai begitu saja.


Andre ingin melangkah meninggalkan kami berdua, baru beberapa langkah Gilang sudah berteriak,


" Kamu mau pergi kemana Dre???, nanti kalau kamu pergi kasih kabar aku ya Dre...biar aku mudah menghubungimu" tanya Gilang kepada Andre dan mengharapkan agar Andre tetap menjadi orang kepercayaannya.


" Mau ke Toilet , kamu mau ikut???," tanya Andre kepada Gilang dengan senyum yang menawan.


" Sableng kamu Dre...," ucap Gilang kepada Andre dan mengelengkan kepalanya melihat sikap Andre kepada dirinya.


Di tengah pesta yang ramai, baru saja dua pemuda saling berargumen tentang pandangan mereka masing-masing. Aku yang melihat perdebatan mereka merasa takut. Dari wajah mereka sangat marah dan emosi. Jika mereka sampai berkelahi apa jadinya nanti dengan panti ini pasti akan hancur di buat mereka.


Aku menarik tangan Kak Gilang dan membawanya jauh dari ruangan itu. Kak Gilang merangkul pinggangku dan menarikku dalam dekapannya. Aku bingung, ini terasa intim jika orang melihatnya. Bisa jadi gunjingan besar melihat kami berdua seperti ini. Wangi tubuhnya membius penciumanku. Tenang rasanya berada didekat Kak Gilang.

__ADS_1


__ADS_2